Tuesday, September 3, 2013

Film Anonymous

All art is political, Jonson, otherwise it would just be decoration. And all artists have something to say, otherwise they’d make shoes. And you are not a cobbler, are you Jonson. 
 
Edward de Vere, 17th The Earl of Oxford
(Film ANONYMOUS: Interpretasi lain tentang siapa William Shakespeare)

Saya suka film tersebut. 
Kisah tentang William Shakespeare yang walau pada kenyataan sampai sekarang pun masih menjadi perdebatan panjang.

Sebuah argumentasi dan sikap seorang penulis yang telah menciptakan karya masterpiece di jamannya. Menurut Beliau, sebuah tulisan yang tidak memiliki tujuan (pada saat itu Beliau banyak berbicara politik) maka tulisan itu hanyalah sebuah rangkaian kata. Sebab memang tidak bisa dipungkiri, bahwa penulis-penulis besar mampu menghasilkan karya-karya yang luar biasa karena di dalam tulisannya ada suatu hal yang ingin disampaikan dari sekedar cerita. Sebuah Ide. Pemikiran. 

Wajar kalau William Shakespeare mampu mengukir namanya begitu kuat dalam sejarah sastra di dunia.

Tujuan Menulis

Menjalankan rutinitas pekerjaan. Salah satunya mengirim email. Jaringan putus di kantor. Terpaksa harus ke warnet. Di warnet terjebak hujan yang makin deras mengguyur.

Kurasakan sebuah kejenuhan.
Sebuah pertanyaan teman di Facebook sedikit menggelitik:
"Hidup mencari apa dan mati apa yang didapat?"

Seperti apakah kehidupan terbaik yang pantas diraih seorang manusia?
Apakah hanya untuk memenuhi kebutuhan material dan terus terjebak di dalamnya?
Apakah mencari publisitas?
Apakah menjadi tinggi lebih baik daripada menjadi rendah?
Apakah tidak menjadi apa-apa hanya berarti sia-sia?
Seberapa baik manusia yang paling baik di dunia?

Aku merasa terjebak di sebuah persimpangan dan terus terjebak di persimpangan berikutnya. Walaupun yang kuyakini bukanlah sebuah pilihan yang salah. Tetapi kenapa aku selalu mengalami sebuah kegelisahan?

Apa yang kucari, sampai sekarang masih tidak kutemukan. Seolah aku telah terjebak di sebuah dunia yang tidak kukenal. Aku seolah merindukan sebuah dunia lain. Mungkin kah ini wajar? Karena setiap manusia selalu merasa lebih nyaman dengan angan-angan dibandingkan kenyataan.

Kucintai dunia menulis. Tetapi kurasakan dunia itu semata untuk tempatku berteduh ketika hujan sedang turun. Ketika hujan reda. Kutinggalkan untuk waktu yang tidak mampu kuperkirakan. Seolah aku merasa telah selingkuh dari kekasihku. Hal itu lah yang kualami saat ini. Aku ingin setia tetapi aku merasa tidak punya kemampuan untuk setia. Mungkin kah ini cuma sebuah keluhan cengeng dari seseorang yang mengaku dirinya ingin menjadi seorang penulis?

Aku belum mempunyai "tujuan" untuk menulis.
Aku takut hal itu yang membuatku tidak mampu memupuk rasa setia untuk terus menulis.


Friday, August 23, 2013

Jendela Dunia

“A house without books is like a room without windows.” ― Horace Mann

(Bersambung)

Wednesday, August 7, 2013

Cinta di Atas Lapak

Sebagai preman, aku kenal seluruh penghuni Pasar. Rata-rata mereka berjualan secara turun temurun. Begitu pula aku sebenarnya. Dulu Bapak menjual ikan di pasar ini. Aku besar di pasar ini. Aku minggat sekolah juga untuk pergi ke pasar ini. Tetapi aku lebih memilih menjadi preman dibandingkan menjual ikan. Terkesan lebih bergengsi. 
Banyak penjual ikan di pasar selain Bapak. Misalnya Tohir yang menggantikan Mang Jalal. Begitupun si Udin Bonceng. Namun ada pula yang  berubah haluan macam Si Mamat jadi penjual sayur. Beberapa orang tua macam Uwak Deri masih terus berjualan ikan meramaikan pasar. Orang-orang itu sangat menyenangkan dan seperti keluarga saja. 
Kecuali seorang diantara mereka yang membuatku kurang senang. Si Aziz Lele. Sebenarnya ikannya termasuk paling laris di pasar. Tidak sampai siang menjelang, selalu habis terjual. Setorannya pun tak pernah macet.
Kegiatannya setelah usai menjual ikan itu lah yang membuatku tidak menyukainya. Dia menjual cinta. Bongkahan cinta dipajangnya di lapak bekas dia menjual ikan. Bertahun-tahun. Awalnya emaknya yang menjual. Tidak ada satu pun yang pernah membeli. Bergerusnya waktu. Emaknya semakin tua dan tidak sanggup lagi berjualan. Kupikir setelah emaknya pensiun, tidak akan ada lagi penjual cinta di pasar kami. Ternyata, tidak demikian.
Cerita selengkapnya baca di Annida-Online.com

Thursday, July 25, 2013

Novel : Tukar Raga (2)

Setelah tiga hari disekap dalam penjara. Aku dikeluarkan. Pembunuhnya katanya telah diketemukan. Tidak jelas benar siapa pembunuh yang dimaksud. Aku bersyukur. Bukan aku yang menanggung beban itu. Walaupun aku tak yakin apakah aku yang membunuh atau tidak.

Kutuju rumah kostku sendiri. Aku tidak pulang ke kostan Romeo. Aku rindu tempat tidurku yang nyaman dan empuk. Ingin sekali rasanya merebahkan tubuh sekaligus meluruskan tulang-tulang yang rasanya dibungkus pegal. Atau berendam di bathtub dengan air hangat-hangat kuku.

Memasuki pekarangan kostku. Kudapati langsung sosok Juliet berkelebat. Ingin kupanggil tapi rasanya tatapan sinis itu tidak mengundang sahabat.

"Hai, Rom!"
Vonny si gadis jilbab yang ramah menyambutku dengan senyum.
"Di sini, Von?"
"Iya, main ke tempat Juliet."
"Main ke sini Rom?" pertanyaan Vonny terkesan menyelidik.
Aku bingung menjawab.
"Marsya ada ngirim kabar, Rom?"
Aku mengerutkan kening.
"Kamu tidak tahu, Von?"
"Apa?"
"Marsya sudah meninggal."
"Ah, yang benar, Rom" terkejut ekspresi Vonny.
"Dia dibunuh."
Vonny menutup mulutnya.
"Siapa yang tega berbuat itu?"
"Aku tidak tahu. Sebenarnya aku ditahan tiga hari ini karena disangka membunuh. Kemudian aku dilepaskan karena polisi telah menemukan pembunuhnya."
"Siapa?"
"Aku tidak tahu."
"Kok bisa kau tidak mencari tahu, Rom?"
"Ya,..." aku bingung menjawab.
"Aku curiga padamu, Rom."
Aku mengerutkan kening.
"Curiga apa?"
"Kau tidak sedang bermasalah kan dengan Marysa. Kenapa sikapmu begitu dingin?"
"Dingin?"
"Iya. Dia pacarmu!"
"Aku memang belum tahu siapa yang membunuhnya."
"Kenapa kau malah kemari bukan berusaha mencari informasi pembunuh Marysa?"
Aku gelagapan.
"Kau selingkuh dari Marsya?"
Aku menggeleng kuat-kuat.
Vonny menatapku penuh selidik.
"Jawab dengan jujur. Siapa yang kau cari di kost ini?"
Aku makin dibuat bungkam.

(Bersambung)

Cerita Sebelumnya Novel : Tukar Raga (1)

Menulis adalah Pengorbanan

"Menulis adalah Pengorbanan." Kata Seno Gumira Aji Darma.

Jadi, proses menulis bukan sekedar hal yang biasa-biasa saja. Menulis merupakan kegiatan yang membutuhkan dedikasi. Wajar kalau Seno menyarankan pada penulis pemula untuk memberikan pengorbanan khusus pada kegiatan menulis. Tanpa pengorbanan, tidak akan ada karya yang mungkin tercipta. Sehebat apapun seseorang dalam membuat tulisan. Tetapi dia tidak memberikan kesempatan untuk lahirnya tulisan hebat tersebut. Maka artinya sia-sia.

Memberikan ruang yang istimewa untuk perkembangbiakan karya kepenulisan akan memberikan kesempatan yang besar untuk melahirkan karya-karya. Karya-karya bermutu lahir dari tempaan maha dasyat dari penulis-penulisnya. Tanpa kegigihan, tanpa pengorbanan tidak mungkin karya-karya maestro itu lahir menjadi masterpiece.

Berkorbanlah untuk menulis. Menulis lah untuk mempersembahkan pengorbanan.

Semangat berkarya!


Thursday, June 27, 2013

Menulis: Sederhana dan Ikhlas

Sudah empat hari semenjak tanggal 24 Juni 2013 kuikuti Program Pelatihan Penulisan MASTERA Cerpen. Bertemu dengan sastrawan tanah air maupun negara tetangga. Dari Indonesia; Yanusa Nugroho, Gus Tf. Sakai, dan Nenden Lilis yang selama ini hanya kukenal melalui tulisan di media massa, dari Malaysia: Tuan Syed Mohd Zakir Syed Othman, dari Brunei: Awang Chong Ah Fok, dan dari Singapura: Encik Ishak bin Abdul Latiff. Tokoh-tokoh tersebut membagikan ilmu dan pengalamannya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah kubayangkan.

Sebuah proses kreatif akan dialami setiap orang yang menyebut dirinya sebagai penulis. Puncak tertinggi seorang seniman penulis adalah ketika dia mampu menyuguhkan tulisan paling sederhana dari gaya yang telah dianutnya. Sederhana dalam hal ini tentunya sesuatu yang diramu dengan resep yang pas, tidak berlebihan dan bersifat optimal dengan gaya penulisan yang tentunya tidak berlebihan.

Sementara pesan dari Nenden Lilis yang menohok hatiku. Bahwa keikhlasan itu perlu dalam menulis, karena perasaan itu akan mudah dirasakan pembaca.

Dengan keikhlasan, karya tentu akan mampu menemukan muara terbaiknya.

Sebuah pesan yang sangat membuka cara pandangku sebagai penulis pemula. Mempertanyakan tujuan sebenarku sebagai seorang yang menyukai dunia menulis. Mengingatkan pesan ayahku tentang makna hidup bagi seseorang bahwa usaha adalah ibadah. Sesuatu pekerjaan tanpa bermakna untuk Tuhan maka akan berakhir sia-sia.

Kutemukan semua benang merah itu. Di sini. Lembang Asri Bandung.


 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger