Wednesday, December 26, 2012

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)

Kabupaten Berlian merupakan daerah lintas. Tidak terlalu banyak perkembangan berarti semenjak sepuluh tahun terakhir. Pembangunan kolam renang saja dilarang keras pemerintah karena suatu alasan tertentu. Berlian menurutku salah satu kota yang terhitung panas di Provinsi Jambe. Aku resmi ditempatkan perusahaan di salah satu pos di kabupaten tersebut.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari kota. Aku persis tiba pukul 07.45 WIB di kantor tempat kerja pertama. Kantor finance masih bergabung dengan dealer. Rencananya di awal tahun depan akan punya kantor sendiri. Aku melangkah memasuki ruko tiga pintu itu dengan tenang.

"Permisi, mas."
Seorang lelaki duduk menghadap komputer. Sebuah plang besar tergantung di belakangnya. Adara Finance.
"Ya?" Dia hanya melirikku sekilas.
"Saya karyawan baru yang ditempatkan di sini untuk kasir." Ujarku lagi menjelaskan.
Dia mengangkat kepala memandangku lekat.
Sebagai orang baru cepat kuulurkan tangan, "Mazaya."
Dia menyambut tanganku. "Seno."
"Bisa bertemu dengan Pak Taufik?"
"Pak Taufik belum datang. Silahkan duduk saja dulu di sini."
Dia langsung mempersilahkanku duduk di kursi yang tadi di dudukinya sementara dia pindah duduk di kursi satunya lagi.

Tiga motor kemudian di parkir di muka ruko. Tiga lelaki berjaket hitam turun dari motornya masing-masing setelah melepas helm. Mereka langsung menuju ke arah kami. Lelaki bernama Seno langsung menyambut salah satu dari mereka yang bertubuh besar.

"Pak Taufik, ini karyawan baru pengganti Mbak Vivi," jelas Seno disambut tatapan serius dari lelaki yang dipanggil Taufik. Kacamata yang dipakainya diturunkan sedikit. Tidak ada senyum terukir di bibir.
"Siapa nama?" tanyanya datar.
Kujawab dengan senyum, "Mazaya."
"Kelahiran tahun berapa?"
"Delapan satu."
"Sudah punya pacar atau suami?"
Aku tak menjawab.
"Kenapa tidak dijawab?"
"Itu kan urusan pribadi, pak."
"Berarti belum punya pacar..."

Aku diam. Kutahu dia bukan Pak Taufik. Dia Rozi. Lelaki tambun yang sebenarnya ramah dan kurang suka berlaku jahil. Ini lantaran Seno, yang tabiatnya memang suka iseng dan menggoda. Dulu, aku benar-benar menyangka Rozi itu adalah Pak Taufik. Penampilan Rozi yang demikian ditambah perawakannya yang cukup punya wibawa meyakinkanku. Tiga hari Pak Taufik tidak berada di pos tetapi di kantor pusat. Sebuah pelatihan menyangkut kepemimpinan harus dilakoninya. Selama tiga hari itu pula aku dikerjai habis-habisan oleh Pak Taufik gadungan beserta kawan-kawannya.

"Sebagai karyawan baru. Tiga hari kamu harus menjalani masa penyesuaian," jelas Rozi serius.
Aku mendengarkan.
"Kamu orang asli sini atau orang kota?"
"Saya dari kota."
"Kalau begitu kamu harus cari kost untuk tinggal di sini."
"Maksud saya, saya mau berulang saja, Pak. Toh, Jambe cuma 45 menit dari sini."
"Itu ketentuan dari perusahaan. Apa kamu tidak tahu?"
Aku diam saja. Aku tahu itu cuma mengada-ada. Perusahaan ini cuma butuh karyawannya masuk sebelum pukul 8 pagi. Mau dia tinggal di mana, itu bukan urusan kantor. Tapi dulu, aku percaya saja.
"Di sini sudah ada tempat kost yang telah ditentukan perusahaan. Tapi biaya bulanan kita tanggung sendiri. Kami juga tinggal di kost tersebut. Tetapi dipisah antara kost cewek dan cowok. Dua rumah yang posisinya bertetangga. Karena baru kamu karyawan cewek kita. Makanya baru kamu yang bakal kost di tempat itu."
Kulirik Seno. Dia tampak tersenyum sambil menggosok-gosok hidungnya. Terakhir aku tahu itu kebiasaannya kalau sedang menjahili seseorang.
"Tapi mungkin belum bisa sekarang, Pak. Kalau bulan depan bagaimana?"
"Tidak bisa. Besok paling lambat kamu harus sudah ngekost di tempat itu. Seno bisa mengantar kamu pulang dan pergi kalau kamu tidak punya kendaraan."
Waktu dulu aku sama sekali tidak menaruh curiga. Besoknya aku segera meminta izin dengan Bapak dan Bunda untuk bisa tinggal di kost-kostan dan seminggu sekali baru pulang ke kota.
"Baik, Pak. Besok saya akan membawa barang-barang." Aku jawab saja sekenanya. Belum tentu aku akan ngekost di tempat itu. Rasanya tidak nyaman tinggal bersebelahan dengan mereka. Saban hari mereka main ke kostan sepulang dari kantor. Padahal kami sudah di kantor bersama seharian hingga pukul 7 malam. Aku berharap dapat istirahat setibanya di kost. Tapi ada saja alasan mereka untuk mengganggu.

Hari ini, kubiarkan saja mereka mengerjaiku. Dari membelikan mereka makan siang hingga merapikan berkas-berkas kerjaan mereka. Dahulu aku tidak tahu, kukerjakan saja pekerjaan yang disodorkan padaku, karena kukira itulah pekerjaanku. Sementara mereka kuperhatikan cuma duduk manis sambil main lacak  hingga waktu pulang kerja tiba. Tapi lihat saja besok. Aku akan mengerjai kalian balik. Aku tidak sebodoh kemarin kawan!


Keterangan:
Lacak : Permainan batu domino. 

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1) 
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)




Tuesday, December 25, 2012

Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)

Begitu nyenyak barangkali aku telah tertidur. Sebuah tepukan lembut di pipiku memberikan kesadaran yang entah seberapa lama mengambang di udara.
"Anda sudah tiba, bu," sebuah teguran ramah perempuan berseragam putih seterbukanya mataku.
"2005?"
Dia mengangguk dengan tetap tersenyum.
Aku menoleh ke dipan di sebelahku. Tadinya di situ ada suamiku. Sekarang tidak lagi. Dipan itu telah dikemasi oleh petugas berseragam putih lainnya. Kuraih lagi perempuan yang tadi membangunkanku dengan mata yang terasa masih mengantuk. Suaraku terasa berat. Begitu lama kah aku tertidur?
"Mau dibantu bangkit, bu?" dia menawarkan bantuan.
Kupandangi pinggang dan kaki. Tidak ada lagi safety belt yang melilit. Begitu pun dua kabel kecil yang ditempelkan di pelipis.
"Berapa lama saya tertidur? Kenapa terasa lemas sekali?"
"Memang begitu, bu. Perjalanan yang Ibu lakukan kan memang cukup jauh dan lama. Pastinya Ibu merasa lelah dan lemas. Tidak apa-apa. Itu cuma sebentar. Tidak akan lama."
Aku berdiri pelan dari dipan dituntun perempuan ramah tersebut.

Kembali terbersit keinginan bertanya mengenai suamiku yang tadinya bersamaku di sebelah dipan. Tetapi, apakah pantas atau perlu kutanyakan? Padahal aku memang menginginkan sebuah kehidupan baru tanpa kehadiran sosoknya yang selama ini terasa menyesakkan.

20 September 2005.
Seingatku hari itu aku baru diterima kerja di sebuah perusahaan finance terkemuka di kotaku. Kulirik jam tangan. Pukul 05.00 WIB. Syukurlah! Masih cukup subuh untuk bersiap-siap. Setelah menandatangani segala macam bentuk administrasi. Aku melangkah keluar Gedung Pelayanan Mesin Waktu itu.  Kurasa ini memang sebuah penemuan hebat! Aku sangat berterima kasih pada penemunya. Paling tidak aku bisa memperbaiki kehidupanku tanpa harus membiarkannya rusak. Hm,... inilah kehidupan baru yang sudah lama aku impikan. Dan aku tidak akan merusaknya lagi!

Pukul 07.30 WIB.
Aku tiba di sebuah perusahaan finance. Adara Grup. Waktu HRD menelponku, katanya aku mendapat posisi kasir di kabupaten. Tapi, untuk awal kerja aku disuruh datang ke kantor pusat untuk melakukan pelatihan 1 minggu.

Masih terasa deg-degan. Padahal aku tahu betul setiap babak yang akan kutemui hari ini. Seperti melihat paparan film yang sudah pernah ditonton sebelumnya.

"Awas, mbak! Lihat-lihat dong kalau jalan!"
Sebuah suara kesal terlontar di depanku.
Aduh! Padahal aku ingat betul kejadian ini. Kenapa aku bisa lupa? Seharusnya kuperhatikan betul langkahku. Tidak meleng ke sembarang arah sambil melamun. Patutnya pandanganku lurus ke depan saja.
"Aduh, mas! Seharusnya saya yang marah, kok malah sebaliknya! Lihat, baju saya basah semua!"
Seluruh pakaianku basah dengan air kopi. Tapi kali ini, sedikit kutahan emosi agar tidak menjadi masalah besar. Ini hari pertamaku kerja. Dan lelaki di depanku itu ternyata adalah kepala pos dimana besok aku ditempatkan.

Dia masih menghela nafas. "Saya buru-buru. Saya minta maaf kalau malah marah."
"Oh, ndak apa-apa, mas. Saya memang ceroboh. Saya permisi dulu."
"Ya, silahkan." Jawabnya setengah tersenyum.

Duh, leganya bisa berlaku sopan di hari pertama. Aku tidak ingin hal ini jadi malah petaka di kemudian hari. Dulu, kuingat betul aku marah habis-habisan pada lelaki itu. Pak Taufik Qurahman. Lelaki cuek dan dingin. Nada bicaranya selalu ketus. Tetapi orangnya baik hati dan peduli dengan bawahan. Setelah insiden air kopi itu, aku nyaris tidak punya muka ketika menemui Pak Taufik di pos kabupaten untuk melapor sebagai karyawan baru. Dia waktu itu tak kalah beringas menerimaku.

"Wah, gimana sih perusahaan sebesar ini tidak bisa menyeleksi karyawan baru! Seharusnya yang dilihat terlebih dahulu bukan skill, tetapi mengenai etika dan tata krama. Tanpa etika dan tata krama, apakah perusahaan kita yang bergerak di bidang jasa akan mampu memberikan pelayanan yang memuaskan? Jangan-jangan malah menjatuhkan status perusahaan yang selama ini dinilai konsumen sangat profesional."
Aku diam saja mendengar ocehannya waktu itu. Pantas saja dia marah, aku mencaci makinya di depan umum dengan kata-kata kotor dan tidak sewajarnya. Sementara aku hanya seorang karyawan baru dan dia adalah salah satu pentolan di perusahaan tersebut. Kuingat betul, banyak orang yang menonton insiden kami. Bahkan beberapa karyawan berusaha melerai. Kejadian memalukan itu langsung melejitkan namaku di perusahaan.

"Permisi, mbak. Bisa ketemu Pak Herman. HRD." Aku menemui sekretaris di depan ruangan Kepala HRD.
"Oh, Mbak Mazaya, ya?"
"Iya, Mbak."
"Sebentar, ya. Silahkan duduk dulu."
Gadis cantik tersebut berdiri dari duduknya memasuki ruang HRD. Sementara aku duduk di sofa yang tergeletak di ruang tunggu tersebut. Tepat di depan meja sekretaris.
Tak berapa lama gadis tersebut keluar dari ruangan.
"Mbak Mazaya, silahkan ikut saya." Dia mengajakku ke ruangan meeting. Gadis itu bernama Nadia. Dia sangat baik dan lembut. Dulu kasir di kabupaten Mara. Cuma  6 bulan jadi kasir, langsung naik jabatan jadi sekretaris HRD. Gosipnya, Kepala HRD menjadikannya gundik. Benar tidaknya, aku tidak pernah memperoleh konfirmasi.

Gosip memang mudah berkembang di kantor pusat. Terlalu banyak karyawan dan terlalu banyak perempuan. Tidak cuma kasus hubungan yang dianggap tidak wajar, perilaku wajar pun terkadang dianggap tidak wajar. Sebut saja soal merk tas atau sepatu yang dikenakan si anu atau si anu. Bahkan masalah dia beli secara cash atau kredit bisa jadi pembahasan panjang. Untungnya aku ditempatkan di pos kabupaten. Walaupun dulu betapa aku ingin ditempatkan di kota, agar tidak jauh dari Bapak dan Bunda. Di pos kabupaten, jumlah karyawan sedikit dan pekerjaan relatif menumpuk. Jadi tidak punya kesempatan untuk memburukkan seseorang. Ditambah aku satu tempat kerja dengan seorang perempuan yang sangat baik dan sama sekali bukan penggosip. Titis Haryati.

"Silahkan di tunggu di ruangan ini, mbak. Selama 1 minggu mbak akan mendapat pelatihan dari kepala di ruangan ini. Jadi, besok kalau datang langsung saja masuk ke ruangan ini."
Aku mengangguk. Kulihat 3 orang lelaki telah menempati ruangan. Tampaknya mereka sama sepertiku. Karyawan baru. Salah satu diantaranya berpapasan denganku kemarin di rumah sakit untuk tes kesehatan.
Nadia meninggalkanku kembali ke mejanya.

Aku memilih kursi yang masih kosong. AC yang distel terlalu dingin. Membuatku cukup menggigil.
"Dingin, mbak?" lelaki yang kemarin berpapasan di rumah sakit menegurku.
Tentu aku tidak pernah lupa namanya. Yulianto. Pacar pertama.
"Sedikit." Jawabku sekenanya. Jantungku langsung berdetak tak beraturan. Ternyata rasa itu masih sedikit menggigit. Mungkin benar kata orang-orang. Pacar pertama meninggalkan kesan lebih dalam dibanding pacar-pacar setelahnya.
"Rama, stelan AC-nya terlalu dingin. Kasihan mbak ini. Ndak tahan dingin."
Lelaki yang disebut Rama celingukan.
"Ndak ketemu remote-nya."
Yulianto berdiri. Dia sibuk mencari sendiri. Setelah beberapa kali membuka laci dan mondar mandir menyisir ruangan. Akhirnya ia menemukan di salah satu kursi. Dia mematikan AC.
"Kenapa dimatikan, jok?" tanya lelaki satu lagi. Kutahu namanya Nugroho. Dia juga ditempatkan di kabupaten denganku.
"Nanti bisa dihidupkan lagi." Jawab Yulianto sekenanya. Lalu dia kembali duduk di kursi sebelahku. Percakapan yang sama kemudian terulang kembali. Keakraban kembali terjalin. Tetapi di sisi hatiku yang lain aku menolak keakraban itu. Keakraban yang membuatku menjadi sakit sebagai perempuan yang mencintai seseorang. Alasan klise tentunya. Perselingkuhan lah yang telah membuatku menjadi sakit kala itu. Walaupun bagiku Yulianto masih tetap mempesona seperti dulu. Tetapi aku tidak ingin menjadi bodoh untuk jatuh kembali pada kubangan yang sama.
 
Pelatihan itu berlangsung hingga jam 4 sore. Bermodalkan motor pinjaman adik, aku kembali ke rumah.  Waktu di parkiran setelah bertukaran nomor handphone. Yulianto menawarkan untuk mengantar pulang. Aku tolak dengan halus. Kuputuskan untuk lebih berhati-hati. Aku memang berumur 24 tahun. Kalau dulu aku cemas dengan umur sematang itu dan belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis manapun. Tetapi kali ini aku berumur 24 tahun dan aku tidak ingin mengorbankan masa depan hanya demi omongan orang yang cuma bisa mencemooh. Tidak akan ada yang menolong kita ketika kita salah memilih lelaki atau salah memilih jalan hidup. Mereka hanya bisa bergunjing tentang perempuan-perempuan matang yang rela dipanggil "perawan tua" dan sibuk menyalahkan dengan berbagai alasan. Padahal sebagai perempuan yang menyandang status tersebut, tidak ada keinginan untuk menjadi berbeda dan menentang aturan sosial.

Kesempatan kedua ini terlalu mahal untuk kusia-siakan. Aku tidak peduli kalau sudah terlalu matang sangat utnuk mendapat jodoh di kemudian hari. Sabar itu memang kunci yang paling ampuh untuk menghadapi berbagai jenis ujian apapun. Tetapi, apakah aku bisa cukup sabar nantinya? Dengan Bang Azzam saja aku telah menyerah lebih dulu.

Tetapi sekali lagi, ini adalah kesempatan dan waktu yang istimewa. Aku bertekad untuk menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Aku harus bisa meraih kesuksesan yang kuimpikan selama ini. Kalau sekali lagi aku mengacau. Berarti aku memang terlalu bodoh untuk menjalani hidup.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
Cerita Sebelumnya : Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)




Wednesday, December 19, 2012

Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

"Sudah bulat betul niatmu ini?"
Laki-laki itu menatapku tajam.
Raut wajahku tak bergeming. Sedikitpun aku tidak merasa kasihan.
"Anak-anak bagaimana?'
Aku mendengus pelan.
"Tidak ada yang jadi korban. Jadi untuk apa merasa kuatir? Makanya aku pilih jalan ini, karena aku tahu perceraian akan menjadi lebih buruk, terlalu banyak yang akan jadi korban, dan tentunya karena aku sayang pada anak-anak, maka kupilih jalan ini dibandingkan jalan bercerai."
"Kamu rela menghapus semuanya, termasuk anak-anak dalam hidupmu?"
Aku mengangguk yakin.

Laki-laki di depanku itu kemudian menghela nafas.
"Aku tidak rela kehilangan anak-anak. Dan tidak pantas rasanya karena kesalahan salah satu di antara kita menyebabkan kita menjadikan anak-anak harus kehilangan kehidupannya. Mereka punya hak untuk hidup. Dengan keputusan ini berarti kamu telah tega menghapus takdir mereka untuk hidup?"
"Kalau Tuhan menghendaki mereka lahir. Mereka akan lahir ke dunia, dan itu bukan dari rahimku."
Suamiku mengepal keras tangannya. Kesal mungkin.
Tapi aku jauh merasa lebih kesal dan menyesal telah menikah dengan seorang lelaki yang hanya mampu menopang hidup kami dengan hutang.

"Mazaya, maaf kan kesalahanku. Anak-anak tidak pantas kamu libatkan dalam masalah ini."

"Jangan kambing hitamkan anak-anak! Dan aku membuat keputusan yang sangat tepat dalam hidupku. Tidak ada pertemuan, tidak ada pernikahan, dan tentu tidak ada anak-anak yang terlahir secara tersia-sia karena sebagai orang tua kita tidak mampu memberikan kehidupan yang layak untuk mereka. Coba saja kau pikir, dengan hutang-hutangmu yang menumpuk, sementara hanya aku yang bekerja pontang-panting, sepuluh tahun ataupun duapuluh tahun apakah mungkin kita sudah bisa hidup layak? Apakah hutang-hutangmu sebagai kontraktor itu bisa dilunasi. Jangan-jangan bertambahnya waktu hutang itu malah makin menebal!"


Plak!
Sebuah tamparan keras di wajahku menghentikan ocehan yang belum selesai.
"Kenapa cuma satu kali! Berkali-kali saja, karena besok atau di masa depan kau tidak akan bisa menamparku lagi!"

Suamiku mengepal tangannya. Gerahamnya mengeras kaku. Nafasnya tampak naik turun.
"Aku tidak pernah menyakitimu dengan berselingkuh, berjudi, atau mabuk-mabukan. Aku hanya belum mampu menafkahimu dengan tepat dan sesuai. Aku menyesal telah menjadi suami yang gagal. Tetapi tidak pantaskah aku diberikan lagi kesempatan?"
Aku menggeleng.

"Sudah terlalu banyak. Dan kamu terlalu gegabah memanfaatkannya. Kali ini bagiku sudah cukup. Karena kamu tidak akan berubah berapa kali pun kesempatan itu datang padamu."

"Aku benar-benar menyesal, Mazaya. Tapi semua tentu masih bisa diperbaiki!"
"Aku juga menyesal tak mampu menjadi isteri yang cukup baik untukmu, Bang Azzam. Tetapi tidak ada yang bisa diperbaiki lagi."

Kutekan lekas bel panggil petugas di ruangan itu.

Ruangan di mana kami berdua berdiskusi sebagai sepasang suami isteri adalah Ruang Pertimbangan. Sebuah ruangan putih bersih berukuran 4 x 4 meter, hanya ada sebuah meja putih dan 2 kursi putih serta sebuah cermin di dinding. Ruangan ini disediakan khusus bagi pasien -- itu sebutan mereka untuk kami yang menggunakan jasa mereka -- untuk merenung, berpikir matang-matang, berdiskusi, atau berembuk sebelum kemudian kami membulatkan tekad untuk menggunakan jasa mereka yang tarifnya tidak terbilang murah.

"Bagaimana, bapak ibu?"
Petugas berseragam putih datang.
Aku mengangguk.

Petugas tersebut tersenyum. Dia kemudian meletakkan selembar map berwarna putih di meja putih kami.

"Silahkan isi formulir pernyataan ini. Kami akan menyiapkan mesin waktunya."
Tak kupandang lagi suamiku. Putusanku sudah bulat. Kuisi formulir tersebut. Sementara lelaki petugas itu keluar ruangan.

"Tidak bisa kah kita berembuk lagi, Mazaya?"
"Tidak!" Kujawab dengan tegas sambil menatap tepat di pusat matanya.
"Jangan terus membodohi aku, Bang. Aku juga ingin punya masa depan. Punya sesuatu yang berarti dan berharga dalam hidupku."
"Tidak kah ada yang berarti sekarang ini dalam hidupmu?"
"Aku tidak minta lebih dari abang. Aku hanya ingin hidup normal dan yakin akan masa depanku."
"Bersama-sama kita pasti bisa mengatasinya."
"Aku selalu sendirian!"
Dia terdiam.
"Sebegitu tak berharganya kah aku bagimu, Aya?"

Aku kembali mengisi formulir.
Tak kuduga, dia menghantam meja begitu keras. Membuatku terkejut.
"Bodohnya aku! Seharusnya tidak perlu kutanyakan. Aku memang tidak pernah kauanggap. Bahkan sebelah mata pun! Kalau memang ini maumu. Aku ikuti. Aku turuti."
Petugas kembali datang. Formulirku pun telah selesai aku isi.
Kupandangi suamiku. Dia tidak memandangku sama sekali. Wajahnya beringas. Tatapannya sangat jauh melangkah ke depan.

***

Kami memasuki Ruang Mesin Waktu.
"Sesuai permintaan Ibu dan Bapak, waktu akan dikembalikan di tahun 2006, bukan begitu?"
Aku mengangguk. Itu adalah tahun pertemuan pertama kami.

"Baik, kita cocokkan tanggal sekarang terlebih dahulu, 20 Desember 2012. Dan tanggal berapa Bapak Ibu akan dikembalikan?"
"26 November 2006." Jawabku lagi.
"Jangan!" ujar suamiku cepat.

Aku dan petugas serentak memandangnya.
"20 September 2005 saja."
"Wah, kalau mundur setahun berarti tambah biaya lagi, Pak."
"Berapa?"
Suamiku langsung mengeluarkan uang dari saku celananya.
"15 juta." Jawab Petugas.

Aku menatap suamiku. Menyadari tatapanku dia hanya tersenyum.
"Tidak perlu kau tanya dari mana uang itu. Toh, aku pun punya impian. Bukan cuma kamu, Aya!" Jawabnya sambil mengedipkan mata.
Kesalku makin memuncak. Sepertinya dia tidak pernah punya rasa penyesalan yang sungguh-sungguh. Ke mana amarah tadi? Semua ini sekedar permainan baginya. Bahkan ancaman sebesar ini pun cuma dianggapnya main-main. Aku sungguh berjanji pada hati kecilku. Tidak akan pernah menemui lelaki bernama Azzam Sima seumur hidup. Apalagi sampai bersedia membuka hati untuknya lagi!

"Bapak Ibu, mesin waktunya sudah siap. Silahkan masuk. Silahkan berbaring di tempat yang telah disediakan. Pejamkan mata saja selama proses berlangsung. Tidak akan lama."


Petugas menuntun kami memasuki sebuah mesin waktu yang berbentuk seperti bola. Hanya ada satu pintu untuk masuk dan keluar. Pintu itu tebal. Seperti pintu ruang brangkas. Memasuki mesin. Kami mendapati dua tempat tidur berseprai putih. Dua orang  petugas ternyata telah menunggu di dalam. Aku menaiki tempat tidur yang persis dekat pintu masuk. Suamiku menempati yang lebih menjorok ke dalam. Dia tidak menatapku sama sekali. Setelah merebahkan badan, dia langsung memejamkan mata. Petugas menempelkan sesuatu di pelipis kami. Memakaikan safety belt di pinggang dan kaki. Lalu meninggalkan kami dan menutup pintu. Tinggal aku dan suami. Dia tetap memejamkan mata. Tampak wajahnya tersenyum. Dia benar-benar tidak punya penyesalan apapun dalam hidupnya. Aku benar-benar membencinya kalau begitu!
 
(Bersambung)

Cerita Berikutnya  Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)

Monday, December 17, 2012

Menulis di Shvoong Dapat Royalti Dollar

Apa itu Shvoong?
Shvoong.com, merupakan sebuah situs yang diciptakan untuk menampung berbagai macam resensi yang bersumber dari berbagai macam media, dapat berasal dari buku, film, berita televisi, berita radio, majalah, artikel internet, tulisan ilmiah, dan bahkan berdasarkan pengalaman penulis sendiri.

Asyiknya nulis di Shvoong, karena si penulis dapat royalti. Dua kunci yang wajib dipegang untuk jadi penulis sukses di Shvoong kata sahabat saya penulis Shvoong, adalah pertama, harus membuat tulisan yang bagus atau berkualitas, karena hal ini akan menarik banyak pengunjung datang membaca, kedua, rajin-rajin promo dan dapetin downline atau referal atau disebut Shvoong sebagai "Teman yang diundang" (Friend Invites). Tapi, teman yang pasif tidak cukup membantu mendongkrak royalti yang diperoleh, temukan teman yang punya passion dan semangat dalam menulis.

Shvoong akan memberikan royalti pertama apabila pendapatan yang kita peroleh minimal telah mencapai 10 dollar. Teman saya yang sebut di atas cukup aktif menulis shvoong mengatakan bahwa beliau telah mendapatkan 50-60 dollar per bulan dari Shvoong.

Lumayan bukan, selain melatih kemampuan menulis juga menghasilkan uang tambahan belanja. Kalau tertarik bergabung di Shvoong, silahkan klik link berikut: Shvoong.com

Wednesday, December 12, 2012

Mencari Ilham

Pengen punya buku, tapi ga punya ide untuk memulai sebuah tulisan. Ya, otomatis keinginan tersebut tinggal sekedar angan-angan.

Buntu.
Kendalanya karena ga punya bahan bacaan. Mo ke toko buku, kok rasanya jauh banget, dengan alasan tinggal di kabupaten yang cuma punya atu-atunya toko buku dan itu pun ga lengkap. Ke kota, ga punya waktu!

Aduh, banyak banget sih rintangan untuk menemukan "ilham" di kepala.
Apakah memang sesulit itu mencari ilham untuk merintis sebuah buku atau novel?

Dipikir-pikir, J.K. Rowling ga kesulitan menemukan ilham untuk menghidupkan Harry Potter dalam novel-novelnya. Semua tempat yang beliau singgahi mampu melahirkan semacam ilham dalam otaknya yang cerdas.

Tampaknya, untuk mampu menangkap ilham yang banyak berkeliaran di sekeliling kita, selaku penulis perlu menumbuhkan kadar sensitivitas yang lebih dari orang biasa. Kalau orang biasa melihat jamban di wc bermakna "jamban", seorang penulis bisa menangkap tidak sekedar "jamban". Bisa jadi, jamban itu memiliki mulut yang kemudian mampu melahap orang yang kebetulan jongkok buang air besar di atasnya. Selanjutnya, imaji itu berkembang liar menjadi sebuah kehebohan, karena orang yang raib dimakan jamban menjadi buah bibir masyarakat sekitar, bisa jadi karena si anu yang dimakan jamban pada saat kejadian berlangsung tidak ada saksi. Akibatnya, curiga pun berkembang, si anu yang dimakan jamban diduga menjadi korban seorang warga lain yang selama ini dicurigai warga sebagai pembunuh yang menganut ilmu hitam semacam "Sumanto" yang memakan mayat korban hasil pembunuhannya.

Ilham pun kemudian berkembang menjadi sebuah cerita.
Jadi, masih sulit kah menemukan ilham?

Tuesday, December 11, 2012

Masihkah Aku Ingin Jadi Penulis?

Pertanyaan itu kembali berputar-putar di kepala seperti gasing.

Lingkungan kah yang menghambat rencana hebat tersebut atau memang niatan yang tertanam di dalam diri tidak cukup tangguh untuk menepis segala rintangan atau pun godaan?

Sesibuk apakah seorang ibu rumah tangga yang bekerja? Pastinya tidak lebih sibuk dari seorang Putu Wijaya, Ayu Utami, Dee, Andrea Hirata, atau penulis besar lainnya. Jadi, apa yang menghalangi langkahku untuk tetap menghasilkan tulisan?

Tampaknya bukan kendala yang membuatku sulit untuk konsisten menulis, tetapi motivasi yang tertanam dalam diri tidak lah cukup kuat. Sehingga seringan apapun kendala, pasti akan dengan mudah menggoyahkan tekad yang tampaknya sekeras baja ketika dibangun.

Jadi, masihkah aku ingin jadi penulis?

Tampaknya jawaban semakin kabur dan terasa ragu-ragu.


  

Sunday, October 7, 2012

Dongeng Gerhana (Bagian 1)



Ibu peri Seirra tidak pernah menduga apabila pangeran peri Gerhana harus dilahirkan dengan membawa kutukan dari peri jahat Laksniky. Hanya karena kesalahan Ibu Peri Seirra yang melupakan janji mengundang putera peri jahat tersebut dalam Sayembara pemilihan calon peramal istana peri setahun lalu. Kini pangeran peri Gerhana harus terlahir menjadi ruh tanpa jasad. Dia harus turun ke bumi untuk menemukan  jasad yang tepat bagi tubuhnya bersemayam, agar dia tidak semata jadi ruh yang terus bergentayangan tanpa arti.

Sayangnya, ruh pangeran turun ke bumi sendirian, tidak boleh ditemani punggawa, pelindung, asisten, atau sahabat sekalipun. Itu ketentuan dari kutukan. Pangeran harus menjalankan kutukan itu sendiri. Ibu peri Seirra hanya bisa menjemputnya setelah genap 20 tahun pangeran turun ke bumi. Apabila Ibu  peri Seirra berani melanggar. Pangeran akan dimakan kutukan. Tubuhnya raib menjadi serpihan debu tanpa arti.

Ibu peri Seirra merana. Betapa beliau merasa mempersalahkan dirinya sendiri akibat kebodohannya yang telah menyebabkan puteranya menanggung kesalahan yang tidak pernah diperbuat. Ibu peri Seirra menurunkan hujan selama 7 hari berturut-turut ke bumi menyertai kepergian sang pangeran pertama istana peri kayangan. Riak air langit tersebut tidaklah beringas, hanya terasa sendu dan kelam sepanjang hari oleh umat manusia. Titik-titiknya turun begitu pelan dan halus. Tidak sepoi-sepoi karena tidak ada angin yang menggoyang riaknya. Titik-itik air langit itu hanya dibiarkan luruh dari langit ke tanah. Menghujam tanah dengan penuh rasa penyesalan yang dalam. Berharap bisa menemani perjalanan tanpa arah dari pangeran Gerhana yang belum terhitung bulan lahir ke dunia.

Ruh pangeran melayang-layang dalam gelembung udara yang luruh bersama air langit. Tidak ada tangis yang membahana darinya. Dia hanya pulas tertidur dalam gelembung udara. Terombang-ambing. Berputar. Bergerak ke kiri. Ke kanan. Atau tersangkut di dahan pohon. Gelembung udara tersebut terselubung ajian ajaib seribu peri yang akan melindungi sang pangeran dalam seribu hari pencarian. Ibu peri Seirra merasa takut, pabila pangeran tidak akan mempunyai waktu yang cukup untuk menemukan jasad yang tepat bagi ruhnya yang tidak biasa. 

(Bersambung)

Thursday, October 4, 2012

Thinking Out of The Box

Clara Ng nongol di acara Referensi, Kompas TV, Jumat pagi ini. Jam 08.00 WIB. Pas udah siap ke kantor. Hm, berhubung emang udah terhitung terlambat, kayaknya terlambat lebih dikit sama saja dosanya...hehehe..

Jadi, duduklah dengan manis di muka televisi memandangi Clara Ng. Sosok yang selama ini sering saya dengar, terutama yang berkaitan dengan @ceritamini, sebuah komunitas penulis flash fiction Indonesia di twitter yang terus menjadi pembicaraan.

Ternyata beliau adalah penulis yang menyenangkan. Mengapa demikian?
Sebab semua genre tulisan beliau lahap. Tidak ada kata tidak bisa dalam kamus beliau. Bergaul dengan kaum sastrawan pun semakin mendukung kesukaannya pada dunia menulis. Tetapi dari sekian genre yang tanpa pandang bulu digarapnya. Beliau memfokuskan diri pada genre anak-anak terutama dongeng.

Beliau mengatakan bahwa di Indonesia banyak dongeng atau cerita rakyat yang menarik dari setiap daerah. Tetapi hanya sebatas demikian. Bisa dihitung dengan jari penulis Indonesia yang mengkhususkan diri menggarap dongeng modern.

Padahal mengarang cerita anak-anak kan susah, apalagi kita adalah orang dewasa. Tapi, inilah menariknya Clara Ng. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya menjadi orang dewasa itu sangat menyiksa. Karena DEWASA itu semacam penjara yang membuat diri kita tidak bisa berkelana dengan bebas ke manapun. Tetapi, apabila kita bisa membebaskan DEWASA tersebut dan mengembalikannya ke dunia anak-anak, maka jiwa seperti itu akan bisa menulis cerita anak-anak yang menarik dan berkisah dengan cara anak-anak bertutur.

"Thinking out of the box", maka karya kita tidak akan biasa. Kesimpulan tersebut yang akhirnya saya tangkap dari kecerdasan berpikir Clara Ng.

Selain itu, beliau mengatakan bahwa setiap tulisan atau buku akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai ke tangan pembaca. Weits! kok pemikirannya sama dengan saya di Publikasi Itu Wajib, bahwa setiap tulisan memiliki takdirnya masing-masing. Jadi, jangan banyak keraguan untuk menulis. Tulis saja. Pasti ada saja yang akan membaca dan menyukai tulisan tersebut.


Wednesday, September 12, 2012

Makna Merenung Bagi Seorang Penulis

Andai kita mau, menyempatkan diri sejenak, merenungi, niscaya kita akan tahu ke mana kita harus melangkah. Kita lebih memilih bersikap behavioris. Tentang banyak hal. Maka pikiran-pikiran kita pun menjadi dangkal. 
(Erpin Leader, Kepala Kampung Writing Revolution)
Menyimak bahasa tulis sahabat saya satu ini selalu memberikan pencerahan. Saya percaya, beliau adalah seorang penulis yang rajin merenung, yang tidak hanya menggunakan indera mata untuk melihat dunia tetapi juga memanfaatkan mata hati untuk menelanjangi sekitarnya.

Seringkah kamu menemukan penulis-penulis yang menyuguhkan tulisan menggugah atau bahkan menohok langsung ke ulu hati melalui tulisan-tulisan tangannya? Sebut saja Khalil Gibran atau penyair favorit saya Chairil Anwar. Penulis-penulis jenis mereka abadi bukan karena kepandaiannya merangkai kata di atas kertas, tetapi kedalaman renungan mereka terhadap kehidupan. 

Dan yang membedakan penulis-penulis maestro di atas dengan orang-orang awam seperti kita adalah, mereka selalu bisa menghargai "Proses Ilahi" secara luar biasa baru kemudian "Hasil". Mereka tidak berlaku biasa memandang sekitar. Mereka menggunakan segala indera yang dikaruniakan Tuhan untuk membaca dunia. Memahami hidup. Dan mempelajari kehidupan. Hal ini terbukti dari buah pikirannya yang dituangkan ke dalam tulisan.  

Penulis seperti mereka dikarunia Tuhan cahaya hidayah yang tak pernah padam yang menerangi hati dan pikiran mereka. Sehingga tulisan-tulisan mereka pun menularkan penerangan pula bagi orang-orang yang membaca karyanya.

Semoga KITA bisa  termasuk dalam golongan mereka. Amin...

Sepeda Motor Bebek Injeksi Kencang dan Irit Jupiter Z1

Add Logo Yamaha SEO Competition
Sebagai cewek, emang rata-rata awam banget soal mesin motor. Kebanyakan kaum hawa memilih motor karena alasan penampilan. Bukan karena tuh motor kencang larinya atau irit bahan bakarnya. Tapi modis ga kalo dibawa jalan, biar makin dilirik ma arjuna-arjuna guanteng yang kebetulan ketemu di parkiran. Hehehe..

Tapi, kalau bicara Sepeda Motor Bebek Injeksi Kencang dan Irit Jupiter Z1, biar dikata kaum hawa cuma paham kosmetik, tas, ama sepatu mahal, kayaknya rugi kalau ga paham soal sepeda motor bebek satu ini. Apalagi kamu-kamu yang tergolong suka “Ngacir Kencang-kencang”. Nih, berhubung bicara ma cewek, pasti warna ama body yang disorot duluan. Maka, Sepeda Motor Bebek Injeksi Kencangdan Irit Jupiter Z1 menawarkan 5 kombinasi warna yang cantik dengan grafis unik yang keren abiz!
Add Image Yamaha SEO Competition
Sebagai sepeda motor bebek injeksi pertama Yamaha, All New Jupiter Z1, menggunakan tema gold metal dragon heart atau naga emas dari emas yang tengah mencakar. Tema tersebut mengibaratkan sosok naga robot yang dihidupkan teknologi FI yang sarat dengan kecanggihan dan nilai futuristik. Mengusung elemen material metal untuk menghasilkan kesan canggih modern. Grafis unik All New Jupiter Z1 disematkan pada cover side dan leg shield. Desain body  All New Jupiter Z1 bertambah keren dengan tulisan Fuel Injection pada leg shield di sisi kanan maupun kiri. Lalu di dekat front panel ada stiker All New Jupiter Z1.


Sepeda Motor Bebek Injeksi Kencang dan Irit Jupiter Z1, bukan dominasi buat kaum Adam. Sebagai kaum hawa apalagi yang juga suka balap, mesin baru All New Jupiter Z1 telah meningkatkan performance  hingga 20 persen karena mengadopsi teknologi motor balap YZ Crankshaft Technology, Low Friction Technology dan Forged Piston. YZ Crankshaft Technology meningkatkan akselerasi dan torsi, sudah digunakan di motor trail Yamaha YZ450F. All New Jupiter Z1 yang diluncurkan Yamaha kian sempurna dengan Low Friction Technology yang memperkecil hambatan tenaga akibat gesekan sehingga tenaga mesin menjadi lebih optimal. Forged Piston yang memiliki daya tahan tinggi dan ringan mampu menyalurkan tenaga mesin yang besar serta menjadikan motor lebih mudah berakselerasi.


Sepeda Motor Bebek Injeksi Kencang dan Irit Jupiter Z1, membuat feeling berkendaraan semakin terasa nyaman dikarenakan perpindahan gigi maupun suara mesin terasa lebih halus. Suara knalpot lebih bertenaga. Keunggulan All New Jupiter Z1 lainnya yaitu perawatan lebih mudah dan  lebih irit bahan bakar.

Yamaha membanderol motor berteknologi motor balap dan Fuel Injection (FI) ini dengan dua harga, yakni untuk All New Jupiter Z1 CW (Cast Wheel) dan All New Jupiter Z1 SW (Spoke Wheel). On the road Jakarta dan wilayah sekitarnya, All New Jupiter Z1 CW dinilai seharga 15,1 juta rupiah. Harga ini naik 500 ribu rupiah dibandingkan sebelumnya 14,6 juta rupiah. Sedangkan All New Jupiter Z1 SW mencapai 14,3 juta rupiah, lebih murah 300 ribu rupiah. Tetapi kemampuannya tidak kalah canggih dengan Z1 CW.

Wuih, luar biasa banget kan?

Untuk lebih lengkapnya, silahkan kunjungi http://www.yamaha-motor.co.id/

Thursday, August 30, 2012

STOP! Jadi Penulis Galau

Seorang teman curhat mengenai betapa kesalnya beliau telah menghabiskan nyaris waktu 2 tahun  hanya untuk menunggu. Dengan berbagai alasan karena kesibukan, beliau berusaha menafikan keinginannya untuk menulis. Berjalannya waktu yang terasa sia-sia tersebut, keluhannya semakin panjang, ditambah kecemburuan atas sepak terjang sahabat-sahabat lain yang sudah menebarkan virus-virus tulisan di sekian media massa. Sementara beliau masih nol besar.

Kenapa sih tidak kita habiskan waktu mengeluh itu dengan menulis sesuatu saja? Kenapa sih ukuran sukses jadi penulis itu harus semata karena tulisannya sudah pasti pernah dimuat di media massa? Kenapa kita harus menulis karena kita ingin orang lain melihat diri kita begitu hebat? Apakah hal tersebut bukan sekedar ria semata? Kenapa kita tidak menulis karena kita ingin menulis dan menuangkan renungan-renungan kita tentang hidup dan kehidupan? Kita sudah terlalu galau dengan ambisi yang dimiliki. Kenapa tidak coba kurangi beban agar harapan-harapan yang tulus dalam diri kita bisa keluar dengan bebas dan menghasilkan karya?

Suatu kalimat membuka mata saya dalam memandang hidup terutama tujuan saya menjadi seorang Penulis, kurang lebih bunyinya demikian:

Orang yang mengejar dunia dalam hidupnya hanya akan mendapatkan segelintir dari kehidupan dunia. Sementara Orang yang mengejar akhirat dalam hidupnya akan dikaruniai semua kehidupan dunia oleh Sang Khaliq. 

Jadi, niat dalam menjalankan sebuah tindakan itu perlu. Apakah niat yang kamu serukan dalam hati ketika ingin menjadi penulis?

Siapa saja bisa menulis. Jadi, menulis itu tidak sulit. Disebut penulis, kalau kita menghasilkan tulisan secara rutin. Mau tulisan itu di media massa yang ngasih honor, mau di situs tanpa bayaran, atau di blog yang dikelola sendiri. Ketika kita konsisten menulis, maka kita telah disebut sebagai penulis. 

Seorang sahabat baru yang mengenal saya dari sebuah situs sastra memanggil saya "Penulis", setiap menegur saya di kolom chat di Facebook sapaan "Apakabar penulis?" nyaris tidak dilupakan. Bagi saya, itu suatu kehormatan besar. Sahabat saya tersebut telah menyebut saya penulis, walaupun karya saya masih bisa dihitung jari di media massa. 

Jadi, sekali lagi, pikirkan makna PENULIS yang ada dalam diri Anda?



Wednesday, August 29, 2012

Blog, Langkah Awal Menjadi Penulis Sungguhan


Sebenarnya, aku sudah membuat banyak sekali blog. Tetapi tidak semua aktif digarap. Ada yang kelamaan ga diisi, passwordnya jadi lupa. Ada yang dirasa temanya terlalu sulit, jadi males nulisnya. Ada yang kayaknya ga menggambarkan diri "aku banget", ya ditinggalin gitu aja. Salah satu blog yang paling lama kukelola namanya "Cerita Gopek".

Kenapa "Cerita Gopek"?
Ya, awal mikir, blog ini untuk menuangkan flash fiction (cerita mini) karya sendiri yang jumlah suku katanya tak lebih dari 500 kata. Tetapi lama kelamaan kok keinginan untuk membahas tips menulis jadi lebih kuat. Akhirnya tumpang-tindihlah. Judulnya juga lama-kelamaan kok rasanya kurang elit ya. Kurang keren gitu. Jadi ya, akhirnya mulai ditinggalkan aja. Bosen. Karena juga nulis di Shvoong, akhirnya Cerita Gopek dijadikan alat promosi artikel-artikel yang ada di Shvoong. Lumayan, bisa nambah trafik kunjungan yang tentunya menambah recehan di Shvoong.

Padahal sebenarnya sayang banget Cerita Gopek divakumkan begitu saja. Karena artikelnya udah lumayan banyak dan kumpulan cerita mininya juga tidak sedikit. Tapi ya begitulah mungkin salah satu ciri-ciri penulis ga konsisten (hehehe...).

Tapi, sekarang mau berusaha konsisten dengan blog satu ini. Makanya dikasih judul "Mardiana Kappara" aja. Sub title-nya juga "Berbagi Motivasi dalam Menulis". Maknanya general dan sangat berbau "aku" banget. Penasaran aja untuk mengetahui nasib blog ini dua atau tiga tahun yang akan datang.

Banyak keuntungan yang diperoleh dengan membuat blog, apalagi penulis yang masih pemula:
1. Blog menuntut kita rutin menulis. Mau ga mau kita jadi rajin untuk menulis karena alasan sebuah blog. Bangga banget loh kalau ada yang baca blog dan mengomentari tulisan kita. Apalagi sempat ada yang suka rela bergabung jadi follower.

2. Blog membawa kita pada rencana Tuhan yang tak terduga. Percaya ga percaya, harus percaya. Raditya Dika, salah satu buktinya. Awalnya hanya berupa keisengan. Selanjutnya jadi hal yang serius untuk dilakoni. Mana tahu ketulusan dan keiklasan mengelola blog akan mengantarkan kita pada mata penerbit. Jadi lah buku kita diterbitkan!

3. Tentunya dengan isi yang bermutu dan menarik akan membuat kita jadi terkenal. Percaya deh! Contohnya aja mas Jonru. Beliau terkenal melalui dunia maya. Siapa yang menyangka sebelumnya. Kunjungi aja blog beliau di Jonru.net.


Masih tetap ga yakin untuk buat blog?
Jangan berpikir dua kali. Apalagi sudah niatan jadi penulis. Buatlah blog. Kelola dengan serius dan setia. Suatu saat, kita akan menemukan sebuah jawaban atas ketekunan tersebut. Amin...

Monday, August 27, 2012

Betapa Aku Ingin Berarti

Setiap individu yang berikhtiar untuk menjadi penulis, karena berharap suatu saat tulisannya memiliki nilai tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga buat orang lain. Setiap mimpi penulis adalah mempunyai tulisan yang dianggap orang lain bermakna.

Terasa terpukul sekali apabila setiap tulisan yang telah kita lahirkan cuma berakhir di tong sampah atau teronggok saja di recycle bin komputer. Atau kalau masih sedikit dihargai oleh diri kita sendiri, tertumpuk di file dokumen komputer. Tulisan-tulisan yang dibuat itu sama sekali belum pernah diterima redaktur majalah atau koran manapun. Tidak pernah memenangkan lomba atau sayembara apapun.

Mengeluh lah diri ini tentang "Betapa tidak berartinya AKU sebagai diriku."
Tulisan yang dilahirkan kenapa selalu gagal menyamai maestro sastra ataupun karya penulis best seller di toko buku?
Dimana letak kesalahanku sebagai seorang penulis?

Betapa aku ingin berarti,
tetapi kenapa aku tidak pernah cukup berarti untuk memperoleh perhatian?
Sudah gagal kah aku menjadi seorang penulis?

Tidak ada penulis yang gagal, selama dia mau terus mencoba melahirkan tulisan-tulisan baru. Tidak akan ada tulisan yang tak berarti, selama tulisan itu terlahir dari sebuah proses yang sungguh-sungguh dan penuh dengan ketulusan.

Tidak ada yang bisa menduga nasib sebuah tulisan. Bahkan penulis itu sendiri.
Jadi, ketika ingin menjadi berarti, maka berproses produksilah dengan giat. Isi tulisan dengan kualitas. Kualitas tentu diperoleh dari ilmu dan pengalaman. Untuk itu, perlu perkaya diri dengan ilmu. Tidak ada teori yang menentang bahwa seorang penulis berkualitas pasti juga pembaca berkualitas.

Terus berkarya!


Sunday, August 26, 2012

Harus Ambil Bagian

Sebuah komunitas menulis sedang berkembang.
Beliau menggeliat dari kepompong menjadi kupu-kupu.
Beliau sedang mempelajari ilmu terbang.
Terbang lebih tinggi.
Hingga menggapai bintang.

Berita biasa kah itu?
Bukan. Itu adalah berita luar biasa.
Apakah Anda penulis atau bermimpi menjadi seorang penulis profesional?
Maka berita di atas itu merupakan berita spektakuler.

Apakah saya mengada-ada berbicara demikian. Melebih-lebihkan. Atau bermaksud promosi dikarenakan komunitas tersebut kebetulan adalah komunitas menulis dimana saya lumayan aktif berkecimpung?

Jawabannya, Tidak.
Saya tidak mengada-ada. Sebab berita perkembangan komunitas itu untuk menjadi lebih besar adalah kabar yang sangat spektakuler buat saya. Tentu saya sangat ingin ambil bagian. Karena ambil bagian dari sebuah perkembangan yang besar akan membesarkan diri kita. Mayoritas penulis ternama terlahir dari komunitas yang punya nama. Jadi, jangan sepelekan sebuah perkembangan komunitas, apalagi komunitas dimana Anda menjadi anggotanya.


Sunday, August 5, 2012

Segmen Anak Masih Belum Tergarap Penulis

Ingin menjadi penulis, tentunya perlu menentukan segmen yang ingin digarap. Walaupun penentuan ini bukanlah aturan mutlak yang tidak bisa dilanggar seorang penulis. Tetapi seyogyanya, seorang penulis perlu mengkhususkan diri pada bidang tertentu. Hal ini merupakan salah satu metode pencitraan diri seorang penulis, agar masyarakat menjadi lebih mudah mengenal seorang penulis.

Dalam dunia menulis, ilmu marketing juga diperlukan. Seperti dunia bisnis lainnya, segmen menulis pun terbagi dalam kotak-kotak konsumen tertentu, seperti: segmen usia yang meliputi segmen remaja, anak-anak, dan dewasa. Segmen jenis karya tulis yang meliputi segmen fiksi dan segmen non fiksi. Serta masih banyak lagi pembagian menurut kategori tertentu.

Tetapi, perlu diketahui penulis, saat ini segmen tulisan untuk anak-anak sedang menjadi sorotan penerbit. Lapangan ini kurang begitu digarap oleh penulis, sementara konsumen pembaca anak-anak jumlahnya tidak terbilang sedikit. Apalagi sekarang, ditemukan pihak-pihak tak bertanggung jawab yang menyuguhkan komoditi tulisan tak sesuai untuk anak-anak di bawah umur. Dunia pendidikan pun menjadi sorotan. Himbauan pun semakin ramai terhadap semua pihak yang bertanggung jawab untuk pendidikan generasi masa depan, agar mampu memberikan buku bacaan maupun karya lagu berkualitas untuk anak-anak Indonesia.

Menanggapi kondisi tersebut, beberapa penerbit mulai membuka kesempatan sebesar-besarnya kepada penulis yang tertarik menerbitkan buku untuk anak-anak. DAR Mizan, sejak lama telah membuka tangan menerima tulisan-tulisan bertema islami untuk anak-anak. Penerbit Bentang pun mendirikan Bentang Belia dan mengadakan lomba menulis untuk anak-anak maupun bertema anak-anak untuk merekrut sebanyak mungkin penulis-penulis berbakat yang tertarik pada kategori tulisan anak.

Sebuah penerbit self publishing, Leutika Prio, pun tak ketinggalan menggarap tema ini. Leutika Prio membuka kesempatan sebesar-besarnya pada penulis yang tertarik pada segmen anak dengan memberikan diskon biaya penerbitan buku serta kesempatan yang luas untuk diterbitkan secara nasional.

Wow, ini kesempatan emas buat yang ingin profesional menjadi  penulis. Tertarik?


Tuesday, July 31, 2012

Nikmati Bergelut dengan Proses

Idenesia, Metro TV, 28 Juli 2012 -- sebuah acara yang dipandu oleh Yovie Widiyanto, mengusung tema "Pena Cinta" mengundang tiga bintang tamu wanita dari ranah menulis, Djenar Maesa Ayu, Albertine Endah, dan Asma Nadia.

Ketiga wanita hebat tersebut telah punya nama di segmennya masing-masing. Djenar Maesa Ayu sendiri merupakan penulis cerpen yang karyanya telah sering mendapat penghargaan sastra. Albertine Endah, penulis biografi yang telah sering bekerjasama dengan orang-orang ternama, dari Ibu presiden Ani Yudhoyono, Crishye, hingga Krisdayanti. Sementara Asma Nadia adalah penulis yang memimpin komunitas penulis terbesar di tanah air.

Melihat sosok-sosok hebat tersebut, menciutkan diri saya. Siapakah saya? Penulis yang tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Mungkinkah saya mempunyai kemampuan untuk berada satu meja dengan mereka?  Mungkinkah karya saya bisa sejajar dengan karya mereka suatu saat nanti? Mungkinkah Tuhan memberikan saya kesempatan seperti Tuhan telah memberikan mereka kesempatan? Ah, jelas mereka tidak sama dengan saya, karena Tuhan telah melimpahkan mereka bakat dan nasib.

Pesimis? No Way...

Jangan pernah berpikir sesuatu terjadi begitu saja. Selama itu adalah hasil karya manusia, maka tentu mengalami suatu proses. Sebagai orang lain, kita tidak mengetahui proses tersebut. Hal itu hanya dialami oleh yang bersangkutan sendiri. Orang lain hanya melihat hasil. Karena itu, mengapa seseorang kita anggap hebat dan luar biasa, sementara orang itu sendiri menganggap dirinya biasa saja. Perbedaan pandangan tersebut terletak pada "proses" yang dialami.

Selama membaca biografi penulis-penulis besar, rata-rata proses menulis dilakukan sejak usia sangat muda. Hasrat menulis dipengaruhi keluarga, teman, atau orang-orang terdekat lainnya. Kemampuan menulisnya semakin berkembang karena faktor lingkungan mendukung. Kebanyakan penulis semakin besar setelah bertemu komunitas menulis, teater, ataupun film.

Jadi, jalanilah setiap detail proses dengan sungguh-sungguh. Jangan pernah sepelekan proses. Karena hasil tergantung dari proses yang kita jalani. Semua orang bisa menulis, tetapi tidak semua orang bisa menjadi penulis. Bakat bukanlah faktor yang paling mempengaruhi untuk sukses di dunia kepenulisan, tetapi kemauan bergelut dengan proses yang panjang untuk menjadi penulis.

"Apabila semua PROSES digampangkan, apa lagi istimewanya sebuah PERJUANGAN." 
(Mardiana Kappara)
 


 


 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger