Wednesday, April 15, 2015

Skizophrenilove



Skizophrenilove, merupakan antologi dari 10 orang penulis diantaranya oleh Nana Sastrawan, Rini Intama, Nenny Makmun, Icha Rain, Dea Malyda Atmitha Akbar, Diah Hastorini, Anggi Putri, Mardiana Kappara, Widara, dan Okty KN. Pemesanan bisa dilakukan langsung ke PIN BB 5537487A dan Nomor Handphone 081373581989 seharga Rp 35.000 (telah discount) di luar ongkos kirim.

Berikut sebuah Cerpen dari karya Mardiana Kappara di buku tersebut dan silahkan nikmati cerita-cerita cinta lainnya yang tak kalah seru!


Cupid in Love
oleh Mardiana Kappara

Konon, Cupid butuh ijazah untuk izin operasi. Cupid turun ke bumi pertama kali untuk mengikuti semacam tes. Apabila lulus dari tes tersebut, Cupid resmi menyandang status “dewa cinta berijazah” yang bisa bebas berkelana di bumi.  Kini, tibalah waktunya Cupide, Cupidi, dan Cupido mengikuti tes turun bumi pertama demi dapat  mengantongi ijazah yang diidam-idamkan setiap umat Cupid tersebut. 
Cupide menjerit panik, “Gila! 13 hari untuk turun ke bumi?”
Cupidi melirik Cupido, “Ya, salah siapa? Siapa yang nggak bisa lihat peta!”
“Lah, jangan salahkan aku!” bela Cupido.
“Kalian sadar tidak, itu artinya cuma tersisa dua hari untuk menyelesaikan tes?” Cupide tambah panik.
Cupidi mendelik, “Ya syukur masih ada 2 hari!”
Cupide lebih mendelik,”Syukur Kepala Petak!”
Cupido dan Cupidi manyun.
“Hei, coba ingat-ingat. Sekarang, apa yang harus kita kerjakan?” Cupide berusaha meredam panik dan mulai fokus.
Cupidi menarik gulungan kertas dari tangan Cupido, membacanya berlahan, “Hm, keempat nama itu adalah Laila, Juminten, Subekti, dan Nyono. Umur 30-an. Tinggal di Gang Senggol. Disinyalir mereka merupakan tetangga, dan bisa jadi cukup intens mengalami kontak.”
Cupide merampas gulungan kertas dari tangan Cupidi, “Laila adalah seorang pelatih karate, Juminten pembantu rumah tangga, dan Nyono adalah Office Boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu Subekti bekerja sebagai buruh bangunan,... Sementara posisi gang Senggol diperkirakan,...” Cupide kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan dengan seksama.
“Laila! Neng Laila! Tunggu!”
Seorang pria kurus berseragam biru setengah berlari mengejar seorang wanita yang terburu-buru keluar dari mulut gang tak jauh dari simpang jalan di mana ketiga Cupid berdiri.
Si wanita yang dipanggil menghentikan langkah tampak kesal, “Ada apa?”
“Tolong, berhentilah mempermainkan saya. Sudah berapa kali saya mengirimkan surat  kepada Neng Laila, tetapi beberapa kali pula malah diberikan orang lain. Dulu Si Kokom, tukang gado-gado itu, sampai saya harus menginap di kantor karena takut pulang bakal ketemu Si Kokom. Terus Bu Tetty, janda setengah stress itu, sampai saya terancam pindah rumah karena dia terus datang minta kawin. Terakhir Si Mince, banci rombengan itu. Aduh, Neng Lail! Cinta saya ini cuma buat Neng. Apa Neng nggak pernah percaya?”
“Terus sekarang maunya Mas Nyono apa?”
“Saya bener-bener cinta sama Neng Laila.”
“Tapi saya tidak, Mas Nyono.”
“Dibandingkan lelaki itu. Subekti. Saya lebih bersedia menikahi Neng Laila. Subekti cuma peduli pada Juminten yang seksi itu. Subekti cuma peduli pada penampilan perempuan...”
Laila naik pitam, “Oh, jadi menurut Mas Nyono, saya ini kurang seksi, kurang cantik? Kalo menghina jangan terang-terangan begitu dong!”
Nyono gugup, “Bu-bukan, bukan begitu maksud saya. Saya cuma mau bilang, bahwa saya mencintai Neng Laila karena saya tahu Neng Laila mempunyai kecantikan abadi, yaitu hati yang lembut, baik, dan tulus. Apalah artinya kecantikan wajah, kalau hanya dalam beberapa tahun pasti akan memudar. Cantik hati akan selamanya. Dan cantik itu yang saya cari dari Neng Laila.”
Laila mencibir. Dengan langkah tergesa si wanita menjauh dari si pria kurus yang tampak masygul ditinggalkan tanpa tanggapan.
Cupide menjentikkan jarinya riang, “Pucuk dicinta ulam tiba. Gusti Cupid memang berpihak pada kita. Tanpa perlu bersusah payah, ternyata malah sasaran yang menemui kita. Selanjutnya apa langkah kita?”
“Hm, kira-kira, apa mungkin membuat mereka saling  jatuh cinta dalam dua hari?” Cupidi menyahut ragu.
Cupide dan Cupido saling menatap. Bimbang pula.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti di muka ketiga Cupid. Ternyata seorang lelaki kekar menghadang langkah seorang wanita berkebaya menggendong bakul. Wanita itu berpostur biola, sehingga lekukan membayang jelas di kebaya dan kain batik yang melilit tubuhnya yang sewarna gading. Cupido yang baru menyadari kehadiran keduanya langsung terpana.
“Pagi, Juminten,” sapa lelaki di atas motor.
Si Juminten yang digoda tersenyum malu-malu, “Pagi, Bang Bekti.”
“Mau mengantar cucian?”
Juminten mengangguk.
“Mau diantar?”
Juminten kembali tersenyum malu, “Abang tidak kerja?”
“Libur. Mau diantar ke mana cuciannya, Jum?”
“Jurangan Ali.”
“Ya, sudah. Sini ikut Abang, sekalian Abang ada perlu dengan Jurangan Ali.”
Juminten tampak senang, “Wah, serius, Bang. Ma kasih ya.”
Subekti mengerling membuat muka Juminten merona merah. Setelah Juminten naik, motor bebek 70-an tersebut segera melaju meninggalkan persimpangan.
Cupido masih memandangi bayangan keduanya, “Juminten cantik...”
Cupide dan Cupidi saling bertatapan senang kemudian langsung berpelukan, “Puja untuk Gusti Cupid! Tidak sulit untuk mempersatukan keduanya!”
Cupido menampik, “Tidak! Ini cinta bertepuk sebelah tangan.”
Pelukan Cupide dan Cupidi terlepas, “Apa maksudmu?”
“Lihat, apa kalian tidak melihat hanya si pria yang berhasrat?” tanya Cupido.
“Ah, bagaimana kau bisa tahu?” Cupidi protes.
“Hanya Subekti yang punya perasaan, Juminten biasa-biasa saja,” jelas Cupido
Cupidi melirik, “Alah, Sok tahu!”
Cupido menjawab, “Aku tahu perasaan perempuan semacam Juminten.”
Cupide tertawa, “Untuk detik ini kita tidak butuh banyak analisa, yang penting hasil. Paham!”
Cupido protes, “Tentu penting analisa. Bagaimana mungkin hal yang berhubungan dengan perasaan dianggap barang sepele?”
“Tidak untuk dua hari ini, Cupido! Sekali lagi aku mohon, tidak untuk dua hari ini. Paham!”
Cupido terpaksa membungkam mulutnya rapat-rapat dan hanya mengangguk.
***
 “Malam, Mbak Juminten,” cegat Cupido setelah setengah jam menunggu di mulut Gang Senggol. Juminten mengerutkan kening menatap Cupido.
“Mengenali saya?”
Juminten menggeleng.
“Wajar. Saya memang tidak tinggal di gang ini. Saya Cupido,” mengulurkan tangan. Juminten balas mengulurkan tangan ragu-ragu, namun cepat ditarik kembali.
“Memang, ini pertemuan Mbak yang pertama dengan saya. Tapi saya sudah pernah melihat Mbak di simpang jalan ini. Jujur, saya sangat kagum dengan Mbak, dengan segala hal yang Mbak punya. Tubuh. Wajah. Suara. Gerak-gerik. Semua penuh  seni. Sangat seksi! Saya jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Juminten langsung mengayun  langkah hendak pergi. Tapi Cupido cepat menahan.
“Eits, sebentar. Saya belum selesai bicara.”
“Maaf  ya anak ingusan  atau  anak kemaren sore! Saya ini perempuan baik-baik. Saya bukan perempuan begituan. Saya pembantu rumah tangga. Saya bekerja dengan kedua tangan saya secara halal. Kalau penampilan saya seperti ini, apa berarti saya harus dipersalahkan karena telah mengundang syahwat laki-laki? Saya tidak minta dilahirkan dengan tubuh sintal, suara seksi, dan wajah cantik. Lelaki saja yang terlalu punya banyak pikiran kotor sehingga tidak bisa mengendalikan nafsunya! Apalagi anak bau kencur yang kebanyakan nonton film blue seperti kamu!”
“Houw! Houw! Kenapa jadi memvonis begitu! Saya tidak menilai Mbak seperti apa yang Mbak barusan utarakan. Sebentar, mungkin saya salah bicara. Saya kemari bermaksud menawarkan jasa.” Cupido segera mengeluarkan selebaran pamflet yang dibawanya lalu menyerahkan kepada Juminten.
Juminten membacanya, “Biro Jodoh?”
Cupido mengangguk, “Biayanya relatif lebih murah dari yang lain. Kami jamin datang ke biro jodoh kami pasti akan menemukan jodoh. Dan untuk pembukaan perdana, ada penawaran gratis untuk  empat orang.”
Juminten menyerahkan balik selebaran itu, “Saya tidak tertarik!”
“Paling tidak datang saja. Ada Door Prize!”
Door Prize?” mata Juminten langsung terbelalak. Sudah seringkali dia mendengar kata itu, tapi sekalipun belum pernah dia melihat bentuknya. Rasa ingin tahu mendesaknya.
Cupido tersenyum yakin bahwa mangsa terakhir sudah masuk perangkap. Kakinya segera melangkah dengan ringan kembali menemui kedua rekannya di markas.
***
Sebuah gudang tua disihir Cupide menjadi Biro Jodoh Cupid. Nuansa temaran nan romantis dengan bangku-bangku memenuhi ruangan. Sebuah panggung lengkap dengan band dangdut menambah suasana hangat acara tersebut.
 “Akhirnya, selamat datang di biro jodoh kami! Silahkan menikmati hidangan yang disediakan. Semoga malam ini menjadi malam keberuntungan buat semua!”
Tepuk tangan membahana menutup sambutan Cupide. Cupide turun panggung. Band langsung memainkan irama “Boneka India” mengundang tamu turun bergoyang.
Sementara itu, sejak tadi Cupido terus mengamati Juminten. Cupido tidak membuang-buang kesempatan ketika Subekti beranjak dari sisi Juminten. Dia segera menghampiri Juminten yang sedang duduk sendirian.
“Malam, Mbak Juminten,” sapa Cupido berusaha memamerkan senyum terbaiknya.
“E, Dik Cupido. Malam,” balas Juminten ramah.
“Bisa ditemani?”
Juminten tersenyum, “Silahkan.”
Cupido segera duduk di samping Juminten.
“Malam ini Mbak Juminten terlihat sangat istimewa.”
Juminten tersenyum, “Begitu ya?”
“Benar. Dari tadi bahkan saya tidak bisa berpaling dari Mbak. Saya tidak bohong. Selama ini saya selalu membantu orang menemukan cinta. Tapi baru pertama kali ini saya merasa menemukan cinta saya.”
Wajah Juminten bersemu merah, “Ah, Dik Cupido ini punya bakat jadi Playboy juga rupanya. Tapi, memang bener ada Door Prize-nya? Saya sudah menunggu dari tadi.”
Cupido tampak kecewa karena dialihkan, “Oh, Door Prize ya? Sebentar, saya tanya pada Ketua Panitia... Tunggu ya, Mbak Jum.”
Juminten mengangguk.
Cupido segera berdiri dan melangkah mendekati Cupide dan Cupidi yang berada jauh dari para tamu. Tampang keduanya sangat serius mengamati.
“Cupide!” tegur  Cupido.
Cupide mengangkat telunjuknya ke atas bibir.
“Semua sudah berkumpul. Setiap sasaran telah berada pada posisi tembak,” bisik Cupidi.
“Ya.” Cupide melihat Subekti menghampiri Juminten dan Nyono tak pernah lepas menguntit Laila.
“Kurasa ramuan kita sudah bekerja.”
“Ramuan apa?” Cupido langsung berujar penasaran.
“Aku campur ‘Cinta Buta’ pada minuman dengan dosis tinggi dan ‘Cinta Setengah Mati’ pada makanan. Aku yakin tembakan panah ini tidak akan meleset!” jawab Cupide menjentikkan jarinya.
“Ok. Aku siap!” Cupidi mengeluarkan busur dan membidikkan anak panahnya.
“Hei! Apa ini?” Cupido membentak.
Cupidi menurunkan anak panah bingung, “Tentunya menembak lah, Man?
“Bukannya terlalu cepat?” tanya Cupido.
“Terlalu cepat? Hei Man! Waktu kita tinggal satu jam lagi. Apabila gagal, jangankan ijazah,... Pufhh!! Kita pun bisa jadi dihilangkan dari alam ini!” potong Cupide kesal.
Cupidi kembali mengangkat busurnya untuk membidik.
“Kalau boleh tahu pasangan mana yang akan kalian tembak pertama kali?” rasa penasaran Cupido tak tertahankan.
“Juminten-Subekti,” jawab Cupidi.
“Tunggu! Kenapa harus mereka duluan?” seru Cupido cemas.
Cupide mengerutkan kening, “Ada apa denganmu, Man?”
“Jangan bilang kau benar-benar jatuh cinta pada Juminten!” ujar Cupidi.
Cupido tersenyum malu-malu dan mengangguk.
“Oh, Gusti Cupid!” Cupidi menepuk jidatnya.
“Ah, sudahlah Cupidi. Cepat saja tembak  Juminten dan Subekti!” perintah Cupide.
“Hei! Apa kalian tidak menghargai perasaanku? Apa aku tidak berhak jatuh cinta? Apa aku tidak berhak tertarik pada seorang perempuan?”
“Kau Cupid, Man! Dewa Cinta!”
“Memang Cupid dilarang jatuh cinta?”
“Ah, urusan itu tanya saja pada Gusti Cupid. Sekarang kewajiban kita adalah menyelesaikan tes! Ayo tembak. Jangan disia-siakan lagi!”
Cupidi langsung mengarahkan anak  panah pada Juminten-Subekti.
“Tidak! Tidak bisa! Obat peletku belum bekerja!” ujar Cupido berusaha merampas busur Cupidi.
“Apa? Ini benar-benar gawat! Di mana otakmu? Dia manusia dewasa dan kau calon Dewa Cupid. Untuk ukuran manusia pun kau terlalu belia untuk Juminten!” Cupide berusaha melepas Cupidi dari cengkraman Cupido.
“Cupidi, cepat tembak mereka!”
“Tidak! Aku tidak terima!” teriak Cupido.
Akhirnya terjadi tarik-menarik di antara ketiganya. Juminten dan Subekti yang awalnya saling berdampingan merubah posisi. Juminten menghampiri Laila yang memanggilnya. Sementara Nyono dengan wajah sedih menemui Subekti dan membisikkan sesuatu pada Subekti. Pada saat itulah Panah Cinta melesat dan tepat mengenai Subekti dan Nyono. Ketiga Cupid sama-sama terkejut.
Nyono menatap penuh cinta pada Subekti. Begitu pula sebaliknya.
“Nyono,...” Subekti menarik lembut tangan Nyono ke dadanya.
“Mas Bekti,...” Nyono menatap Bekti dengan mata berbinar-binar.
“Oh Nyono sayang, Maukah kau menikah denganku?” tanya Subekti menggenggam erat tangan Nyono yang tersenyum  malu-malu.
“Tentu, Mas Bekti...”
“Lihat! Akibat ulahmu! Kita telah membuat kesalahan fatal. Bagaimana ini Cupide?” tanya Cupidi kesal sekaligus panik.
“Entahlah,” jawab Cupide bingung.
“Ya sudah, berhubung sudah jadi satu pasangan. Masih tinggal satu lagi yang harus kita jadikan,” sahut Cupidi menarik kembali busurnya.
“Apa kalian gila? Juminten dan Laila kan sama-sama perempuan?” ujar Cupido tak terima.
“Bukannya Subekti dan Nyono juga sama-sama laki-laki? Seharusnya semua berjalan sesuai jalurnya. Ini akibat otak gila dan keegoisanmu. Sudahlah! Tes ini juga tidak menjelaskan syarat apa-apa selain meminta kita membuat dua pasangan cinta dari keempat orang tersebut,” sahut Cupidi tanpa ragu.
“Tidak bisa!” berang Cupido kembali ingin merampas panah Cupidi.
"Cupido!!! Bukan kita yang harus membahagiakan cinta! Tetapi cintalah yang harus membahagiakan kita! Cinta cuma alat, bukan tujuan!” bentak Cupide sambil merampas busur Cupidi kemudian menghempaskannya sekuat tenaga ke lantai. Busur itu patah menjadi dua.
Cupido terpaku.
“Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk memilih belahan jiwa, kawan! Dan itu, bukan semata cinta, Cupido...,” tambah Cupidi membuat Cupido semakin diam. 

 Cupidi menepuk bahu sahabatnya. Kemudian dia mengambil busur yang masih bertengger di punggung Cupido. Lalu kembali siaga pada posisi tembak, dengan penuh keyakinan Cupidi melesatkan anak panah terakhirnya ke arah Juminten dan Laila. Sementara Cupido langsung terduduk lemas menatap cintanya perlahan pudar. (Selesai)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger