Thursday, December 5, 2013

Menunggu


Aku menunggu di Ruang Tunggu Tuhan. 36 tahun. Menunggu pernyataan setuju dari sebuah proposal yang kuajukan. Aku ingin menjadi manusia lain.
Beberapa kali manusia keluar masuk ke Ruangan Tuhan. Melewatiku begitu saja. Aku menghela nafas. Kuhampiri penjaga Ruang Tuhan.
“Sudah lama sekali. Apakah Tuhan punya niatan untuk menemui saya?”
Penjaga itu tersenyum.
“Tentu saja, bu.”
“Berapa lama lagi saya harus menunggu?”
“Sebentar lagi.”
“Sudah kesekian kali Anda mengatakan demikian. 36 tahun bukan waktu yang sebentar. Tolong, pastikan. Apakah saya bisa bertemu?’
Si penjaga kembali tersenyum.
“Coba sabar saja, bu. Tidak akan lama lagi.”
“Saya sudah membuang waktu begitu panjang di sini.”
Seseorang kemudian keluar dari Ruangan Tuhan dengan membawa sebuah proposal. Dia menghampiri kami.
“Ibu Juwita?”
Aku mengangguk.
“Ini Proposal Anda dikembalikan Tuhan.”
Darahku langsung naik ke ubun-ubun.
“Setelah 36 tahun? Cuma ini jawaban dari Tuhan!”

Cerita Selanjutnya baca di Annida-Online

Saturday, November 30, 2013

Manusia Wajib Berkreasi

"Manusia itu memang ditakdirkan untuk berkarya."
 (Sebuah pernyataan psikolog yang aku kutip dari sebuah koran harian)

Sebuah naluri yang alamiah. Tidak ada yang istimewa ketika kita begitu berhasrat untuk menghasilkan sesuatu dalam hidup. Menjadi lebih berarti di tengah-tengah orang lain. Itu memang salah satu insting yang dimiliki manusia sebagai makhluk sosial sekaligus individu. Tanpa sesuatu yang membuat seorang manusia merasa dirinya berarti, biasanya manusia yang bersangkutan akan mengalami suatu tekanan psikologis tertentu.

Jadi, syukurlah ketika kita memiliki passion yang sangat kuat untuk menulis. Apapun itu. Jangan nilai dulu tentang kepantasan karya tulis kita. Menulis saja. Karena melakukan sesuatu yang baik bagi diri sendiri akan menularkan kebaikan pula bagi orang lain.

 Sesuatu yang dihasilkan murni dengan penuh kejujuran biasanya mampu memunculkan karya-karya yang original.


Friday, October 11, 2013

Belajar dari Tulisan Kawan

Aroma Teh yang Kucium di Kereta

11 Oktober 2013 Oleh Kartika Hidayati

Kamis senja adalah perjalanan dengan kereta. Kota kelahiran kembali aku tinggalkan sejenak. Perjalanan ini selalu tentang satu makna. Bahwa hidup adalah doa yang panjang seperti kata Sapardi.

Dan dalam lelah setelah ia bekerja, aku tahu, diam-diam ia membuatkan teh hangat untukku, menyiapkan nasi dengan lauk dalam kotak makan berwarna pink, dan menyimpannya dalam ranselku. Pula tanpa bertanya padaku, ia menyelipkan sebotol air mineral dan roti marie.

Lalu ketika semesta mulai teram. Ia akan berkirim pesan singkat. "Di sini sudah adzan. Selamat berbuka." Aku tahu, ada doa yang selalu ia panjatkan untuk impianku. Untuk semua mimpi-mimpiku yang ia terima dengan kelapangan hati. Lantas ketika tutup teremos kecil aku buka, dan aroma teh poci menyeruak, rindu dan cintaku padanya semakin penuh.

Tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati atau kesungguhan selalu terasa mengandung sesuatu yang lebih. Sejak lama saya suka sekali dengan cerpen-cerpen Kartika Hidayati. Tulisannya sederhana tetapi tersirat makna yang dalam dan bukan sekedar biasa. Tentunya, tulisan-tulisan seperti itu diproses tidak secara instan dan sembarangan. Bukan lagi proses pemula tetapi sudah mencapai mahir, kalau bisa dikatakan demikian.

Pemenggalan kata demi kata yang benar-benar sesuai porsi. Tidak dilebihkan. Tapi tetap mampu membawa imaji pembaca ke tujuan yang dimaksud. Tidak ada keraguan meletakkan tiap kata dalam larik. Tetapi tidak pula serampangan untuk meletakkannya. Itu hal yang sangat saya nikmati dari tulisan di atas.

Maaf, Mbak Kartika, saya beranikan mengutip tulisan Saudari, agar saya bisa belajar menulis dengan lebih baik. Karena CONTOH adalah guru yang lebih cerdas dari TEORI.

Terima kasih.

Tuesday, September 24, 2013

Seperti Apakah Cerpen yang Baik Itu?

Saya sering mempertanyakan hal tersebut pada diri sendiri setelah membuat sebuah cerpen atau membaca cerpen yang dibuat orang lain.

"Seperti Apakah Cerpen yang Baik Itu?"

Apakah karena dibuat dengan bahasa yang fantastis?
Apakah karena memiliki multi makna?
Apakah karena mengandung pesan yang sangat baik?
Apakah karena tidak mudah dipahami?
Apakah mampu meninggalkan kesan pada diri pembaca?
Apakah karena mengandung sebuah tujuan?
Apakah ejaan dan kata yang digunakan tepat serta benar?


Saya tidak paham benar apakah seyogyanya cerpen yang baik akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Perdebatan soal cerpen koran yang selama ini telah mendoktrin rata-rata akademisi sastra bahwa "mutu cerpen koran perlu dipertanyakan/diragukan" membuat saya kembali memikirkan dan mempertanyakan "seperti apakah cerpen yang baik itu?".

Tetapi sebagai penikmat sastra yang buta ilmu sastra, saya merasa pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Banyak cerpen-cerpen koran yang dihasilkan dengan tangan dingin dan mampu memberikan sesuatu yang menurut saya "baik."

Bukan kah estetika atau seni itu dinikmati oleh rasa? Dan rasa itu tidak mampu dikekang oleh logika. Bagi saya selaku penikmat, cerpen yang baik itu adalah cerpen yang mampu bercerita dengan jujur. Cerpen yang mengandung sesuatu dengan sangat kuat, kongkrit, dan sederhana. Sehingga pembaca dapat menangkap serta menyimpan sesuatu tersebut sebagai makna yang membekas di diri pembaca. Semakin banyak pembaca yang mampu memahami sebuah karya, bisa jadi semakin baik lah nilai karya tersebut.

Kendalanya memang, selama ini belum banyak pengkritik sastra di tanah air yang menunjukkan suara ke permukaan. Sehingga rata-rata penikmat sastra seperti saya jadi bicara hanya berdasarkan rasa tanpa ilmu.

Muara Sabak, 25 September 2013

Tuesday, September 3, 2013

Film Anonymous

All art is political, Jonson, otherwise it would just be decoration. And all artists have something to say, otherwise they’d make shoes. And you are not a cobbler, are you Jonson. 
 
Edward de Vere, 17th The Earl of Oxford
(Film ANONYMOUS: Interpretasi lain tentang siapa William Shakespeare)

Saya suka film tersebut. 
Kisah tentang William Shakespeare yang walau pada kenyataan sampai sekarang pun masih menjadi perdebatan panjang.

Sebuah argumentasi dan sikap seorang penulis yang telah menciptakan karya masterpiece di jamannya. Menurut Beliau, sebuah tulisan yang tidak memiliki tujuan (pada saat itu Beliau banyak berbicara politik) maka tulisan itu hanyalah sebuah rangkaian kata. Sebab memang tidak bisa dipungkiri, bahwa penulis-penulis besar mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa karena di dalam tulisannya ada suatu hal yang ingin disampaikan dari sekedar cerita. Sebuah Ide. Pemikiran. 

Wajar kalau William Shakespeare mampu mengukir namanya begitu kuat dalam sejarah sastra di dunia.

Tujuan Menulis

Menjalankan rutinitas pekerjaan. Salah satunya mengirim email. Jaringan putus di kantor. Terpaksa harus ke warnet. Di warnet terjebak hujan yang makin deras mengguyur.

Kurasakan sebuah kejenuhan.
Sebuah pertanyaan teman di Facebook sedikit menggelitik:
"Hidup mencari apa dan mati apa yang didapat?"

Seperti apakah kehidupan terbaik yang pantas diraih seorang manusia?
Apakah hanya untuk memenuhi kebutuhan material dan terus terjebak di dalamnya?
Apakah mencari publisitas?
Apakah menjadi tinggi lebih baik daripada menjadi rendah?
Apakah tidak menjadi apa-apa hanya berarti sia-sia?
Seberapa baik manusia yang paling baik di dunia?

Aku merasa terjebak di sebuah persimpangan dan terus terjebak di persimpangan berikutnya. Walaupun yang kuyakini bukanlah sebuah pilihan yang salah. Tetapi kenapa aku selalu mengalami sebuah kegelisahan?

Apa yang kucari, sampai sekarang masih tidak kutemukan. Seolah aku telah terjebak di sebuah dunia yang tidak kukenal. Aku seolah merindukan sebuah dunia lain. Mungkin kah ini wajar? Karena setiap manusia selalu merasa lebih nyaman dengan angan-angan dibandingkan kenyataan.

Kucintai dunia menulis. Tetapi kurasakan dunia itu semata untuk tempatku berteduh ketika hujan sedang turun. Ketika hujan reda. Kutinggalkan untuk waktu yang tidak mampu kuperkirakan. Seolah aku merasa telah selingkuh dari kekasihku. Hal itu lah yang kualami saat ini. Aku ingin setia tetapi aku merasa tidak punya kemampuan untuk setia. Mungkin kah ini cuma sebuah keluhan cengeng dari seseorang yang mengaku dirinya ingin menjadi seorang penulis?

Aku belum mempunyai "tujuan" untuk menulis.
Aku takut hal itu yang membuatku tidak mampu memupuk rasa setia untuk terus menulis.


Friday, August 23, 2013

Jendela Dunia

“A house without books is like a room without windows.” ― Horace Mann

(Bersambung)

Wednesday, August 7, 2013

Cinta di Atas Lapak

Sebagai preman, aku kenal seluruh penghuni Pasar. Rata-rata mereka berjualan secara turun temurun. Begitu pula aku sebenarnya. Dulu Bapak menjual ikan di pasar ini. Aku besar di pasar ini. Aku minggat sekolah juga untuk pergi ke pasar ini. Tetapi aku lebih memilih menjadi preman dibandingkan menjual ikan. Terkesan lebih bergengsi. 
Banyak penjual ikan di pasar selain Bapak. Misalnya Tohir yang menggantikan Mang Jalal. Begitupun si Udin Bonceng. Namun ada pula yang  berubah haluan macam Si Mamat jadi penjual sayur. Beberapa orang tua macam Uwak Deri masih terus berjualan ikan meramaikan pasar. Orang-orang itu sangat menyenangkan dan seperti keluarga saja. 
Kecuali seorang diantara mereka yang membuatku kurang senang. Si Aziz Lele. Sebenarnya ikannya termasuk paling laris di pasar. Tidak sampai siang menjelang, selalu habis terjual. Setorannya pun tak pernah macet.
Kegiatannya setelah usai menjual ikan itu lah yang membuatku tidak menyukainya. Dia menjual cinta. Bongkahan cinta dipajangnya di lapak bekas dia menjual ikan. Bertahun-tahun. Awalnya emaknya yang menjual. Tidak ada satu pun yang pernah membeli. Bergerusnya waktu. Emaknya semakin tua dan tidak sanggup lagi berjualan. Kupikir setelah emaknya pensiun, tidak akan ada lagi penjual cinta di pasar kami. Ternyata, tidak demikian.
Cerita selengkapnya baca di Annida-Online.com

Thursday, July 25, 2013

Novel : Tukar Raga (2)

Setelah tiga hari disekap dalam penjara. Aku dikeluarkan. Pembunuhnya katanya telah diketemukan. Tidak jelas benar siapa pembunuh yang dimaksud. Aku bersyukur. Bukan aku yang menanggung beban itu. Walaupun aku tak yakin apakah aku yang membunuh atau tidak.

Kutuju rumah kostku sendiri. Aku tidak pulang ke kostan Romeo. Aku rindu tempat tidurku yang nyaman dan empuk. Ingin sekali rasanya merebahkan tubuh sekaligus meluruskan tulang-tulang yang rasanya dibungkus pegal. Atau berendam di bathtub dengan air hangat-hangat kuku.

Memasuki pekarangan kostku. Kudapati langsung sosok Juliet berkelebat. Ingin kupanggil tapi rasanya tatapan sinis itu tidak mengundang sahabat.

"Hai, Rom!"
Vonny si gadis jilbab yang ramah menyambutku dengan senyum.
"Di sini, Von?"
"Iya, main ke tempat Juliet."
"Main ke sini Rom?" pertanyaan Vonny terkesan menyelidik.
Aku bingung menjawab.
"Marsya ada ngirim kabar, Rom?"
Aku mengerutkan kening.
"Kamu tidak tahu, Von?"
"Apa?"
"Marsya sudah meninggal."
"Ah, yang benar, Rom" terkejut ekspresi Vonny.
"Dia dibunuh."
Vonny menutup mulutnya.
"Siapa yang tega berbuat itu?"
"Aku tidak tahu. Sebenarnya aku ditahan tiga hari ini karena disangka membunuh. Kemudian aku dilepaskan karena polisi telah menemukan pembunuhnya."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu."
"Kok bisa kau tidak mencari tahu, Rom?"
"Ya,..." aku bingung menjawab.
"Aku curiga padamu, Rom."
Aku mengerutkan kening.
"Curiga apa?"
"Kau tidak sedang bermasalah kan dengan Marysa. Kenapa sikapmu begitu dingin?"
"Dingin?"
"Iya. Dia pacarmu!"
"Aku memang belum tahu siapa yang membunuhnya."
"Kenapa kau malah kemari bukan berusaha mencari informasi pembunuh Marysa?"
Aku gelagapan.
"Kau selingkuh dari Marsya?"
Aku menggeleng kuat-kuat.
Vonny menatapku penuh selidik.
"Jawab dengan jujur. Siapa yang kau cari di kost ini?"
Aku makin dibuat bungkam.

(Bersambung)

Cerita Sebelumnya Novel : Tukar Raga (1)

Menulis adalah Pengorbanan

"Menulis adalah Pengorbanan." Kata Seno Gumira Aji Darma.

Jadi, proses menulis bukan sekedar hal yang biasa-biasa saja. Menulis merupakan kegiatan yang membutuhkan dedikasi. Wajar kalau Seno menyarankan pada penulis pemula untuk memberikan pengorbanan khusus pada kegiatan menulis. Tanpa pengorbanan, tidak akan ada karya yang mungkin tercipta. Sehebat apapun seseorang dalam membuat tulisan. Tetapi dia tidak memberikan kesempatan untuk lahirnya tulisan hebat tersebut. Maka artinya sia-sia.

Memberikan ruang yang istimewa untuk perkembangbiakan karya kepenulisan akan memberikan kesempatan yang besar untuk melahirkan karya-karya. Karya-karya bermutu lahir dari tempaan maha dasyat dari penulis-penulisnya. Tanpa kegigihan, tanpa pengorbanan tidak mungkin karya-karya maestro itu lahir menjadi masterpiece.

Berkorbanlah untuk menulis. Menulis lah untuk mempersembahkan pengorbanan.

Semangat berkarya!


Thursday, June 27, 2013

Menulis: Sederhana dan Ikhlas

Sudah empat hari semenjak tanggal 24 Juni 2013 kuikuti Program Pelatihan Penulisan MASTERA Cerpen. Bertemu dengan sastrawan tanah air maupun negara tetangga. Dari Indonesia; Yanusa Nugroho, Gus Tf. Sakai, dan Nenden Lilis yang selama ini hanya kukenal melalui tulisan di media massa, dari Malaysia: Tuan Syed Mohd Zakir Syed Othman, dari Brunei: Awang Chong Ah Fok, dan dari Singapura: Encik Ishak bin Abdul Latiff. Tokoh-tokoh tersebut membagikan ilmu dan pengalamannya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah kubayangkan.

Sebuah proses kreatif akan dialami setiap orang yang menyebut dirinya sebagai penulis. Puncak tertinggi seorang seniman penulis adalah ketika dia mampu menyuguhkan tulisan paling sederhana dari gaya yang telah dianutnya. Sederhana dalam hal ini tentunya sesuatu yang diramu dengan resep yang pas, tidak berlebihan dan bersifat optimal dengan gaya penulisan yang tentunya tidak berlebihan.

Sementara pesan dari Nenden Lilis yang menohok hatiku. Bahwa keikhlasan itu perlu dalam menulis, karena perasaan itu akan mudah dirasakan pembaca.

Dengan keikhlasan, karya tentu akan mampu menemukan muara terbaiknya.

Sebuah pesan yang sangat membuka cara pandangku sebagai penulis pemula. Mempertanyakan tujuan sebenarku sebagai seorang yang menyukai dunia menulis. Mengingatkan pesan ayahku tentang makna hidup bagi seseorang bahwa usaha adalah ibadah. Sesuatu pekerjaan tanpa bermakna untuk Tuhan maka akan berakhir sia-sia.

Kutemukan semua benang merah itu. Di sini. Lembang Asri Bandung.


Wednesday, May 22, 2013

Program Pelatihan Penulisan Cerpen MASTERA 2013

Sudah lama tidak menulis blog. Novel Online "Tukar Raga" pun kehilangan hasratnya untuk melanjutkan cerita. Di tengah kesibukan kerja menyambut Pemilu, saat membuka email, sebuah kabar gembira datang dari MASTERA Indonesia yang mengirimkan undangan untuk mengikuti Program Pelatihan Penulisan Cerpen 2013. Bersorak-sorai hatiku menerima kabar gembira tersebut.

24-30 Juni 2013, acara tersebut akan dilangsungkan pusat bahasa di Bandung Jawa Barat. Awalnya aku tidak paham apa itu MASTERA. Kucari di Google, dan MASTERA adalah Majlis Sastera Asia Tenggara, didirikan pada tahun 1996 sebagai bentuk kerjasama tiga negara (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam) dalam melestarikan kesusastraan melayu. 

Di Indonesia, MASTERA dibawah pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian  Pendidikan dan Kebudayaan. Setiap tahun MASTERA memiliki banyak kegiatan, salah satunya program pelatihan penulisan cerpen ini. Kuintip beberapa foto kegiatan tahun lalu, narasumbernya dihadirkan Putu Wijaya dan Helvy Tiana Rosa. Wouw, keren banget! Aku idola sekali dengan Putu Wijaya. Mudah-mudahan Tahun ini MASTERA akan mengundang kembali sastrawan besar tersebut.

Tidak sabar rasanya menunggu tanggal tersebut. Sebuah pengalaman yang sangat langka dan menyenangkan.      Terima kasih Panitia Penyelenggara yang telah berbaik hati memberikan kesempatan besar bagi orang kecil seperti saya. Terima kasih Sang Khaliq. :)

Monday, April 15, 2013

Biarkan "Dia" Menentukan Nasib

Sedikit terhambat melanjutkan novel "Tukar Raga", selain karena kesibukan di kantor yang semakin padat juga terkendala masalah bahan kajian atau riset. Karena jelas materi novel ini berkisar soal hukum pidana, tentu ndak bisa sembarangan untuk menguraikan informasi. Biarpun fiksi. Penggarapannya harus serius. Dan jelas harus mampu memberi pencerahan bagi pembaca.

Aku masih berusaha mencari pakar yang mau berbagi ilmu hukum pidana. Kebetulan ada teman yang sempat 4 tahun bekerja di LBH. Pengacara yang lumayan juga jam terbangnya. Tetapi, waktu seolah tidak mau bersahabat untuk meluangkan kesempatan agar bisa bertemu dengan orang yang dimaksud.

Jadi, akhirnya "Tukar Raga" cukup tersendat untuk melangkah ke lembar selanjutnya. Beda dengan "Perempuan Dalam Kurungan Waktu" yang penyelesaiannya termasuk lancar. Beberapa pengalaman selama kerja waktu di perusahaan finance 3 tahun lalu menjadi modal untuk menciptakan setting cerita yang berlatar belakang seputaran dunia kerja di perusahaan finance.

Awalnya ide novel "Perempuan Dalam Kurungan Waktu" berasal dari penyesalan-penyesalan dalam diri yang terus menumpuk. Kegagalan-kegagalan dalam mengambil langkah menentukan sikap dalam kehidupan kemudian sering memunculkan khayalan-khayalan yang tidak biasa. Seperti bagaimana seandainya manusia bisa benar-benar menggunakan mesin waktu dan kembali ke masa silam?

Lalu aku terus memperhatikan film, cerpen, maupun komik yang sering berkisah tentang mesin waktu. Contohnya saja Doraemon. Fujiko F. Fujio pasti memiliki sebuah pengalaman masa lalu yang membuatnya berpikir soal mesin waktu. Dan pengalaman itu biasanya berupa pengalaman yang kurang baik.

Penyesalan lah yang melahirkan "Mesin Waktu" di kepala manusia. Karena itu kemudian novel pertamaku tersebut kunamai "Perempuan Dalam Kurungan Waktu". Orang yang membebani dirinya pada banyak penyesalan akan menjadi orang yang stagnan atau diam di tempat seperti orang dalam sebuah kurungan.

Penulisan cerpen "Perempuan Dalam Kurungan Waktu" mengalir begitu saja. Pada awalnya aku tidak terlalu yakin mampu menyelesaikan lebih dari 20 bagian. Tetapi ternyata target yang kupasang untuk merampungkan 200 halaman cukup kupatuhi. Seperti memiliki nyawa sendiri, novel tersebut bertutur sendiri mengenai kisahnya. Padahal aku sudah mati-matian ingin membuat happy ending dengan berbagai cara, tetapi ketika tangan ini mulai beraksi di atas keyboard laptop, dia malah punya penuturan sendiri. Wajar saja Djenar Maesa Ayu tidak pernah menentukan nasib cerpennya, beliau selalu membiarkan cerpennya untuk menentukan nasib sendiri.

"Perempuan Dalam Kurungan Waktu" kuselesaikan dalam 198 halaman (35 bab). Sedang dicoba dikirimkan ke penerbit mayor. Tetapi nampaknya belum ada titik terang. Tidak berharap banyak. Tetapi kalau tidak berani mencoba, kita tidak pernah tahu nasib kita sebenarnya.


Sunday, March 31, 2013

Novel : Tukar Raga (1)


Sesosok mayat belepotan darah telentang di atas ranjang kamar kostku. Sementara di tanganku tergenggam sebilah pisau berlumur darah. Sesaat wajahku pucat dan jantung berdegup kencang.
Tok! Tok!
Tiba-tiba pintu kamar yang terkunci di ketuk orang.
“Romeo!” tegur di balik pintu.
“Bisa numpang ngetik di komputermu sebentar? Besok aku punya tugas makalah yang harus dikumpulkan!”
Aku memandang komputer di kamarku bergantian dengan sosok di atas kasur.
“Romeo?” tegur suara itu lagi.
Aku menelan ludah. Romeo? Sejak kapan namaku jadi Romeo? Dan pembunuh?
“Rom, please jok! Aku utang lah sama kau!”
Aku masih bingung tapi terpaksa kusahut juga, “E, i-iya, sebentar...” jawabku kalang kabut segera menarik mayat di atas ranjang dan mendorongnya ke kolong tempat tidur. Seprai yang penuh dengan darah segera kulepas. Dan kasur yang telanjang cepat kututupi selimut bersih. Kuganti lampu terang dengan lampu tidur. Sehingga kamarku menjadi temaram dan warna merah tidak terlalu kentara. Terakhir, seprai yang penuh darah serta pisau kusumpal di lemari pakaian.
“Ok,  jok!” aku membuka pintu sambil tersenyum.
Lelaki itu langsung menerobos masuk, “Gila! Habis ngapain, man? lama betul. Jangan sering-sering begituan. Cepat lemas!” katanya segera menghampiri komputer.
Aku mengerutkan kening. Tanda tak paham bicaranya.
“Belum mau tidur, kan? Aku hidupkan lampu ya!”
Belum selesai dia bertindak, aku segera menahannya, “Eits, jangan!”
“Kenapa?” tanyanya bingung.
“Lampu itu,... eh, kita ini kan harus hemat. Bayangkan, masa kau mau pake listrik seboros itu. Sebegitu banyak, dari komputer, kipas angin, teve, tape, belum lagi kalo ada AC. Waduh, bagaimana peran kita nih sebagai generasi muda? Memang idak pernah dengar tentang himbauan pemerintah soal hemat listrik demi masa depan anak cucu kita?”
Lelaki itu mengerutkan kening menatapku.
“Ah, sudahlah! Aku pakai komputermu.”
Aku menghela nafas lega.
***
Malam ini, jam 02.00 WIB. Lelaki itu telah menyelesaikan ketikan makalahnya. Dia permisi. Tapi aku tidak bisa tidur. Bayangkan, aku sekamar dengan sesosok mayat yang entah disebabkan karena permasalahan apa mati di kamar ini bersamaku. Apakah aku yang membunuhnya karena kugenggam belati atau aku hanya kebetulan bersama dengan sosoknya di kamar ini?
Dan, aku berada di kamar ini sebagai Romeo! Seseorang berkelamin laki-laki. Bukankah aku terlahir sebagai perempuan?
Aku panik. Kuintip di balik kolor. Aku semakin panik. Ternyata tidak main-main. Aku lelaki tulen!
***
Tok! Tok! Tok!
“Rom, sudah pagi,  jok! Bangun. Kau idak ado kuliah pagi apo?”
Ketukan keras di pintu kamar membuatku terkejut dan langsung tersungkur ke lantai dari atas dipan. Seketika selimut ikut tertarik dan menyingkap telanjang ranjang sampai ke ujung kaki serta apa yang tersembunyi di bawahnya. Jantungku hampir copot ketika mendapati seraut wajah bersimbah darah kering di kolong tempat tidur. Aku nyaris berteriak histeris kalau tidak ditahan oleh tanganku sendiri.
“Setan!” umpatku dalam hati.
Mayat ini benar-benar menyusahkan!
Tok! Tok!
“Rom? Sudah mampus kau?”
Aku memonyongkan mulut, “Ya, sebentar...”
Segera kurapikan kembali ranjang yang awut-awutan. Kolong dipan kembali kututupi sebelum menguak pintu kamar.
“Yo-i,  jok! Aku ke kampus pagi ini,” sahutku sambil menguap membuka pintu.
“Kayaknya bukuku ketinggalan di meja komputermu.” Katanya menerobos masuk mengambil.
“Kamarmu bau buntang[1]! Coba sekali-kali kau buka dan bersih-bersih.” Ujarnya lagi. “Aku ke kampus duluan. Sori idak bisa serempak[2]. Kuliahku jam 7, ada presentasi makalah kelompok dengan Ibu Atik Rosidah.” Tambahnya sebelum benar-benar berlalu dari hadapanku.
Tiba-tiba aku merasa akrab dengan nama yang disebutkan lelaki itu. Ibu Atik Rosidah, dosen Ilmu Anthropologi di kampusku.
Mungkinkah lelaki itu kuliah di kampusku? Romeo juga kah?
Kumasuki kamar dan membongkar rak buku Romeo. Kutemui buku akademik universitas yang jelas-jelas terpampang nama universitasku. Romeo adalah lelaki yang satu kampus denganku.
Segera aku menyambar handuk dan peralatan mandi yang terongok di meja komputer. Aku harus mencari sesuatu di kampus! Aku harus menemukan jawaban atas keadaanku ini! Tapi, mayat itu harus kubereskan terlebih dahulu.
Segera kuletakkan lagi peralatan mandi dan kembali berpikir.
***
Kukubur mayat itu di belakang kost-kostan yang luas tanah lapang. Anak-anak kost sudah berangkat ke kampus dan sekolah. Aku yakin betul itu sebelum melakukan ritual nekat di pagi yang cerah ini. Syukurlah belakang kost-kostan adalah tanah luas tempat biasa anak-anak membuang sampah, memang dekat dengan tempat jemuran, tapi karena banyak ditumbuhi rumput ilalang tinggi, dijamin anak-anak kost bakal jarang bertandang.
Selanjutnya, setelah semua kuanggap beres dan aman, aku mandi, berpakaian dan langsung melaju ke kampus dengan mikrolet. Kampusku tidak terlalu jauh dari kost Romeo. Aku cuma butuh 20 menit untuk menjejakkan kaki di lingkungan yang kukenal tersebut.
“Rom!” sebuah sahutan gadis berjilbab menyambutku di muka kampus. Rupanya Vonny, teman sekelas. Ternyata dia mengenal Romeo. Dan yang tak kuduga, Vonny bersama gadis lain yang sangat kukenal. Sosok asliku.
“Ju-Juliet?” aku langsung menyebut namaku.
Si gadis berjilbab tersenyum dengan kening berkerut sambil melirik gadis di sampingnya, “Kenal dengan Juliet, Rom?”
Aku menatap Juliet. Tetapi balasan tatapannya seolah tidak suka akan tatapanku.
“Tidak.” Malah Juliet yang menjawab pertanyaan Vonny.
Aku memicingkan mata, seolah ingin menembus jiwa dibalik sosokku itu.
Kalau aku di raga Romeo? Siapa di ragaku?
“Ayo, Von. Bukannya kita ada kuliah pagi ini?” ajak Juliet memaksa gadis berjilbab beranjak dari hadapanku.
“Sebentar, Jul.” Lalu Vonny menatapku lagi, “Rom, Marsya ke mana ya? Dari kemaren dia idak pulang ke kostan. Idak sama kau?”
Marsya? Mayat itukah?
Tak sengaja aku menatap Juliet. Sosokku itu menatap tajam dan sinis sebelum akhirnya ia berpaling.
Aku merasa ada sesuatu di balik tatapan sinis itu.
“Rom?” bertanya lagi gadis berjilbab.
“Aku tidak tahu, Von.” Kujawab sekenanya lalu segera berlalu. “Aku ada kuliah. Aku duluan.”
***
Marsya?
Aku sama sekali tidak familiar dengan nama itu. Tapi kukira dia juga kuliah di tempat yang sama denganku dan Romeo, selain itu dia satu kost dengan Vonny. Romeo satu fakultas dan jurusan denganku tapi beda kelas. Sungguh, aku tidak begitu mengenalnya. Aku baru kali ini melihatnya. Bagaimana tabiatnya aku tidak paham sama sekali. Dia sepertinya tidak aktif organisasi ekstra atau intra kampus, karena kalau dia aktif, aku pasti pernah melihatnya sesekali.
Setelah mengikuti kelas Romeo, aku kembali pulang menggunakan mikrolet. Tidak langsung ke kostan Romeo. Aku ke mall membeli beberapa peralatan mandi. Rasanya risih memakai peralatan laki-laki.
Sehabis belanja, aku langsung pulang lagi ke kost Romeo. Tapi, di depan kost langkahku tertahan. Mobil polisi dan kerumunan banyak tetangga. Jantungku sesaat berhenti berdetak. Perasaanku terasa tak enak. Kulangkahkan kaki satu-satu dengan penuh keraguan ke pekarangan kost.
“Bang Ujang nemu mayat di pekarangan belakang kost kita!” teman sebelah kamar kostku langsung menghampiri. Wajahnya kelihatan pucat persis sepertiku.
“Mayat?”
Dia mengangguk sambil memperbaiki kacamata. “Bang Ujang tadi pagi disuruh Ibu kost bersihin pekarangan belakang. Rencananya mo nanam ubi kayu,” tambah si kacamata.
Kok harus sekarang pula nanam ubi kayunya?
“Kayaknya mayatnya masih baru.” Jelas si kacamata tanpa diminta.
Aku membuka pintu kamar dan berusaha menenangkan diri. Untung saja seprai berlumur darah itu sudah kubuang bersama belati. Mudah-mudahan saja polisi tidak memeriksa kamar kami satu per satu. Karena aku takut sisa-sisa darah masih belum bersih benar aku hilangkan. Tapi ternyata harapanku meleset, satu per satu kami penghuni kost diinterogasi dan tiap-tiap kamar diperiksa tanpa luput. Selama 24 jam kostan kami diawasi, tak satu orang pun boleh keluar tanpa seizin petugas yang menjaga. Besoknya, aku diciduk dan mendekam di rumah tahanan. Mayat itu sudah dikenali sebagai Marsya. Kekasih Romeo yang telah hamil 4 bulan.
***


[1] Buntang = Bangkai
[2] Serempak = Bareng


(Bersambung)

Thursday, March 14, 2013

Menulis Fiksi Tidak Berarti Mengabaikan Fakta

Saya menyukai kritik. Bagi saya kritik seperti coklat. Sangat nikmat dikunyah tetapi juga punya efek bagus mengurangi stress sekaligus menutrisi otak.

Satu kali saya coba mengirimkan cerpen saya di komunitas penulis di sebuah group di Facebook. Saya ingin mengukur kemampuan saya tentunya. Saya kirim sebuah cerpen yang sudah pernah diterbitkan di majalah online remaja yang cukup punya nama. Saya kira, tentulah cerpen saya tersebut tidak bakal membuat saya malu. Ternyata dugaan saya salah besar.

Hujanan kritik mengguyur deras. Banyak cacat pada bangunan karya fiksi tersebut. Banyak fakta yang salah saya cantumkan. Sebuah tamparan keras untuk saya. Tapi sungguh, itu tamparan yang baik untuk menyadarkan saya bahwa sebuah karya fiksi tidak semata mengandung cara bertutur yang mengalir dan pilihan kata yang baik, tetapi juga lampiran fakta yang akurat. Sebab unsur-unsur itu saling mendukung satu sama lain yang pada akhirnya melahirkan sebuah cerpen yang utuh.

Menulis fiksi, bukan berarti kita jadi mengabaikan fakta. 

Saya jadi ingat kembali sebuah catatan lain yang saya tulis sebelumnya, dan catatan tersebut bermaksud mengingatkan tentang pentingnya fakta dalam fiksi. Entah bagaimana saya bisa melupakan hal itu! Fakta dan Fiksi.

Tetapi memang, untuk menjadi ahli, tidak ada kata untuk berhenti belajar. Sampai kapanpun.
Syukurlah akhirnya saya punya keberanian untuk membedah cerpen saya di forum tersebut. Apabila tidak, mungkin sampai detik ini, saya masih terus merasa puas dengan karya saya. Padahal masih banyak yang perlu diperbaiki dan dibenahi.

Saya masih terus berharap mampu menghasilkan sebuah karya yang berkualitas namun juga mampu menginspirasi pembaca.
Semoga.
Amien...

Thursday, March 7, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (35)

Aku berdiri dari duduk karena tersentak kaget.
Lelaki itu berdiri dengan muka yang masih beringas memandangku.
Dia masih marah. Terlihat sangat marah.

"Kenapa diizinkan perempuan ini menginjakkan kaki di rumah kita?"
Si Ibu berdiri dengan tampang bingung
"Ada apa? Baru sampai dari perjalanan jauh tidak baik langsung mengumbar marah. Duduklah dahulu."
"Aku ndak suka perempuan ini di sini, Bu!"
"Kenapa?"
"Suruh dia pergi. Atau aku akan kasar padanya!"
Si Ibu memandangku bingung begitupun Bapak.
Aku menggeser langkah ke pintu.
"Terima kasih waktunya, Bu, Pak. Saya pulang."
"Tidak. Jangan pulang. Duduklah di sini!" Si Ibu menahanku.
Azzam Sima mengatup rapat gerahamnya.
"Ibu mau tahu alasan kenapa anak ini harus diusir?"
"Dia bukan perempuan baik-baik!"
Ibunya memandangku lagi.
"Pakaiannya sopan dan tertutup. Kerudungnya benar dan sedap dipandang mata."
"Apa yang terlihat di luar tidaklah mencerminkan di dalam."
"Dia pacarmu yang lain?" tanya Si Ibu lagi.
"Bukan! Dia bukan siapa-siapa sekarang!"
"Berarti dulu dia adalah?"
"Sudahlah Ibu. Jangan campuri segala urusan pribadiku! Aku sudah dewasa dan cukup tahu dengan pilihan hidupku!"
"Kau anak yang kulahirkan dari rahimku. Segala urusanmu jadi tanggung jawabku. Apalagi kalau kau pilih jodoh di luar agamamu!"
"Lebih baik kupilih perempuan yang benar-benar mencintaiku, yang tulus mengorbankan apapun demi aku. Bersedia hidup denganku dalam susah maupun senang. Tidak memandangku sebelah mata. Menganggapku laki-laki. Menganggapku pasangan hidup. Meletakkan aku sebagai suami dan pelindungnya. Menghargai aku lebih tinggi dari materi!"
"Hanya karena itu alasan kau memilih perempuan?"
Azzam Sima tidak lagi menjawab kata-kata Ibunya.
"Kudidik kau sedari kecil dengan agama agar kau pilih perempuan sebagai pendampingmu dengan landasan agama yang kaupelajari."
"Apakah perempuan muslimah pasti baik dan sempurna akhlaknya, Bu?"
Aku menunduk.
"Tidak semua yang disebut muslimah sebagus pakaian yang dikenakannya." Ujar Azzam Sima melirikku.
Aku menelan ludah.
"Semua memang tidak mudah, nak. Segala sesuatu yang kita cari memang membutuhkan kesabaran untuk hasil yang baik."
"Aku sudah bersabar, Bu. Tapi cuma rasa sakit yang didapat karena kesabaran itu."

"Boleh saya bicara?" aku beranikan diri untuk menyampaikan suara.
Azzam Sima ingin membentakku lagi.
"Apa salahnya dia bicara?" ibunya menyela.
Azzam Sima hanya bisa mengatup rapat bibirnya dengan kesal.

"Selain saya datang kemari untuk mengantar surat dari kantor, ada maksud lain yang hendak diutarakan, yakni mohon maaf saya. Mungkin rasanya tidak pantas lagi untuk disampaikan. Tapi akan menjadi ganjalan di hati kalau tidak saya utarakan. Sungguh, saya tidak pernah berniat untuk menyakiti seseorang. Apalagi itu orang yang saya sayangi. Tidak ada niatan untuk berselingkuh. Mungkin memang saya pernah salah mengambil keputusan. Terlalu egois dan emosional saat itu. Saya akui saat ini, itu bukan langkah yang benar. Sangat salah. Sebuah sikap kepengecutan. Hanya ingin cuci tangan."

Dia tidak berusaha membantah bicaraku.

"Kalau saya dihujat dan dihukum adalah sebuah kewajaran. Karena itu, ketika Bapak datang ke perusahaan dengan sikap acuh tak acuh, tidak saya salahkan. Begitupun ketika Bapak meminta saya mengurusi resepsi pernikahan Bapak, saya ikuti dengan ikhlas. Karena saya pikir kalau ini bisa menebus kesalahan, saya rela dan maklum. Apalagi calon yang Bapak kenalkan sungguh perempuan yang sempurna dan tanpa cela. Jadi, genaplah kerelaan saya. Hubungan saya dengan Yulianto bukanlah sesuatu yang sengaja dikejar. Itu cuma bentuk pelampiasan semata. Saya pikir, orang yang selama ini saya inginkan tidak menginginkan saya, mungkin tidak ada salahnya kemudian beralih pada orang yang sungguh menginginkan saya."

Terasa ada yang tersangkut di tenggorokan. Tetapi rasanya masih banyak yang ingin diutarakan.

"Saya jadian dengan Yulianto setelah mengetahui Bapak akan menikah. Tetapi, sekarang saya pikir, biar pun Bapak akan menikah dengan Jelita, saya tidak lagi ingin menikah dengan Yulianto hanya karena saya merasa saya telah dicampakkan orang yang saya inginkan. Saya tidak ingin terus dicap perempuan yang buruk. Apalagi setelah saya tahu Yulianto punya masalah dengan perempuan lain. Kali ini kedatangan saya kemari juga bukan untuk membalas atau apapun yang buruk di mata Bapak. Saya datang tulus ingin meminta maaf. Saya memang bukan perempuan yang baik. Saya sudah dihukum Tuhan dengan telak. Kedua orang yang telah membesarkan saya dengan cinta sedari kecil tidak lagi bersama saya lebih dua tahun ini. Kakak dan adik saya sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Materi orang tua yang dulu saya bangga-banggakan juga tidak lagi saya miliki."

Azzam Sima masih kulihat berdiri tegak. Matanya tidak memandangku.

"Tidak ada yang sia-sia bagi saya setelah menyebrangi waktu. Ada yang berubah dalam diri saya. Walaupun banyak yang hilang dari kehidupan saya. Tidak berarti kehidupan yang saya pilih saat ini menjadi lebih buruk dari waktu yang lain. Saya mensyukuri segala sesuatu yang telah Tuhan kasih pada saya. Begitupun hujatan yang telah Bapak hantar ke rumah saya waktu itu. Saya terima sebagai sebuah pelajaran berharga. Mungkin ego masih kuat membungkus saya. Tetapi Tuhan selalu mengingatkan saya untuk memperbaiki diri."

Azzam Sima lalu memandangku lekat dan lama.
"Penyesalan memang selalu datang terlambat, Aya. Sungguh aku masih berharap hubungan kita akan kembali seperti waktu itu. Tetapi aku mohon maaf pula, terutama untuk Ibu. Aku telah melamar Jelita dengan akad nikah Islam. Dia pun telah menjadi muallaf sekarang."

Air mataku langsung jatuh.
Aku pasang senyum yang terasa pahit.
"Selamat, dia memang perempuan yang pantas untukmu."
"Maafkan aku, Aya."
"Jangan minta maaf."
 Aku menggeleng. Sesuatu menggembok pita suaraku. Tidak ada satu katapun bisa kunadakan. Sementara air mataku deras mengalir tanpa mampu kubendung.
Aku berlari meninggalkan rumah yang seharusnya jadi mertuaku.
Dadaku terhimpit berton-ton beban yang tak mampu kuangkat. Sesak sekali. Duniaku terasa berubah terbalik dan terpontang-panting. Kumasuki mobil dan kulaju dengan kecepatan yang tak terukur sama sekali. Aku menggila. Kuterobos dengan sengit kekecewaan yang ditawarkan Tuhan ke piring takdirku.

Sungguh! Tidak ada yang mudah dalam hidup orang dewasa.

(Tamat)

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (34)

"Tapi 'mudah' tidak ada dalam hidup orang dewasa."

Ujar Robert Spritzel (Michael Caine) pada putranya David Spritz (Nicolas Cage) pada film The Weather Man.

Aku termangu.
Seberapa dewasa aku untuk menerima segala hal yang tidak 'mudah' dalam perjalanan hidupku?
Selama ini aku hanya berusaha lari dan terlepas dari beban. Selalu mencari jalan termudah. Tidak pernah mencari solusi untuk memecahkan masalah.

David Spritz, sebagai Peramal Cuaca sukses yang mencapai karier terbaik dengan penghasilan yang fantastis. Tidak berarti mampu menyelamatkan rumah tangganya. Materi bukan segalanya. Kebahagiaan bukan milik satu orang, tetapi juga bukan beban dua orang. Keikhlasan yang terpenting. Benar kata almarhum Bapak, ketika segalanya diberi dengan rasa tulus maka kebahagiaan itu akan hadir dengan sendirinya. Masalah mungkin menyerang kita bertubi-tubi. Tetapi penyelesaian terletak di tangan yang bijak memberi pandangan.

Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi Azzam Sima. Kemarin sudah kudatangi rumahnya yang di Jambe, tetapi kata tukang kebunnya, sudah seminggu Beliau di Berlian. Karena itu, hari ini aku meluncur dengan mobilku ke Berlian. Menjambangi rumah mertua di rentang waktu berbeda.

Seperti biasanya, 45 menit aku telah memasuki kota Berlian yang terik. Kuarahkan terus mobilku menuju lingkungan tempat tinggal Azzam Sima. Suasana terasa hening ketika kuparkir mobil di teras rumah sederhana itu. Tidak tampak siapa-siapa. Baru setelah pintu kuketuk wajah lembut mertua perempuanku muncul dengan segar di ambang pintu. Tampak sehat sekali Beliau. Padahal di rentang waktu yang lain, beliau hanya selisih tiga bulan menyusul Bapak. Sama-sama menderita diabetes. Karena itu kami menjadi satu yatim dan satu piatu ketika hendak melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan.

"Siapa, bu?"
Suara mertua lelakiku muncul dari dalam. Lelaki gaek itu juga tampak sama sehatnya.
Aku memamerkan senyum pada keduanya.
"Cari siapa?" tanya mertua perempuan.
"Pak Azzam Sima." Jawabku.
"Mahasiswanya?" tanya mertua lelaki.
"Bukan. Bawahannya di Adara Finance."
"O, masuk saja dulu." Tawar perempuan itu ramah.
Aku mengikuti langkahnya ke ruang tamu. Mertua lelaki duduk bersamaku di sofa. Sementara isterinya kembali ke dalam rumah. Seperti biasanya adat timur, tidak lupa membuatkan suguhan untuk tamu.

"Kebetulan Azzam sedang ke Yogya. Ada apa ya, nak?" Si Bapak lalu bertanya.
Aku terkejut. Darahku langsung berdesir dengan iramanya yang tak nyaman.
"Ke Yogya?"
"Iya. Sudah tiga hari."
"Kenapa?"
"Menemui kekasihnya. Siapa itu namanya, bu?" setengah berteriak Si Bapak bertanya.
Tubuhku semakin terasa lemas.
Tidak ada sahutan dari dalam. Mungkin Si Ibu tidak mendengar.
"Maaf ya, nak. Kira-kira ada kabar yang perlu disampaikan ke Azzam?"
"Oh iya, Pak."
Aku lalu mengeluarkan sebuah surat dan menyodorkan pada Si Bapak.
"Ini surat panggilan dari Kantor Wilayah. Pak Sima dipanggil ke kantor untuk menjelaskan alasan Beliau mengundurkan diri secara tiba-tiba."
"Oh begitu."
Aku mengangguk.
Si Ibu muncul dari dalam rumah membawa nampan berisi tiga gelas teh dan sepiring goreng pisang. Perempuan itu meletakkan di hadapanku.
"Diminum, nak."
"Terima kasih, bu."
"Ada apa Azzam dipanggil lagi ke kantor? Apa Azzam membuat masalah di sana?" Si Bapak bertanya.
"Oh, tidak, Pak. Malah Beliau dianggap anak emas yang sangat diperhatikan perusahaan."
Si Bapak hanya mengangguk-angguk.
"Maaf, Pak. Soal keberangkatan Pak Sima ke Yogya dalam rangka apa ya?"
"Menemui pacarnya. Padahal jelas sekali Ibu tidak suka. Masih saja dia berkeras untuk berangkat ke jawa. Ibu sampai mengancam kalau dia pulang membawa perempuan itu, maka Ibu lebih rela dia tidak usah menginjak kaki lagi ke sumatera." Si Ibu yang kali ini bersuara.
"Jadi mereka benar akan menikah, bu?"
"Saya idak mau! Saya ndak akan kasih restu! Perempuan itu beda agama. Lalu apa jadinya keluarga mereka kelak."
"Bagaimana kalau itu memang jodoh Azzam, bu?" Si Bapak bicara lagi.
"Tetap aku idak mau."
"Bukannya calonnya itu akan ikut apapun agama Azzam?"
"Padahal banyak perempuan muslim yang juga cantik dan menarik, tetapi kenapa pula dia pilih perempuan itu."
"Kita tidak bisa menentang takdir Tuhan, bu."
"Awak idak rela!"
Aku diam di tengah perdebatan mereka.

"Tidak usahlah kita bicarakan soal jodoh Azzam di depan anak ini. Tidak baik. Urusan lain yang dibawahnya dari kantor. Bukan masalah jodoh Azzam." Si Bapak berujar.
Si Ibu merengut di sisi duduknya.
"Maaf, nak. Jadi sampai di mana tadi pembicaraannya?"
"Oh, saya yang minta maaf, Pak, Bu. Sepertinya saya terlalu mencampuri dengan bertanya soal Pak Sima berangkat ke Yogya. Sebenarnya saya kemari diutus kantor untuk meminta Pak Sima datang ke kantor. Hanya itu. Tapi berhubung Pak Sima tidak di tempat, jadi saya titipkan saja surat panggilan dari perusahaan. Sekarang saya izin untuk pulang saja."
"Kenapa terburu-buru?"
"Tugas saya sudah saya kerjakan."
"Siapa nama anak? Nanti saya sampaikan pada Azzam."
"Mazaya, Pak."
"Cantik sekali namanya, seperti orang yang menyandangnya." Puji perempuan lewat tengah baya itu.
Aku jadi tersipu.
"Sudah menikah, nak?"
"Belum, Bu."
"Hendak menikah dalam waktu dekat?"
"Belum, Bu."
"Sudah punya calon?"
"Belum juga."
"Wah, bagus itu!"
Si Bapak langsung menyikut isterinya.
"Apalah Bapak nih!"
"Apa maksud Ibu tuh?"
"Aku mau calon menantu seperti ini."
Si Bapak mencubit isterinya.
Si perempuan balas mencubit.
"Maafkan, Nak. Dulu Ibu ndak bertingkah begini."
"Maksud Bapak?"
"Mungkin pengaruh menopause."
"Basingnya kalau bicara."
"Kembali kayak anak-anak tingkahnya,"
Si Bapak tertawa.
Aku jadi ikut tersenyum.
"Dipikir mengambil menantu seperti membeli gula-gula di toko."
Si Ibu cemberut mendengar suaminya yang makin besar tertawa.

Aku selalu kagum dengan kemesraan yang dibangun mertuaku. Tidak ada kelebihan materi di tengah mereka. Tetapi cinta mereka semakin lama terjalin malah semakin erat. Waktu itu, ketika Azzam Sima dan kakaknya sudah tidak balita lagi, telah mengecap bangku menengah pertama dan atas, keduanya lebih sering melancong berdua. Terkadang menonton film di bioskop Murni di Kota Jambe. Menikmati film-film nasional yang dilakonkan artis idola mereka. Sampai gaek pun mereka tidak bosan menghabiskan hari dengan bercengkrama berdua saja.

Aku menikmati waktu berjalan bersama keduanya. Tidak terasa lebih satu jam kami bercerita. Bolak-balik tentang Azzam, pekerjaan di kantor, dan juga tentangku. Sampai aku tak sadar, sosok Azzam Sima telah berdiri di muka pintu rumah.

"Untuk apa pula kau datang ke mari!"

(Bersambung)

Cerita selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (35)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)


 






Saturday, February 23, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (33)

Aku mengantar Mbak Nelly sampai ke rumahnya. Kupeluk dia untuk menguatkan sebelum izin pulang. Perempuan itu kembali menangis. Kuelus punggungnya agar dia sedikit tenang. Beberapa kata hiburan yang terlalu biasa kulontarkan di bibir. Aku yakin kata-kata itu tak mampu mengobati sakitnya saat ini. Tetapi kupikir, aku tak punya kata-kata lain. Aku cuma bisa menyuruh Mbak Nelly bersabar. Entah apa yang terjadi kalau kejadian ini berlaku padaku. Mbak Nelly cukup kuat sebagai perempuan dalam menghadapi kenyataan tentang suaminya yang terselubung selama ini. Jelas ini jenis pengkhianatan paling menyakitkan yang pernah dilakukan seorang laki-laki.

Setelah Mbak Nelly merasa cukup tenang, baru aku mengajukan izin untuk pulang. Kulirik jam tanganku, jam setengah dua belas malam. Aku bergegas melajukan mobil untuk kembali ke kontrakan. Yuk Way pasti sudah tertidur pulas. Kadang sulit untuk membangunkannya kalau dia sudah berkelana di alam mimpi.

Sesampainya di rumah, aku cukup kaget melihat pintu ruang tamu masih terkuak. Tumben jam selarut ini Yuk Way masih terjaga? Pikirku. Biasanya perempuan itu baru mau begadang kalau sudah kudesak.

"Assalamualaikum. Yuk Way, kok,..." sahutanku terpotong sendiri ketika sampai di muka pintu ruang tamu dan mendapati sosok lain selain Yuk Way duduk di sofa ruang tamu kami.
"Ke mana saja? Jam segini baru pulang?" Yulianto dengan wajah garang masih dengan kemeja yang dikenakannya tadi pagi di kantor menyambutku. Sementara Yuk Way segera menyingkir dari kami.
"Tadi menemani Mbak Nelly." Aku menjawab sekenanya.
"Jam segini?" dia menunjuk jam tangannya.
"Urusan penting."
"Sampai tidak absen ke kantor? Kau itu HRD, Aya!"
Aku menghempaskan tubuh di sofa ruang tamu.
"Aku capek, Anto."
Dia mendengus nafas kesal.
"Kenapa Hape juga di-non aktif-kan?"
Aku diam.
"Jangan bertingkah seperti anak-anak, Aya!"
Kondisiku terlalu capek, jadinya gampang sekali memicu emosiku. Aku langsung berdiri dari posisi rebahan di sofa.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak baik membuat masalah lalu kabur begitu saja tanpa penjelasan sama sekali."
Aku mengerutkan kening.
"Membuat masalah? Siapa yang buat masalah? Kau salah melontarkan tuduhan, Nto. Itu ditujukan untukmu sendiri!"
"Mazaya, sudah kubilangkan kepadamu sebelumnya bahwa masalahku dengan Karina sudah selesai. Jadi, untuk apa dipermasalahkan lagi?"
Aku tertawa keras.
"Mudah sekali kau berujar, Nto! Aku ini juga perempuan. Tentu aku tahu rasanya di posisi Karina. Bisa jadi suatu saat nanti kalau kita memang ditakdirkan terikat rumah tangga kejadian yang menimpa Karina bakal pula menimpaku. Dan kau, dengan mudahnya menepisku."
"Aya, buruk sekali pikiranmu padaku!"
"Aku perempuan, Nto. Tentu aku takut dicampakkan!"
"Aku tidak akan melakukannya."
Aku menggeleng.
"Aya,..."
"Aku membatalkan rencana pernikahan kita."
"Kenapa?" wajah Yulianto jelas kecewa.
"Masih juga kau tanya?"
"Kau sepihak saja melakukannya."
"Kau memang tak punya hati, Nto."
"Kau yang tak punya hati, Aya!"
"Pulang lah,..."
"Aku tidak mau pulang!"
"Untuk apa kau di sini?"
"Membuatmu tenang dan kembali ke rencana awal kita."
Aku menghela nafas dan diam sejenak.
"Aku juga ingin mengemukakan sebuah rahasia, Nto."
Yulianto menatapku serius.
"Kau ingat pertengkaranmu dengan Pak Sima tempo hari?"
Dia mengangguk.
"Kata-katanya tidaklah bohong."
Yulianto membentuk kerut di keningnya.
"Kata-kata apa?"
"Bahwa aku memang isterinya."
Yulianto hendak tertawa, tetapi diurungkannya setelah memperhatikan ekspresiku.
"Kau serius, Aya?"
Aku mengangguk.
"Kau hanya ingin mengerjaiku!"
"Tidak. Aku serius. Kami memang sudah menikah sebelum kembali ke masa lalu."
"Jadi, kalian memakai Jasa Pelayanan Mesin Waktu juga?"
Aku mengangguk.
"Belum ada kata cerai di antara kami."
Kini wajah Yulianto yang berubah.
"Kenapa kau tidak bicara dari awal, Aya? Kenapa kau terima lamaranku kemarin?"
Aku menunduk, "Aku minta maaf."
"Semudah itu!"
"Kumaklumi kalau kau marah, Nto."
"Aku tidak marah, Aya. Aku kecewa!"
Aku diam.
"Kau permainkan aku, Aya. Atau ini bentuk balas dendammu atas perlakuanku di waktu yang lain?"
Aku menggeleng kuat.
"Pintar sekali kau menimbulkan rasa sakit."
"Aku tidak sejahat itu, Nto!"
"Ya, aku memang harus paham. Walaupun saat ini belum ada ikatan pernikahan resmi. Tetapi simbol itu telah tersemat di hati kalian masing-masing."
Aku tidak menjawab.
"Aku mengerti posisiku."
"Maaf, Nto."
"Tidak perlu."
Dia lalu berdiri dari duduknya.
"Aku pulang, Aya. Walaupun aku tidak mendapatkanmu. Aku cukup bersyukur kehidupanku telah berubah cukup banyak. Aku tidak lagi cemas menghadapi masa depan."
Aku jadi merasa tidak enak.
"Aku akan cari isteri yang jauh lebih baik darimu, Aya!"
Aku mengangguk.
"Kau memang jahat sekali, Aya!"
"Maaf."
"Tidak usah terus kau ulang. Maafmu membuatku menjadi semakin sakit."
Aku terdiam.
Yulianto melangkahkan kaki ke pintu ruang tamuku.
Dia menoleh ke arahku yang duduk di sofa. Sepertinya ada kata yang ingin dilontarkannya lagi. Tetapi diurungkan. Dia hanya menatapku. Lalu pergi menjejakkan kakinya keluar pintu. Aku berdiri setelah mendengarnya menghidupkan mesin mobil. Lelaki itu memutar ligat mobilnya lalu memacu kencang meninggalkan pekarangan rumah kontrakanku. Sesaat rumah kembali terasa sepi dan lengang.

Yuk Way memunculkan dirinya dari dalam. Dia memandangku lama. Tetapi tak ada kata yang meluncur dari mulutnya yang biasa cerewet dan sok tahu. Aku hanya melempar senyum. Memunguti tas dan sepatuku yang berserakan di ruang tamu. Melenggangkan kaki yang terasa penat ke kamar tidur.

Aku benar-benar lelah hari ini.

(Bersambung)


   



Friday, February 22, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (32)

Sudah hari ke-5 semenjak Azzam Sima mengundurkan diri. Telepon dari kantor Wilayah dan Pusat masih terus berdering menanyakan perihal yang kurang lebih sama. Bergantian dengan telepon Yulianto yang mendesakku untuk memberikan alasan tepat mengenai kemarahanku dua hari lalu. Tidak cukup lewat telepon, Yulianto datang ke ruanganku.

Aku tidak tahan didesak. Karena itu aku kemudian melarikan diri. Handphone kemudian ku-non aktif-kan. Kutitipkan pesan pada Nadia kalau aku ke luar kantor sedang meninjau ke beberapa pos kabupaten. Padahal sebenarnya aku malah pergi dengan Mbak Nelly untuk menyelesaikan masalahnya. Setelah mendapatkan alamat tepat perempuan yang dicurigai sebagai idaman lain suaminya, kami tidak lagi mengulur-ngulur waktu. Kami segera meluncur ke TKP. Mbak Nelly memasang wajah kaku selama perjalanan. Dia tidak banyak bicara.

Setelah menghabiskan 30 menit meluncur di jalanan. Akhirnya kami menemukan lokasi yang ditunjukkan. Sebuah rumah indekos yang asri dan mewah. Aku turun terlebih dahulu dari mobil. Sementara Mbak Nelly tampak tak berniat beranjak sedikitpun.
"Mbak, kita sudah sampai." aku mengingatkan.
Mbak Nelly hanya mengangguk pelan tanpa sedikit pun berniat akan turun dari mobil.
"Mbak?"
"Diurungkan saja, Aya."
"Kok?"
"Aku ndak siap."
"Mbak, ini memang kondisi yang berat. Tetapi kalau mbak tidak berani menghadapi, kapan masalah ini akan selesai?"
Mbak Nelly menghela nafas.
"Seperti apa perempuan itu?"
"Sebaiknya mbak turun untuk mengetahuinya."
Mbak Nelly diam sebentar lalu menurunkan dirinya dengan pelan dari mobil. Dia berdiri terpaku di muka halaman indekost tersebut.
"Ayo, mbak."
"Kalau kau menghadapi kondisi ini, apa yang bisa dilakukan, Aya?"
Aku menarik tangan Mbak Nelly sedikit menyeretnya memasuki indekost tersebut. Sesampainya di depan kamar yang diperkirakan. Aku hendak mengetuk pintu. Tetapi tanganku langsung ditarik lagi dengan mbak Nelly.
"Sepertinya tidak usah saja lah."
Aku jadi menatap perempuan di sampingku itu. Perempuan yang selalu bicara berani soal kejelekan orang lain tetapi tidak mampu menghadapi kejelekan yang menimpa dirinya.
"Yakin mbak?"
Dia tampak ragu.
Aku kembali mengetuk pintu.
Beberapa kali pintu diketuk, akhirnya dibuka oleh seorang lelaki muda tampan berkulit putih bersih.
"Benar ini rumah Eka?" aku berinisiatif bertanya.
"Ya, saya sendiri." lelaki itu menjawab.
Aku langsung memandang mbak Nelly. Mbak Nelly sama terkejutnya denganku.
"Kami ingin bertanya sesuatu, boleh?"
Lelaki itu memandang kami bergantian.
"Soal?"
"Kenal dengan Rahmat Setyadi?" kali ini Mbak Nelly yang mengajukan pertanyaan.
"Iya. Ada apa?"
Mbak Nelly langsung mencengkram tanganku kuat.
"Eh, silahkan masuk saja. Kita ngobrol di dalam." lelaki itu segera menguak lebih lebar pintu kamar kostnya. Sebuah kamar kost yang luas, bersih, dan sangat rapi terpampang di depan kami. Mungkin  tidak ada yang menyangka kalau kamar itu adalah milik seorang laki-laki. Nuansa hijau muda mendominasi.
"Kita tinggal di sini?" aku masih berusaha memastikan setelah kami masuk dan duduk di karpet lembutnya yang terasa sangat nyaman.
"Iya. Ini kamar kost saya. Kenapa?"
"Rapi sekali untuk ukuran cowok."
Dia jadi tertawa malu-malu.
"Sebentar." dia lalu berdiri mengambil dua botol minuman soda dari kulkas mininya.
"Kerja di mana?" tanyaku.
"Saya model."
"Oh,"
"Tapi masih merintis. Baru beberapa kali muncul di majalah coverboy nasional dan videoklip lagu daerah."
"Wah, hebat."
Dia tersenyum.
Lelaki ini bagiku terasa sangat lembut.
"Oh, iya. Tadi mau bicara masalah Om Rahmat?" dia tampaknya sama penasarannya dengan kami.
"Iya. Kalau boleh tahu kenal Om Rahmat dimana ya?" aku yang terus bertanya. Mbak Nelly terus menyimak dengan teliti.
"Oh, waktu syuting video klip lagu daerah di Kabupaten Mara. Om Rahmat teman sutradara."
"Sudah lama kejadian itu?"
"Sudah dua tahun lalu."
Aku kembali memandang Mbak Nelly. Mbak Nelly menatapku balik. Terlalu banyak makna yang mampu kuterjemahkan dari tatapannya.
"Eh, kalau boleh tahu, mbak-mbak ini siapa ya?'
"Saya isteri om Rahmat." Mbak Nelly yang menjawab.
Ada perubahan ekspresi dari wajah Eka mendengar jawaban itu.
"Boleh tahu ada hubungan apa antara Eka dengan Om Rahmat?" aku berusaha bertanya dengan hati-hati.
Lelaki yang bernama Eka itu tidak langsung menjawab.
"Kami hanya teman." Jawabnya sungguh mengagetkanku. Sebab setahuku tidak ada lelaki yang menjawab demikian mengenai hubungannya dengan sesama teman laki-laki.
"Kami tidak akan menuntut atau mempermasalahkan apapun menyangkut karier Eka di dunia Modelling kalau mau jujur menyangkut hubungan Eka dengan Om Rahmat. Mbak Nelly ini isterinya yang sah. Mereka punya seorang anak perempuan yang cantik." aku berusaha mengintimidasi secara halus.
Dia tampak cemas.
"Tolong jangan sampaikan apapun ke wartawan."
'Tidak akan. Asal Eka jujur."
Lelaki berparas halus itu menghela nafas.
"Saya memang ada hubungan serius dengan Om Rahmat. Tetapi sungguh! Saya tidak paham kalau Om sudah beristeri. Dia bilang dia duda tanpa anak yang ditinggal mati isteri."
Mbak Nelly menundukkan kepalanya.
"Eka punya foto Om Rahmat?' aku cuma ingin benar-benar memastikan. Agar kami tidak salah alamat dan orang yang kami curigai memang benar adanya.
Eka beranjak dari duduknya. Sebuah album kemudian diraihnya dari rak buku. Kuperkirakan lelaki muda ini masih duduk di bangku kuliah semester awal.
Album tersebut disodorkan di hadapanku.
Segera kubuka lembar demi lembar.
Sungguh sebuah bukti yang tidak bisa ditampik lagi. Beberapa pose akrab dan mesra yang direkam petikan kamera. Cuma mungkin sedikit janggal karena dilakukan dua sosok laki-laki. Beberapa kali Eka berpose dengan dibalut make-up  dan pakaian perempuan. Terlalu cantik.

Tak kuduga, Mbak Nelly langsung berdiri dari duduknya.
"Mbak?"
"Aku tunggu di mobil saja, Aya." tanpa menoleh lagi perempuan itu langsung keluar dari kamar kost Eka.
"Maafkan saya," lelaki muda itu berujar pelan menatapku.
Aku mengangguk sama pelannya.
"Om Rahmat masih sering kontak dengan Eka?"
"Iya. rutin. Baru saja kami mengobrol lewat telepon tadi. Rencananya minggu ini kami akan ke Bali. Soalnya ada dinas luar di kantornya di sana. Saya diajak."
Aku mendengarkan.
"Saya sungguh menyesal. Tolong sampaikan pada isteri Om Rahmat."
"Tolong pikirkan lagi hubungan kalian. Karena ada pihak-pihak yang pasti tersakiti karena hubungan ini."
Lelaki muda itu mengangguk.
Selanjutnya aku permisi. Segera kutemui Mbak Nelly di mobil. Saat duduk di belakang setir. Kulirik sekilas Mbak Nelly. Mata Perempuan itu terlihat sembab.
"Aku kecewa sekali, Aya." Perempuan itu mulai bicara.
"Aku merasa dibohongi selama ini. Sungguh kukira sosok idaman lain itu adalah perempuan seutuhnya. Ini betul-betul menyakitkan."
Aku tidak berkomentar.
"Selamanya rumah tangga kami akan berlangsung seperti ini, Tidak akan pernah utuh. Karena itu percuma saja terus kupertahankan. Aku tidak punya pilihan lain, Aya."

Berapa kalipun kuniatkan mencari kata-kata yang paling tepat untuk diutarakan. Tetap tak kutemukan satu katapun yang pantas.  Akhirnya, aku terkurung kembali dalam diam.
Perempuan di sampingku tak lagi bicara. Sepertinya dia telah merasa cukup untuk berkata-kata atau hatinya terlalu perih untuk dimaknai dengan kata-kata. Kulajukan saja mobilku menelusuri jalan. Tidak kuniatkan kembali ke kantor atau ke manapun. Kubiarkan ban mobilku terus menggilas jalan. Mengikuti sejauh mana pikiran kami mampu merangkak.

Sekelebat bayangan Azzam Sima kembali melintas. Tatapan mata dan sikapnya yang terkesan dingin selama ini tiba-tiba menerbitkan rasa kangen di dada. Semakin ingin kuabaikan semakin kuat hinggap dan berputar-putar di kepala.

(Bersambung)


 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger