Tuesday, April 21, 2015

Novel : Tukar Raga (3)

"Rom, pasti ada seseorang kan yang kau cari di sini?"
"A,..Aku, aku tidak sedang mencari siapa-siapa. Aku hanya,.."
Tiba-tiba Juliet melongokkan kepalanya dari dalam kamar. Kamarku yang seharusnya memang menjadi kamarku apabila aku tidak di tubuh lelaki ini. Juliet menatapku. Tetap sinis. Lalu dia masuk kembali dan menutup pintu kamar.
"Kau mencari Juliet?" Vonny bertanya
Aku menggeleng, "Ti,..tidak."
Vonny memicingkan mata menatapku.
"Iya. Aku tidak mencari Juliet." Aku meyakinkan perempuan berjilbab tersebut.
"Siapa yang kau kenal di sini?"
Aku berpikir. Seketika Cimut melintas dari kamar mandi.
"Cimut!!!"
Perempuan berbadan tambun tersebut gelagapan menepis handuk yang menutup kepalanya. Lalu mencari-cari asal suara yang meneriakkan namanya, "Ya?" 
"Cimut! Aku Romeo!" Panggilku lagi. 
Setelah matanya menangkap sosokku otomatis Cimut langsung melongo.
"Cimut, ingatkan aku ajak kamu dua minggu lalu makan di lesehan pecel lele depan kostan ini?"
Cimut tambah melongo. Tapi hanya sejenak. Sekian detik kemudian dia mengangguk-angguk dengan mengacungkan telunjuknya ke udara. "Oh, yang itu,..."
"Iya, Mut! Ingatkan?"
Cimut setengah tak yakin menganguk-angguk lagi.
Vonny menatapku dengan kening berkerut, "Kau mencari Cimut?"
"Iya. Cimut." Tunjukku dengan senyum sangat lebar.
"Aku masuk dulu ya, aku ada kuliah setengah jam lagi." Sahut Cimut.
"Oke. Ma kasih ya, Mut yang kemaren." Sahutku basa-basi.
"Sama-sama." Cimut masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan rapat.
"Ada urusan apa kau dengan Cimut?"
"Aku, aku minjam catatan kuliahnya."
"Catatan kuliah? Dia kan Teknik Sipil!"
Aku menepuk jidat. Aku kan Ilmu Pemerintahan. goblok!
"Iya. Tapi sebenarnya cuma alasan,..."
"Alasan?" Vonny semakin curiga.
"Aku ada perlu dengan Cimut secara pribadi." Jawabku.
"Kau mendekati Cimut?" Vonny bicara setengah berbisik.
"Oh, tidak! Tidak, Von!"
"Gila kau Rom, Marsya dibanding Cimut seperti bumi dan langit. Kau sakit Rom!"
Aku meletakkan telunjuk di atas bibirku.
"Kau gila, Rom! Memang ada masalah apa kau dengan Marsya?" Vonny mengecilkan volume suaranya. 
Aku menggelengkan kepala, "Tidak ada. Tidak ada apa-apa."
"Beberapa minggu ini kulihat Marsya murung dan tidak banyak bicara. Kamarnya saja sering dikunci dari dalam. Kalau kutanya, dia selalu bilang sedang tidak enak badan. Kau pun kulihat jarang main ke kostannya."
Aku akhirnya merasa kesal juga dengan berondongan pertanyaan Vonny.
"Aku tidak tahu, Von. Dan aku rasa tidak ada apa-apa. Lagian kenapa kau jadi persis emaknya?"
Vonny mengatupkan mulutnya rapat.
"Mohon maaf ya, Von. Aku juga saat ini sedang mengalami kebingungan yang sangat terhadap diriku. Jadi tolong lah kasih aku waktu untuk menyesuaikan diri."
"Rom! Marsya itu sahabatku dan lebih dari saudara aku. Jadi sekarang, tolong bantu aku untuk melihat Marsya. Kalau dia memang sudah tidak lagi, aku ingin melihat jasadnya."
"Hm, kau benar-benar tidak tahu Marsya sudah meninggal. Tidak ada yang berkunjung ke kostanmu dari kepolisian beberapa hari ini?"
"Aku sedang keluar empat hari ini. Aku tidak di kostan."
Aku hanya mengangguk.
"Antar aku, Rom. Aku ingin lihat Marsya."
"Mungkin dia masih di ruang otopsi rumah sakit? Aku juga tidak tahu Von. Aku cuma diinterogasi di kantor polisi. Aku sama sekali tidak dipertemukan dengan mayat Marsya."
"Kau masih pacarnya kan?"
Aku mengangguk pelan.
"Kau tidak ingin melihat dia untuk terakhir kalinya?"
Aku mengangguk lagi.
"Ya, ayo!" Seret Vonny.
Aku terpaksa mengikuti perempuan tersebut ke arah mobil Mirage merah yang diparkirnya di pekarangan kost-kostan.

(Bersambung)

Cerita sebelumnya Novel: Tukar Raga (2)

Sunday, April 19, 2015

Balakosa (Bagian 1)

Namaku. Tidak ada. Aku tanpa nama. Aku dari langit dan diturunkan ke bumi bersama bulir-bulir air hujan yang terjun bebas ke bumi. Aku bukan manusia. Aku juga bukan dewa. Aku hanya semacam pendamping untuk anak-anak dewa yang dibuang atau diturunkan ke bumi. 

Kalian pikir cuma di bumi, makhluk yang tidak punya hati berada dan beranak-pinak? Di langit. Tempat tinggal para dewa. Banyak juga yang semacam manusia. Mereka seperti tidak punya perasaan terhadap buah hati mereka sendiri yang seolah tak jauh beda dengan onggokan sampah. Tidak terhitung bayi-bayi dewa yang dibuang ke bumi. Tetapi, bayi-bayi dewa masih lebih beruntung dari bayi-bayi manusia. Sebab bayi-bayi dewa turun ke bumi bersama tetesan hujan dan jikalau dia beruntung, dia akan bertemu perempuan yang sedang mengandung dan berdiamlah dia di dalam rahim si ibu dan berangsur-angsur bersemayam di raga si cabang bayi manusia.

Kau tidak percaya ceritaku?

Bayi-bayi dewa yang terbuang hanya bisa selamat dengan cara seperti itu. Dan hal itu tidak ada ruginya buat calon bayi manusia yang dihinggapi. Bayi manusia itu malah mendapat semacam berkah. Dia tidak akan terlihat sebagai manusia biasa, dia pasti dikaruniai kelebihan yang membuatnya akan terlihat menonjol dibanding manusia yang lain, bisa jadi wajahnya terlihat lebih memikat, atau kecerdasan anak manusia tersebut menjadi di atas rata-rata, atau bisa jadi sudah menunjukkan bakat seorang pemimpin yang kuat. Dan, kami, para pendamping akan mengenali anak-anak manusia yang disemayami oleh anak dewa karena walaupun selaku pendamping kami adalah makhluk metafisika buat manusia, tetapi sebagai sesama pendamping kami bisa saling melihat fisik masing-masing.

Dan, aku, adalah pendamping putera Dewa Astula. Tetapi tidak sama dengan nasib bayi-bayi dewa lain yang dibuang karena tidak diinginkan. Dewa Astula membuang puteranya karena menurut ramalan Dewi Aruna, saudara kandung Dewa Astula, kehancuran kerajaan Astula akan datang dengan lahirnya putera mahkota, kecuali putera mahkota tersebut diturunkan ke bumi dan kesialan yang dibawanya ketika lahir ditinggalkan di bumi. Awalnya Dewa Astula tidak percaya, betapa beliau sangat menginginkan puteranya tersebut setelah dengan sabar melewati kelahiran demi kelahiran 14 puterinya. Doanya tersebut akhirnya terkabul di angka 15. Namun, menurut Dewi Aruna tidak ada pilihan lain. Kesialan yang dibawa putera mahkota harus disinggahkan ke bumi agar tidak membawa kesialan bagi kerajaan Astula di langit.

Itulah awal ceritanya, aku dipanggil Dewa Astula. Aku adalah pendamping terbaik diantara ribuan pendamping dan tugasku adalah menjaga dan memastikan bahwa putera Dewa Astula, Dewa Balakosa, bisa menemukan rahim seorang perempuan untuk bersemayam. Karena bila tidak menemukan selama 3 hari, maka Dewa Balakosa akan berangsur-angsur sirna karena energinya disedot oleh energi inti bumi. 

Ini adalah hari pertama kami turun ke bumi bersama tetesan hujan. Aku mengamati Dewa Balakosa yang masih merah. Dia terlihat sangat tampan dan tenang. Kami mendarat di tumpukan sampah yang menggunung. Baunya luar biasa memutarbalikkan isi perut. Tetapi Dewa Balakosa tidak terpengaruh, di dalam gelembung yang mengambang dia tertidur pulas. Kupandangi kakiku yang transparan menapak di atas tumpukan sampah yang berlendir dan ujung ekorku menempel pada gelembung yang berisi Dewa Balakosa, kemanapun aku bergerak gelembung tersebut tak akan lepas dari ekorku selama energi hidupnya masih ada. Dan biasanya energi hidup rata-rata bayi dewa tidak lebih dari  72 jam.

(Bersambung)

Wednesday, April 15, 2015

Skizophrenilove



Skizophrenilove, merupakan antologi dari 10 orang penulis diantaranya oleh Nana Sastrawan, Rini Intama, Nenny Makmun, Icha Rain, Dea Malyda Atmitha Akbar, Diah Hastorini, Anggi Putri, Mardiana Kappara, Widara, dan Okty KN. Pemesanan bisa dilakukan langsung ke PIN BB 5537487A dan Nomor Handphone 081373581989 seharga Rp 35.000 (telah discount) di luar ongkos kirim.

Berikut sebuah Cerpen dari karya Mardiana Kappara di buku tersebut dan silahkan nikmati cerita-cerita cinta lainnya yang tak kalah seru!


Cupid in Love
oleh Mardiana Kappara

Konon, Cupid butuh ijazah untuk izin operasi. Cupid turun ke bumi pertama kali untuk mengikuti semacam tes. Apabila lulus dari tes tersebut, Cupid resmi menyandang status “dewa cinta berijazah” yang bisa bebas berkelana di bumi.  Kini, tibalah waktunya Cupide, Cupidi, dan Cupido mengikuti tes turun bumi pertama demi dapat  mengantongi ijazah yang diidam-idamkan setiap umat Cupid tersebut. 
Cupide menjerit panik, “Gila! 13 hari untuk turun ke bumi?”
Cupidi melirik Cupido, “Ya, salah siapa? Siapa yang nggak bisa lihat peta!”
“Lah, jangan salahkan aku!” bela Cupido.
“Kalian sadar tidak, itu artinya cuma tersisa dua hari untuk menyelesaikan tes?” Cupide tambah panik.
Cupidi mendelik, “Ya syukur masih ada 2 hari!”
Cupide lebih mendelik,”Syukur Kepala Petak!”
Cupido dan Cupidi manyun.
“Hei, coba ingat-ingat. Sekarang, apa yang harus kita kerjakan?” Cupide berusaha meredam panik dan mulai fokus.
Cupidi menarik gulungan kertas dari tangan Cupido, membacanya berlahan, “Hm, keempat nama itu adalah Laila, Juminten, Subekti, dan Nyono. Umur 30-an. Tinggal di Gang Senggol. Disinyalir mereka merupakan tetangga, dan bisa jadi cukup intens mengalami kontak.”
Cupide merampas gulungan kertas dari tangan Cupidi, “Laila adalah seorang pelatih karate, Juminten pembantu rumah tangga, dan Nyono adalah Office Boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu Subekti bekerja sebagai buruh bangunan,... Sementara posisi gang Senggol diperkirakan,...” Cupide kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan dengan seksama.
“Laila! Neng Laila! Tunggu!”
Seorang pria kurus berseragam biru setengah berlari mengejar seorang wanita yang terburu-buru keluar dari mulut gang tak jauh dari simpang jalan di mana ketiga Cupid berdiri.
Si wanita yang dipanggil menghentikan langkah tampak kesal, “Ada apa?”
“Tolong, berhentilah mempermainkan saya. Sudah berapa kali saya mengirimkan surat  kepada Neng Laila, tetapi beberapa kali pula malah diberikan orang lain. Dulu Si Kokom, tukang gado-gado itu, sampai saya harus menginap di kantor karena takut pulang bakal ketemu Si Kokom. Terus Bu Tetty, janda setengah stress itu, sampai saya terancam pindah rumah karena dia terus datang minta kawin. Terakhir Si Mince, banci rombengan itu. Aduh, Neng Lail! Cinta saya ini cuma buat Neng. Apa Neng nggak pernah percaya?”
“Terus sekarang maunya Mas Nyono apa?”
“Saya bener-bener cinta sama Neng Laila.”
“Tapi saya tidak, Mas Nyono.”
“Dibandingkan lelaki itu. Subekti. Saya lebih bersedia menikahi Neng Laila. Subekti cuma peduli pada Juminten yang seksi itu. Subekti cuma peduli pada penampilan perempuan...”
Laila naik pitam, “Oh, jadi menurut Mas Nyono, saya ini kurang seksi, kurang cantik? Kalo menghina jangan terang-terangan begitu dong!”
Nyono gugup, “Bu-bukan, bukan begitu maksud saya. Saya cuma mau bilang, bahwa saya mencintai Neng Laila karena saya tahu Neng Laila mempunyai kecantikan abadi, yaitu hati yang lembut, baik, dan tulus. Apalah artinya kecantikan wajah, kalau hanya dalam beberapa tahun pasti akan memudar. Cantik hati akan selamanya. Dan cantik itu yang saya cari dari Neng Laila.”
Laila mencibir. Dengan langkah tergesa si wanita menjauh dari si pria kurus yang tampak masygul ditinggalkan tanpa tanggapan.
Cupide menjentikkan jarinya riang, “Pucuk dicinta ulam tiba. Gusti Cupid memang berpihak pada kita. Tanpa perlu bersusah payah, ternyata malah sasaran yang menemui kita. Selanjutnya apa langkah kita?”
“Hm, kira-kira, apa mungkin membuat mereka saling  jatuh cinta dalam dua hari?” Cupidi menyahut ragu.
Cupide dan Cupido saling menatap. Bimbang pula.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di muka ketiga Cupid. Ternyata seorang lelaki kekar menghadang langkah seorang wanita berkebaya menggendong bakul. Wanita itu berpostur biola, sehingga lekukan membayang jelas di kebaya dan kain batik yang melilit tubuhnya yang sewarna gading. Cupido yang baru menyadari kehadiran keduanya langsung terpana.
“Pagi, Juminten,” sapa lelaki di atas motor.
Si Juminten yang digoda tersenyum malu-malu, “Pagi, Bang Bekti.”
“Mau mengantar cucian?”
Juminten mengangguk.
“Mau diantar?”
Juminten kembali tersenyum malu, “Abang tidak kerja?”
“Libur. Mau diantar ke mana cuciannya, Jum?”
“Jurangan Ali.”
“Ya, sudah. Sini ikut Abang, sekalian Abang ada perlu dengan Jurangan Ali.”
Juminten tampak senang, “Wah, serius, Bang. Ma kasih ya.”
Subekti mengerling membuat muka Juminten merona merah. Setelah Juminten naik, motor bebek 70-an tersebut segera melaju meninggalkan persimpangan.
Cupido masih memandangi bayangan keduanya, “Juminten cantik...”
Cupide dan Cupidi saling bertatapan senang kemudian langsung berpelukan, “Puja untuk Gusti Cupid! Tidak sulit untuk mempersatukan keduanya!”
Cupido menampik, “Tidak! Ini cinta bertepuk sebelah tangan.”
Pelukan Cupide dan Cupidi terlepas, “Apa maksudmu?”
“Lihat, apa kalian tidak melihat hanya si pria yang berhasrat?” tanya Cupido.
“Ah, bagaimana kau bisa tahu?” Cupidi protes.
“Hanya Subekti yang punya perasaan, Juminten biasa-biasa saja,” jelas Cupido
Cupidi melirik, “Alah, Sok tahu!”
Cupido menjawab, “Aku tahu perasaan perempuan semacam Juminten.”
Cupide tertawa, “Untuk detik ini kita tidak butuh banyak analisa, yang penting hasil. Paham!”
Cupido protes, “Tentu penting analisa. Bagaimana mungkin hal yang berhubungan dengan perasaan dianggap barang sepele?”
“Tidak untuk dua hari ini, Cupido! Sekali lagi aku mohon, tidak untuk dua hari ini. Paham!”
Cupido terpaksa membungkam mulutnya rapat-rapat dan hanya mengangguk.
***
 “Malam, Mbak Juminten,” cegat Cupido setelah setengah jam menunggu di mulut Gang Senggol. Juminten mengerutkan kening menatap Cupido.
“Mengenali saya?”
Juminten menggeleng.
“Wajar. Saya memang tidak tinggal di gang ini. Saya Cupido,” mengulurkan tangan. Juminten balas mengulurkan tangan ragu-ragu, namun cepat ditarik kembali.
“Memang, ini pertemuan Mbak yang pertama dengan saya. Tapi saya sudah pernah melihat Mbak di simpang jalan ini. Jujur, saya sangat kagum dengan Mbak, dengan segala hal yang Mbak punya. Tubuh. Wajah. Suara. Gerak-gerik. Semua penuh  seni. Sangat seksi! Saya jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Juminten langsung mengayun  langkah hendak pergi. Tapi Cupido cepat menahan.
“Eits, sebentar. Saya belum selesai bicara.”
“Maaf  ya anak ingusan  atau  anak kemaren sore! Saya ini perempuan baik-baik. Saya bukan perempuan begituan. Saya pembantu rumah tangga. Saya bekerja dengan kedua tangan saya secara halal. Kalau penampilan saya seperti ini, apa berarti saya harus dipersalahkan karena telah mengundang syahwat laki-laki? Saya tidak minta dilahirkan dengan tubuh sintal, suara seksi, dan wajah cantik. Lelaki saja yang terlalu punya banyak pikiran kotor sehingga tidak bisa mengendalikan nafsunya! Apalagi anak bau kencur yang kebanyakan nonton film blue seperti kamu!”
“Houw! Houw! Kenapa jadi memvonis begitu! Saya tidak menilai Mbak seperti apa yang Mbak barusan utarakan. Sebentar, mungkin saya salah bicara. Saya kemari bermaksud menawarkan jasa.” Cupido segera mengeluarkan selebaran pamflet yang dibawanya lalu menyerahkan kepada Juminten.
Juminten membacanya, “Biro Jodoh?”
Cupido mengangguk, “Biayanya relatif lebih murah dari yang lain. Kami jamin datang ke biro jodoh kami pasti akan menemukan jodoh. Dan untuk pembukaan perdana, ada penawaran gratis untuk  empat orang.”
Juminten menyerahkan balik selebaran itu, “Saya tidak tertarik!”
“Paling tidak datang saja. Ada Door Prize!”
Door Prize?” mata Juminten langsung terbelalak. Sudah seringkali dia mendengar kata itu, tapi sekalipun belum pernah dia melihat bentuknya. Rasa ingin tahu mendesaknya.
Cupido tersenyum yakin bahwa mangsa terakhir sudah masuk perangkap. Kakinya segera melangkah dengan ringan kembali menemui kedua rekannya di markas.
***
Sebuah gudang tua disihir Cupide menjadi Biro Jodoh Cupid. Nuansa temaran nan romantis dengan bangku-bangku memenuhi ruangan. Sebuah panggung lengkap dengan band dangdut menambah suasana hangat acara tersebut.
 “Akhirnya, selamat datang di biro jodoh kami! Silahkan menikmati hidangan yang disediakan. Semoga malam ini menjadi malam keberuntungan buat semua!”
Tepuk tangan membahana menutup sambutan Cupide. Cupide turun panggung. Band langsung memainkan irama “Boneka India” mengundang tamu turun bergoyang.
Sementara itu, sejak tadi Cupido terus mengamati Juminten. Cupido tidak membuang-buang kesempatan ketika Subekti beranjak dari sisi Juminten. Dia segera menghampiri Juminten yang sedang duduk sendirian.
“Malam, Mbak Juminten,” sapa Cupido berusaha memamerkan senyum terbaiknya.
“E, Dik Cupido. Malam,” balas Juminten ramah.
“Bisa ditemani?”
Juminten tersenyum, “Silahkan.”
Cupido segera duduk di samping Juminten.
“Malam ini Mbak Juminten terlihat sangat istimewa.”
Juminten tersenyum, “Begitu ya?”
“Benar. Dari tadi bahkan saya tidak bisa berpaling dari Mbak. Saya tidak bohong. Selama ini saya selalu membantu orang menemukan cinta. Tapi baru pertama kali ini saya merasa menemukan cinta saya.”
Wajah Juminten bersemu merah, “Ah, Dik Cupido ini punya bakat jadi Playboy juga rupanya. Tapi, memang bener ada Door Prize-nya? Saya sudah menunggu dari tadi.”
Cupido tampak kecewa karena dialihkan, “Oh, Door Prize ya? Sebentar, saya tanya pada Ketua Panitia... Tunggu ya, Mbak Jum.”
Juminten mengangguk.
Cupido segera berdiri dan melangkah mendekati Cupide dan Cupidi yang berada jauh dari para tamu. Tampang keduanya sangat serius mengamati.
“Cupide!” tegur  Cupido.
Cupide mengangkat telunjuknya ke atas bibir.
“Semua sudah berkumpul. Setiap sasaran telah berada pada posisi tembak,” bisik Cupidi.
“Ya.” Cupide melihat Subekti menghampiri Juminten dan Nyono tak pernah lepas menguntit Laila.
“Kurasa ramuan kita sudah bekerja.”
“Ramuan apa?” Cupido langsung berujar penasaran.
“Aku campur ‘Cinta Buta’ pada minuman dengan dosis tinggi dan ‘Cinta Setengah Mati’ pada makanan. Aku yakin tembakan panah ini tidak akan meleset!” jawab Cupide menjentikkan jarinya.
“Ok. Aku siap!” Cupidi mengeluarkan busur dan membidikkan anak panahnya.
“Hei! Apa ini?” Cupido membentak.
Cupidi menurunkan anak panah bingung, “Tentunya menembak lah, Man?
“Bukannya terlalu cepat?” tanya Cupido.
“Terlalu cepat? Hei Man! Waktu kita tinggal satu jam lagi. Apabila gagal, jangankan ijazah,... Pufhh!! Kita pun bisa jadi dihilangkan dari alam ini!” potong Cupide kesal.
Cupidi kembali mengangkat busurnya untuk membidik.
“Kalau boleh tahu pasangan mana yang akan kalian tembak pertama kali?” rasa penasaran Cupido tak tertahankan.
“Juminten-Subekti,” jawab Cupidi.
“Tunggu! Kenapa harus mereka duluan?” seru Cupido cemas.
Cupide mengerutkan kening, “Ada apa denganmu, Man?”
“Jangan bilang kau benar-benar jatuh cinta pada Juminten!” ujar Cupidi.
Cupido tersenyum malu-malu dan mengangguk.
“Oh, Gusti Cupid!” Cupidi menepuk jidatnya.
“Ah, sudahlah Cupidi. Cepat saja tembak  Juminten dan Subekti!” perintah Cupide.
“Hei! Apa kalian tidak menghargai perasaanku? Apa aku tidak berhak jatuh cinta? Apa aku tidak berhak tertarik pada seorang perempuan?”
“Kau Cupid, Man! Dewa Cinta!”
“Memang Cupid dilarang jatuh cinta?”
“Ah, urusan itu tanya saja pada Gusti Cupid. Sekarang kewajiban kita adalah menyelesaikan tes! Ayo tembak. Jangan disia-siakan lagi!”
Cupidi langsung mengarahkan anak  panah pada Juminten-Subekti.
“Tidak! Tidak bisa! Obat peletku belum bekerja!” ujar Cupido berusaha merampas busur Cupidi.
“Apa? Ini benar-benar gawat! Di mana otakmu? Dia manusia dewasa dan kau calon Dewa Cupid. Untuk ukuran manusia pun kau terlalu belia untuk Juminten!” Cupide berusaha melepas Cupidi dari cengkraman Cupido.
“Cupidi, cepat tembak mereka!”
“Tidak! Aku tidak terima!” teriak Cupido.
Akhirnya terjadi tarik-menarik di antara ketiganya. Juminten dan Subekti yang awalnya saling berdampingan merubah posisi. Juminten menghampiri Laila yang memanggilnya. Sementara Nyono dengan wajah sedih menemui Subekti dan membisikkan sesuatu pada Subekti. Pada saat itulah Panah Cinta melesat dan tepat mengenai Subekti dan Nyono. Ketiga Cupid sama-sama terkejut.
Nyono menatap penuh cinta pada Subekti. Begitu pula sebaliknya.
“Nyono,...” Subekti menarik lembut tangan Nyono ke dadanya.
“Mas Bekti,...” Nyono menatap Bekti dengan mata berbinar-binar.
“Oh Nyono sayang, Maukah kau menikah denganku?” tanya Subekti menggenggam erat tangan Nyono yang tersenyum  malu-malu.
“Tentu, Mas Bekti...”
“Lihat! Akibat ulahmu! Kita telah membuat kesalahan fatal. Bagaimana ini Cupide?” tanya Cupidi kesal sekaligus panik.
“Entahlah,” jawab Cupide bingung.
“Ya sudah, berhubung sudah jadi satu pasangan. Masih tinggal satu lagi yang harus kita jadikan,” sahut Cupidi menarik kembali busurnya.
“Apa kalian gila? Juminten dan Laila kan sama-sama perempuan?” ujar Cupido tak terima.
“Bukannya Subekti dan Nyono juga sama-sama laki-laki? Seharusnya semua berjalan sesuai jalurnya. Ini akibat otak gila dan keegoisanmu. Sudahlah! Tes ini juga tidak menjelaskan syarat apa-apa selain meminta kita membuat dua pasangan cinta dari keempat orang tersebut,” sahut Cupidi tanpa ragu.
“Tidak bisa!” berang Cupido kembali ingin merampas panah Cupidi.
"Cupido!!! Bukan kita yang harus membahagiakan cinta! Tetapi cintalah yang harus membahagiakan kita! Cinta cuma alat, bukan tujuan!” bentak Cupide sambil merampas busur Cupidi kemudian menghempaskannya sekuat tenaga ke lantai. Busur itu patah menjadi dua.
Cupido terpaku.
“Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk memilih belahan jiwa, kawan! Dan itu, bukan semata cinta, Cupido...,” tambah Cupidi membuat Cupido semakin diam. 

 Cupidi menepuk bahu sahabatnya. Kemudian dia mengambil busur yang masih bertengger di punggung Cupido. Lalu kembali siaga pada posisi tembak, dengan penuh keyakinan Cupidi melesatkan anak panah terakhirnya ke arah Juminten dan Laila. Sementara Cupido langsung terduduk lemas menatap cintanya perlahan pudar. (Selesai)

Tuesday, April 14, 2015

Workaholic

Malam ini aku tidak sedang sendiri. Walau malam terasa begitu hening. Aku sedang bercakap-cakap dengan diriku sendiri. Percakapan itu tidak benar-benar sebuah dialog. Permasalahannya aku terlalu sibuk bekerja dan menghabiskan pikiranku pada tiap angka yang tertera di layar laptop.
"Bekerja?" diriku yang satu bertanya.
Sementara diriku yang lain diam saja.
"Masih bekerja?" diriku satu kembali bertanya.
"Iya. Kan kau bisa lihat."
"Aku rasa kau tidak bekerja."
Diriku yang lain menghentikan hentakan jarinya di atas laptop.
"Kau kira aku sedang main-main? Aku sedang lembur. Kerjaanku menumpuk. Besok ada tim peninjau yang akan datang. Mereka adalah analis. Mereka perlu menganalisa kerjaku. Kalau aku bagus, maka aku bisa naik pangkat."
"Begitu."
"Iya."
Si diriku satu diam.
Diriku yang lain kembali menghentakkan jari-jarinya di atas laptop.
"Bekerja lagi?"
"Iya."
"Kau suka kerja?"
"Tentu."
"Buat apa?"
Diriku yang lain tertawa, "Pertanyaan bodoh."
"Memang apa pertanyaan pintar?"
"Kau sedang bosan?"
"Tidak. Kurasa kau yang bosan."
"Kenapa begitu? Aku sedang banyak pekerjaan."
"Kau jenuh."
"Tidak. Aku sedang baik-baik saja."
"Boleh aku ulang pertanyaan bodohku?"
Si diriku yang lain hanya mencibir.
"Dijawab."
"Kau mau jawaban seperti apa? Kau pasti tahu jawabannya. Kita kan satu."
"Aku tidak tahu."
Si diriku yang sibuk bekerja menghentikan kesibukannya. Dia menatap diriku yang satunya, "Ada apa denganmu?"
"Tidakkah ada waktu untuk diri kita?"
"Buat apa?"
"Bercengkrama."
Diriku yang bekerja tertawa, "Sudahlah, tidur saja kalau kau mengantuk. Aku masih punya setumpuk lagi pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan itu harus besok!"
Satunya menghela nafas, "Bekerjalah,..."
"Iya. begitu. Itu baru anak baik."
"Iya, aku selalu jadi anak baik untuk jiwa sepertimu."
"Aku kan sibuk demi kita."
Satunya diam saja.
"Kau tahu kan itu."
"Entahlah. Mungkin saja aku tahu. Mungkin saja aku tidak tahu."
Si sibuk menggeleng.
"Aku tidur."
"Iya. Aku kerja dulu. Nanti aku menyusul."
"Iya."

Demi Semangat

Perempuan itu diam. Dia berhenti bicara. Hanya terpaku dalam diam. Dia tidak marah pada siapapun apalagi dia protes pada suatu kondisi apapun. Dia hanya bungkam. Tanpa ada satupun maksud untuk beranjak dari posisi diam. 

Kenapa dia berdiam? Sudah berapa lama dia diam?

Kurasa 300 tahun.

Dia diam?

(Mengangguk)

Tidak mungkin! Apa sebab?

Karena dia telah kehilangan sepotong Semangat dalam hidupnya.

(Tertawa) Berlebihan kalau begitu!

Berlebihan bagaimana maksudmu? Sepotong semangat juga sama dengan sepenggal jiwa. Kalau kau sudah kehilangan itu maka sama saja kau telah kehilangan nyawa. Selamat! kau jadi mayat hidup karena sepotong semangat tidak berarti sepenggal jiwa walaupun nyaris sama. Kalau kau kehilangan nyawa. Tinggal dikubur. Tetapi kalau kau kehilangan semangat - tidak akan ada yang mau menguburmu.

Mengerikan! Jangan sampai terjadi padaku.

Semoga kau cukup punya asupan dalam kepalamu untuk membuat sepotong benda itu tidak hilang dari tubuhmu.

Aku jamin 100% tak kubiarkan dia hilang!

Jangan terlalu yakin. Nanti nasibmu tidak jauh beda dengan perempuan itu. Dia terlalu bersemangat hingga dia lupa memberi makan semangat itu agar tetap bernyawa. Dia terlalu memaksa semangat itu bekerja. Padahal semangat juga butuh ruang, butuh udara, butuh waktu senggang. Nikmati hidup dengan semangat sama berarti memberikan nikmat pada semangat itu sendiri. 

Hm

Kau masih punya sepotong semangat dalam dirimu?

(Mengangguk) Akan kuberi dia makan biar dia gemuk dan energik.

Hati-hati, jangan makanan sampah. Dia bisa kena penyakit!




Tuesday, August 26, 2014

Apakah Anda hewan yang tak sekedar Pandai?

"Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai." (Pramoedya Ananta Toer)




Friday, May 23, 2014

Mengapa Menulis?

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”  




Mungkin pertanyaan saya itu sudah dijawab oleh Pramoedya Ananta Toer di atas. Kalau Anda ingin menjadi orang yang berbeda dan selalu diingat dari orang yang biasa di suatu zaman, maka menulis lah!

Mengapa menulis?
Pertanyaan itu tetap muncul?
Sama dengan pertanyaan: Mengapa makan?
Bagi beberapa orang, 'menulis' seperti kebutuhan primer selayaknya 'makan'. Tanpa menulis, maka sesuatu dalam diri mengalami jammed atau macet. Bisa saja kita tidak makan, tetapi kehidupan kita tidak berjalan secara natural dan sehat. Kita akan menjadi pesakitan sebelum akhirnya mati secara total.

Mengapa menulis?
Mampu menulis adalah sebuah anugerah. Sangat sayang untuk disia-siakan. Menulis, menulis, dan menulis seperti makan, makan, dan makan. Demi kehidupan. Berbahagia lah memiliki hasrat untuk menulis. Tidak perlu mempedulikan komentar orang. Siapa pun berhak suka atau tidak dengan tulisan yang kita buat. Tulisan adalah refleksi dari panca indera dan otak. Tulisan menunjukkan kemampuan kita dalam mengasah kecerdasan. Ingin cerdas? Banyak-banyaklah menulis dan membaca!

 

 
 

(c)2009 Mardiana Kappara. Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger