Sunday, July 29, 2012

Publikasi itu Wajib

Kubuka Facebook pagi ini, sebuah tulisan kawan di komunitas menulis terasa menarik untuk kukutip. Bagus sekali "tamparan" yang dia sebutkan sebagai pemecut akan rasa malu dan ragu-ragunya sebagai penulis. Kata yang ditulisnya di wall berkata:

Ada potongan esai Budi Darma yang berhasil "menampar" wajahku malam ini. Tulisannya seperti ini:

"Saya mempunyai teman mengaku dirinya penulis, meskipun saya yakin dia bukan penulis. Dia mempunyai banyak tulisan. Naskah drama, naskah puisi, naskah cerpen, naskah novel. Dia memang hebat.


Tetapi, ternyata satu kali pun dia tidak pernah menerbitkan tulisannya. Setiap kali dia berusaha menerbitkannya, dia merasa ragu-ragu akan kebolehan tulisannya sendiri. Karena itulah dia menyibukkan dirinya dengan menulis kembali naskah-naskahnya. Dia dapat mengubah satu naskahnya sampai beberapa kalai, kalau perlu sampai puluhan kali. Akhirnya dia tidak pernah menyelesaikan apa-apa.

Nasib teman saya ini seburuk nasib Prufrock: selalu bernafsu untuk bertindak, akan tetapi selalu ragu-ragu apakah tindakannya akan benar. Akhirnya dia tidak bertindak apa-apa, kecuali sibuk tak berkesudahan, dengan tulisan-tulisannya sendiri."

*Solilokui, hal. 86. (Gramedia, 1983)
____________________________

"Jadilah penulis yang sungguh-sungguh, bukan yang sembunyi dalam kepura-puraan"

(Erpin Leader, Kepala Kampung Writing Revolution - Komunitas Penulis Online)
 
Ya, banyak pertimbangan yang terlalu kita buat-buat untuk mempublikasikan naskah yang telah ditulis. Bisa jadi, pertimbangan itu lebih karena faktor ketidakpercayaan diri sekaligus ketakutan akan mendapat kritik atau cemoohan. Kalau yang ditakutkan demikian, kita perlu belajar dari pengalaman-pengalaman penulis ternama. Salah satu kejadian yang sempat menghebohkan pada Acara Penganugerahan Cerpen Terbaik Kompas 2010,  Seno Gumira Ajidarma, yang cerpennya yang berjudul “Dodolitdodolitdodolibret”  didaulat menjadi Cerpen Terbaik. Namun beberapa pengkritik sastra menganggap karya tersebut sangat mirip  dengan cerpen Leo Tolstoy berjudul “Three Hermits”. Pro dan kontra mengalir, Seno dianggap plagiat, beberapa yang berpikiran positif, menganggap tindakan Seno itu wajar, karena Three Hermits pun lahir dari sebuah kesimpulan hasil analisa cerita-cerita lisan yang mengalir dari mulut ke mulut. 
Jadi, apa hubungannya dengan esai Budi Darma?
Menjadi penulis itu perlu menafikan segala kekuatiran. Tidak usah takut mempublikasikan. Kalau pun nyatanya kemudian nasib Seno juga menimpa Anda. Selanjutnya cukup dijadikan pelajaran saja untuk menghasilkan karya lain yang lebih baik dan original di masa mendatang. Naskah tulisan itu seperti sajian makanan, soal penilaian rasa tidak mesti sama antara penikmat satu dengan yang lain. 
Semakin berani Anda mempublikasikan tulisan yang dibuat. Semakin Anda menjadi percaya diri sebagai penulis. Melalui blog, website komunitas, atau situs yang memberikan bayaran, BERGABUNGLAH. Dan lahirkan tulisan-tulisan. Percayalah, dari setiap tulisan yang terbit, karya Anda akan membawa takdirnya masing-masing. 
Siapa sangka Raditya Dika menjadi terkenal dengan Kambing Jantan-nya setelah dia menulis di blog. Apa jadinya apabila Raditya tidak punya keberanian untuk mengumbar tulisan-tulisan gokilnya tersebut di blog? Ya, tentu tidak akan ada buku Kambing Jantan atau filmnya diliris. 
Ingat, setiap tulisan membawa takdirnya sendiri. Jadi, lahirkanlah mereka dan publikasikan!

2 comments:

Na'imatur Rofiqoh said...

Tulisan ini menampar saya. Terimakasih :')

Mardiana Kappara said...

Sama-sama. semoga makin semangat menulis. ^_^

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger