Saturday, February 23, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (33)

Aku mengantar Mbak Nelly sampai ke rumahnya. Kupeluk dia untuk menguatkan sebelum izin pulang. Perempuan itu kembali menangis. Kuelus punggungnya agar dia sedikit tenang. Beberapa kata hiburan yang terlalu biasa kulontarkan di bibir. Aku yakin kata-kata itu tak mampu mengobati sakitnya saat ini. Tetapi kupikir, aku tak punya kata-kata lain. Aku cuma bisa menyuruh Mbak Nelly bersabar. Entah apa yang terjadi kalau kejadian ini berlaku padaku. Mbak Nelly cukup kuat sebagai perempuan dalam menghadapi kenyataan tentang suaminya yang terselubung selama ini. Jelas ini jenis pengkhianatan paling menyakitkan yang pernah dilakukan seorang laki-laki.

Setelah Mbak Nelly merasa cukup tenang, baru aku mengajukan izin untuk pulang. Kulirik jam tanganku, jam setengah dua belas malam. Aku bergegas melajukan mobil untuk kembali ke kontrakan. Yuk Way pasti sudah tertidur pulas. Kadang sulit untuk membangunkannya kalau dia sudah berkelana di alam mimpi.

Sesampainya di rumah, aku cukup kaget melihat pintu ruang tamu masih terkuak. Tumben jam selarut ini Yuk Way masih terjaga? Pikirku. Biasanya perempuan itu baru mau begadang kalau sudah kudesak.

"Assalamualaikum. Yuk Way, kok,..." sahutanku terpotong sendiri ketika sampai di muka pintu ruang tamu dan mendapati sosok lain selain Yuk Way duduk di sofa ruang tamu kami.
"Ke mana saja? Jam segini baru pulang?" Yulianto dengan wajah garang masih dengan kemeja yang dikenakannya tadi pagi di kantor menyambutku. Sementara Yuk Way segera menyingkir dari kami.
"Tadi menemani Mbak Nelly." Aku menjawab sekenanya.
"Jam segini?" dia menunjuk jam tangannya.
"Urusan penting."
"Sampai tidak absen ke kantor? Kau itu HRD, Aya!"
Aku menghempaskan tubuh di sofa ruang tamu.
"Aku capek, Anto."
Dia mendengus nafas kesal.
"Kenapa Hape juga di-non aktif-kan?"
Aku diam.
"Jangan bertingkah seperti anak-anak, Aya!"
Kondisiku terlalu capek, jadinya gampang sekali memicu emosiku. Aku langsung berdiri dari posisi rebahan di sofa.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak baik membuat masalah lalu kabur begitu saja tanpa penjelasan sama sekali."
Aku mengerutkan kening.
"Membuat masalah? Siapa yang buat masalah? Kau salah melontarkan tuduhan, Nto. Itu ditujukan untukmu sendiri!"
"Mazaya, sudah kubilangkan kepadamu sebelumnya bahwa masalahku dengan Karina sudah selesai. Jadi, untuk apa dipermasalahkan lagi?"
Aku tertawa keras.
"Mudah sekali kau berujar, Nto! Aku ini juga perempuan. Tentu aku tahu rasanya di posisi Karina. Bisa jadi suatu saat nanti kalau kita memang ditakdirkan terikat rumah tangga kejadian yang menimpa Karina bakal pula menimpaku. Dan kau, dengan mudahnya menepisku."
"Aya, buruk sekali pikiranmu padaku!"
"Aku perempuan, Nto. Tentu aku takut dicampakkan!"
"Aku tidak akan melakukannya."
Aku menggeleng.
"Aya,..."
"Aku membatalkan rencana pernikahan kita."
"Kenapa?" wajah Yulianto jelas kecewa.
"Masih juga kau tanya?"
"Kau sepihak saja melakukannya."
"Kau memang tak punya hati, Nto."
"Kau yang tak punya hati, Aya!"
"Pulang lah,..."
"Aku tidak mau pulang!"
"Untuk apa kau di sini?"
"Membuatmu tenang dan kembali ke rencana awal kita."
Aku menghela nafas dan diam sejenak.
"Aku juga ingin mengemukakan sebuah rahasia, Nto."
Yulianto menatapku serius.
"Kau ingat pertengkaranmu dengan Pak Sima tempo hari?"
Dia mengangguk.
"Kata-katanya tidaklah bohong."
Yulianto membentuk kerut di keningnya.
"Kata-kata apa?"
"Bahwa aku memang isterinya."
Yulianto hendak tertawa, tetapi diurungkannya setelah memperhatikan ekspresiku.
"Kau serius, Aya?"
Aku mengangguk.
"Kau hanya ingin mengerjaiku!"
"Tidak. Aku serius. Kami memang sudah menikah sebelum kembali ke masa lalu."
"Jadi, kalian memakai Jasa Pelayanan Mesin Waktu juga?"
Aku mengangguk.
"Belum ada kata cerai di antara kami."
Kini wajah Yulianto yang berubah.
"Kenapa kau tidak bicara dari awal, Aya? Kenapa kau terima lamaranku kemarin?"
Aku menunduk, "Aku minta maaf."
"Semudah itu!"
"Kumaklumi kalau kau marah, Nto."
"Aku tidak marah, Aya. Aku kecewa!"
Aku diam.
"Kau permainkan aku, Aya. Atau ini bentuk balas dendammu atas perlakuanku di waktu yang lain?"
Aku menggeleng kuat.
"Pintar sekali kau menimbulkan rasa sakit."
"Aku tidak sejahat itu, Nto!"
"Ya, aku memang harus paham. Walaupun saat ini belum ada ikatan pernikahan resmi. Tetapi simbol itu telah tersemat di hati kalian masing-masing."
Aku tidak menjawab.
"Aku mengerti posisiku."
"Maaf, Nto."
"Tidak perlu."
Dia lalu berdiri dari duduknya.
"Aku pulang, Aya. Walaupun aku tidak mendapatkanmu. Aku cukup bersyukur kehidupanku telah berubah cukup banyak. Aku tidak lagi cemas menghadapi masa depan."
Aku jadi merasa tidak enak.
"Aku akan cari isteri yang jauh lebih baik darimu, Aya!"
Aku mengangguk.
"Kau memang jahat sekali, Aya!"
"Maaf."
"Tidak usah terus kau ulang. Maafmu membuatku menjadi semakin sakit."
Aku terdiam.
Yulianto melangkahkan kaki ke pintu ruang tamuku.
Dia menoleh ke arahku yang duduk di sofa. Sepertinya ada kata yang ingin dilontarkannya lagi. Tetapi diurungkan. Dia hanya menatapku. Lalu pergi menjejakkan kakinya keluar pintu. Aku berdiri setelah mendengarnya menghidupkan mesin mobil. Lelaki itu memutar ligat mobilnya lalu memacu kencang meninggalkan pekarangan rumah kontrakanku. Sesaat rumah kembali terasa sepi dan lengang.

Yuk Way memunculkan dirinya dari dalam. Dia memandangku lama. Tetapi tak ada kata yang meluncur dari mulutnya yang biasa cerewet dan sok tahu. Aku hanya melempar senyum. Memunguti tas dan sepatuku yang berserakan di ruang tamu. Melenggangkan kaki yang terasa penat ke kamar tidur.

Aku benar-benar lelah hari ini.

(Bersambung)


   



Friday, February 22, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (32)

Sudah hari ke-5 semenjak Azzam Sima mengundurkan diri. Telepon dari kantor Wilayah dan Pusat masih terus berdering menanyakan perihal yang kurang lebih sama. Bergantian dengan telepon Yulianto yang mendesakku untuk memberikan alasan tepat mengenai kemarahanku dua hari lalu. Tidak cukup lewat telepon, Yulianto datang ke ruanganku.

Aku tidak tahan didesak. Karena itu aku kemudian melarikan diri. Handphone kemudian ku-non aktif-kan. Kutitipkan pesan pada Nadia kalau aku ke luar kantor sedang meninjau ke beberapa pos kabupaten. Padahal sebenarnya aku malah pergi dengan Mbak Nelly untuk menyelesaikan masalahnya. Setelah mendapatkan alamat tepat perempuan yang dicurigai sebagai idaman lain suaminya, kami tidak lagi mengulur-ngulur waktu. Kami segera meluncur ke TKP. Mbak Nelly memasang wajah kaku selama perjalanan. Dia tidak banyak bicara.

Setelah menghabiskan 30 menit meluncur di jalanan. Akhirnya kami menemukan lokasi yang ditunjukkan. Sebuah rumah indekos yang asri dan mewah. Aku turun terlebih dahulu dari mobil. Sementara Mbak Nelly tampak tak berniat beranjak sedikitpun.
"Mbak, kita sudah sampai." aku mengingatkan.
Mbak Nelly hanya mengangguk pelan tanpa sedikit pun berniat akan turun dari mobil.
"Mbak?"
"Diurungkan saja, Aya."
"Kok?"
"Aku ndak siap."
"Mbak, ini memang kondisi yang berat. Tetapi kalau mbak tidak berani menghadapi, kapan masalah ini akan selesai?"
Mbak Nelly menghela nafas.
"Seperti apa perempuan itu?"
"Sebaiknya mbak turun untuk mengetahuinya."
Mbak Nelly diam sebentar lalu menurunkan dirinya dengan pelan dari mobil. Dia berdiri terpaku di muka halaman indekost tersebut.
"Ayo, mbak."
"Kalau kau menghadapi kondisi ini, apa yang bisa dilakukan, Aya?"
Aku menarik tangan Mbak Nelly sedikit menyeretnya memasuki indekost tersebut. Sesampainya di depan kamar yang diperkirakan. Aku hendak mengetuk pintu. Tetapi tanganku langsung ditarik lagi dengan mbak Nelly.
"Sepertinya tidak usah saja lah."
Aku jadi menatap perempuan di sampingku itu. Perempuan yang selalu bicara berani soal kejelekan orang lain tetapi tidak mampu menghadapi kejelekan yang menimpa dirinya.
"Yakin mbak?"
Dia tampak ragu.
Aku kembali mengetuk pintu.
Beberapa kali pintu diketuk, akhirnya dibuka oleh seorang lelaki muda tampan berkulit putih bersih.
"Benar ini rumah Eka?" aku berinisiatif bertanya.
"Ya, saya sendiri." lelaki itu menjawab.
Aku langsung memandang mbak Nelly. Mbak Nelly sama terkejutnya denganku.
"Kami ingin bertanya sesuatu, boleh?"
Lelaki itu memandang kami bergantian.
"Soal?"
"Kenal dengan Rahmat Setyadi?" kali ini Mbak Nelly yang mengajukan pertanyaan.
"Iya. Ada apa?"
Mbak Nelly langsung mencengkram tanganku kuat.
"Eh, silahkan masuk saja. Kita ngobrol di dalam." lelaki itu segera menguak lebih lebar pintu kamar kostnya. Sebuah kamar kost yang luas, bersih, dan sangat rapi terpampang di depan kami. Mungkin  tidak ada yang menyangka kalau kamar itu adalah milik seorang laki-laki. Nuansa hijau muda mendominasi.
"Kita tinggal di sini?" aku masih berusaha memastikan setelah kami masuk dan duduk di karpet lembutnya yang terasa sangat nyaman.
"Iya. Ini kamar kost saya. Kenapa?"
"Rapi sekali untuk ukuran cowok."
Dia jadi tertawa malu-malu.
"Sebentar." dia lalu berdiri mengambil dua botol minuman soda dari kulkas mininya.
"Kerja di mana?" tanyaku.
"Saya model."
"Oh,"
"Tapi masih merintis. Baru beberapa kali muncul di majalah coverboy nasional dan videoklip lagu daerah."
"Wah, hebat."
Dia tersenyum.
Lelaki ini bagiku terasa sangat lembut.
"Oh, iya. Tadi mau bicara masalah Om Rahmat?" dia tampaknya sama penasarannya dengan kami.
"Iya. Kalau boleh tahu kenal Om Rahmat dimana ya?" aku yang terus bertanya. Mbak Nelly terus menyimak dengan teliti.
"Oh, waktu syuting video klip lagu daerah di Kabupaten Mara. Om Rahmat teman sutradara."
"Sudah lama kejadian itu?"
"Sudah dua tahun lalu."
Aku kembali memandang Mbak Nelly. Mbak Nelly menatapku balik. Terlalu banyak makna yang mampu kuterjemahkan dari tatapannya.
"Eh, kalau boleh tahu, mbak-mbak ini siapa ya?'
"Saya isteri om Rahmat." Mbak Nelly yang menjawab.
Ada perubahan ekspresi dari wajah Eka mendengar jawaban itu.
"Boleh tahu ada hubungan apa antara Eka dengan Om Rahmat?" aku berusaha bertanya dengan hati-hati.
Lelaki yang bernama Eka itu tidak langsung menjawab.
"Kami hanya teman." Jawabnya sungguh mengagetkanku. Sebab setahuku tidak ada lelaki yang menjawab demikian mengenai hubungannya dengan sesama teman laki-laki.
"Kami tidak akan menuntut atau mempermasalahkan apapun menyangkut karier Eka di dunia Modelling kalau mau jujur menyangkut hubungan Eka dengan Om Rahmat. Mbak Nelly ini isterinya yang sah. Mereka punya seorang anak perempuan yang cantik." aku berusaha mengintimidasi secara halus.
Dia tampak cemas.
"Tolong jangan sampaikan apapun ke wartawan."
'Tidak akan. Asal Eka jujur."
Lelaki berparas halus itu menghela nafas.
"Saya memang ada hubungan serius dengan Om Rahmat. Tetapi sungguh! Saya tidak paham kalau Om sudah beristeri. Dia bilang dia duda tanpa anak yang ditinggal mati isteri."
Mbak Nelly menundukkan kepalanya.
"Eka punya foto Om Rahmat?' aku cuma ingin benar-benar memastikan. Agar kami tidak salah alamat dan orang yang kami curigai memang benar adanya.
Eka beranjak dari duduknya. Sebuah album kemudian diraihnya dari rak buku. Kuperkirakan lelaki muda ini masih duduk di bangku kuliah semester awal.
Album tersebut disodorkan di hadapanku.
Segera kubuka lembar demi lembar.
Sungguh sebuah bukti yang tidak bisa ditampik lagi. Beberapa pose akrab dan mesra yang direkam petikan kamera. Cuma mungkin sedikit janggal karena dilakukan dua sosok laki-laki. Beberapa kali Eka berpose dengan dibalut make-up  dan pakaian perempuan. Terlalu cantik.

Tak kuduga, Mbak Nelly langsung berdiri dari duduknya.
"Mbak?"
"Aku tunggu di mobil saja, Aya." tanpa menoleh lagi perempuan itu langsung keluar dari kamar kost Eka.
"Maafkan saya," lelaki muda itu berujar pelan menatapku.
Aku mengangguk sama pelannya.
"Om Rahmat masih sering kontak dengan Eka?"
"Iya. rutin. Baru saja kami mengobrol lewat telepon tadi. Rencananya minggu ini kami akan ke Bali. Soalnya ada dinas luar di kantornya di sana. Saya diajak."
Aku mendengarkan.
"Saya sungguh menyesal. Tolong sampaikan pada isteri Om Rahmat."
"Tolong pikirkan lagi hubungan kalian. Karena ada pihak-pihak yang pasti tersakiti karena hubungan ini."
Lelaki muda itu mengangguk.
Selanjutnya aku permisi. Segera kutemui Mbak Nelly di mobil. Saat duduk di belakang setir. Kulirik sekilas Mbak Nelly. Mata Perempuan itu terlihat sembab.
"Aku kecewa sekali, Aya." Perempuan itu mulai bicara.
"Aku merasa dibohongi selama ini. Sungguh kukira sosok idaman lain itu adalah perempuan seutuhnya. Ini betul-betul menyakitkan."
Aku tidak berkomentar.
"Selamanya rumah tangga kami akan berlangsung seperti ini, Tidak akan pernah utuh. Karena itu percuma saja terus kupertahankan. Aku tidak punya pilihan lain, Aya."

Berapa kalipun kuniatkan mencari kata-kata yang paling tepat untuk diutarakan. Tetap tak kutemukan satu katapun yang pantas.  Akhirnya, aku terkurung kembali dalam diam.
Perempuan di sampingku tak lagi bicara. Sepertinya dia telah merasa cukup untuk berkata-kata atau hatinya terlalu perih untuk dimaknai dengan kata-kata. Kulajukan saja mobilku menelusuri jalan. Tidak kuniatkan kembali ke kantor atau ke manapun. Kubiarkan ban mobilku terus menggilas jalan. Mengikuti sejauh mana pikiran kami mampu merangkak.

Sekelebat bayangan Azzam Sima kembali melintas. Tatapan mata dan sikapnya yang terkesan dingin selama ini tiba-tiba menerbitkan rasa kangen di dada. Semakin ingin kuabaikan semakin kuat hinggap dan berputar-putar di kepala.

(Bersambung)


Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (31)

Sejujurnya aku sedang malas mendengarkan kabar burung jenis apapun, dari yang terhangat, terakurat, atau yang tergosip sekalipun. Suasana hati dan kepalaku sedang terlalu panas untuk disesuaikan dengan suhu ruangan saat ini. Aku hanya memasang wajah datar ketika pintu ruanganku diketuk dan seorang perempuan dengan rautnya yang sangat kukenal memamerkan senyum yang selalu sama setiap membuka pintu ruang kerjaku.

"Aya lagi sibuk?" dia bertanya setelah masuk dan menutup kembali pintuku.
Aku terpaksa menggeleng. Bagaimana mau menolak kalau tamunya sendiri cukup tidak tahu diri!
"Boleh duduk?" tanyanya langsung menggapai kursi di muka mejaku dan menempatkan bokongnya senyaman mungkin.
Aku lagi-lagi terpaksa mengangguk.
"Aya,..." panggilan yang bernada panjang dan sok dekat.
"Iya, mbak?"
Dia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna unggu.
"Selamat ulang tahun ya."
Aku tersenyum. Sedikit terbersit rasa penyesalan karena berburuk sangka.
"Ma kasih, Mbak."
"Maaf terlambat. Aku tadi izin. Anakku sakit. Makan-makannya belum sempat aku cicipi. Aku tadi izin dengan Nadia, soalnya kamu ndak ada."
"Oh, ndak pa-pa. Sama saja, mbak. Sakit apa anaknya, mbak?"
"Demam berdarah."
"Wah, hati-hati, mbak. Emang lagi musimnya."
"Untungnya cepat ketahuan."
"Jadi sekarang yang merawat siapa?"
"Neneknya jagain di rumah sakit."
"Oh."
"Sebenarnya aku ke ruanganmu ingin konsultasi sedikit, Aya."
Aku mengerutkan kening.
"Konsultasi?"
Dia mengangguk serius.
"Aku punya masalah di rumah dengan suami. Mungkin sebenarnya berlangsung sudah cukup lama. Dari pertengkaran sedikit. Kejengkelan sebentar. Lalu kemudian bertumpuk-tumpuk jadi satu kemudian jadi tebal dan menggunung."
Aku rasanya ingin menepuk jidat dan mengatai, kenapa konsultasinya harus kepadaku? Rasanya terlalu tidak tepat kalau tempat yang dipilih adalah aku!
Aku memajang senyum sebelum menjawab.
"Boleh tanya, Mbak?"
"Iya?"
"Kok mbak memilih aku sebagai tempat membicarakan urusan mbak yang paling rahasia?"
Mbak Nelly memandangku, "Tidak boleh?"
Aku jadi tertawa.
"Ya, boleh-boleh saja selama mbak menginginkan."
"Berarti ndak jadi masalah kan?"
"Tapi aku belum berumah tangga, mbak."
"Aku ndak punya tempat curhat yang benar-benar mampu jadi tempat curhat di kantor ini, Aya. Sementara di rumah aku hanya bersama suami, ibu, dan seorang anak perempuan. Aku terlahir sebagai anak tunggal. Ndak punya saudara. Bicara dengan tetangga sama saja berbicara dengan kawan-kawan di kantor ini, hanya akan jadi bumerang. Kulihat, cuma kamu dan Nadia yang tidak sama dengan kawan-kawan di kantor ini. Kalian tidak akan mudah membocorkan rahasia. Tapi aku pilih kamu, karena kupikir aku merasa lebih bisa bicara denganmu dibandingkan dengan Nadia. Jadi, kira-kira masih diizinkan aku untuk mencurahkan sesak di dada ini, Aya?"
Aku jadi terbersit iba.
"Selama mbak mengira aku bisa menjadi teman sharing yang memadai, aku oke-oke saja."
"Terima kasih, Aya."
Mbak Nelly menghela nafas.
"Aku mungkin akan mengajukan cerai pada suamiku."
"Kenapa secepat itu?
"Ini bukan keputusan yang terlalu cepat. Sudah kupikirkan matang-matang."
"Alasannya?"
"Aku ndak tahan lagi dengan suamiku."
"Kenapa?"
"Dia berselingkuh."
Aku terdiam.
"Mbak sudah yakin sekali?"
"Memang masih kata kawan-kawan."
"Belum mbak cross check?"
"Aku sering menemukan hal mencurigakan dari barang-barang dia. Isi sms yang penuh kata sayang dari seseorang dengan nomor yang tak tersimpan. Telepon di tengah malam yang membuat suamiku mengendap-endap dariku. Bau parfum perempuan di baju kerjanya. Bekas lipstik merah di kerah baju. Struk belanja keperluan perempuan yang bukan untukku. Sudah beberapa kali, Aya. Aku merasa tidak tahan lagi." Mbak Nelly langsung menyeka hidungnya. Perempuan ini menangis. Sesak sudah dadanya tertahan lama dalam diam.
"Aku sempat bertanya soal hal-hal tersebut di waktu lain dengan cara baik-baik padanya. Tetapi jawabannya malah jadi berang. Dia jadi marah besar. Menudingku sebagai perempuan yang mudah terbakar cemburu. Dia malah bilang seharusnya aku lebih perhatian sebagai isteri karena suami yang kerja selalu lembur dan pulang larut malam, bukan malah dibalas dengan kecurigaan yang tidak beralasan. Tetapi feeling-ku sebagai perempuan mengatakan bahwa memang ada yang tidak beres dengan suamiku. Seperti ada sesuatu yang sungguh-sungguh disembunyikannya."
"Secara mata telanjang pernah mbak melihat suami bersama perempuan lain?"
Dia menggeleng pelan.
"Coba mbak tidak sekedar menduga-duga. Cari dengan serius. Temukan perempuan itu."
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tidak cukup kuat, Aya."
"Mbak harus kuat. Sekarang mbak tidak berjalan sendirian. Ada suami, anak, dan keluarga besar mbak. Jadi, masalah ini bukan masalah main-main. Harus mbak selesaikan. Tidak dengan jalan gegabah pula. Harus pakai kepala dingin. Memang kalau mbak merasa sakit, pasti akan sakit. Tetapi kalau cuma dipikirkan sakit sendiri bakal akan menghasilkan keputusan yang emosional. Coba pertimbangkan yang lain, terutama anak-anak. Jadi, niatkan untuk menuntaskan masalah ini demi anak."
Mbak Nelly merenung.
"Aku harus menemui perempuan itu?"
"Iya. Tanyakan padanya tentang suami mbak. Tentang hubungan mereka."
"Aku tidak punya keberanian, Aya."
"Kenapa mbak tidak punya keberanian?" aku jadi ingat kehebohan yang dibuat Mbak Nelly bersama Karina di ruang front office.
"Mungkin aku butuh teman agar bisa menjadi lebih tenang."
"Mbak ingin aku temani?"
Dia mengangguk.
"Baiklah. Kita coba selidiki bersama."
Dia tampak tenang. Senyumnya tersungging di bibir.
"Jangan terlalu cepat untuk memutuskan ingin bercerai, mbak."
"Aku akan coba untuk menyelesaikan dengan baik-baik. Kalau memang pantas untuk dipertahankan akan kupertahankan."
Aku mengangguk.
Dia ingin berdiri tetapi tampaknya diurungkan.
"Satu lagi alasanku mengapa aku memilih kamu untuk menceritakan masalahku ini. Maaf ya, Aya. Bukannya aku sok mencampuri. Aku mendengar pertengkaran hebat antara Yulianto dan Pak Sima tempo hari. Kudengar mereka memperebutkan kamu. Pak Sima adalah suamimu di rentang waktu yang lain bukan? Dia tampaknya kembali ke masa sekarang untuk memperbaiki kesalahannya padamu. Tentu masalah kalian sangat berat sampai dia memutuskan begitu. Dia sungguh lelaki yang baik, Aya. Pasti cintanya sangat besar untukmu."
Aku diam.
"Aku sudah minta maaf kan sebelumnya, Aya?"
Aku cuma berusaha tersenyum.
"Pak Sima sungguh romantis. Dia mempersiapkan resepsi ulang pernikahan kalian."
Aku mengerutkan kening.
"Rasanya aku tidak salah dengar."
Aku tetap tak menjawab.
"Berhentilah marah padanya. Apakah karena dia berselingkuh karena itu kau marah padanya, Aya?"
"Tidak."
"Lalu?"
Aku merasa Mbak Nelly hanya berusaha mencari bahan gosip.
"Kupikir, mungkin kita punya masalah yang sama. Karenanya kuputuskan untuk berbagi keluh kesah denganmu."
"Suamiku tidak berselingkuh. Mungkin aku sebagai perempuan saja yang tidak cukup puas dengan kondisi suamiku." akhirnya meluncur juga kejujuranku.
"Masalah materi?"
Aku mengangguk ragu-ragu.
"Materi bisa kita cari, Aya. Tetapi kesetiaan?" mbak Nelly menggeleng-gelengkan kepala, "Kau jauh lebih beruntung dari aku, Aya."
"Temui Pak Sima. Tanyakan soal resepsi ulang pernikahan kalian."
Mbak Nelly berdiri menuju pintu ruanganku.
"Kalau kau sudah tahu pasti tanggalnya, kasih tahu aku. Aku usahakan satu kantor menghadiri acaramu." kedip Mbak Nelly menggoda sebelum membuka pintu.
"Sebelumnya aku sangat mengucapkan terima kasih atas bantuanmu, Aya. Kau perempuan yang baik, pantas untuk mendapatkan lelaki yang baik." Mbak Nelly menatapku dengan tulus.
"Aku juga mengucapkan terima kasih, mbak."
"Pikirkanlah baik-baik."
Aku mengangguk.
Dia lalu keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Aku menghempaskan tubuh ke kursi kerjaku. Kuhela nafas dengan panjang. Mataku menatap langit-langit kantor. Baru kusadari, selain warna putih terpampang luas warna biru langit yang menyejukkan.
Percakapan dengan Mbak Nelly barusan seolah di-rewind kembali di kepalaku.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (32)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

Monday, February 18, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (30)



Sudah tiga hari Azzam Sima tidak lagi hadir di kantor cabang. Surat pengunduran diri pun telah dilayangkan sehari setelah pertengkaran hebatnya dengan Yulianto ke meja kerjaku. Surat pengunduran diri itu langsung aku fax ke kantor wilayah. Dan kantor wilayah tidak memerlukan jeda terlalu lama untuk memberikan respon. Kepala HRD kantor wilayah atas perintah Kepala Wilayah langsung menelponku untuk menanyakan pokok permasalahan yang menyebabkan Kacab kami mengundurkan diri dengan begitu tiba-tiba.

Dari pernyataan mereka aku pahami bahwa Azzam Sima bukanlah Kacab biasa di mata para jajaran pimpinan. Bahkan tadi pagi aku pun mendapat telepon dari kantor pusat langsung untuk mengkonfirmasi kebenaran kabar pengunduran diri Azzam Sima. Nyaris seluruh isi perusahaan dibuat sibuk oleh berita yang ditebarkan Azzam Sima. Bahkan aku didelegasikan segera untuk menghubungi kembali mantan atasanku itu. Beliau diminta untuk menghadap kantor wilayah.

Kupikir, biarlah kesibukan itu berkutat di sekitarku. Aku tidak ingin ambil peduli. Aku terlanjur sakit hati dengan manusia yang bernama Azzam Sima tersebut. Kalau soal menemukan beliau, itu perkara gampang buatku. Aku paham rumahnya di kota Jambe maupun rumah orang tuanya di Berlian. Di kotaku cuma terdapat dua perguruan tinggi negeri, tidak sulit untuk melacak keberadaannya. Tetapi seperti yang kuutarakan sebelumnya, aku merasa cukup sakit hati.  Azzam Sima memuntahkan begitu banyak caci maki tanpa sedikitpun memberikan kesempatan bagiku untuk mengemukakan pembelaan.

Kalau bicara soal sakit hati dan pengkhianatan, jelas aku yang lebih merasai. Lelaki itu berniat menikah dan memintaku mengurusi seluruh keperluan resepsi pernikahannya. Secara logika saja, kalau seorang suami paham yang ditugaskannya adalah isterinya sendiri, apakah lelaki itu patut disebut sebagai suami yang baik dan punya tenggang rasa?
Kini dengan cara yang kasar bertandang ke rumahku melimpahkan seluruh keluh kesahnya tanpa jeda. Menuding dan memberiku cap sebagai perempuan yang tidak pantas untuk dicintai. Perempuan paling kejam yang mampu membunuh tanpa senjata di tangan. Luar biasa sekali!

Wajar bukan kalau aku merasa marah. Kurasa siapapun perempuan di posisiku saat ini akan bersikap sama. Memang ketika dia datang bertandang saat itu aku sempat terbawa suasana. Kalau dia mau memberikan aku ruang waktu untuk bicara. Mungkin aku akan minta maaf dan membenarkan kata-katanya. Tetapi berjalannya waktu. Kupikirkan baik-baik apa yang telah dikemukakannya. Kurasai secara benar dan teliti tindak-tandukku selama ini. Kesimpulanku kemudian berujung pada tidak satu pun hipotesanya benar. Aku jelas jadi merasa berang. Egoku kembali muncul. Terutama sekali karena aku merasa bahwa suamiku itu cuma melontarkan fitnah. Coba saja dipikir, kalau ada betul niatnya untuk rujuk kembali tentunya akan bertandang baik-baik kepadaku. Tidak akan dikenalkannya aku dengan calon isterinya, padahal aku adalah isterinya berdasarkan sepengetahuannya sendiri. Apalagi disuruh pula aku mengurusi resepsi pernikahannya secara detail.

Kalau aku memang sejahat yang dituduhkan, tidak akan kulakukan semua permintaannya secara ikhlas. Tidak akan kubaik-baiki perempuan bernama Jelita itu. Banyak saja alasan bisa kubuat untuk menghindari semua permintaannya yang jelas-jelas di luar tugas pokokku sebagai seorang HRD di perusahaan.   

Aku belum bisa meredam kecewaku atas sikapnya. Jadi, untuk kesekian kali kuiyakan saja telepon dari para petinggi wilayah dan pusat untuk segera menuntaskan masalah menyangkut Azzam Sima ini. Padahal tidak sedikitpun aku bergerak untuk menemukan lelaki itu. Aku merasa merendahkan egoku bila menemuinya saat ini. Biarlah, tunggu beberapa hari lagi. Saat emosiku sudah cukup stabil dan aku mampu menghadapinya tanpa merasa dikurung amarah. Ketika berhadapan dengannya lagi, aku bisa bicara selaku HRD, bukan selaku Mazaya yang menjadi isterinya. Toh, selama ini, beliau bersikap hanya sebagai atasan padaku, tak lebih.

Kulirik jam tangan. Sudah tepat jam 12 siang. Hari ini tepat ulang tahunku. 28 tahun sudah. Cukup dewasa dan sudah sangat pantas membina rumah tangga. Kukira ketika awal kembali ke masa ini, mungkin aku akan menikah di usia kepala tiga. Tetapi tampaknya, takdir Tuhan tidak mampu dirubah. Di rentang waktu yang lain, di usia 28 tahun pula aku melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan bersama Azzam Sima. Sementara sekarang, di usia yang sama, Yulianto yang akan memboyongku ke pelaminan. Tidak lama lagi kami akan menikah. Rencananya setelah resepsi pernikahan Azzam Sima digelar. Tiga bulan kemudian.

Hari ini, kami tidak akan ke mana-mana untuk merayakan ulang tahunku. Kami hanya akan bertemu di kantin. Traktiran sudah digelar tadi pagi. Nadia yang bertugas membagi-bagikan paket Mang Fried Chicken untuk kawan-kawan di kantor cabang. Ucapan mengalir beserta peluk cium. Beberapa yang ingat tidak lupa membawakan kado.

Aku dan Yulianto hanya akan merayakan spesial berdua di ruangan kantin. Tidak ada keinginan untuk merayakan di luar kantor. Katanya dia yang akan membelikan kue ulang tahun dan beberapa makanan pesananku. Aku cukup duduk manis di meja kantin. Menunggu kedatangannya.
“Hai, Sayang.” Teguran yang kukenal akhirnya muncul setelah 15 menit terkurung dalam lamunan sendiri di ruangan kantin.
“Sudah lama?”
“Ndak. Baru kok.”
“Agak macet tadi. Ternyata sudah mulai padat kota Jambe.”
Yulianto meletakkan sebuah kotak besar dan satu kantong plastik besar lain berisi segala macam makanan yang kuinginkan.
“Dibeli semua?” tanyaku agak takjub.

“Sesuai pesanan.”
“Maksudku tadi pakai atau bukan dan.”
Dia tertawa, “Sekali-kali tidak akan buat bangkrut.”
“Tapi aku ndak akan sanggup melahap semuanya.”
“Ndak jadi soal. Yang penting nikmati dulu.”
Black Forest ukuran besar yang dipilih Yulianto untuk santapan pertama. Tanpa lilin sesuai permintaanku.
“Langsung mau dipotong?” tanyanya.
“Sayang, terlalu cantik untuk dirusak.”
“Tetapi terlalu mubazir kalau tidak disantap.”
Aku tersenyum, “Ya sudah, dipotong saja.”
Yulianto langsung memotongkan khusus untukku. Disajikannya dengan rapi di piring kertas lalu disuapkannya dengan lembut padaku. Lelaki itu menatapku tanpa kedip. Memperhatikan setiap detail gerak-gerikku.
Aku tersenyum menghindari rasa kikuk.
Dia masih terus menatapku seperti seorang pengagum menikmati lukisan.
“Ada apa?” tak tahan juga untuk bertanya.
Dia menggeleng.
“Kenapa menatap begitu?”
“Tidak apa-apa. Hanya tidak percaya saja bahwa kita sebentar lagi menikah.”
Aku kembali tersenyum, “Insyaallah,”
“Aya, sungguh kan mau menikahiku?”
Aku mengerutkan kening, “Kenapa bertanya begitu?”
“Tidak. Hanya bertanya saja.”
“Tidak ada pertanyaan yang hanya bermaksud bertanya. Pasti setiap pertanyaan menginginkan jawaban.”
Dia diam.
“Ada sesuatu yang mengganggu pikiran?”
“Karina sudah melahirkan,”
Aku menanti kelanjutan.   
“Waktu memang cepat berjalan. Karina kembali menghubungiku. Dia memintaku untuk menjenguk. Aku lalu datang. Kupikir sebagai kawan tidak baik pula kita tidak penuhi undangan kawan.”
Yulianto berhenti sejenak.
“Anaknya perempuan. Cantik sekali. Dia beri nama Yulia.”
Aku mendengarkan.
“Karina bahagia betul dengan kelahiran puterinya walaupun tidak ada lelaki yang mendampinginya saat itu. Dia bangga telah menjadi seorang ibu. Dia akan merawat puterinya sendirian.”
“Pacarnya kemana?”
Yulianto menggeleng.
“Pacarnya tidak pernah mengunjunginya. Karena mereka memang sudah lama putus. Karina juga sudah melakukan tes DNA puterinya. Dan katanya anak yang dia lahirkan memang terbukti anakku.”
Aku terkejut.
“Tetapi Karina bilang, dia tahu kabar tentang kita. Dia hanya ingin menyampaikan sebuah kebenaran. Dia tidak meminta pengakuan. Karina menyadari apa yang telah terjadi di antara kami adalah sebuah kecelakaan semata.”
Aku mengerutkan kening, “Tetapi katamu dulu,...”
“Karina memutuskan berhenti merongrongku karena perubahan sikapku. Makanya dia buat pengakuan palsu bahwa pacarnya lah yang melakukan.”
“Maksudnya?”
“Karina tidak menginginkan ada yang berubah di antara kami.”
Aku menatap Yulianto tajam, “Kau tidak sadar atau pura-pura bodoh tentang Karina?”
Yulianto menatapku bingung.
“Perempuan itu sungguh mencintaimu, bung!”
“Tapi, aku tidak punya perasaan itu. Aku bercerita ini, hanya ingin bersikap jujur pada calon isteriku. Aku ingin tidak ada yang tertutup-tutupi dan baru di belakang hari ketahuan.”
Aku berdiri dari dudukku dengan kesal.
“Mau kemana?”
“Pergi!”
“Kenapa?”
Aku mendelik kesal.
“Kau memang tidak punya perasaan sebagai laki-laki! Masih bisa kau berkeinginan menikahi perempuan lain sementara ada perempuan yang sudah jelas-jelas melahirkan keturunanmu dalam keadaan sendirian?”
“Aya?”
“Aku terlalu dangkal memahamimu, Anto!”
Yulianto menarik keras lenganku.
“Aya, aku tidak butuh nasehat. Aku ingin kita menikah!”
“Aku tidak sedang menasehati. Aku hanya ingin kau pakai hati nuranimu.”
“Karina tidak menuntut apapun.”
“Lalu jadi bagimu itu sudah menyelesaikan masalah?”
“Tidak mungkin aku menikahinya. Kami melakukan hal itu tanpa kami sadari. Bukan landasan cinta yang mengakibatkannya.”
“Lalu?’
“Kami dalam kondisi sama-sama teler. Di luar kesadaran.”
Aku menggeleng kuat-kuat.
“Aya?”
“Tolong lepaskan cengkraman tanganmu!”
Yulianto melepasku.
Aku lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan kantin.
 “Aya!”
Aku tak menoleh. Terus kulangkahkan kaki.
“Mazaya!”
Aku menghela nafas. Rasanya semakin tak kupahami apa itu makhluk yang bernama laki-laki.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (31)

Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

Wednesday, February 13, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (29)

Bukannya ini sebuah fragmen yang begitu sering aku putar di kepala. Adegan yang terlau nyaris tanpa alpa kuimpikan jadi kenyataan. Kalau malam ini kudapati sosok impian itu berdiri di muka pintu rumahku. Jelas aku terbelit rasa gugup, bahagia, dan tak pernah menyangka. Walaupun terlalu sering kuangankan. Aku sudah meyakinkan diri, bahwa dia tidak akan pernah datang bertandang.

Tapi malam ini, rasa pesimis itu terkuburkan.
Wajah tampannya sedikit kusut masai terpampang ketika kubuka pintu yang dia ketuk.
Matanya merah dan garang.

"Masuklah," tawarku.
Dia menolak. "Di luar saja. Aku mau bicara banyak. Rasanya terlalu pengap bicara di dalam rumah. Biar di luar sini saja. Cukup rasanya udara yang aku hirup kalau di sini."
Aku ikuti inginnya. Aku duduk di kursi teras rumah. Tetapi dia tetap berdiri. Azzam Sima tegak dengan wajah keras yang benar-benar tak kupahami.

"Mazaya, peran apa yang sebenarnya ingin kau mainkan? Karena begitu sadis caramu mencabik-cabik hati seseorang. Kau pikir mudah mencintai seseorang tanpa harus melukai diri sendiri?"
Aku tergagap tanpa mampu menjawab. Atasanku itu bicara tanpa memulai pangkal.
"Tidak pahamnya kau sekarang dengan bahasaku?"
Aku menggeleng.
Dia malah tertawa.
"Kau memang polos atau bodoh, Mazaya! Kau pandang aku baik-baik. Tidak kah kau mengenalku? Azzam Sima!"
Pita suaraku seolah dikebat. Tidak ada satu nada pun yang mampu kulahirkan untuk menciptakan kata.

"Kau tidak ingat, Mazaya? Aku lelaki yang menjelajah masa dengan mesin waktu. Dengan sebuah harapan mampu menaklukkan hati seorang perempuan angkuh yang tidak pernah mengerti makna dicintai. Perempuan yang membungkus dirinya dengan ego setinggi langit. Perempuan dengan otak kerdil yang merasa menguasai seluruh dunia. Aku bertahan dengan alur permainan yang kau buat, Mazaya. Karena perlu kau tahu, aku mencintaimu karena telah melahirkan anak-anakku. Aku rela dijadikan objek caci makimu, Mazaya, karena aku telah menikahimu. Biarlah kurendahkan harga diriku sebab bagiku tidak akan ada kata cerai sampai maut menjemput. Sungguh, aku kecewa dengan sikapmu yang tidak pernah sabar dengan keadaan. Dan sungguh aku lebih kecewa dengan nasibku yang tidak cukup beruntung untuk lekas memperbaiki keadaan ekonomi kita."

Lelaki itu menelan ludahnya sebelum kembali bicara.

"Aku ikuti engkau dalam mesin waktu seperti maumu. Kupikir, kita akan memperbaiki keadaan ekonomi kita. Kupikir, amarahmu sekedar cambuk buatku agar berusaha lebih keras lagi. Aku buktikan, Mazaya! Aku kembali ke masa di mana kuputuskan untuk tidak menyelesaikan kuliahku. Aku rubah keputusan yang selalu kau cap bodoh itu. Aku tuntaskan S1-ku. Aku sadari memang titel akan mampu membuatku lebih laku dijual di masyarakat. Kulanjutkan lagi kuliah lebih tinggi. Agar nilai jualku lebih mahal lagi. Aku cuma ingin membuktikan pada dirimu, bahwa aku bukanlah lelaki yang tidak punya guna. Aku sadari pula, aku cuma lelaki yang terlahir dari keluarga sederhana, tidak punya banyak harta. Karena itu kucari relasi sebanyak mungkin. Kuterobos komunitas-komunitas untuk menemukan jalan. Aku tahu kau selalu memuja PNS, makanya kupaksakan menjadi sosok yang kau idamkan. Aku sudah PNS sekarang, Mazaya! Seperti maumu! Menjadi kepala cabang cuma lah bonus dalam perjalanan hidup baruku. Kebetulan ada pembukaan setelah aku lulus S1, sementara aku butuh biaya untuk membantu orangtuaku membiayai kuliah S2-ku. Tak kusangka, Tuhan memudahkan rencanaku. Aku diterima di perusahaan tempatmu bekerja sebagai kader golongan pemimpin perusahaan. Aku kuliah sambil bekerja. Tidak ada waktu main-main buatku saat itu. Dalam rencanaku cuma satu. Pulang ke Jambe untuk menemuimu kembali."

Dia berhenti. Matanya menatapku tajam.

"Aku sungguh dendam padamu, Mazaya. Makanya kuikuti beritamu setelah pulang di Jambe. Saat kutahu rumah orangtua yang selalu kau bangga-banggakan itu akan dijual. Tanpa pikir dua kali aku langsung memburunya. Kalau saja uangku lebih banyak, pasti kubeli pula tanah kebun bapakmu. Tetapi bagiku, cukuplah rumah itu. Aku ingin membuatmu takjub padaku, Mazaya. Agar tidak lagi kau pandang lelaki ini sebelah mata. Agar sedikit saja mampu kau beri harga pada dada suamimu ini. Tetapi apa yang kutemui kemudian. Malah kaubalas usaha kerasku dengan menjalin hubungan kembali dengan mantan pacar pertamamu. Bukannya katamu dia pernah menyakitimu dengan perselingkuhan? Tetapi mudah sekali kau maafkan dia dan memberi lagi kesempatan baru. Sementara aku, apa yang kau berikan? Padahal aku mencintaimu dengan tulus. Aku berusaha demikian keras untuk menjaga keutuhan rumah tangga kita. Aku sudah membalik duniaku hanya untukmu, demi masa yang sudah pernah kita lewati bersama. Tetapi tampaknya semua cuma bull shit! Semua cuma sampah! Tidak akan pernah punya arti walau seperti apapun diolah atau didaur ulang. Bagimu sampah tetaplah sampah! Bukan begitu, Mazaya? Aku ini cuma sampah di matamu. Tidak sekali pun pernah kau anggap ada di dalam hidupmu! Kau benar-benar berhasil menghancurkan aku! Kau sungguh luar biasa menjadi perempuan, Mazaya! Kau berbakat jadi pembunuh kelas I. Tanpa senjata, kau mampu meremukkan hatiku! Hebat! Hebat sekali kau, Mazaya!"

Begitu marah lelaki itu padaku. Matanya sampai memerah saga menatapku. Geraham terus mengeras. Dan tangannya tak lepas mengepal.

"Aku pikir, cuma materi yang membuatku gagal di matamu. Tetapi, setelah ini, kurasa aku memang tidak pernah punya apa-apa yang mampu membuatmu melihatku. Tuhan telah salah menitipkan rasa di dadaku. Sebab nyatanya, aku telah salah besar mencintai seorang perempuan."
Dia beranjak dari berdirinya.
"Bang Azzam!"

"Akhirnya, aku betul-betul menyerah, Mazaya. Aku menyerah mencintaimu. Kurelakan kau menempuh jalan yang kaupilih. Walau sejujurnya aku tidak pernah merasa rela. Terlalu keras niatku agar kita kembali utuh. Aku rindu Alif dan Arul. Tetapi mungkin kerinduan itu bakal cuma selamanya jadi hasrat. Tidak akan pernah ditemukan penawarnya. Biarlah. Aku tidak ingin merasa sakit lebih lama. Cukuplah rasa sakit yang terus kau bagi selama ini. Cukuplah. Tidak perlu ditambah lagi."
Dia sungguh beranjak. Melangkah menuju kendaraannya.

"Bang Azzam!"
Dia tidak menoleh sedikit pun. Dia masuk ke mobil dan melajukan kendaraan itu meninggalkan pekarangan kontrakanku. Tinggal aku. Sendiri bersama angin. Merasa seolah kembali bermimpi tentang sosoknya yang hadir di muka pintu.

"Bang Azzam,..."
Lelaki itu pergi tanpa sedikitpun berusaha aku tahan.
Pantas kalau aku disebutnya perempuan bodoh. Karena aku tidak pernah paham dengan apa yang sebenarnya kumau.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (30)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

Tuesday, February 12, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (28)



Antara Azzam Sima dan Yulianto

Siang itu, Yulianto memasuki ruangan Azzam Sima. Diketuknya pintu sambil melongokkan kepala.
Sima baru mendongakkan kepala ke arah pintu setelah mendengar ketukan. Beberapa berkas di atas meja sepertinya terlalu menyibukkan untuk menyadari seseorang berdiri di muka pintu yang terbuka untuk beberapa saat.
“Kelihatannya sibuk sekali, bro?” tanya Yulianto melangkah masuk dan langsung membantingkan tubuh di atas sofa tamu.
“Sedikit.”
“Apa itu?” tanya Yulianto.
“Biasa lah. Grafik penjualan dan grafik pembayaran kredit konsumen.”
“Bagaimana?”
“Angkanya bagus. Terus naik setiap bulan. Penjualan naik, kelancaran pembayaran kredit konsumen juga naik.”
“Kau memang brilliant, Zam!”
Sima tersenyum.
“Ini juga berkat ide-ide kau lah. Kau memang ndak terkalahkan. Aku jamin, kalau ada kontes marketing di perusahaan kita. Aku rasa kau bakal masuk tiga teratas, marketing paling jago!”
Giliran Yulianto yang tertawa.
“Yakin dengan pujian itu, kawan?”
Sima tertawa. “Macam perempuan saja kau, Nto. Dipuji malah jadi bersemu begitu wajahmu!”
Basing saja lah kau, bro!”
Sima tambah tertawa.
“Hei, ngomong-ngomong bagaimana rencana pernikahanmu?” Yulianto mengalihkan pembicaraan.
Sima tidak langsung menjawab. Sesaat lelaki itu berpikir. Lalu angkat bahu.
“Apa pula maksudnya itu?” Yulianto mengerutkan kening.
“Kemungkinan besar, tidak jadi.”
“Benar saja ndak jadi. Serius, kawan?” Yulianto terkejut. Karena sebenarnya dia datang ke ruang sahabatnya itu ingin berbagi kabar tentang rencana pernikahannya dengan Mazaya. Sungguh tidak diharapkannya ada kabar buruk di luar perkiraan.
“Iya.”
Yulianto lalu tertawa. “Jangan-jangan kau punya simpanan lain.”
“Hei, aku ndak macam kau, suka maen perempuan!”
“Asam lah kau! Aku pria baik-baik.”
“Siapa yang percaya kalau kau baik-baik?”
“Serius kau ndak jadi menikah?”
“Iya!”
Pikiran Yulianto berputar-putar sendiri di kepala. Kemudian sebuah tanya besar mengandung kecurigaan lalu mencuat begitu saja.
“Terus, kenapa kau biarkan saja Aya masih mengurusi pernikahanmu?”
“Biarlah.”
“Biarlah?”
“Iya. Biarlah.”
“Kawan, kau ingin mengerjai Aya?”
“Tidak.”
“Aku tidak suka kalau kau main-main dengan Aya!”
Sima berubah muka mendengar ucapan Yulianto yang tiba-tiba bernada tinggi.
“Apa maksudmu?’
Yulianto berdiri menghampiri Sima.
“Kami sudah resmi menjadi pasangan. Kami berencana menikah dalam waktu dekat ini. Dia calon isteriku, Zam.”
Sima menatap Yulianto lama. Tatapannya berubah jadi tajam.
“Kami sudah membeli cincin. Aku sungguh berniat serius dengan perempuan ini. Tidak sedikitpun dalam hatiku terbersit niat untuk bermain-main.” Tambah Yulianto.
“Dalam perusahaan kita ada peraturan tidak bisa menikah sesama karyawan yang bekerja di satu kantor.” Potong Sima.
“Aku akan berhenti.”
Sima tidak segera menjawab. Dicarinya jawaban di wajah Yulianto atas tanya di dalam kepalanya. Lalu beberapa saat kemudian dia tertawa. Seolah menemukan jawaban tersebut. Tetapi tawa itu terdengar agak sumbang.
“Sungguh kebetulan yang sangat lucu. Aku juga punya niat untuk menikahi Aya.”
Wajah Yulianto yang kini berubah.
“Ini bukan permainan, kawan. Bukan pula sebuah persaingan. Jadi, kalau kau pikir mampu memacu adrenalin dengan mengajakku bertarung, ini bukan saat yang tepat. Aku sungguh tidak menyukainya. Walaupun kau teman baikku. Aku tidak ingin menjadikan Mazaya bagian dari permainan kita. Mazaya milikku. Dan aku tidak akan membaginya dengan siapapun. Apalagi merelakannya.”
“Dia isteriku.” Ucapan Sima meluncur begitu saja.
Yulianto spontan tertawa mendengar jawaban Sima. Suara tawanya membahana lebih sumbang dari si lawan bicara.
“Jangan mengada-ngada. Kapan kalian menikah?”
“Sudah lama. Kami akan meresmikan ulang!”
Tanpa diduga, Yulianto langsung melayangkan bogem ke muka Sima. Segaris darah mengalir dari ujung hidung kepala cabang tersebut.
Sima terkejut dengan sikap kasar barusan. Emosinya ikut naik.
“Hei!”
“Tidak terima?”
“Tentu lah. Apa maksud pukulan tadi?”
“Karena sudah kurang ajar dengan calon isteriku!”
Sima tertawa keras.
“Perempuan itu sudah kutiduri. Kau mau apa?”
“Kurang ajar!” kembali Yulianto melayangkan serangan. Kali ini Sima langsung mengelak.
“Jangan kan cuma cincin. Persiapan kami sudah 90 %. Kau pikir dia sibuk mengurusi pernikahan siapa? Ya tentu pernikahan ulang kami lah!”
“Kurang ajar! Mimpi kau!” Yulianto tak puas dengan serangan sebelumnya. Bertubi-tubi dia berusaha melancarkan bogem yang lebih keras. Tapi cuma angin yang mampu diserangnya. Emosinya jadi makin naik. Nafasnya memburu kencang. Ditambah lagi malah bogem balasan yang diterimanya. Tiga kali berturut-turut. Hidungnya juga mengucurkan darah.
“Bagaimana? Masih ingin diteruskan?”
“Aku belum puas!”
“Lihat dulu dirimu. Bertarung saja kau tak becus. Apalagi untuk melindungi perempuan.”
“Mazaya sudah memilih aku. Keluarlah dari kehidupan kami!”
Sima tertawa menghina, “Tentu lah dia lebih memilih kacab dibandingkan cuma ketua marketing!” 
“Jangan terlalu bangga dengan jabatanmu! Kau pikir semua perempuan akan takluk di hadapanmu?”
“Terima lah kenyataan, kawan!”
Yulianto makin beringas.
“Aku akan membuatmu melepaskan jabatan! Kalau perlu dibuang dari perusahaan ini!”
“Oh, sebuah ancaman?”
“Aku tahu betapa kau mencintai posisimu sekarang.”
Sima terbahak, “Tidak. Aku tidak terlalu menginginkan jabatan ini. Kacab hanya batu loncatan buatku.”
“Sombong betul bahasamu!”
Tiba-tiba Mazaya datang dengan wajah panik. Langsung menemui keduanya.
“Ada apa ini? Kenapa bertengkar di kantor?”
“Katakan, Mazaya. Dia tidak percaya kita akan menikah.” Yulianto mencari pembelaan.
Ditodong demikian Mazaya langsung mengangguk saja.
Sima jadi berubah air muka.
Yulianto merasa menang.
Tanpa bicara lagi. Sima menerobos Yulianto dan Mazaya yang berdiri bersisian di mukanya. Di depan pintu ruangan kacab, menumpuk karyawan yang menonton. Sima tidak peduli. Tubuhnya dibawanya saja mengikuti langkah. Memasuki mobil. Menyetir ke jalanan sesuka hatinya akan pergi. Dia merasa kecewa.
Suara mobilnya mendecit keras membela jalan yang dilalui.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (29)
 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger