Malam ini aku tidak sedang sendiri. Walau malam terasa begitu hening. Aku sedang bercakap-cakap dengan diriku sendiri. Percakapan itu tidak benar-benar sebuah dialog. Permasalahannya aku terlalu sibuk bekerja dan menghabiskan pikiranku pada tiap angka yang tertera di layar laptop.
"Bekerja?" diriku yang satu bertanya.
Sementara diriku yang lain diam saja.
"Masih bekerja?" diriku satu kembali bertanya.
"Iya. Kan kau bisa lihat."
"Aku rasa kau tidak bekerja."
Diriku yang lain menghentikan hentakan jarinya di atas laptop.
"Kau kira aku sedang main-main? Aku sedang lembur. Kerjaanku menumpuk. Besok ada tim peninjau yang akan datang. Mereka adalah analis. Mereka perlu menganalisa kerjaku. Kalau aku bagus, maka aku bisa naik pangkat."
"Begitu."
"Iya."
Si diriku satu diam.
Diriku yang lain kembali menghentakkan jari-jarinya di atas laptop.
"Bekerja lagi?"
"Iya."
"Kau suka kerja?"
"Tentu."
"Buat apa?"
Diriku yang lain tertawa, "Pertanyaan bodoh."
"Memang apa pertanyaan pintar?"
"Kau sedang bosan?"
"Tidak. Kurasa kau yang bosan."
"Kenapa begitu? Aku sedang banyak pekerjaan."
"Kau jenuh."
"Tidak. Aku sedang baik-baik saja."
"Boleh aku ulang pertanyaan bodohku?"
Si diriku yang lain hanya mencibir.
"Dijawab."
"Kau mau jawaban seperti apa? Kau pasti tahu jawabannya. Kita kan satu."
"Aku tidak tahu."
Si diriku yang sibuk bekerja menghentikan kesibukannya. Dia menatap diriku yang satunya, "Ada apa denganmu?"
"Tidakkah ada waktu untuk diri kita?"
"Buat apa?"
"Bercengkrama."
Diriku yang bekerja tertawa, "Sudahlah, tidur saja kalau kau mengantuk. Aku masih punya setumpuk lagi pekerjaan yang harus diselesaikan. Dan itu harus besok!"
Satunya menghela nafas, "Bekerjalah,..."
"Iya. begitu. Itu baru anak baik."
"Iya, aku selalu jadi anak baik untuk jiwa sepertimu."
"Aku kan sibuk demi kita."
Satunya diam saja.
"Kau tahu kan itu."
"Entahlah. Mungkin saja aku tahu. Mungkin saja aku tidak tahu."
Si sibuk menggeleng.
"Aku tidur."
"Iya. Aku kerja dulu. Nanti aku menyusul."
"Iya."
Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts
Showing posts with label Fiksi Mini. Show all posts
Tuesday, April 14, 2015
Demi Semangat
Perempuan itu diam. Dia berhenti bicara. Hanya terpaku dalam diam. Dia tidak marah pada siapapun apalagi dia protes pada suatu kondisi apapun. Dia hanya bungkam. Tanpa ada satupun maksud untuk beranjak dari posisi diam.
Kenapa dia berdiam? Sudah berapa lama dia diam?
Kurasa 300 tahun.
Dia diam?
(Mengangguk)
Tidak mungkin! Apa sebab?
Karena dia telah kehilangan sepotong Semangat dalam hidupnya.
Kenapa dia berdiam? Sudah berapa lama dia diam?
Kurasa 300 tahun.
Dia diam?
(Mengangguk)
Tidak mungkin! Apa sebab?
Karena dia telah kehilangan sepotong Semangat dalam hidupnya.
(Tertawa) Berlebihan kalau begitu!
Berlebihan bagaimana maksudmu? Sepotong semangat juga sama dengan sepenggal jiwa. Kalau kau sudah kehilangan itu maka sama saja kau telah kehilangan nyawa. Selamat! kau jadi mayat hidup karena sepotong semangat tidak berarti sepenggal jiwa walaupun nyaris sama. Kalau kau kehilangan nyawa. Tinggal dikubur. Tetapi kalau kau kehilangan semangat - tidak akan ada yang mau menguburmu.
Mengerikan! Jangan sampai terjadi padaku.
Semoga kau cukup punya asupan dalam kepalamu untuk membuat sepotong benda itu tidak hilang dari tubuhmu.
Aku jamin 100% tak kubiarkan dia hilang!
Jangan terlalu yakin. Nanti nasibmu tidak jauh beda dengan perempuan itu. Dia terlalu bersemangat hingga dia lupa memberi makan semangat itu agar tetap bernyawa. Dia terlalu memaksa semangat itu bekerja. Padahal semangat juga butuh ruang, butuh udara, butuh waktu senggang. Nikmati hidup dengan semangat sama berarti memberikan nikmat pada semangat itu sendiri.
Hm
Kau masih punya sepotong semangat dalam dirimu?
(Mengangguk) Akan kuberi dia makan biar dia gemuk dan energik.
Hati-hati, jangan makanan sampah. Dia bisa kena penyakit!
Labels:
Fiksi Mini
