Wednesday, September 12, 2012

Makna Merenung Bagi Seorang Penulis

Andai kita mau, menyempatkan diri sejenak, merenungi, niscaya kita akan tahu ke mana kita harus melangkah. Kita lebih memilih bersikap behavioris. Tentang banyak hal. Maka pikiran-pikiran kita pun menjadi dangkal. 
(Erpin Leader, Kepala Kampung Writing Revolution)
Menyimak bahasa tulis sahabat saya satu ini selalu memberikan pencerahan. Saya percaya, beliau adalah seorang penulis yang rajin merenung, yang tidak hanya menggunakan indera mata untuk melihat dunia tetapi juga memanfaatkan mata hati untuk menelanjangi sekitarnya.

Seringkah kamu menemukan penulis-penulis yang menyuguhkan tulisan menggugah atau bahkan menohok langsung ke ulu hati melalui tulisan-tulisan tangannya? Sebut saja Khalil Gibran atau penyair favorit saya Chairil Anwar. Penulis-penulis jenis mereka abadi bukan karena kepandaiannya merangkai kata di atas kertas, tetapi kedalaman renungan mereka terhadap kehidupan. 

Dan yang membedakan penulis-penulis maestro di atas dengan orang-orang awam seperti kita adalah, mereka selalu bisa menghargai "Proses Ilahi" secara luar biasa baru kemudian "Hasil". Mereka tidak berlaku biasa memandang sekitar. Mereka menggunakan segala indera yang dikaruniakan Tuhan untuk membaca dunia. Memahami hidup. Dan mempelajari kehidupan. Hal ini terbukti dari buah pikirannya yang dituangkan ke dalam tulisan.  

Penulis seperti mereka dikarunia Tuhan cahaya hidayah yang tak pernah padam yang menerangi hati dan pikiran mereka. Sehingga tulisan-tulisan mereka pun menularkan penerangan pula bagi orang-orang yang membaca karyanya.

Semoga KITA bisa  termasuk dalam golongan mereka. Amin...

3 comments:

Astin Astanti said...

aamiin, bagus mba tulisannya

rosmainy yusuf said...

inspiratif, mbak. izin share y. salam kenal :)

Mardiana Kappara said...

Terima kasih, Astin Astanti.

salam kenal juga buat Rosmainy Yusuf. Terima kasih.

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger