Apa sih Wattpad itu?
Wattpad adalah sebuah media tempat berkumpulnya para pembaca, penulis, bahkan penerbit. Sebuah media yang mewadahi penulis untuk menuangkan karyanya, memberikan ruang yang seluas-luasnya untuk terjadinya kontak antara pembaca dan penulis. Bagi penerbit, media ini menjadi semacam alat ukur pasar. Penerbit bisa membaca selera pasar melalui Wattpad bahkan mengenal banyak penulis baru yang berbakat.
Semenjak 3 bulan terakhir ini saya sedang berusaha serius menggarap buku-buku saya di Wattpad. Dan luar biasa. Wattpad sangat membantu saya untuk konsisten menulis. Padahal selama ini rasanya sulit sekali untuk menggarap sebuah tulisan. Mungkin nuansa yang dibangun Wattpad serupa perpaduan sosial media dan blog sehingga ada semacam rasa ketagihan yang tercipta untuk terus membuka situs tersebut. Lebih-lebih berseliwerannya berbagai banyak tulisan dari berbagai jenis penulis dan kelas. Mengapa saya menyebut kelas di sini, karena ada penulis-penulis yang sungguh-sungguh serius menggarap tulisan-tulisannya hingga diterbitkan penerbit mayor dan ada yang sekedar angin-anginan menulis. Tetapi, aura buku yang bertebaran setiap layar dibuka pada situs ini membuat saya terus ingin mengecek buku saya sendiri. Apakah saya sudah up date cerita? Saya harus up date cerita biar pembaca terus mengunjungi lapak saya. Tanpa terasa novel Balakosa yang hampir setahun mandek di blog pada chapter 1 di Wattpad sudah berkembang hingga chapter 27 detik ini. Tiap hari saya berusaha melakukan up date. Walaupun kualitas tulisan saya masih berada pada titik kualitas yang sama, paling tidak saya sudah mengasah konsistensi saya pada kegiatan ini. Mungkin sulit untuk menyamai Putu Wijaya yang sangat produktif menghasilkan karya bermutu. Tetapi bukan tidak mungkin untuk dilakukan selama konsistensi tersebut terus dipertahankan.
Melalui Wattpad, saya rasa penulis dapat mengembangkan kualitasnya dengan baik. Karena walaupun ada penerbit yang pernah mencap penulis Wattpad tidak bermutu. Tetapi, perlu diingat, menulis adalah sebuah proses. Bukan tidak mungkin suatu saat penulis yang dicap tidak bermutu itu akan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. Hal itu dapat saya buktikan dari penulis yang ada di Wattpad yang merasa ketika awal menulis di Wattpad tidak cukup percaya diri dengan kualitas tulisannya. Tetapi beriring waktu dan ketekunan untuk belajar serta memperbaiki diri. Lambat laun tulisannya membaik dan buku-bukunya di Wattpad sudah disunting banyak penerbit mayor.
Jadi untuk menjadi lebih baik. Penulis harus memanfaatkan semua media yang memungkinkannya untuk berkembang lebih baik. Dan saat ini, saya memutuskan untuk belajar menulis bersama Wattpad. Saya tidak tahu kemana nanti muara tulisan-tulisan yang telah bertumpuk di Wattpad itu. Tetapi saya ingin terus mengasah tulisan ini semakin berkarakter dan bermutu. Itu bukan hal yang instan tapi butuh waktu dan usaha. Saya yakin Wattpad mampu membantu. Silahkan mampir ke @MardianaKappara untuk membaca usaha saya belajar menulis.
Bagaimana dengan kamu?
Tuesday, April 3, 2018
Sunday, October 1, 2017
Ingin Menjadi Penulis Sukses? Fokuslah Menulis!
Saya, orang yang tidak fokus.
Saya menyukai berbagai hal dan ingin menguasai semua hal. Saya suka menggambar, memasak, membuat keterampilan, berbisnis dan banyak lagi selain menulis. Saya tidak pernah melakukan segala sesuatunya dengan bersungguh-sungguh. Konsentrasi dan perhatian saya sangat mudah teralihkan dengan segala sesuatu yang "menarik"menurut pandangan saya.
Suatu ketika, Mamak mengobrol dengan saya setelah kelahiran Rayyan Ar Rasyid, katanya "Kakakmu Uma dan Adikmu Fitri, mereka adalah orang-orang yang fokus, mereka adalah orang yang sangat tekun dengan apa yang mereka kerjakan. Seperti apapun pekerjaan itu, banyak atau sedikit yang mereka peroleh dari jerih payah mereka, seimbang atau tidak antara apa yang telah mereka korbankan dengan apa yang mereka peroleh, mereka tidak pernah mengeluh. Mereka menikmati setiap hal dalam 'kefokusan' mereka tersebut, karena mereka mencintai apa yang mereka kerjakan. Sementara, kamu tidaklah pernah fokus dengan apa yang kamu lakukan."
Saya termenung sejenak mendengar ujaran Mamak. Iya, baru tersadarkan kalau ternyata saya bukanlah orang yang fokus. Fokus terhadap apa yang saya cintai. Padahal setiap mengisi kolom hobi, saya tidak pernah menulis hal lain kecuali 'menulis dan membaca'. Padahal, jujur, berapa banyak buku yang telah saya beli dan tertata rapi di rak buku, bahkan masih banyak yang bersegel, nyaris tak tersentuh. Dalam seminggu belum tentu ada satu buku yang fokus saya baca hingga selesai. Mungkin bahkan satu bulan atau satu tahun. Padahal membaca adalah amunisi menulis. Bagaimana bisa menulis apabila kurang membaca. Jika membaca rutin saja sulit, apalagi mau menulis dengan rutin. Malu rasanya menyebut diri ini sebagai penulis.
Seorang penulis besar pernah menasehati, bahwa untuk menjadi penulis, maka bersungguh-sungguhlah menulis, sediakan waktu 'khusus' untuk melakukan ritual menulis. Karena menulis itu sebuah kerja keras, sebuah kerja yang tidak asal-asalan, dan bukan pekerjaan yang sepele, dia membutuhkan 'alokasi tersendiri' dari waktu yang dimiliki seseorang yang ingin menjadi seorang penulis.
Ya, saya tidak pernah melakukan itu untuk kegiatan menulis. Saya tidak pernah memperlakukannya dengan demikian spesial. Wajar kalau saya tidak pernah menghasilkan sesuatu yang istimewa dalam tulisan saya. Saya merasa semenjak kelas 3 SD hingga kini usia menginjak 37 tahun, kemampuan menulis yang saya miliki tidak meningkat dengan pesat. Berbeda jauh dengan teman-teman yang kemarin sempat berada di garis start yang sama. Tetapi sekarang, mereka telah menjadi orang-orang yang luar biasa. Iri? Bisa jadi. Tapi, lagi-lagi ajaran dalam agama saya mengatakan, pekerjaan adalah ibadah, sementara rezeki yang didapatkan dari kerja keras itu adalah karunia Tuhan. Jangan iri hanya dengan karunia Tuhan tapi tidak iri dengan ibadah (kerja keras) yang dilakukan orang tersebut. Orang yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya dan meniatkannya sebagai ibadah merupakan gambaran orang yang fokus. Karena dia akan melakukan yang terbaik dan ikhlas melakukannya.
Apakah saya sudah cukup fokus menulis?
Saya harus bisa menjawabnya dengan jujur.
Saya menyukai berbagai hal dan ingin menguasai semua hal. Saya suka menggambar, memasak, membuat keterampilan, berbisnis dan banyak lagi selain menulis. Saya tidak pernah melakukan segala sesuatunya dengan bersungguh-sungguh. Konsentrasi dan perhatian saya sangat mudah teralihkan dengan segala sesuatu yang "menarik"menurut pandangan saya.
Suatu ketika, Mamak mengobrol dengan saya setelah kelahiran Rayyan Ar Rasyid, katanya "Kakakmu Uma dan Adikmu Fitri, mereka adalah orang-orang yang fokus, mereka adalah orang yang sangat tekun dengan apa yang mereka kerjakan. Seperti apapun pekerjaan itu, banyak atau sedikit yang mereka peroleh dari jerih payah mereka, seimbang atau tidak antara apa yang telah mereka korbankan dengan apa yang mereka peroleh, mereka tidak pernah mengeluh. Mereka menikmati setiap hal dalam 'kefokusan' mereka tersebut, karena mereka mencintai apa yang mereka kerjakan. Sementara, kamu tidaklah pernah fokus dengan apa yang kamu lakukan."
Saya termenung sejenak mendengar ujaran Mamak. Iya, baru tersadarkan kalau ternyata saya bukanlah orang yang fokus. Fokus terhadap apa yang saya cintai. Padahal setiap mengisi kolom hobi, saya tidak pernah menulis hal lain kecuali 'menulis dan membaca'. Padahal, jujur, berapa banyak buku yang telah saya beli dan tertata rapi di rak buku, bahkan masih banyak yang bersegel, nyaris tak tersentuh. Dalam seminggu belum tentu ada satu buku yang fokus saya baca hingga selesai. Mungkin bahkan satu bulan atau satu tahun. Padahal membaca adalah amunisi menulis. Bagaimana bisa menulis apabila kurang membaca. Jika membaca rutin saja sulit, apalagi mau menulis dengan rutin. Malu rasanya menyebut diri ini sebagai penulis.
Seorang penulis besar pernah menasehati, bahwa untuk menjadi penulis, maka bersungguh-sungguhlah menulis, sediakan waktu 'khusus' untuk melakukan ritual menulis. Karena menulis itu sebuah kerja keras, sebuah kerja yang tidak asal-asalan, dan bukan pekerjaan yang sepele, dia membutuhkan 'alokasi tersendiri' dari waktu yang dimiliki seseorang yang ingin menjadi seorang penulis.
Ya, saya tidak pernah melakukan itu untuk kegiatan menulis. Saya tidak pernah memperlakukannya dengan demikian spesial. Wajar kalau saya tidak pernah menghasilkan sesuatu yang istimewa dalam tulisan saya. Saya merasa semenjak kelas 3 SD hingga kini usia menginjak 37 tahun, kemampuan menulis yang saya miliki tidak meningkat dengan pesat. Berbeda jauh dengan teman-teman yang kemarin sempat berada di garis start yang sama. Tetapi sekarang, mereka telah menjadi orang-orang yang luar biasa. Iri? Bisa jadi. Tapi, lagi-lagi ajaran dalam agama saya mengatakan, pekerjaan adalah ibadah, sementara rezeki yang didapatkan dari kerja keras itu adalah karunia Tuhan. Jangan iri hanya dengan karunia Tuhan tapi tidak iri dengan ibadah (kerja keras) yang dilakukan orang tersebut. Orang yang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya dan meniatkannya sebagai ibadah merupakan gambaran orang yang fokus. Karena dia akan melakukan yang terbaik dan ikhlas melakukannya.
Apakah saya sudah cukup fokus menulis?
Saya harus bisa menjawabnya dengan jujur.
Labels:
Motivasi Menulis,
Tips menulis
Tuesday, April 21, 2015
Novel : Tukar Raga (3)
"Rom, pasti ada seseorang kan yang kau cari di sini?"
"A,..Aku, aku tidak sedang mencari siapa-siapa. Aku hanya,.."
Tiba-tiba Juliet melongokkan kepalanya dari dalam kamar. Kamarku yang seharusnya memang menjadi kamarku apabila aku tidak di tubuh lelaki ini. Juliet menatapku. Tetap sinis. Lalu dia masuk kembali dan menutup pintu kamar.
"Kau mencari Juliet?" Vonny bertanya
Aku menggeleng, "Ti,..tidak."
Vonny memicingkan mata menatapku.
"Iya. Aku tidak mencari Juliet." Aku meyakinkan perempuan berjilbab tersebut.
"Siapa yang kau kenal di sini?"
Aku berpikir. Seketika Cimut melintas dari kamar mandi.
"Cimut!!!"
Perempuan berbadan tambun tersebut gelagapan menepis handuk yang menutup kepalanya. Lalu mencari-cari asal suara yang meneriakkan namanya, "Ya?"
"Cimut! Aku Romeo!" Panggilku lagi.
Setelah matanya menangkap sosokku otomatis Cimut langsung melongo.
"Cimut, ingatkan aku ajak kamu dua minggu lalu makan di lesehan pecel lele depan kostan ini?"
Cimut tambah melongo. Tapi hanya sejenak. Sekian detik kemudian dia mengangguk-angguk dengan mengacungkan telunjuknya ke udara. "Oh, yang itu,..."
"Iya, Mut! Ingatkan?"
Cimut setengah tak yakin menganguk-angguk lagi.
Vonny menatapku dengan kening berkerut, "Kau mencari Cimut?"
"Iya. Cimut." Tunjukku dengan senyum sangat lebar.
"Aku masuk dulu ya, aku ada kuliah setengah jam lagi." Sahut Cimut.
"Oke. Ma kasih ya, Mut yang kemaren." Sahutku basa-basi.
"Sama-sama." Cimut masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan rapat.
"Ada urusan apa kau dengan Cimut?"
"Aku, aku minjam catatan kuliahnya."
"Catatan kuliah? Dia kan Teknik Sipil!"
Aku menepuk jidat. Aku kan Ilmu Pemerintahan. goblok!
"Iya. Tapi sebenarnya cuma alasan,..."
"Alasan?" Vonny semakin curiga.
"Aku ada perlu dengan Cimut secara pribadi." Jawabku.
"Kau mendekati Cimut?" Vonny bicara setengah berbisik.
"Oh, tidak! Tidak, Von!"
"Gila kau Rom, Marsya dibanding Cimut seperti bumi dan langit. Kau sakit Rom!"
Aku meletakkan telunjuk di atas bibirku.
"Kau gila, Rom! Memang ada masalah apa kau dengan Marsya?" Vonny mengecilkan volume suaranya.
Aku menggelengkan kepala, "Tidak ada. Tidak ada apa-apa."
"Beberapa minggu ini kulihat Marsya murung dan tidak banyak bicara. Kamarnya saja sering dikunci dari dalam. Kalau kutanya, dia selalu bilang sedang tidak enak badan. Kau pun kulihat jarang main ke kostannya."
Aku akhirnya merasa kesal juga dengan berondongan pertanyaan Vonny.
"Aku tidak tahu, Von. Dan aku rasa tidak ada apa-apa. Lagian kenapa kau jadi persis emaknya?"
Vonny mengatupkan mulutnya rapat.
"Mohon maaf ya, Von. Aku juga saat ini sedang mengalami kebingungan yang sangat terhadap diriku. Jadi tolong lah kasih aku waktu untuk menyesuaikan diri."
"Rom! Marsya itu sahabatku dan lebih dari saudara aku. Jadi sekarang, tolong bantu aku untuk melihat Marsya. Kalau dia memang sudah tidak lagi, aku ingin melihat jasadnya."
"Hm, kau benar-benar tidak tahu Marsya sudah meninggal. Tidak ada yang berkunjung ke kostanmu dari kepolisian beberapa hari ini?"
"Aku sedang keluar empat hari ini. Aku tidak di kostan."
Aku hanya mengangguk.
"Antar aku, Rom. Aku ingin lihat Marsya."
"Mungkin dia masih di ruang otopsi rumah sakit? Aku juga tidak tahu Von. Aku cuma diinterogasi di kantor polisi. Aku sama sekali tidak dipertemukan dengan mayat Marsya."
"Kau masih pacarnya kan?"
Aku mengangguk pelan.
"Kau tidak ingin melihat dia untuk terakhir kalinya?"
Aku mengangguk lagi.
"Ya, ayo!" Seret Vonny.
Aku terpaksa mengikuti perempuan tersebut ke arah mobil Mirage merah yang diparkirnya di pekarangan kost-kostan.
(Bersambung)
Cerita sebelumnya Novel: Tukar Raga (2)
Labels:
Tukar Raga
Sunday, April 19, 2015
Balakosa (Bagian 1)
Namaku. Tidak ada. Aku tanpa nama. Aku dari langit dan diturunkan ke bumi bersama bulir-bulir air hujan yang terjun bebas ke bumi. Aku bukan manusia. Aku juga bukan dewa. Aku hanya semacam pendamping untuk anak-anak dewa yang dibuang atau diturunkan ke bumi.
Kalian pikir cuma di bumi, makhluk yang tidak punya hati berada dan beranak-pinak? Di langit. Tempat tinggal para dewa. Banyak juga yang semacam manusia. Mereka seperti tidak punya perasaan terhadap buah hati mereka sendiri yang seolah tak jauh beda dengan onggokan sampah. Tidak terhitung bayi-bayi dewa yang dibuang ke bumi. Tetapi, bayi-bayi dewa masih lebih beruntung dari bayi-bayi manusia. Sebab bayi-bayi dewa turun ke bumi bersama tetesan hujan dan jikalau dia beruntung, dia akan bertemu perempuan yang sedang mengandung dan berdiamlah dia di dalam rahim si ibu dan berangsur-angsur bersemayam di raga si cabang bayi manusia.
Kau tidak percaya ceritaku?
Bayi-bayi dewa yang terbuang hanya bisa selamat dengan cara seperti itu. Dan hal itu tidak ada ruginya buat calon bayi manusia yang dihinggapi. Bayi manusia itu malah mendapat semacam berkah. Dia tidak akan terlihat sebagai manusia biasa, dia pasti dikaruniai kelebihan yang membuatnya akan terlihat menonjol dibanding manusia yang lain, bisa jadi wajahnya terlihat lebih memikat, atau kecerdasan anak manusia tersebut menjadi di atas rata-rata, atau bisa jadi sudah menunjukkan bakat seorang pemimpin yang kuat. Dan, kami, para pendamping akan mengenali anak-anak manusia yang disemayami oleh anak dewa karena walaupun selaku pendamping kami adalah makhluk metafisika buat manusia, tetapi sebagai sesama pendamping kami bisa saling melihat fisik masing-masing.
Dan, aku, adalah pendamping putera Dewa Astula. Tetapi tidak sama dengan nasib bayi-bayi dewa lain yang dibuang karena tidak diinginkan. Dewa Astula membuang puteranya karena menurut ramalan Dewi Aruna, saudara kandung Dewa Astula, kehancuran kerajaan Astula akan datang dengan lahirnya putera mahkota, kecuali putera mahkota tersebut diturunkan ke bumi dan kesialan yang dibawanya ketika lahir ditinggalkan di bumi. Awalnya Dewa Astula tidak percaya, betapa beliau sangat menginginkan puteranya tersebut setelah dengan sabar melewati kelahiran demi kelahiran 14 puterinya. Doanya tersebut akhirnya terkabul di angka 15. Namun, menurut Dewi Aruna tidak ada pilihan lain. Kesialan yang dibawa putera mahkota harus disinggahkan ke bumi agar tidak membawa kesialan bagi kerajaan Astula di langit.
Itulah awal ceritanya, aku dipanggil Dewa Astula. Aku adalah pendamping terbaik diantara ribuan pendamping dan tugasku adalah menjaga dan memastikan bahwa putera Dewa Astula, Dewa Balakosa, bisa menemukan rahim seorang perempuan untuk bersemayam. Karena bila tidak menemukan selama 3 hari, maka Dewa Balakosa akan berangsur-angsur sirna karena energinya disedot oleh energi inti bumi.
Ini adalah hari pertama kami turun ke bumi bersama tetesan hujan. Aku mengamati Dewa Balakosa yang masih merah. Dia terlihat sangat tampan dan tenang. Kami mendarat di tumpukan sampah yang menggunung. Baunya luar biasa memutarbalikkan isi perut. Tetapi Dewa Balakosa tidak terpengaruh, di dalam gelembung yang mengambang dia tertidur pulas. Kupandangi kakiku yang transparan menapak di atas tumpukan sampah yang berlendir dan ujung ekorku menempel pada gelembung yang berisi Dewa Balakosa, kemanapun aku bergerak gelembung tersebut tak akan lepas dari ekorku selama energi hidupnya masih ada. Dan biasanya energi hidup rata-rata bayi dewa tidak lebih dari 72 jam.
(Bersambung)
Labels:
(Novel) Balakosa
Wednesday, April 15, 2015
Skizophrenilove
Skizophrenilove, adalah kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh sepuluh orang penulis (Mardiana Kappara, Nana Sastrawan, Rini Intama, Nenny Makmun, Dea Malyda Atmitha Akbar, Diah Hastorini, Anggi Putri, Icha Rain, Widara, dan Okty KN) dengan mengusung tema 'Cinta', antologi ini tetap mempunyai keunikan tersendiri dari cerita-cerita fiksi lain yang membahas hal senada. Apabila berminat, Anda bisa memesan langsung melalui SMS/WA di 081373581989.
Berikut sebuah Cerpen karya Mardiana Kappara dari buku Skizophrenilove dan silahkan nikmati cerita-cerita cinta lainnya yang tak kalah seru!
Berikut sebuah Cerpen karya Mardiana Kappara dari buku Skizophrenilove dan silahkan nikmati cerita-cerita cinta lainnya yang tak kalah seru!
Cupid in Love
oleh Mardiana Kappara
Konon,
Cupid butuh ijazah untuk izin operasi. Cupid turun ke bumi pertama kali untuk
mengikuti semacam tes. Apabila lulus dari tes tersebut, Cupid resmi menyandang
status “dewa cinta berijazah” yang bisa bebas berkelana di bumi. Kini, tibalah waktunya Cupide, Cupidi, dan
Cupido mengikuti tes turun bumi pertama
demi dapat mengantongi ijazah yang
diidam-idamkan setiap umat Cupid tersebut.
Cupide
menjerit panik, “Gila! 13 hari untuk turun ke bumi?”
Cupidi
melirik Cupido, “Ya, salah siapa? Siapa yang nggak bisa lihat peta!”
“Lah,
jangan salahkan aku!” bela Cupido.
“Kalian
sadar tidak, itu artinya cuma tersisa dua hari untuk menyelesaikan tes?” Cupide
tambah panik.
Cupidi
mendelik, “Ya syukur masih ada 2 hari!”
Cupide lebih mendelik,”Syukur Kepala Petak!”
Cupido dan Cupidi manyun.
“Hei,
coba ingat-ingat. Sekarang, apa yang harus kita kerjakan?” Cupide berusaha
meredam panik dan mulai fokus.
Cupidi
menarik gulungan kertas dari tangan Cupido, membacanya berlahan, “Hm, keempat
nama itu adalah Laila, Juminten, Subekti, dan Nyono. Umur 30-an. Tinggal di
Gang Senggol. Disinyalir mereka merupakan tetangga, dan bisa jadi cukup intens mengalami kontak.”
Cupide
merampas gulungan kertas dari tangan Cupidi, “Laila adalah seorang pelatih
karate, Juminten pembantu rumah tangga, dan Nyono adalah Office Boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu Subekti bekerja
sebagai buruh bangunan,... Sementara posisi gang Senggol diperkirakan,...”
Cupide kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan dengan seksama.
“Laila!
Neng Laila! Tunggu!”
Seorang
pria kurus berseragam biru setengah berlari mengejar seorang wanita yang
terburu-buru keluar dari mulut gang tak jauh dari simpang jalan di mana ketiga
Cupid berdiri.
Si
wanita yang dipanggil menghentikan langkah tampak kesal, “Ada apa?”
“Tolong,
berhentilah mempermainkan saya. Sudah berapa kali saya mengirimkan surat kepada Neng Laila, tetapi beberapa kali pula
malah diberikan orang lain. Dulu Si Kokom, tukang gado-gado itu, sampai saya
harus menginap di kantor karena takut pulang bakal ketemu Si Kokom. Terus Bu
Tetty, janda setengah stress itu,
sampai saya terancam pindah rumah karena dia terus datang minta kawin. Terakhir
Si Mince, banci rombengan itu. Aduh, Neng Lail! Cinta saya ini cuma buat Neng.
Apa Neng nggak pernah percaya?”
“Terus
sekarang maunya Mas Nyono apa?”
“Saya
bener-bener cinta sama Neng Laila.”
“Tapi
saya tidak, Mas Nyono.”
“Dibandingkan
lelaki itu. Subekti. Saya lebih bersedia menikahi Neng Laila. Subekti cuma
peduli pada Juminten yang seksi itu. Subekti cuma peduli pada penampilan
perempuan...”
Laila
naik pitam, “Oh, jadi menurut Mas Nyono, saya ini kurang seksi, kurang cantik?
Kalo menghina jangan terang-terangan begitu dong!”
Nyono
gugup, “Bu-bukan, bukan begitu maksud saya. Saya cuma mau bilang, bahwa saya
mencintai Neng Laila karena saya tahu Neng Laila mempunyai kecantikan abadi,
yaitu hati yang lembut, baik, dan tulus. Apalah artinya kecantikan wajah, kalau
hanya dalam beberapa tahun pasti akan memudar. Cantik hati akan selamanya. Dan
cantik itu yang saya cari dari Neng Laila.”
Laila
mencibir. Dengan langkah tergesa si wanita menjauh dari si pria kurus yang
tampak masygul ditinggalkan tanpa tanggapan.
Cupide
menjentikkan jarinya riang, “Pucuk dicinta ulam tiba. Gusti Cupid memang berpihak pada kita. Tanpa perlu bersusah payah,
ternyata malah sasaran yang menemui kita. Selanjutnya apa langkah kita?”
“Hm,
kira-kira, apa mungkin membuat mereka saling
jatuh cinta dalam dua hari?” Cupidi menyahut ragu.
Cupide
dan Cupido saling menatap. Bimbang pula.
Tiba-tiba
sebuah motor berhenti di muka ketiga Cupid. Ternyata seorang lelaki kekar
menghadang langkah seorang wanita berkebaya menggendong bakul. Wanita itu
berpostur biola, sehingga lekukan membayang jelas di kebaya dan kain batik yang
melilit tubuhnya yang sewarna gading. Cupido yang baru menyadari kehadiran
keduanya langsung terpana.
“Pagi,
Juminten,” sapa lelaki di atas motor.
Si
Juminten yang digoda tersenyum malu-malu, “Pagi, Bang Bekti.”
“Mau
mengantar cucian?”
Juminten
mengangguk.
“Mau
diantar?”
Juminten
kembali tersenyum malu, “Abang tidak kerja?”
“Libur.
Mau diantar ke mana cuciannya, Jum?”
“Jurangan
Ali.”
“Ya,
sudah. Sini ikut Abang, sekalian Abang ada perlu dengan Jurangan Ali.”
Juminten
tampak senang, “Wah, serius, Bang. Ma kasih ya.”
Subekti
mengerling membuat muka Juminten merona merah. Setelah Juminten naik, motor
bebek 70-an tersebut segera melaju meninggalkan persimpangan.
Cupido
masih memandangi bayangan keduanya, “Juminten cantik...”
Cupide
dan Cupidi saling bertatapan senang kemudian langsung berpelukan, “Puja untuk Gusti Cupid! Tidak sulit untuk
mempersatukan keduanya!”
Cupido
menampik, “Tidak! Ini cinta bertepuk sebelah tangan.”
Pelukan
Cupide dan Cupidi terlepas, “Apa maksudmu?”
“Lihat,
apa kalian tidak melihat hanya si pria yang berhasrat?” tanya Cupido.
“Ah,
bagaimana kau bisa tahu?” Cupidi protes.
“Hanya
Subekti yang punya perasaan, Juminten biasa-biasa saja,” jelas Cupido
Cupidi melirik, “Alah, Sok tahu!”
Cupido menjawab, “Aku tahu perasaan perempuan semacam
Juminten.”
Cupide tertawa, “Untuk detik ini kita tidak butuh banyak
analisa, yang penting hasil. Paham!”
Cupido
protes, “Tentu penting analisa. Bagaimana mungkin hal yang berhubungan dengan
perasaan dianggap barang sepele?”
“Tidak
untuk dua hari ini, Cupido! Sekali lagi aku mohon, tidak untuk dua hari ini.
Paham!”
Cupido
terpaksa membungkam mulutnya rapat-rapat dan hanya mengangguk.
***
“Malam, Mbak Juminten,” cegat Cupido setelah
setengah jam menunggu di mulut Gang Senggol. Juminten mengerutkan kening
menatap Cupido.
“Mengenali
saya?”
Juminten
menggeleng.
“Wajar.
Saya memang tidak tinggal di gang ini. Saya Cupido,” mengulurkan tangan.
Juminten balas mengulurkan tangan ragu-ragu, namun cepat ditarik kembali.
“Memang,
ini pertemuan Mbak yang pertama dengan saya. Tapi saya sudah pernah melihat
Mbak di simpang jalan ini. Jujur, saya sangat kagum dengan Mbak, dengan segala
hal yang Mbak punya. Tubuh. Wajah. Suara. Gerak-gerik. Semua penuh seni. Sangat seksi! Saya jatuh cinta pada
pandangan pertama.”
Juminten
langsung mengayun langkah hendak pergi.
Tapi Cupido cepat menahan.
“Eits,
sebentar. Saya belum selesai bicara.”
“Maaf ya anak ingusan atau
anak kemaren sore! Saya ini perempuan baik-baik. Saya bukan perempuan
begituan. Saya pembantu rumah tangga. Saya bekerja dengan kedua tangan saya
secara halal. Kalau penampilan saya seperti ini, apa berarti saya harus
dipersalahkan karena telah mengundang syahwat laki-laki? Saya tidak minta
dilahirkan dengan tubuh sintal, suara seksi, dan wajah cantik. Lelaki saja yang
terlalu punya banyak pikiran kotor sehingga tidak bisa mengendalikan nafsunya!
Apalagi anak bau kencur yang kebanyakan nonton film blue seperti kamu!”
“Houw!
Houw! Kenapa jadi memvonis begitu! Saya tidak menilai Mbak seperti apa yang
Mbak barusan utarakan. Sebentar, mungkin saya salah bicara. Saya kemari
bermaksud menawarkan jasa.” Cupido segera mengeluarkan selebaran pamflet yang
dibawanya lalu menyerahkan kepada Juminten.
Juminten
membacanya, “Biro Jodoh?”
Cupido
mengangguk, “Biayanya relatif lebih murah dari yang lain. Kami jamin datang ke
biro jodoh kami pasti akan menemukan jodoh. Dan untuk pembukaan perdana, ada
penawaran gratis untuk empat orang.”
Juminten
menyerahkan balik selebaran itu, “Saya tidak tertarik!”
“Paling
tidak datang saja. Ada Door Prize!”
“Door Prize?” mata Juminten langsung
terbelalak. Sudah seringkali dia mendengar kata itu, tapi sekalipun belum
pernah dia melihat bentuknya. Rasa ingin tahu mendesaknya.
Cupido
tersenyum yakin bahwa mangsa terakhir sudah masuk perangkap. Kakinya segera
melangkah dengan ringan kembali menemui kedua rekannya di markas.
***
Sebuah
gudang tua disihir Cupide menjadi Biro Jodoh Cupid. Nuansa temaran nan romantis
dengan bangku-bangku memenuhi ruangan. Sebuah panggung lengkap dengan band dangdut menambah suasana hangat
acara tersebut.
“Akhirnya, selamat datang di biro jodoh kami!
Silahkan menikmati hidangan yang disediakan. Semoga malam ini menjadi malam
keberuntungan buat semua!”
Tepuk
tangan membahana menutup sambutan Cupide. Cupide turun panggung. Band langsung memainkan irama “Boneka India” mengundang tamu turun
bergoyang.
Sementara
itu, sejak tadi Cupido terus mengamati Juminten. Cupido tidak membuang-buang
kesempatan ketika Subekti beranjak dari sisi Juminten. Dia segera menghampiri
Juminten yang sedang duduk sendirian.
“Malam,
Mbak Juminten,” sapa Cupido berusaha memamerkan senyum terbaiknya.
“E,
Dik Cupido. Malam,” balas Juminten ramah.
“Bisa
ditemani?”
Juminten
tersenyum, “Silahkan.”
Cupido
segera duduk di samping Juminten.
“Malam
ini Mbak Juminten terlihat sangat istimewa.”
Juminten
tersenyum, “Begitu ya?”
“Benar.
Dari tadi bahkan saya tidak bisa berpaling dari Mbak. Saya tidak bohong. Selama
ini saya selalu membantu orang menemukan cinta. Tapi baru pertama kali ini saya
merasa menemukan cinta saya.”
Wajah
Juminten bersemu merah, “Ah, Dik Cupido ini punya bakat jadi Playboy juga rupanya. Tapi, memang bener
ada Door Prize-nya? Saya sudah
menunggu dari tadi.”
Cupido
tampak kecewa karena dialihkan, “Oh, Door
Prize ya? Sebentar, saya tanya pada Ketua Panitia... Tunggu ya, Mbak Jum.”
Juminten
mengangguk.
Cupido
segera berdiri dan melangkah mendekati Cupide dan Cupidi yang berada jauh dari
para tamu. Tampang keduanya sangat serius mengamati.
“Cupide!”
tegur Cupido.
Cupide
mengangkat telunjuknya ke atas bibir.
“Semua
sudah berkumpul. Setiap sasaran telah berada pada posisi tembak,” bisik Cupidi.
“Ya.”
Cupide melihat Subekti menghampiri Juminten dan Nyono tak pernah lepas
menguntit Laila.
“Kurasa
ramuan kita sudah bekerja.”
“Ramuan
apa?” Cupido langsung berujar penasaran.
“Aku
campur ‘Cinta Buta’ pada minuman dengan dosis tinggi dan ‘Cinta Setengah Mati’
pada makanan. Aku yakin tembakan panah ini tidak akan meleset!” jawab Cupide
menjentikkan jarinya.
“Ok.
Aku siap!” Cupidi mengeluarkan busur dan membidikkan anak panahnya.
“Hei!
Apa ini?” Cupido membentak.
Cupidi
menurunkan anak panah bingung, “Tentunya menembak lah, Man?”
“Bukannya
terlalu cepat?” tanya Cupido.
“Terlalu
cepat? Hei Man! Waktu kita tinggal
satu jam lagi. Apabila gagal, jangankan ijazah,... Pufhh!! Kita pun bisa jadi
dihilangkan dari alam ini!” potong Cupide kesal.
Cupidi
kembali mengangkat busurnya untuk membidik.
“Kalau
boleh tahu pasangan mana yang akan kalian tembak pertama kali?” rasa penasaran
Cupido tak tertahankan.
“Juminten-Subekti,”
jawab Cupidi.
“Tunggu!
Kenapa harus mereka duluan?” seru Cupido cemas.
Cupide
mengerutkan kening, “Ada apa denganmu, Man?”
“Jangan
bilang kau benar-benar jatuh cinta pada Juminten!” ujar Cupidi.
Cupido
tersenyum malu-malu dan mengangguk.
“Oh,
Gusti Cupid!” Cupidi menepuk
jidatnya.
“Ah,
sudahlah Cupidi. Cepat saja tembak
Juminten dan Subekti!” perintah Cupide.
“Hei!
Apa kalian tidak menghargai perasaanku? Apa aku tidak berhak jatuh cinta? Apa
aku tidak berhak tertarik pada seorang perempuan?”
“Kau
Cupid, Man! Dewa Cinta!”
“Memang
Cupid dilarang jatuh cinta?”
“Ah,
urusan itu tanya saja pada Gusti Cupid.
Sekarang kewajiban kita adalah menyelesaikan tes! Ayo tembak. Jangan
disia-siakan lagi!”
Cupidi
langsung mengarahkan anak panah pada
Juminten-Subekti.
“Tidak!
Tidak bisa! Obat peletku belum bekerja!” ujar Cupido berusaha merampas busur
Cupidi.
“Apa?
Ini benar-benar gawat! Di mana otakmu? Dia manusia dewasa dan kau calon Dewa
Cupid. Untuk ukuran manusia pun kau terlalu belia untuk Juminten!” Cupide
berusaha melepas Cupidi dari cengkraman Cupido.
“Cupidi,
cepat tembak mereka!”
“Tidak!
Aku tidak terima!” teriak Cupido.
Akhirnya
terjadi tarik-menarik di antara ketiganya. Juminten dan Subekti yang awalnya
saling berdampingan merubah posisi. Juminten menghampiri Laila yang
memanggilnya. Sementara Nyono dengan wajah sedih menemui Subekti dan membisikkan
sesuatu pada Subekti. Pada saat itulah Panah Cinta melesat dan tepat mengenai
Subekti dan Nyono. Ketiga Cupid sama-sama terkejut.
Nyono
menatap penuh cinta pada Subekti. Begitu pula sebaliknya.
“Nyono,...”
Subekti menarik lembut tangan Nyono ke dadanya.
“Mas
Bekti,...” Nyono menatap Bekti dengan mata berbinar-binar.
“Oh
Nyono sayang, Maukah kau menikah denganku?” tanya Subekti menggenggam erat
tangan Nyono yang tersenyum malu-malu.
“Tentu,
Mas Bekti...”
“Lihat!
Akibat ulahmu! Kita telah membuat kesalahan fatal. Bagaimana ini Cupide?” tanya
Cupidi kesal sekaligus panik.
“Entahlah,”
jawab Cupide bingung.
“Ya
sudah, berhubung sudah jadi satu pasangan. Masih tinggal satu lagi yang harus
kita jadikan,” sahut Cupidi menarik kembali busurnya.
“Apa
kalian gila? Juminten dan Laila kan sama-sama perempuan?” ujar Cupido tak
terima.
“Bukannya
Subekti dan Nyono juga sama-sama laki-laki? Seharusnya semua berjalan sesuai
jalurnya. Ini akibat otak gila dan keegoisanmu. Sudahlah! Tes ini juga tidak
menjelaskan syarat apa-apa selain meminta kita membuat dua pasangan cinta dari
keempat orang tersebut,” sahut Cupidi tanpa ragu.
“Tidak
bisa!” berang Cupido kembali ingin merampas panah Cupidi.
"Cupido!!!
Bukan kita yang harus membahagiakan cinta! Tetapi cintalah yang harus membahagiakan
kita! Cinta cuma alat, bukan tujuan!” bentak Cupide sambil merampas busur
Cupidi kemudian menghempaskannya sekuat tenaga ke lantai. Busur itu patah
menjadi dua.
Cupido
terpaku.
“Ada
banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk memilih belahan jiwa, kawan! Dan
itu, bukan semata cinta, Cupido...,” tambah Cupidi membuat Cupido semakin
diam.
Cupidi menepuk bahu sahabatnya. Kemudian dia
mengambil busur yang masih bertengger di punggung Cupido. Lalu kembali siaga
pada posisi tembak, dengan penuh keyakinan Cupidi melesatkan anak panah
terakhirnya ke arah Juminten dan Laila. Sementara Cupido langsung terduduk
lemas menatap cintanya perlahan pudar. (Selesai)
Labels:
Buku Saya
Tuesday, April 14, 2015
Workaholic
Malam ini aku tidak sedang sendiri. Walau malam terasa begitu hening. Aku sedang bercakap-cakap dengan diriku sendiri. Percakapan itu tidak benar-benar sebuah dialog. Permasalahannya aku terlalu sibuk bekerja dan menghabiskan pikiranku pada tiap angka yang tertera di layar laptop.
"Bekerja?" diriku yang satu bertanya.
Sementara diriku yang lain diam saja.
"Masih bekerja?" diriku satu kembali bertanya.
"Iya. Kan kau bisa lihat."
"Aku rasa kau tidak bekerja."
Diriku yang lain menghentikan hentakan jarinya di atas laptop.
"Kau kira aku sedang main-main? Aku sedang lembur. Kerjaanku menumpuk. Besok ada tim peninjau yang akan datang. Mereka adalah analis. Mereka perlu menganalisa kerjaku. Kalau aku bagus, maka aku bisa naik pangkat."
"Begitu."
"Iya."
Si diriku satu diam.
Diriku yang lain kembali menghentakkan jari-jarinya di atas laptop.
"Bekerja lagi?"
"Iya."
"Kau suka kerja?"
"Tentu."
"Buat apa?"
Diriku yang lain tertawa, "Pertanyaan bodoh."
"Memang apa pertanyaan pintar?"
"Kau sedang bosan?"
"Tidak. Kurasa kau yang bosan."
"Kenapa begitu? Aku sedang banyak pekerjaan."
"Kau jenuh."
"Tidak. Aku sedang baik-baik saja."
"Boleh aku ulang pertanyaan bodohku?"
Si diriku yang lain hanya mencibir.
"Dijawab."
"Kau mau jawaban seperti apa? Kau pasti tahu jawabannya. Kita kan satu."
"Aku tidak tahu."
Si diriku yang sibuk bekerja menghentikan kesibukannya. Dia menatap diriku yang satunya, "Ada apa denganmu?"
"Tidakkah ada waktu untuk diri kita?"
"Buat apa?"
"Bercengkrama."
Diriku yang bekerja tertawa, "Sudahlah, tidur saja kalau kau mengantuk. Aku masih punya setumpuk lagi pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan itu harus besok!"
Satunya menghela nafas, "Bekerjalah,..."
"Iya. begitu. Itu baru anak baik."
"Iya, aku selalu jadi anak baik untuk jiwa sepertimu."
"Aku kan sibuk demi kita."
Satunya diam saja.
"Kau tahu kan itu."
"Entahlah. Mungkin saja aku tahu. Mungkin saja aku tidak tahu."
Si sibuk menggeleng.
"Aku tidur."
"Iya. Aku kerja dulu. Nanti aku menyusul."
"Iya."
"Bekerja?" diriku yang satu bertanya.
Sementara diriku yang lain diam saja.
"Masih bekerja?" diriku satu kembali bertanya.
"Iya. Kan kau bisa lihat."
"Aku rasa kau tidak bekerja."
Diriku yang lain menghentikan hentakan jarinya di atas laptop.
"Kau kira aku sedang main-main? Aku sedang lembur. Kerjaanku menumpuk. Besok ada tim peninjau yang akan datang. Mereka adalah analis. Mereka perlu menganalisa kerjaku. Kalau aku bagus, maka aku bisa naik pangkat."
"Begitu."
"Iya."
Si diriku satu diam.
Diriku yang lain kembali menghentakkan jari-jarinya di atas laptop.
"Bekerja lagi?"
"Iya."
"Kau suka kerja?"
"Tentu."
"Buat apa?"
Diriku yang lain tertawa, "Pertanyaan bodoh."
"Memang apa pertanyaan pintar?"
"Kau sedang bosan?"
"Tidak. Kurasa kau yang bosan."
"Kenapa begitu? Aku sedang banyak pekerjaan."
"Kau jenuh."
"Tidak. Aku sedang baik-baik saja."
"Boleh aku ulang pertanyaan bodohku?"
Si diriku yang lain hanya mencibir.
"Dijawab."
"Kau mau jawaban seperti apa? Kau pasti tahu jawabannya. Kita kan satu."
"Aku tidak tahu."
Si diriku yang sibuk bekerja menghentikan kesibukannya. Dia menatap diriku yang satunya, "Ada apa denganmu?"
"Tidakkah ada waktu untuk diri kita?"
"Buat apa?"
"Bercengkrama."
Diriku yang bekerja tertawa, "Sudahlah, tidur saja kalau kau mengantuk. Aku masih punya setumpuk lagi pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan itu harus besok!"
Satunya menghela nafas, "Bekerjalah,..."
"Iya. begitu. Itu baru anak baik."
"Iya, aku selalu jadi anak baik untuk jiwa sepertimu."
"Aku kan sibuk demi kita."
Satunya diam saja.
"Kau tahu kan itu."
"Entahlah. Mungkin saja aku tahu. Mungkin saja aku tidak tahu."
Si sibuk menggeleng.
"Aku tidur."
"Iya. Aku kerja dulu. Nanti aku menyusul."
"Iya."
Labels:
Fiksi Mini
Demi Semangat
Perempuan itu diam. Dia berhenti bicara. Hanya terpaku dalam diam. Dia tidak marah pada siapapun apalagi dia protes pada suatu kondisi apapun. Dia hanya bungkam. Tanpa ada satupun maksud untuk beranjak dari posisi diam.
Kenapa dia berdiam? Sudah berapa lama dia diam?
Kurasa 300 tahun.
Dia diam?
(Mengangguk)
Tidak mungkin! Apa sebab?
Karena dia telah kehilangan sepotong Semangat dalam hidupnya.
Kenapa dia berdiam? Sudah berapa lama dia diam?
Kurasa 300 tahun.
Dia diam?
(Mengangguk)
Tidak mungkin! Apa sebab?
Karena dia telah kehilangan sepotong Semangat dalam hidupnya.
(Tertawa) Berlebihan kalau begitu!
Berlebihan bagaimana maksudmu? Sepotong semangat juga sama dengan sepenggal jiwa. Kalau kau sudah kehilangan itu maka sama saja kau telah kehilangan nyawa. Selamat! kau jadi mayat hidup karena sepotong semangat tidak berarti sepenggal jiwa walaupun nyaris sama. Kalau kau kehilangan nyawa. Tinggal dikubur. Tetapi kalau kau kehilangan semangat - tidak akan ada yang mau menguburmu.
Mengerikan! Jangan sampai terjadi padaku.
Semoga kau cukup punya asupan dalam kepalamu untuk membuat sepotong benda itu tidak hilang dari tubuhmu.
Aku jamin 100% tak kubiarkan dia hilang!
Jangan terlalu yakin. Nanti nasibmu tidak jauh beda dengan perempuan itu. Dia terlalu bersemangat hingga dia lupa memberi makan semangat itu agar tetap bernyawa. Dia terlalu memaksa semangat itu bekerja. Padahal semangat juga butuh ruang, butuh udara, butuh waktu senggang. Nikmati hidup dengan semangat sama berarti memberikan nikmat pada semangat itu sendiri.
Hm
Kau masih punya sepotong semangat dalam dirimu?
(Mengangguk) Akan kuberi dia makan biar dia gemuk dan energik.
Hati-hati, jangan makanan sampah. Dia bisa kena penyakit!
Labels:
Fiksi Mini

