Sunday, March 31, 2013

Novel : Tukar Raga (1)


Sesosok mayat belepotan darah telentang di atas ranjang kamar kostku. Sementara di tanganku tergenggam sebilah pisau berlumur darah. Sesaat wajahku pucat dan jantung berdegup kencang.
Tok! Tok!
Tiba-tiba pintu kamar yang terkunci di ketuk orang.
“Romeo!” tegur di balik pintu.
“Bisa numpang ngetik di komputermu sebentar? Besok aku punya tugas makalah yang harus dikumpulkan!”
Aku memandang komputer di kamarku bergantian dengan sosok di atas kasur.
“Romeo?” tegur suara itu lagi.
Aku menelan ludah. Romeo? Sejak kapan namaku jadi Romeo? Dan pembunuh?
“Rom, please jok! Aku utang lah sama kau!”
Aku masih bingung tapi terpaksa kusahut juga, “E, i-iya, sebentar...” jawabku kalang kabut segera menarik mayat di atas ranjang dan mendorongnya ke kolong tempat tidur. Seprai yang penuh dengan darah segera kulepas. Dan kasur yang telanjang cepat kututupi selimut bersih. Kuganti lampu terang dengan lampu tidur. Sehingga kamarku menjadi temaram dan warna merah tidak terlalu kentara. Terakhir, seprai yang penuh darah serta pisau kusumpal di lemari pakaian.
“Ok,  jok!” aku membuka pintu sambil tersenyum.
Lelaki itu langsung menerobos masuk, “Gila! Habis ngapain, man? lama betul. Jangan sering-sering begituan. Cepat lemas!” katanya segera menghampiri komputer.
Aku mengerutkan kening. Tanda tak paham bicaranya.
“Belum mau tidur, kan? Aku hidupkan lampu ya!”
Belum selesai dia bertindak, aku segera menahannya, “Eits, jangan!”
“Kenapa?” tanyanya bingung.
“Lampu itu,... eh, kita ini kan harus hemat. Bayangkan, masa kau mau pake listrik seboros itu. Sebegitu banyak, dari komputer, kipas angin, teve, tape, belum lagi kalo ada AC. Waduh, bagaimana peran kita nih sebagai generasi muda? Memang idak pernah dengar tentang himbauan pemerintah soal hemat listrik demi masa depan anak cucu kita?”
Lelaki itu mengerutkan kening menatapku.
“Ah, sudahlah! Aku pakai komputermu.”
Aku menghela nafas lega.
***
Malam ini, jam 02.00 WIB. Lelaki itu telah menyelesaikan ketikan makalahnya. Dia permisi. Tapi aku tidak bisa tidur. Bayangkan, aku sekamar dengan sesosok mayat yang entah disebabkan karena permasalahan apa mati di kamar ini bersamaku. Apakah aku yang membunuhnya karena kugenggam belati atau aku hanya kebetulan bersama dengan sosoknya di kamar ini?
Dan, aku berada di kamar ini sebagai Romeo! Seseorang berkelamin laki-laki. Bukankah aku terlahir sebagai perempuan?
Aku panik. Kuintip di balik kolor. Aku semakin panik. Ternyata tidak main-main. Aku lelaki tulen!
***
Tok! Tok! Tok!
“Rom, sudah pagi,  jok! Bangun. Kau idak ado kuliah pagi apo?”
Ketukan keras di pintu kamar membuatku terkejut dan langsung tersungkur ke lantai dari atas dipan. Seketika selimut ikut tertarik dan menyingkap telanjang ranjang sampai ke ujung kaki serta apa yang tersembunyi di bawahnya. Jantungku hampir copot ketika mendapati seraut wajah bersimbah darah kering di kolong tempat tidur. Aku nyaris berteriak histeris kalau tidak ditahan oleh tanganku sendiri.
“Setan!” umpatku dalam hati.
Mayat ini benar-benar menyusahkan!
Tok! Tok!
“Rom? Sudah mampus kau?”
Aku memonyongkan mulut, “Ya, sebentar...”
Segera kurapikan kembali ranjang yang awut-awutan. Kolong dipan kembali kututupi sebelum menguak pintu kamar.
“Yo-i,  jok! Aku ke kampus pagi ini,” sahutku sambil menguap membuka pintu.
“Kayaknya bukuku ketinggalan di meja komputermu.” Katanya menerobos masuk mengambil.
“Kamarmu bau buntang[1]! Coba sekali-kali kau buka dan bersih-bersih.” Ujarnya lagi. “Aku ke kampus duluan. Sori idak bisa serempak[2]. Kuliahku jam 7, ada presentasi makalah kelompok dengan Ibu Atik Rosidah.” Tambahnya sebelum benar-benar berlalu dari hadapanku.
Tiba-tiba aku merasa akrab dengan nama yang disebutkan lelaki itu. Ibu Atik Rosidah, dosen Ilmu Anthropologi di kampusku.
Mungkinkah lelaki itu kuliah di kampusku? Romeo juga kah?
Kumasuki kamar dan membongkar rak buku Romeo. Kutemui buku akademik universitas yang jelas-jelas terpampang nama universitasku. Romeo adalah lelaki yang satu kampus denganku.
Segera aku menyambar handuk dan peralatan mandi yang terongok di meja komputer. Aku harus mencari sesuatu di kampus! Aku harus menemukan jawaban atas keadaanku ini! Tapi, mayat itu harus kubereskan terlebih dahulu.
Segera kuletakkan lagi peralatan mandi dan kembali berpikir.
***
Kukubur mayat itu di belakang kost-kostan yang luas tanah lapang. Anak-anak kost sudah berangkat ke kampus dan sekolah. Aku yakin betul itu sebelum melakukan ritual nekat di pagi yang cerah ini. Syukurlah belakang kost-kostan adalah tanah luas tempat biasa anak-anak membuang sampah, memang dekat dengan tempat jemuran, tapi karena banyak ditumbuhi rumput ilalang tinggi, dijamin anak-anak kost bakal jarang bertandang.
Selanjutnya, setelah semua kuanggap beres dan aman, aku mandi, berpakaian dan langsung melaju ke kampus dengan mikrolet. Kampusku tidak terlalu jauh dari kost Romeo. Aku cuma butuh 20 menit untuk menjejakkan kaki di lingkungan yang kukenal tersebut.
“Rom!” sebuah sahutan gadis berjilbab menyambutku di muka kampus. Rupanya Vonny, teman sekelas. Ternyata dia mengenal Romeo. Dan yang tak kuduga, Vonny bersama gadis lain yang sangat kukenal. Sosok asliku.
“Ju-Juliet?” aku langsung menyebut namaku.
Si gadis berjilbab tersenyum dengan kening berkerut sambil melirik gadis di sampingnya, “Kenal dengan Juliet, Rom?”
Aku menatap Juliet. Tetapi balasan tatapannya seolah tidak suka akan tatapanku.
“Tidak.” Malah Juliet yang menjawab pertanyaan Vonny.
Aku memicingkan mata, seolah ingin menembus jiwa dibalik sosokku itu.
Kalau aku di raga Romeo? Siapa di ragaku?
“Ayo, Von. Bukannya kita ada kuliah pagi ini?” ajak Juliet memaksa gadis berjilbab beranjak dari hadapanku.
“Sebentar, Jul.” Lalu Vonny menatapku lagi, “Rom, Marsya ke mana ya? Dari kemaren dia idak pulang ke kostan. Idak sama kau?”
Marsya? Mayat itukah?
Tak sengaja aku menatap Juliet. Sosokku itu menatap tajam dan sinis sebelum akhirnya ia berpaling.
Aku merasa ada sesuatu di balik tatapan sinis itu.
“Rom?” bertanya lagi gadis berjilbab.
“Aku tidak tahu, Von.” Kujawab sekenanya lalu segera berlalu. “Aku ada kuliah. Aku duluan.”
***
Marsya?
Aku sama sekali tidak familiar dengan nama itu. Tapi kukira dia juga kuliah di tempat yang sama denganku dan Romeo, selain itu dia satu kost dengan Vonny. Romeo satu fakultas dan jurusan denganku tapi beda kelas. Sungguh, aku tidak begitu mengenalnya. Aku baru kali ini melihatnya. Bagaimana tabiatnya aku tidak paham sama sekali. Dia sepertinya tidak aktif organisasi ekstra atau intra kampus, karena kalau dia aktif, aku pasti pernah melihatnya sesekali.
Setelah mengikuti kelas Romeo, aku kembali pulang menggunakan mikrolet. Tidak langsung ke kostan Romeo. Aku ke mall membeli beberapa peralatan mandi. Rasanya risih memakai peralatan laki-laki.
Sehabis belanja, aku langsung pulang lagi ke kost Romeo. Tapi, di depan kost langkahku tertahan. Mobil polisi dan kerumunan banyak tetangga. Jantungku sesaat berhenti berdetak. Perasaanku terasa tak enak. Kulangkahkan kaki satu-satu dengan penuh keraguan ke pekarangan kost.
“Bang Ujang nemu mayat di pekarangan belakang kost kita!” teman sebelah kamar kostku langsung menghampiri. Wajahnya kelihatan pucat persis sepertiku.
“Mayat?”
Dia mengangguk sambil memperbaiki kacamata. “Bang Ujang tadi pagi disuruh Ibu kost bersihin pekarangan belakang. Rencananya mo nanam ubi kayu,” tambah si kacamata.
Kok harus sekarang pula nanam ubi kayunya?
“Kayaknya mayatnya masih baru.” Jelas si kacamata tanpa diminta.
Aku membuka pintu kamar dan berusaha menenangkan diri. Untung saja seprai berlumur darah itu sudah kubuang bersama belati. Mudah-mudahan saja polisi tidak memeriksa kamar kami satu per satu. Karena aku takut sisa-sisa darah masih belum bersih benar aku hilangkan. Tapi ternyata harapanku meleset, satu per satu kami penghuni kost diinterogasi dan tiap-tiap kamar diperiksa tanpa luput. Selama 24 jam kostan kami diawasi, tak satu orang pun boleh keluar tanpa seizin petugas yang menjaga. Besoknya, aku diciduk dan mendekam di rumah tahanan. Mayat itu sudah dikenali sebagai Marsya. Kekasih Romeo yang telah hamil 4 bulan.
***


[1] Buntang = Bangkai
[2] Serempak = Bareng


(Bersambung)

Thursday, March 14, 2013

Menulis Fiksi Tidak Berarti Mengabaikan Fakta

Saya menyukai kritik. Bagi saya kritik seperti coklat. Sangat nikmat dikunyah tetapi juga punya efek bagus mengurangi stress sekaligus menutrisi otak.

Satu kali saya coba mengirimkan cerpen saya di komunitas penulis di sebuah group di Facebook. Saya ingin mengukur kemampuan saya tentunya. Saya kirim sebuah cerpen yang sudah pernah diterbitkan di majalah online remaja yang cukup punya nama. Saya kira, tentulah cerpen saya tersebut tidak bakal membuat saya malu. Ternyata dugaan saya salah besar.

Hujanan kritik mengguyur deras. Banyak cacat pada bangunan karya fiksi tersebut. Banyak fakta yang salah saya cantumkan. Sebuah tamparan keras untuk saya. Tapi sungguh, itu tamparan yang baik untuk menyadarkan saya bahwa sebuah karya fiksi tidak semata mengandung cara bertutur yang mengalir dan pilihan kata yang baik, tetapi juga lampiran fakta yang akurat. Sebab unsur-unsur itu saling mendukung satu sama lain yang pada akhirnya melahirkan sebuah cerpen yang utuh.

Menulis fiksi, bukan berarti kita jadi mengabaikan fakta. 

Saya jadi ingat kembali sebuah catatan lain yang saya tulis sebelumnya, dan catatan tersebut bermaksud mengingatkan tentang pentingnya fakta dalam fiksi. Entah bagaimana saya bisa melupakan hal itu! Fakta dan Fiksi.

Tetapi memang, untuk menjadi ahli, tidak ada kata untuk berhenti belajar. Sampai kapanpun.
Syukurlah akhirnya saya punya keberanian untuk membedah cerpen saya di forum tersebut. Apabila tidak, mungkin sampai detik ini, saya masih terus merasa puas dengan karya saya. Padahal masih banyak yang perlu diperbaiki dan dibenahi.

Saya masih terus berharap mampu menghasilkan sebuah karya yang berkualitas namun juga mampu menginspirasi pembaca.
Semoga.
Amien...

Thursday, March 7, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (35)

Aku berdiri dari duduk karena tersentak kaget.
Lelaki itu berdiri dengan muka yang masih beringas memandangku.
Dia masih marah. Terlihat sangat marah.

"Kenapa diizinkan perempuan ini menginjakkan kaki di rumah kita?"
Si Ibu berdiri dengan tampang bingung
"Ada apa? Baru sampai dari perjalanan jauh tidak baik langsung mengumbar marah. Duduklah dahulu."
"Aku ndak suka perempuan ini di sini, Bu!"
"Kenapa?"
"Suruh dia pergi. Atau aku akan kasar padanya!"
Si Ibu memandangku bingung begitupun Bapak.
Aku menggeser langkah ke pintu.
"Terima kasih waktunya, Bu, Pak. Saya pulang."
"Tidak. Jangan pulang. Duduklah di sini!" Si Ibu menahanku.
Azzam Sima mengatup rapat gerahamnya.
"Ibu mau tahu alasan kenapa anak ini harus diusir?"
"Dia bukan perempuan baik-baik!"
Ibunya memandangku lagi.
"Pakaiannya sopan dan tertutup. Kerudungnya benar dan sedap dipandang mata."
"Apa yang terlihat di luar tidaklah mencerminkan di dalam."
"Dia pacarmu yang lain?" tanya Si Ibu lagi.
"Bukan! Dia bukan siapa-siapa sekarang!"
"Berarti dulu dia adalah?"
"Sudahlah Ibu. Jangan campuri segala urusan pribadiku! Aku sudah dewasa dan cukup tahu dengan pilihan hidupku!"
"Kau anak yang kulahirkan dari rahimku. Segala urusanmu jadi tanggung jawabku. Apalagi kalau kau pilih jodoh di luar agamamu!"
"Lebih baik kupilih perempuan yang benar-benar mencintaiku, yang tulus mengorbankan apapun demi aku. Bersedia hidup denganku dalam susah maupun senang. Tidak memandangku sebelah mata. Menganggapku laki-laki. Menganggapku pasangan hidup. Meletakkan aku sebagai suami dan pelindungnya. Menghargai aku lebih tinggi dari materi!"
"Hanya karena itu alasan kau memilih perempuan?"
Azzam Sima tidak lagi menjawab kata-kata Ibunya.
"Kudidik kau sedari kecil dengan agama agar kau pilih perempuan sebagai pendampingmu dengan landasan agama yang kaupelajari."
"Apakah perempuan muslimah pasti baik dan sempurna akhlaknya, Bu?"
Aku menunduk.
"Tidak semua yang disebut muslimah sebagus pakaian yang dikenakannya." Ujar Azzam Sima melirikku.
Aku menelan ludah.
"Semua memang tidak mudah, nak. Segala sesuatu yang kita cari memang membutuhkan kesabaran untuk hasil yang baik."
"Aku sudah bersabar, Bu. Tapi cuma rasa sakit yang didapat karena kesabaran itu."

"Boleh saya bicara?" aku beranikan diri untuk menyampaikan suara.
Azzam Sima ingin membentakku lagi.
"Apa salahnya dia bicara?" ibunya menyela.
Azzam Sima hanya bisa mengatup rapat bibirnya dengan kesal.

"Selain saya datang kemari untuk mengantar surat dari kantor, ada maksud lain yang hendak diutarakan, yakni mohon maaf saya. Mungkin rasanya tidak pantas lagi untuk disampaikan. Tapi akan menjadi ganjalan di hati kalau tidak saya utarakan. Sungguh, saya tidak pernah berniat untuk menyakiti seseorang. Apalagi itu orang yang saya sayangi. Tidak ada niatan untuk berselingkuh. Mungkin memang saya pernah salah mengambil keputusan. Terlalu egois dan emosional saat itu. Saya akui saat ini, itu bukan langkah yang benar. Sangat salah. Sebuah sikap kepengecutan. Hanya ingin cuci tangan."

Dia tidak berusaha membantah bicaraku.

"Kalau saya dihujat dan dihukum adalah sebuah kewajaran. Karena itu, ketika Bapak datang ke perusahaan dengan sikap acuh tak acuh, tidak saya salahkan. Begitupun ketika Bapak meminta saya mengurusi resepsi pernikahan Bapak, saya ikuti dengan ikhlas. Karena saya pikir kalau ini bisa menebus kesalahan, saya rela dan maklum. Apalagi calon yang Bapak kenalkan sungguh perempuan yang sempurna dan tanpa cela. Jadi, genaplah kerelaan saya. Hubungan saya dengan Yulianto bukanlah sesuatu yang sengaja dikejar. Itu cuma bentuk pelampiasan semata. Saya pikir, orang yang selama ini saya inginkan tidak menginginkan saya, mungkin tidak ada salahnya kemudian beralih pada orang yang sungguh menginginkan saya."

Terasa ada yang tersangkut di tenggorokan. Tetapi rasanya masih banyak yang ingin diutarakan.

"Saya jadian dengan Yulianto setelah mengetahui Bapak akan menikah. Tetapi, sekarang saya pikir, biar pun Bapak akan menikah dengan Jelita, saya tidak lagi ingin menikah dengan Yulianto hanya karena saya merasa saya telah dicampakkan orang yang saya inginkan. Saya tidak ingin terus dicap perempuan yang buruk. Apalagi setelah saya tahu Yulianto punya masalah dengan perempuan lain. Kali ini kedatangan saya kemari juga bukan untuk membalas atau apapun yang buruk di mata Bapak. Saya datang tulus ingin meminta maaf. Saya memang bukan perempuan yang baik. Saya sudah dihukum Tuhan dengan telak. Kedua orang yang telah membesarkan saya dengan cinta sedari kecil tidak lagi bersama saya lebih dua tahun ini. Kakak dan adik saya sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Materi orang tua yang dulu saya bangga-banggakan juga tidak lagi saya miliki."

Azzam Sima masih kulihat berdiri tegak. Matanya tidak memandangku.

"Tidak ada yang sia-sia bagi saya setelah menyebrangi waktu. Ada yang berubah dalam diri saya. Walaupun banyak yang hilang dari kehidupan saya. Tidak berarti kehidupan yang saya pilih saat ini menjadi lebih buruk dari waktu yang lain. Saya mensyukuri segala sesuatu yang telah Tuhan kasih pada saya. Begitupun hujatan yang telah Bapak hantar ke rumah saya waktu itu. Saya terima sebagai sebuah pelajaran berharga. Mungkin ego masih kuat membungkus saya. Tetapi Tuhan selalu mengingatkan saya untuk memperbaiki diri."

Azzam Sima lalu memandangku lekat dan lama.
"Penyesalan memang selalu datang terlambat, Aya. Sungguh aku masih berharap hubungan kita akan kembali seperti waktu itu. Tetapi aku mohon maaf pula, terutama untuk Ibu. Aku telah melamar Jelita dengan akad nikah Islam. Dia pun telah menjadi muallaf sekarang."

Air mataku langsung jatuh.
Aku pasang senyum yang terasa pahit.
"Selamat, dia memang perempuan yang pantas untukmu."
"Maafkan aku, Aya."
"Jangan minta maaf."
 Aku menggeleng. Sesuatu menggembok pita suaraku. Tidak ada satu katapun bisa kunadakan. Sementara air mataku deras mengalir tanpa mampu kubendung.
Aku berlari meninggalkan rumah yang seharusnya jadi mertuaku.
Dadaku terhimpit berton-ton beban yang tak mampu kuangkat. Sesak sekali. Duniaku terasa berubah terbalik dan terpontang-panting. Kumasuki mobil dan kulaju dengan kecepatan yang tak terukur sama sekali. Aku menggila. Kuterobos dengan sengit kekecewaan yang ditawarkan Tuhan ke piring takdirku.

Sungguh! Tidak ada yang mudah dalam hidup orang dewasa.

(Tamat)

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (34)

"Tapi 'mudah' tidak ada dalam hidup orang dewasa."

Ujar Robert Spritzel (Michael Caine) pada putranya David Spritz (Nicolas Cage) pada film The Weather Man.

Aku termangu.
Seberapa dewasa aku untuk menerima segala hal yang tidak 'mudah' dalam perjalanan hidupku?
Selama ini aku hanya berusaha lari dan terlepas dari beban. Selalu mencari jalan termudah. Tidak pernah mencari solusi untuk memecahkan masalah.

David Spritz, sebagai Peramal Cuaca sukses yang mencapai karier terbaik dengan penghasilan yang fantastis. Tidak berarti mampu menyelamatkan rumah tangganya. Materi bukan segalanya. Kebahagiaan bukan milik satu orang, tetapi juga bukan beban dua orang. Keikhlasan yang terpenting. Benar kata almarhum Bapak, ketika segalanya diberi dengan rasa tulus maka kebahagiaan itu akan hadir dengan sendirinya. Masalah mungkin menyerang kita bertubi-tubi. Tetapi penyelesaian terletak di tangan yang bijak memberi pandangan.

Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi Azzam Sima. Kemarin sudah kudatangi rumahnya yang di Jambe, tetapi kata tukang kebunnya, sudah seminggu Beliau di Berlian. Karena itu, hari ini aku meluncur dengan mobilku ke Berlian. Menjambangi rumah mertua di rentang waktu berbeda.

Seperti biasanya, 45 menit aku telah memasuki kota Berlian yang terik. Kuarahkan terus mobilku menuju lingkungan tempat tinggal Azzam Sima. Suasana terasa hening ketika kuparkir mobil di teras rumah sederhana itu. Tidak tampak siapa-siapa. Baru setelah pintu kuketuk wajah lembut mertua perempuanku muncul dengan segar di ambang pintu. Tampak sehat sekali Beliau. Padahal di rentang waktu yang lain, beliau hanya selisih tiga bulan menyusul Bapak. Sama-sama menderita diabetes. Karena itu kami menjadi satu yatim dan satu piatu ketika hendak melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan.

"Siapa, bu?"
Suara mertua lelakiku muncul dari dalam. Lelaki gaek itu juga tampak sama sehatnya.
Aku memamerkan senyum pada keduanya.
"Cari siapa?" tanya mertua perempuan.
"Pak Azzam Sima." Jawabku.
"Mahasiswanya?" tanya mertua lelaki.
"Bukan. Bawahannya di Adara Finance."
"O, masuk saja dulu." Tawar perempuan itu ramah.
Aku mengikuti langkahnya ke ruang tamu. Mertua lelaki duduk bersamaku di sofa. Sementara isterinya kembali ke dalam rumah. Seperti biasanya adat timur, tidak lupa membuatkan suguhan untuk tamu.

"Kebetulan Azzam sedang ke Yogya. Ada apa ya, nak?" Si Bapak lalu bertanya.
Aku terkejut. Darahku langsung berdesir dengan iramanya yang tak nyaman.
"Ke Yogya?"
"Iya. Sudah tiga hari."
"Kenapa?"
"Menemui kekasihnya. Siapa itu namanya, bu?" setengah berteriak Si Bapak bertanya.
Tubuhku semakin terasa lemas.
Tidak ada sahutan dari dalam. Mungkin Si Ibu tidak mendengar.
"Maaf ya, nak. Kira-kira ada kabar yang perlu disampaikan ke Azzam?"
"Oh iya, Pak."
Aku lalu mengeluarkan sebuah surat dan menyodorkan pada Si Bapak.
"Ini surat panggilan dari Kantor Wilayah. Pak Sima dipanggil ke kantor untuk menjelaskan alasan Beliau mengundurkan diri secara tiba-tiba."
"Oh begitu."
Aku mengangguk.
Si Ibu muncul dari dalam rumah membawa nampan berisi tiga gelas teh dan sepiring goreng pisang. Perempuan itu meletakkan di hadapanku.
"Diminum, nak."
"Terima kasih, bu."
"Ada apa Azzam dipanggil lagi ke kantor? Apa Azzam membuat masalah di sana?" Si Bapak bertanya.
"Oh, tidak, Pak. Malah Beliau dianggap anak emas yang sangat diperhatikan perusahaan."
Si Bapak hanya mengangguk-angguk.
"Maaf, Pak. Soal keberangkatan Pak Sima ke Yogya dalam rangka apa ya?"
"Menemui pacarnya. Padahal jelas sekali Ibu tidak suka. Masih saja dia berkeras untuk berangkat ke jawa. Ibu sampai mengancam kalau dia pulang membawa perempuan itu, maka Ibu lebih rela dia tidak usah menginjak kaki lagi ke sumatera." Si Ibu yang kali ini bersuara.
"Jadi mereka benar akan menikah, bu?"
"Saya idak mau! Saya ndak akan kasih restu! Perempuan itu beda agama. Lalu apa jadinya keluarga mereka kelak."
"Bagaimana kalau itu memang jodoh Azzam, bu?" Si Bapak bicara lagi.
"Tetap aku idak mau."
"Bukannya calonnya itu akan ikut apapun agama Azzam?"
"Padahal banyak perempuan muslim yang juga cantik dan menarik, tetapi kenapa pula dia pilih perempuan itu."
"Kita tidak bisa menentang takdir Tuhan, bu."
"Awak idak rela!"
Aku diam di tengah perdebatan mereka.

"Tidak usahlah kita bicarakan soal jodoh Azzam di depan anak ini. Tidak baik. Urusan lain yang dibawahnya dari kantor. Bukan masalah jodoh Azzam." Si Bapak berujar.
Si Ibu merengut di sisi duduknya.
"Maaf, nak. Jadi sampai di mana tadi pembicaraannya?"
"Oh, saya yang minta maaf, Pak, Bu. Sepertinya saya terlalu mencampuri dengan bertanya soal Pak Sima berangkat ke Yogya. Sebenarnya saya kemari diutus kantor untuk meminta Pak Sima datang ke kantor. Hanya itu. Tapi berhubung Pak Sima tidak di tempat, jadi saya titipkan saja surat panggilan dari perusahaan. Sekarang saya izin untuk pulang saja."
"Kenapa terburu-buru?"
"Tugas saya sudah saya kerjakan."
"Siapa nama anak? Nanti saya sampaikan pada Azzam."
"Mazaya, Pak."
"Cantik sekali namanya, seperti orang yang menyandangnya." Puji perempuan lewat tengah baya itu.
Aku jadi tersipu.
"Sudah menikah, nak?"
"Belum, Bu."
"Hendak menikah dalam waktu dekat?"
"Belum, Bu."
"Sudah punya calon?"
"Belum juga."
"Wah, bagus itu!"
Si Bapak langsung menyikut isterinya.
"Apalah Bapak nih!"
"Apa maksud Ibu tuh?"
"Aku mau calon menantu seperti ini."
Si Bapak mencubit isterinya.
Si perempuan balas mencubit.
"Maafkan, Nak. Dulu Ibu ndak bertingkah begini."
"Maksud Bapak?"
"Mungkin pengaruh menopause."
"Basingnya kalau bicara."
"Kembali kayak anak-anak tingkahnya,"
Si Bapak tertawa.
Aku jadi ikut tersenyum.
"Dipikir mengambil menantu seperti membeli gula-gula di toko."
Si Ibu cemberut mendengar suaminya yang makin besar tertawa.

Aku selalu kagum dengan kemesraan yang dibangun mertuaku. Tidak ada kelebihan materi di tengah mereka. Tetapi cinta mereka semakin lama terjalin malah semakin erat. Waktu itu, ketika Azzam Sima dan kakaknya sudah tidak balita lagi, telah mengecap bangku menengah pertama dan atas, keduanya lebih sering melancong berdua. Terkadang menonton film di bioskop Murni di Kota Jambe. Menikmati film-film nasional yang dilakonkan artis idola mereka. Sampai gaek pun mereka tidak bosan menghabiskan hari dengan bercengkrama berdua saja.

Aku menikmati waktu berjalan bersama keduanya. Tidak terasa lebih satu jam kami bercerita. Bolak-balik tentang Azzam, pekerjaan di kantor, dan juga tentangku. Sampai aku tak sadar, sosok Azzam Sima telah berdiri di muka pintu rumah.

"Untuk apa pula kau datang ke mari!"

(Bersambung)

Cerita selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (35)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)


 






 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger