Wednesday, December 26, 2012

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)

Kabupaten Berlian merupakan daerah lintas. Tidak terlalu banyak perkembangan berarti semenjak sepuluh tahun terakhir. Pembangunan kolam renang saja dilarang keras pemerintah karena suatu alasan tertentu. Berlian menurutku salah satu kota yang terhitung panas di Provinsi Jambe. Aku resmi ditempatkan perusahaan di salah satu pos di kabupaten tersebut.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari kota. Aku persis tiba pukul 07.45 WIB di kantor tempat kerja pertama. Kantor finance masih bergabung dengan dealer. Rencananya di awal tahun depan akan punya kantor sendiri. Aku melangkah memasuki ruko tiga pintu itu dengan tenang.

"Permisi, mas."
Seorang lelaki duduk menghadap komputer. Sebuah plang besar tergantung di belakangnya. Adara Finance.
"Ya?" Dia hanya melirikku sekilas.
"Saya karyawan baru yang ditempatkan di sini untuk kasir." Ujarku lagi menjelaskan.
Dia mengangkat kepala memandangku lekat.
Sebagai orang baru cepat kuulurkan tangan, "Mazaya."
Dia menyambut tanganku. "Seno."
"Bisa bertemu dengan Pak Taufik?"
"Pak Taufik belum datang. Silahkan duduk saja dulu di sini."
Dia langsung mempersilahkanku duduk di kursi yang tadi di dudukinya sementara dia pindah duduk di kursi satunya lagi.

Tiga motor kemudian di parkir di muka ruko. Tiga lelaki berjaket hitam turun dari motornya masing-masing setelah melepas helm. Mereka langsung menuju ke arah kami. Lelaki bernama Seno langsung menyambut salah satu dari mereka yang bertubuh besar.

"Pak Taufik, ini karyawan baru pengganti Mbak Vivi," jelas Seno disambut tatapan serius dari lelaki yang dipanggil Taufik. Kacamata yang dipakainya diturunkan sedikit. Tidak ada senyum terukir di bibir.
"Siapa nama?" tanyanya datar.
Kujawab dengan senyum, "Mazaya."
"Kelahiran tahun berapa?"
"Delapan satu."
"Sudah punya pacar atau suami?"
Aku tak menjawab.
"Kenapa tidak dijawab?"
"Itu kan urusan pribadi, pak."
"Berarti belum punya pacar..."

Aku diam. Kutahu dia bukan Pak Taufik. Dia Rozi. Lelaki tambun yang sebenarnya ramah dan kurang suka berlaku jahil. Ini lantaran Seno, yang tabiatnya memang suka iseng dan menggoda. Dulu, aku benar-benar menyangka Rozi itu adalah Pak Taufik. Penampilan Rozi yang demikian ditambah perawakannya yang cukup punya wibawa meyakinkanku. Tiga hari Pak Taufik tidak berada di pos tetapi di kantor pusat. Sebuah pelatihan menyangkut kepemimpinan harus dilakoninya. Selama tiga hari itu pula aku dikerjai habis-habisan oleh Pak Taufik gadungan beserta kawan-kawannya.

"Sebagai karyawan baru. Tiga hari kamu harus menjalani masa penyesuaian," jelas Rozi serius.
Aku mendengarkan.
"Kamu orang asli sini atau orang kota?"
"Saya dari kota."
"Kalau begitu kamu harus cari kost untuk tinggal di sini."
"Maksud saya, saya mau berulang saja, Pak. Toh, Jambe cuma 45 menit dari sini."
"Itu ketentuan dari perusahaan. Apa kamu tidak tahu?"
Aku diam saja. Aku tahu itu cuma mengada-ada. Perusahaan ini cuma butuh karyawannya masuk sebelum pukul 8 pagi. Mau dia tinggal di mana, itu bukan urusan kantor. Tapi dulu, aku percaya saja.
"Di sini sudah ada tempat kost yang telah ditentukan perusahaan. Tapi biaya bulanan kita tanggung sendiri. Kami juga tinggal di kost tersebut. Tetapi dipisah antara kost cewek dan cowok. Dua rumah yang posisinya bertetangga. Karena baru kamu karyawan cewek kita. Makanya baru kamu yang bakal kost di tempat itu."
Kulirik Seno. Dia tampak tersenyum sambil menggosok-gosok hidungnya. Terakhir aku tahu itu kebiasaannya kalau sedang menjahili seseorang.
"Tapi mungkin belum bisa sekarang, Pak. Kalau bulan depan bagaimana?"
"Tidak bisa. Besok paling lambat kamu harus sudah ngekost di tempat itu. Seno bisa mengantar kamu pulang dan pergi kalau kamu tidak punya kendaraan."
Waktu dulu aku sama sekali tidak menaruh curiga. Besoknya aku segera meminta izin dengan Bapak dan Bunda untuk bisa tinggal di kost-kostan dan seminggu sekali baru pulang ke kota.
"Baik, Pak. Besok saya akan membawa barang-barang." Aku jawab saja sekenanya. Belum tentu aku akan ngekost di tempat itu. Rasanya tidak nyaman tinggal bersebelahan dengan mereka. Saban hari mereka main ke kostan sepulang dari kantor. Padahal kami sudah di kantor bersama seharian hingga pukul 7 malam. Aku berharap dapat istirahat setibanya di kost. Tapi ada saja alasan mereka untuk mengganggu.

Hari ini, kubiarkan saja mereka mengerjaiku. Dari membelikan mereka makan siang hingga merapikan berkas-berkas kerjaan mereka. Dahulu aku tidak tahu, kukerjakan saja pekerjaan yang disodorkan padaku, karena kukira itulah pekerjaanku. Sementara mereka kuperhatikan cuma duduk manis sambil main lacak  hingga waktu pulang kerja tiba. Tapi lihat saja besok. Aku akan mengerjai kalian balik. Aku tidak sebodoh kemarin kawan!


Keterangan:
Lacak : Permainan batu domino. 

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1) 
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)




Tuesday, December 25, 2012

Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)

Begitu nyenyak barangkali aku telah tertidur. Sebuah tepukan lembut di pipiku memberikan kesadaran yang entah seberapa lama mengambang di udara.
"Anda sudah tiba, bu," sebuah teguran ramah perempuan berseragam putih seterbukanya mataku.
"2005?"
Dia mengangguk dengan tetap tersenyum.
Aku menoleh ke dipan di sebelahku. Tadinya di situ ada suamiku. Sekarang tidak lagi. Dipan itu telah dikemasi oleh petugas berseragam putih lainnya. Kuraih lagi perempuan yang tadi membangunkanku dengan mata yang terasa masih mengantuk. Suaraku terasa berat. Begitu lama kah aku tertidur?
"Mau dibantu bangkit, bu?" dia menawarkan bantuan.
Kupandangi pinggang dan kaki. Tidak ada lagi safety belt yang melilit. Begitu pun dua kabel kecil yang ditempelkan di pelipis.
"Berapa lama saya tertidur? Kenapa terasa lemas sekali?"
"Memang begitu, bu. Perjalanan yang Ibu lakukan kan memang cukup jauh dan lama. Pastinya Ibu merasa lelah dan lemas. Tidak apa-apa. Itu cuma sebentar. Tidak akan lama."
Aku berdiri pelan dari dipan dituntun perempuan ramah tersebut.

Kembali terbersit keinginan bertanya mengenai suamiku yang tadinya bersamaku di sebelah dipan. Tetapi, apakah pantas atau perlu kutanyakan? Padahal aku memang menginginkan sebuah kehidupan baru tanpa kehadiran sosoknya yang selama ini terasa menyesakkan.

20 September 2005.
Seingatku hari itu aku baru diterima kerja di sebuah perusahaan finance terkemuka di kotaku. Kulirik jam tangan. Pukul 05.00 WIB. Syukurlah! Masih cukup subuh untuk bersiap-siap. Setelah menandatangani segala macam bentuk administrasi. Aku melangkah keluar Gedung Pelayanan Mesin Waktu itu.  Kurasa ini memang sebuah penemuan hebat! Aku sangat berterima kasih pada penemunya. Paling tidak aku bisa memperbaiki kehidupanku tanpa harus membiarkannya rusak. Hm,... inilah kehidupan baru yang sudah lama aku impikan. Dan aku tidak akan merusaknya lagi!

Pukul 07.30 WIB.
Aku tiba di sebuah perusahaan finance. Adara Grup. Waktu HRD menelponku, katanya aku mendapat posisi kasir di kabupaten. Tapi, untuk awal kerja aku disuruh datang ke kantor pusat untuk melakukan pelatihan 1 minggu.

Masih terasa deg-degan. Padahal aku tahu betul setiap babak yang akan kutemui hari ini. Seperti melihat paparan film yang sudah pernah ditonton sebelumnya.

"Awas, mbak! Lihat-lihat dong kalau jalan!"
Sebuah suara kesal terlontar di depanku.
Aduh! Padahal aku ingat betul kejadian ini. Kenapa aku bisa lupa? Seharusnya kuperhatikan betul langkahku. Tidak meleng ke sembarang arah sambil melamun. Patutnya pandanganku lurus ke depan saja.
"Aduh, mas! Seharusnya saya yang marah, kok malah sebaliknya! Lihat, baju saya basah semua!"
Seluruh pakaianku basah dengan air kopi. Tapi kali ini, sedikit kutahan emosi agar tidak menjadi masalah besar. Ini hari pertamaku kerja. Dan lelaki di depanku itu ternyata adalah kepala pos dimana besok aku ditempatkan.

Dia masih menghela nafas. "Saya buru-buru. Saya minta maaf kalau malah marah."
"Oh, ndak apa-apa, mas. Saya memang ceroboh. Saya permisi dulu."
"Ya, silahkan." Jawabnya setengah tersenyum.

Duh, leganya bisa berlaku sopan di hari pertama. Aku tidak ingin hal ini jadi malah petaka di kemudian hari. Dulu, kuingat betul aku marah habis-habisan pada lelaki itu. Pak Taufik Qurahman. Lelaki cuek dan dingin. Nada bicaranya selalu ketus. Tetapi orangnya baik hati dan peduli dengan bawahan. Setelah insiden air kopi itu, aku nyaris tidak punya muka ketika menemui Pak Taufik di pos kabupaten untuk melapor sebagai karyawan baru. Dia waktu itu tak kalah beringas menerimaku.

"Wah, gimana sih perusahaan sebesar ini tidak bisa menyeleksi karyawan baru! Seharusnya yang dilihat terlebih dahulu bukan skill, tetapi mengenai etika dan tata krama. Tanpa etika dan tata krama, apakah perusahaan kita yang bergerak di bidang jasa akan mampu memberikan pelayanan yang memuaskan? Jangan-jangan malah menjatuhkan status perusahaan yang selama ini dinilai konsumen sangat profesional."
Aku diam saja mendengar ocehannya waktu itu. Pantas saja dia marah, aku mencaci makinya di depan umum dengan kata-kata kotor dan tidak sewajarnya. Sementara aku hanya seorang karyawan baru dan dia adalah salah satu pentolan di perusahaan tersebut. Kuingat betul, banyak orang yang menonton insiden kami. Bahkan beberapa karyawan berusaha melerai. Kejadian memalukan itu langsung melejitkan namaku di perusahaan.

"Permisi, mbak. Bisa ketemu Pak Herman. HRD." Aku menemui sekretaris di depan ruangan Kepala HRD.
"Oh, Mbak Mazaya, ya?"
"Iya, Mbak."
"Sebentar, ya. Silahkan duduk dulu."
Gadis cantik tersebut berdiri dari duduknya memasuki ruang HRD. Sementara aku duduk di sofa yang tergeletak di ruang tunggu tersebut. Tepat di depan meja sekretaris.
Tak berapa lama gadis tersebut keluar dari ruangan.
"Mbak Mazaya, silahkan ikut saya." Dia mengajakku ke ruangan meeting. Gadis itu bernama Nadia. Dia sangat baik dan lembut. Dulu kasir di kabupaten Mara. Cuma  6 bulan jadi kasir, langsung naik jabatan jadi sekretaris HRD. Gosipnya, Kepala HRD menjadikannya gundik. Benar tidaknya, aku tidak pernah memperoleh konfirmasi.

Gosip memang mudah berkembang di kantor pusat. Terlalu banyak karyawan dan terlalu banyak perempuan. Tidak cuma kasus hubungan yang dianggap tidak wajar, perilaku wajar pun terkadang dianggap tidak wajar. Sebut saja soal merk tas atau sepatu yang dikenakan si anu atau si anu. Bahkan masalah dia beli secara cash atau kredit bisa jadi pembahasan panjang. Untungnya aku ditempatkan di pos kabupaten. Walaupun dulu betapa aku ingin ditempatkan di kota, agar tidak jauh dari Bapak dan Bunda. Di pos kabupaten, jumlah karyawan sedikit dan pekerjaan relatif menumpuk. Jadi tidak punya kesempatan untuk memburukkan seseorang. Ditambah aku satu tempat kerja dengan seorang perempuan yang sangat baik dan sama sekali bukan penggosip. Titis Haryati.

"Silahkan di tunggu di ruangan ini, mbak. Selama 1 minggu mbak akan mendapat pelatihan dari kepala di ruangan ini. Jadi, besok kalau datang langsung saja masuk ke ruangan ini."
Aku mengangguk. Kulihat 3 orang lelaki telah menempati ruangan. Tampaknya mereka sama sepertiku. Karyawan baru. Salah satu diantaranya berpapasan denganku kemarin di rumah sakit untuk tes kesehatan.
Nadia meninggalkanku kembali ke mejanya.

Aku memilih kursi yang masih kosong. AC yang distel terlalu dingin. Membuatku cukup menggigil.
"Dingin, mbak?" lelaki yang kemarin berpapasan di rumah sakit menegurku.
Tentu aku tidak pernah lupa namanya. Yulianto. Pacar pertama.
"Sedikit." Jawabku sekenanya. Jantungku langsung berdetak tak beraturan. Ternyata rasa itu masih sedikit menggigit. Mungkin benar kata orang-orang. Pacar pertama meninggalkan kesan lebih dalam dibanding pacar-pacar setelahnya.
"Rama, stelan AC-nya terlalu dingin. Kasihan mbak ini. Ndak tahan dingin."
Lelaki yang disebut Rama celingukan.
"Ndak ketemu remote-nya."
Yulianto berdiri. Dia sibuk mencari sendiri. Setelah beberapa kali membuka laci dan mondar mandir menyisir ruangan. Akhirnya ia menemukan di salah satu kursi. Dia mematikan AC.
"Kenapa dimatikan, jok?" tanya lelaki satu lagi. Kutahu namanya Nugroho. Dia juga ditempatkan di kabupaten denganku.
"Nanti bisa dihidupkan lagi." Jawab Yulianto sekenanya. Lalu dia kembali duduk di kursi sebelahku. Percakapan yang sama kemudian terulang kembali. Keakraban kembali terjalin. Tetapi di sisi hatiku yang lain aku menolak keakraban itu. Keakraban yang membuatku menjadi sakit sebagai perempuan yang mencintai seseorang. Alasan klise tentunya. Perselingkuhan lah yang telah membuatku menjadi sakit kala itu. Walaupun bagiku Yulianto masih tetap mempesona seperti dulu. Tetapi aku tidak ingin menjadi bodoh untuk jatuh kembali pada kubangan yang sama.
 
Pelatihan itu berlangsung hingga jam 4 sore. Bermodalkan motor pinjaman adik, aku kembali ke rumah.  Waktu di parkiran setelah bertukaran nomor handphone. Yulianto menawarkan untuk mengantar pulang. Aku tolak dengan halus. Kuputuskan untuk lebih berhati-hati. Aku memang berumur 24 tahun. Kalau dulu aku cemas dengan umur sematang itu dan belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis manapun. Tetapi kali ini aku berumur 24 tahun dan aku tidak ingin mengorbankan masa depan hanya demi omongan orang yang cuma bisa mencemooh. Tidak akan ada yang menolong kita ketika kita salah memilih lelaki atau salah memilih jalan hidup. Mereka hanya bisa bergunjing tentang perempuan-perempuan matang yang rela dipanggil "perawan tua" dan sibuk menyalahkan dengan berbagai alasan. Padahal sebagai perempuan yang menyandang status tersebut, tidak ada keinginan untuk menjadi berbeda dan menentang aturan sosial.

Kesempatan kedua ini terlalu mahal untuk kusia-siakan. Aku tidak peduli kalau sudah terlalu matang sangat utnuk mendapat jodoh di kemudian hari. Sabar itu memang kunci yang paling ampuh untuk menghadapi berbagai jenis ujian apapun. Tetapi, apakah aku bisa cukup sabar nantinya? Dengan Bang Azzam saja aku telah menyerah lebih dulu.

Tetapi sekali lagi, ini adalah kesempatan dan waktu yang istimewa. Aku bertekad untuk menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Aku harus bisa meraih kesuksesan yang kuimpikan selama ini. Kalau sekali lagi aku mengacau. Berarti aku memang terlalu bodoh untuk menjalani hidup.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
Cerita Sebelumnya : Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)




Wednesday, December 19, 2012

Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

"Sudah bulat betul niatmu ini?"
Laki-laki itu menatapku tajam.
Raut wajahku tak bergeming. Sedikitpun aku tidak merasa kasihan.
"Anak-anak bagaimana?'
Aku mendengus pelan.
"Tidak ada yang jadi korban. Jadi untuk apa merasa kuatir? Makanya aku pilih jalan ini, karena aku tahu perceraian akan menjadi lebih buruk, terlalu banyak yang akan jadi korban, dan tentunya karena aku sayang pada anak-anak, maka kupilih jalan ini dibandingkan jalan bercerai."
"Kamu rela menghapus semuanya, termasuk anak-anak dalam hidupmu?"
Aku mengangguk yakin.

Laki-laki di depanku itu kemudian menghela nafas.
"Aku tidak rela kehilangan anak-anak. Dan tidak pantas rasanya karena kesalahan salah satu di antara kita menyebabkan kita menjadikan anak-anak harus kehilangan kehidupannya. Mereka punya hak untuk hidup. Dengan keputusan ini berarti kamu telah tega menghapus takdir mereka untuk hidup?"
"Kalau Tuhan menghendaki mereka lahir. Mereka akan lahir ke dunia, dan itu bukan dari rahimku."
Suamiku mengepal keras tangannya. Kesal mungkin.
Tapi aku jauh merasa lebih kesal dan menyesal telah menikah dengan seorang lelaki yang hanya mampu menopang hidup kami dengan hutang.

"Mazaya, maaf kan kesalahanku. Anak-anak tidak pantas kamu libatkan dalam masalah ini."

"Jangan kambing hitamkan anak-anak! Dan aku membuat keputusan yang sangat tepat dalam hidupku. Tidak ada pertemuan, tidak ada pernikahan, dan tentu tidak ada anak-anak yang terlahir secara tersia-sia karena sebagai orang tua kita tidak mampu memberikan kehidupan yang layak untuk mereka. Coba saja kau pikir, dengan hutang-hutangmu yang menumpuk, sementara hanya aku yang bekerja pontang-panting, sepuluh tahun ataupun duapuluh tahun apakah mungkin kita sudah bisa hidup layak? Apakah hutang-hutangmu sebagai kontraktor itu bisa dilunasi. Jangan-jangan bertambahnya waktu hutang itu malah makin menebal!"


Plak!
Sebuah tamparan keras di wajahku menghentikan ocehan yang belum selesai.
"Kenapa cuma satu kali! Berkali-kali saja, karena besok atau di masa depan kau tidak akan bisa menamparku lagi!"

Suamiku mengepal tangannya. Gerahamnya mengeras kaku. Nafasnya tampak naik turun.
"Aku tidak pernah menyakitimu dengan berselingkuh, berjudi, atau mabuk-mabukan. Aku hanya belum mampu menafkahimu dengan tepat dan sesuai. Aku menyesal telah menjadi suami yang gagal. Tetapi tidak pantaskah aku diberikan lagi kesempatan?"
Aku menggeleng.

"Sudah terlalu banyak. Dan kamu terlalu gegabah memanfaatkannya. Kali ini bagiku sudah cukup. Karena kamu tidak akan berubah berapa kali pun kesempatan itu datang padamu."

"Aku benar-benar menyesal, Mazaya. Tapi semua tentu masih bisa diperbaiki!"
"Aku juga menyesal tak mampu menjadi isteri yang cukup baik untukmu, Bang Azzam. Tetapi tidak ada yang bisa diperbaiki lagi."

Kutekan lekas bel panggil petugas di ruangan itu.

Ruangan di mana kami berdua berdiskusi sebagai sepasang suami isteri adalah Ruang Pertimbangan. Sebuah ruangan putih bersih berukuran 4 x 4 meter, hanya ada sebuah meja putih dan 2 kursi putih serta sebuah cermin di dinding. Ruangan ini disediakan khusus bagi pasien -- itu sebutan mereka untuk kami yang menggunakan jasa mereka -- untuk merenung, berpikir matang-matang, berdiskusi, atau berembuk sebelum kemudian kami membulatkan tekad untuk menggunakan jasa mereka yang tarifnya tidak terbilang murah.

"Bagaimana, bapak ibu?"
Petugas berseragam putih datang.
Aku mengangguk.

Petugas tersebut tersenyum. Dia kemudian meletakkan selembar map berwarna putih di meja putih kami.

"Silahkan isi formulir pernyataan ini. Kami akan menyiapkan mesin waktunya."
Tak kupandang lagi suamiku. Putusanku sudah bulat. Kuisi formulir tersebut. Sementara lelaki petugas itu keluar ruangan.

"Tidak bisa kah kita berembuk lagi, Mazaya?"
"Tidak!" Kujawab dengan tegas sambil menatap tepat di pusat matanya.
"Jangan terus membodohi aku, Bang. Aku juga ingin punya masa depan. Punya sesuatu yang berarti dan berharga dalam hidupku."
"Tidak kah ada yang berarti sekarang ini dalam hidupmu?"
"Aku tidak minta lebih dari abang. Aku hanya ingin hidup normal dan yakin akan masa depanku."
"Bersama-sama kita pasti bisa mengatasinya."
"Aku selalu sendirian!"
Dia terdiam.
"Sebegitu tak berharganya kah aku bagimu, Aya?"

Aku kembali mengisi formulir.
Tak kuduga, dia menghantam meja begitu keras. Membuatku terkejut.
"Bodohnya aku! Seharusnya tidak perlu kutanyakan. Aku memang tidak pernah kauanggap. Bahkan sebelah mata pun! Kalau memang ini maumu. Aku ikuti. Aku turuti."
Petugas kembali datang. Formulirku pun telah selesai aku isi.
Kupandangi suamiku. Dia tidak memandangku sama sekali. Wajahnya beringas. Tatapannya sangat jauh melangkah ke depan.

***

Kami memasuki Ruang Mesin Waktu.
"Sesuai permintaan Ibu dan Bapak, waktu akan dikembalikan di tahun 2006, bukan begitu?"
Aku mengangguk. Itu adalah tahun pertemuan pertama kami.

"Baik, kita cocokkan tanggal sekarang terlebih dahulu, 20 Desember 2012. Dan tanggal berapa Bapak Ibu akan dikembalikan?"
"26 November 2006." Jawabku lagi.
"Jangan!" ujar suamiku cepat.

Aku dan petugas serentak memandangnya.
"20 September 2005 saja."
"Wah, kalau mundur setahun berarti tambah biaya lagi, Pak."
"Berapa?"
Suamiku langsung mengeluarkan uang dari saku celananya.
"15 juta." Jawab Petugas.

Aku menatap suamiku. Menyadari tatapanku dia hanya tersenyum.
"Tidak perlu kau tanya dari mana uang itu. Toh, aku pun punya impian. Bukan cuma kamu, Aya!" Jawabnya sambil mengedipkan mata.
Kesalku makin memuncak. Sepertinya dia tidak pernah punya rasa penyesalan yang sungguh-sungguh. Ke mana amarah tadi? Semua ini sekedar permainan baginya. Bahkan ancaman sebesar ini pun cuma dianggapnya main-main. Aku sungguh berjanji pada hati kecilku. Tidak akan pernah menemui lelaki bernama Azzam Sima seumur hidup. Apalagi sampai bersedia membuka hati untuknya lagi!

"Bapak Ibu, mesin waktunya sudah siap. Silahkan masuk. Silahkan berbaring di tempat yang telah disediakan. Pejamkan mata saja selama proses berlangsung. Tidak akan lama."


Petugas menuntun kami memasuki sebuah mesin waktu yang berbentuk seperti bola. Hanya ada satu pintu untuk masuk dan keluar. Pintu itu tebal. Seperti pintu ruang brangkas. Memasuki mesin. Kami mendapati dua tempat tidur berseprai putih. Dua orang  petugas ternyata telah menunggu di dalam. Aku menaiki tempat tidur yang persis dekat pintu masuk. Suamiku menempati yang lebih menjorok ke dalam. Dia tidak menatapku sama sekali. Setelah merebahkan badan, dia langsung memejamkan mata. Petugas menempelkan sesuatu di pelipis kami. Memakaikan safety belt di pinggang dan kaki. Lalu meninggalkan kami dan menutup pintu. Tinggal aku dan suami. Dia tetap memejamkan mata. Tampak wajahnya tersenyum. Dia benar-benar tidak punya penyesalan apapun dalam hidupnya. Aku benar-benar membencinya kalau begitu!
 
(Bersambung)

Cerita Berikutnya  Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)

Monday, December 17, 2012

Menulis di Shvoong Dapat Royalti Dollar

Apa itu Shvoong?
Shvoong.com, merupakan sebuah situs yang diciptakan untuk menampung berbagai macam resensi yang bersumber dari berbagai macam media, dapat berasal dari buku, film, berita televisi, berita radio, majalah, artikel internet, tulisan ilmiah, dan bahkan berdasarkan pengalaman penulis sendiri.

Asyiknya nulis di Shvoong, karena si penulis dapat royalti. Dua kunci yang wajib dipegang untuk jadi penulis sukses di Shvoong kata sahabat saya penulis Shvoong, adalah pertama, harus membuat tulisan yang bagus atau berkualitas, karena hal ini akan menarik banyak pengunjung datang membaca, kedua, rajin-rajin promo dan dapetin downline atau referal atau disebut Shvoong sebagai "Teman yang diundang" (Friend Invites). Tapi, teman yang pasif tidak cukup membantu mendongkrak royalti yang diperoleh, temukan teman yang punya passion dan semangat dalam menulis.

Shvoong akan memberikan royalti pertama apabila pendapatan yang kita peroleh minimal telah mencapai 10 dollar. Teman saya yang sebut di atas cukup aktif menulis shvoong mengatakan bahwa beliau telah mendapatkan 50-60 dollar per bulan dari Shvoong.

Lumayan bukan, selain melatih kemampuan menulis juga menghasilkan uang tambahan belanja. Kalau tertarik bergabung di Shvoong, silahkan klik link berikut: Shvoong.com

Wednesday, December 12, 2012

Mencari Ilham

Pengen punya buku, tapi ga punya ide untuk memulai sebuah tulisan. Ya, otomatis keinginan tersebut tinggal sekedar angan-angan.

Buntu.
Kendalanya karena ga punya bahan bacaan. Mo ke toko buku, kok rasanya jauh banget, dengan alasan tinggal di kabupaten yang cuma punya atu-atunya toko buku dan itu pun ga lengkap. Ke kota, ga punya waktu!

Aduh, banyak banget sih rintangan untuk menemukan "ilham" di kepala.
Apakah memang sesulit itu mencari ilham untuk merintis sebuah buku atau novel?

Dipikir-pikir, J.K. Rowling ga kesulitan menemukan ilham untuk menghidupkan Harry Potter dalam novel-novelnya. Semua tempat yang beliau singgahi mampu melahirkan semacam ilham dalam otaknya yang cerdas.

Tampaknya, untuk mampu menangkap ilham yang banyak berkeliaran di sekeliling kita, selaku penulis perlu menumbuhkan kadar sensitivitas yang lebih dari orang biasa. Kalau orang biasa melihat jamban di wc bermakna "jamban", seorang penulis bisa menangkap tidak sekedar "jamban". Bisa jadi, jamban itu memiliki mulut yang kemudian mampu melahap orang yang kebetulan jongkok buang air besar di atasnya. Selanjutnya, imaji itu berkembang liar menjadi sebuah kehebohan, karena orang yang raib dimakan jamban menjadi buah bibir masyarakat sekitar, bisa jadi karena si anu yang dimakan jamban pada saat kejadian berlangsung tidak ada saksi. Akibatnya, curiga pun berkembang, si anu yang dimakan jamban diduga menjadi korban seorang warga lain yang selama ini dicurigai warga sebagai pembunuh yang menganut ilmu hitam semacam "Sumanto" yang memakan mayat korban hasil pembunuhannya.

Ilham pun kemudian berkembang menjadi sebuah cerita.
Jadi, masih sulit kah menemukan ilham?

Tuesday, December 11, 2012

Masihkah Aku Ingin Jadi Penulis?

Pertanyaan itu kembali berputar-putar di kepala seperti gasing.

Lingkungan kah yang menghambat rencana hebat tersebut atau memang niatan yang tertanam di dalam diri tidak cukup tangguh untuk menepis segala rintangan atau pun godaan?

Sesibuk apakah seorang ibu rumah tangga yang bekerja? Pastinya tidak lebih sibuk dari seorang Putu Wijaya, Ayu Utami, Dee, Andrea Hirata, atau penulis besar lainnya. Jadi, apa yang menghalangi langkahku untuk tetap menghasilkan tulisan?

Tampaknya bukan kendala yang membuatku sulit untuk konsisten menulis, tetapi motivasi yang tertanam dalam diri tidak lah cukup kuat. Sehingga seringan apapun kendala, pasti akan dengan mudah menggoyahkan tekad yang tampaknya sekeras baja ketika dibangun.

Jadi, masihkah aku ingin jadi penulis?

Tampaknya jawaban semakin kabur dan terasa ragu-ragu.


  
 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger