Thursday, January 31, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (26)

Jelita. Perempuan itu akhirnya terbang kembali ke Yogyakarta. Ke tempat asalnya. Aku yang disuruh mengantar. Memberikan peluk cium. Pak Sima tidak bisa mengantar karena ada meeting yang harus dihadiri. Perempuan itu sempat menangis. Entah apa yang membuatnya menangis. Hidungnya jadi memerah. Tetapi dia tetap terlihat cantik. Sangat cantik, dengan balutan kain berbahan Chiffon warna pink.
"Titip Mas Sima." Bisiknya ketika merangkulku.
Aku mengangguk saja.
Dia melepas pelukannya lalu menatapku dengan tersenyum.
"Kusarankan, carilah suami yang seperti Mas Sima. Bukan saya membanggakan dia. Tetapi, kamu tidak akan menyesal."
Pesan itu terngiang-ngiang di kepala.
Betapa besar cinta perempuan ini. Mungkin saja aku pun tak akan mampu menandingi. Aku tidak pernah sekalipun memuji suamiku di depan orang lain. Bahkan, lebih banyak mengeluh dan mencemooh tentangnya. Perempuan itu sungguh memandang lelaki yang dicintainya dengan sempurna. Tidak punya cela. Menimbulkan rasa iri dan kagum.
Aku jadi merasa tertonjok. Langkahku mundur satu-satu dengan teratur. Aku memang tidak pantas untuk seorang Azzam Sima. Tentu saja memang dari dulu suamiku itu bukan orang sembarangan. Dia petarung tangguh. Pejuang sejati. Dia tidak mudah menyerah pada nasib. Walaupun masalah bertubi-tubi menghantam kami. Hanya aku yang selalu menilainya tidak punya kemampuan. Aku yang memberi cap gagal pada suamiku sendiri.
Sebuah alasan yang kuyakini masuk akal. Karena Jelita, aku memutuskan untuk merelakan suamiku pada perempuan itu. Sebuah prediksi yang kupikir akan membesarkan hati. Jelita tentu sangat mampu menjadi isteri yang lebih baik dari aku dan tentu dia pula mampu memberikan keturunan yang jauh lebih berkualitas. Ini mungkin sebuah pengorbanan atau usaha untuk menghapuskan rasa bersalah.

Aku menatap langkah perempuan itu yang semakin menjauh dengan lenggak-lenggoknya yang aduhai. Perempuan itu tercipta dari bahan dasar yang lembut oleh Sang Khaliq, tentunya dia tidak akan membuat Azzam Sima hancur berkeping-keping. Aku sama batu dengan suamiku, karenanya benturan kami selalu terasa begitu keras. Tidak ada hari yang kami lalui tanpa ketegangan. Walau sejujurnya aku ingin seperti pasangan kebanyakan. Aku ingin betul menjadi perempuan yang lembut. Penyabar. Punya begitu banyak cinta yang ikhlas kubagi. Tetapi harus bagaimana kalau ternyata Tuhan menjadikan aku perempuan yang keras dan kaku menghadapi pasangan.

Sungguh aku ingin seperti Jelita. Tetapi Tuhan tidak menjadikan aku seperti perempuan itu. Aku cuma perempuan yang terlahir sebagai aku. Sungguh penuh rasa ingin untuk menjadi lebih baik dari aku. Tetapi, sekali lagi, dalam ragaku adalah jiwaku. Aku hanya berusaha menjalankan yang terbaik. Terlalu keras kah aku pada diri sendiri sehingga kupaksa diri menghapus bayangan di muka cermin dan memaksa diriku untuk merebut bayang-bayang orang lain?

Aku menghela nafas panjang.
Kembali pertanyaan itu mencuat di kepala.
Apa sebenarnya yang ingin kugapai di dunia?
 
Jelita Sudah terbang bersama burung besi di angkasa. Perempuan yang mungkin telah disiapkan waktu untuk menggantikan posisiku yang cacat sebagai isteri. Rasanya aku tak rela. Tetapi nasib sudah menamparku bertubi-tubi. Menyadarkan aku pada kesombongan sebagai perempuan. Memaki air mataku sebagai kebodohan.

Selamat Menempuh Hidup Baru!
ujarku dalam hati. Aku titipkan suamiku di rentang waktu berbeda kepadamu. Tolong rawat dan jaga dia dengan baik.

Aku tidak berusaha menangis. Karena aku merasa aku tidak pantas menangis.
***

Sebuah rumor baru berkembang di kantor. Kali ini kabar burung itu berhembus tentang Pak Sima, Kacab kami. Diberitakan beliau menjabat pekerjaan rangkap. Tentunya ini menyangkut profesionalitas dan loyalitas terhadap perusahaan. Selain di Perusahaan kami diduga Pak Sima menjabat pekerjaan penting di perusahaan lain. Padahal, Pak Sima digadang-gadang akan diangkat menjadi Kawil, Kepala Wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Tentunya dengan rumor itu akan menimbulkan efek yang buruk bagi Pak Sima. Bahkan bisa mempengaruhi pengangkatannya di perusahaan. Segera kutemui beliau di ruangannya.
Saat kubuka pintu. Pak Sima sedang sibuk mengerjakan sesuatu di depan layar komputer.
"Permisi, Pak."
Dia tak menjawab seperti biasa.
Aku sudah paham. kututup kembali pintu setelah berada di dalam ruangan.
Aku duduk di kursi yang berada di hadapannya.
Dia mengalihkan kesibukannya dari depan komputer.
"Ada apa?"
"Maaf, Pak. Mungkin kedengarannya terlalu mencampuri. Tetapi saya agak cemas dengan rumor yang sedang beredar di kantor."
"Ya?"
"Katanya Bapak menjabat di dua perusahaan berbeda."
Dia diam sebentar. Lalu menatapku dengan tatapan bingung.
"Jadi?"
"Tentu menurut peraturan perusahaan tidak bisa demikian, Pak. Bapak pasti akan disuruh memilih salah satu diantara keduanya. Apalagi kan Bapak diwacanakan bakal diangkat menjadi Kawil."
Dia tertawa.
"Aya, Aya. Gosip kok kamu urusi. Tapi, saya suka dengan perhatian kamu itu. Terima kasih." Beliau mengedipkan mata. Kebiasaan yang sering dilakukan saat kami masih menjadi suami isteri. Biasanya untuk menggodaku. Membuat jantungku jadi berdebar kencang. Aku merasa malu untuk beberapa detik. Kurasa mukaku pun dibuat memerah untuk sesaat.
"Oh, maaf Pak. Saya cuma menyayangkan saja kalau karier Bapak akan terganggu karena gosip kawan-kawan. Tapi sudahlah, bukan hal penting. Saya permisi saja, Pak."
Aku bergegas berdiri dari duduk.
"Aya,"
Panggilan Pak Sima mengurungkan niatku keluar dari ruangannya. Aku diam menatap lelaki berwibawa itu. Lelaki itu pun tak lepas menatapku. beberapa detik kami terkurung dalam diam.
"Saya, terlahir dari keluarga yang sederhana, Aya."
Suaranya pelan dan dalam.
"Keluarga sederhana dari Bapak PNS yang jujur. Sebagai mantan ajudan Bupati, beliau tidak lebih dari pesuruh. Bapak tidak pernah bisa memanfaatkan keadaan dan jabatan yang disandangnya. Sampai pensiun kami tidak punya apa-apa. Hidup bagi saya semasa kecil semacam melihat dari luar rumah kaca. Begitu banyak mainan di dalam rumah kaca yang ingin saya miliki tetapi saya cuma punya kemampuan untuk melihat. Tidak boleh lebih."
Matanya lalu menerawang.
"Saya iri dengan teman-teman yang Bapaknya menjabat dan bisa punya kekayaan lebih. Saya selalu menyesalkan mengapa Bapak tidak mampu seperti Bapak-Bapak kawan saya. Kenapa Bapak terlahir sebagai orang jujur? Orang biasa yang mau saja ditindas oleh keadaan dan kecurangan."
"Karenanya kemudian saya tumbuh menjadi seseorang yang penuh dengan rasa dendam. Saya sangat pendendam, Aya. Saya menyesali nasib saya yang miskin dan tak punya kemampuan. Saya memaksa orang tua untuk membiayai kuliah saya di jawa. Saya belajar mati-matian untuk menjadi sosok impian saya. Tidak cukup S1 yang saya tamatkan. Saya paksa lagi orang tua saya untuk membiarkan saya meraih S2."

Aku tidak menyangka. Azzam Sima yang kukenal bahkan tidak menamatkan S1-nya. Alasannya beraneka ragam. Terutama sekali karena baginya pendidikan tidak penting. Waktu itu, menurut suamiku, pendidikan tidak lebih dari topeng, karena sejujurnya tidak menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Apa yang tertulis di atas kertas bukan fakta yang menunjukkan kemampuan. Tapi kini, bahasa yang dilontarkannya begitu berbeda. Dia bahkan sudah meraih Magister.

"Saya sekarang juga bekerja sebagai dosen di sebuah instansi pemerintah. Sudah berstatus tetap."

Aku makin tidak menyangka. Dulu, dia pantang sekali dengan status PNS. Dia tidak ingin menjadi seperti orang tuanya yang terbungkus seragam PNS dan dipecundangi kemiskinan karena bertahan pada kejujuran.

"Saya ingin membuktikan pada diri, orang tua, dan orang-orang yang saya kenal. Bahwa saya mampu menjadi sesuatu yang berharga. Awalnya saya memang ingin menjadi dosen. Tawaran teman tentang jurusan yang saya ambil di jawa semakin menguatkan niat saya. Magister ilmu pemerintahan masih sangat dibutuhkan karena jarang sekali putera daerah yang menyandangnya. Saya berencana pulang untuk menjadi dosen. Mengabdikan diri sekaligus menjalankan hobi terjun di dunia politik daerah. Saya pikir menjadi aktivis bukan berarti kita tidak bisa punya uang."

Aku kembali serasa ditampar. Aku ingat sekali sindiranku yang terlalu sering kulontarkan padanya. Tentang kebencianku pada hobinya yang berkecimpung di ormas, politik, atau sejenisnya, yang membuatnya lupa soal tanggung jawab mencari nafkah untuk makan anak isteri.

"Saya ingin merangkul semuanya, Aya. Impian saya, impian orang tua saya, maupun impian orang-orang terdekat. Mungkin terdengar ambisius sekali. Tetapi idealisme itu cuma sebatas tenggorokan. Ketika terbentur dengan kepentingan, maka idealisme itu akan buyar dengan sendirinya. Karena itu, saya pikir mungkin hal yang paling aman adalah berdiri di tengah-tengah. Saya tidak melupakan mimpi saya tetapi saya tidak mengabaikan orang-orang yang saya cintai."
Pak Sima lalu berdiri. Tubuhnya yang tegap menutupi cahaya yang membias dari jendela.
"Saya akui. Saya mungkin berlaku curang saat ini. Menjabat sebagai kacab di perusahaan ini sekaligus berstatus dosen PNS. Tetapi bagi saya, tidak akan jadi soal selama saya berlaku adil. Saya tidak pernah mengecewakan perusahaan ini. Walaupun saya tahu betul ada peraturan yang tidak mengizinkan karyawannya menjabat pekerjaan lain. Tetapi usaha saya jauh lebih keras dibandingkan karyawan lain yang mungkin tidak merangkap jabatan seperti saya."

Aku tidak menjawab.

"Saya sudah bekerja demikian keras dalam hidup saya, Aya. Bagi saya, keadaan sekarang adalah yang memang sepantasnya saya dapatkan. Saya sudah bertarung dengan nasib, keadaan, waktu, penyesalan, dan rasa dendam. Mungkin ada saatnya saya merasa lelah dan cukup puas dengan apa yang telah saya raih.  Kalau tiba saat itu, saya akan memilih salah satu. Tidak selamanya saya mengambil semua dalam hidup. Suatu saat saya akan mengambil pilihan yang terbaik bagi saya. Dan merasa pantas dengan pilihan tersebut."

Aku mengangguk. 

"Jadi, biarlah gosip itu. Tidak akan mempengaruhi apapun."
"Baiklah."
"Terima kasih."
Ucapan itu terdengar sangat tulus dan bersahabat. Sesaat kurasakan sosok di depanku sangat dekat. Tetapi aku cukup tahu diri.

Sesuatu yang lebih baik akan mendapatkan yang jauh lebih baik.


(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (27)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (25)



Semua baju kerja hari ini terasa tidak satu pun yang pantas kupakai. Tidak ada yang membuatku terasa tampak lebih wah atau menarik. Semua biasa-biasa saja. Padahal sesuai perintah atasan. Hari ini aku akan menemani calon isterinya untuk berbelanja keperluan pernikahan mereka. Kalau aku tidak berdandan yang istimewa, tentu keberadaanku akan tampak sangat tidak mampu mengimbangi. Dia rivalku. Walaupun cuma dalam angan-angan yang kuciptakan sendiri. Aku tahu diriku sudah kalah sebelum bertarung. Tetapi, sungguh! Aku tidak ingin terlihat kalah telak. Aku ingin tampak mampu memberikan balasan yang sepantasnya.
Akhirnya kupilih blazer merah marun, pemberian Yulianto ketika aku pertama kali menjabat sebagai HRD. Warna itu membuat kulitku menjadi terlihat lebih cerah. Kupakai parfum terbaik. Aku tidak ingin kalah wangi dengan perempuan itu.
Aku mengendarai mobilku dengan santai ke kantor.  Tidak perlu terburu-buru rasanya. Sehingga aku bisa menikmati lamunanku yang berserakan di sepanjang jalan.
Setibanya di kantor, Pak Sima dan calon isteirnya sudah menunggu di ruangan. Pagi sekali, kupikir. Tapi ya, biarlah, toh aku juga sudah siap untuk melakukan tugasku.
Menemui perempuan di ruangan Pak Sima kembali membuat jantungku berdesir. Penampilannya sungguh tak mampu kuimbangi. Dia sesuai namanya. Sungguh jelita. Padahal tubuhnya cuma dibalut baju batik dan celana kulot. Rambut kemilau itu dikibas dengan ringan menyambut kemunculanku di pintu. Dia tidak lupa memamerkan senyum manisnya.
“Akhirnya,...”
Aku melirik jam tangan mendengar ujaran yang keluar dari mulut Pak Sima.
“Masih jam 8 pagi, Pak?”
“Saya sudah di sini sejak jam 7 pagi. Jelita mendesak saya untuk cepat-cepat ke kantor.”
Aku tersenyum miring.
“Memang mau berangkat ke mana pagi-pagi sekali?”
“Mau jalan-jalan, katanya.” Jelas Pak Sima lagi.
“Di kota ini ndak punya sesuatu yang istimewa. Tidak seperti di Yogya. Di sini cuma banyak deretan ruko dan rumah burung walet.” Aku jelaskan sekenanya.
“Tetapi ini kunjungan pertama saya ke sumatera. Tentu saya tetap ingin melihat-lihat. Rugi rasanya, kalau pernah berkunjung tetapi ndak punya memori.” Dia kembali tersenyum. Selalu tampak manis.
Aku menelan ludah.
“Ya, sudah. Enak juga kalau mau jalan pagi-pagi.”
“Iya, tentu!” Semangat sekali dia berdiri dari duduknya.
“Pak Sima ikut?” aku bertanya.
Untungnya lelaki itu menggeleng. “Kalian saja. Saya tidak paham bahasa perempuan.”
Aku tersenyum. Bersama Jelita, kutinggalkan kantor. Di dalam Honda Jazz pemberian almarhum Bapak, kududukkan perempuan yang akan merebut suamiku.
Senyum palsuku tak pernah lepas setiap mata kami bertemu. Padahal sungguh aku ingin menimpuk perempuan itu dan memakinya habis-habisan.
“Mazaya orang Jambe asli?” dia memamerkan lagi suara merdunya.
Aku mengangguk.
“Mas Sima banyak cerita soal Aya.”
Aku menoleh pada perempuan itu.
“Katanya kamu perempuan yang hebat dan mandiri. Cerdas. Bisa diandalkan.”
Hatiku tentu dibuat berbunga-bunga.
“Kenapa belum menikah?”
Pertanyaan yang menurutku sungguh tidak berhubungan dengan kata-kata pujian sebelumnya.
“Mungkin, belum ketemu saja jodohnya.”
“Sudah punya pacar?”
Aku teringat Yulianto. Tetapi kugelengkan saja kepala.
“Oh,’ cuma itu yang keluar dari mulut Jelita.
“Sudah lama kenal Pak Sima?” kini aku yang melontarkan pertanyaan.
“Sejak kuliah.”
“Lama juga.”
“Lumayan. Sudah lima tahun.”
“Jadi kalau nanti sudah menikah bakal ikut Pak Sima?”
Dia diam sesaat, “Belum tahu.”
Aku kehabisan lagi bahan bicara.
“Saya sangat mencintai Mas Sima. Saya ingin menikah dengannya dan menghabiskan seluruh hidup saya untuk melayaninya. Bagi saya, Mas Sima adalah lelaki yang sangat baik. Saya takut nggak akan mampu menemukan lelaki sebaik dia kalau hubungan kami ini tidak berhasil.”
Aku kembali menatap perempuan itu. Mata beningnya jelas berkaca-kaca.
Mungkin kah cintanya lebih besar dari cintaku pada Bang Azzam?
“Ada masalah di dalam hubungan kalian?”
Dia menatapku, lalu menggeleng.
“Tidak. Sama sekali tidak.”
Aku jadi bingung.
“Mungkin banyak orang yang mengharapkan hubungan kami berakhir. Tetapi yang perlu kamu tahu, Aya, seperti apapun usaha orang itu menggagalkan hubungan ini, cinta kami pasti tidak akan terpisahkan. Jadi, percuma saja kalau ada perempuan yang merasa mampu merebut Mas Sima dariku, karena dia tidak akan mendapatkan apa-apa.”
Aku menjadi semakin bingung dengan arah bicara perempuan cantik di sampingku.
“Memang sekarang ada yang berusaha merebut Pak Sima dari Mbak?”
Perempuan itu cuma diam.
Aku jadi ikut diam.
Kali ini, detik diam itu berputar lebih panjang dan lama. Tidak ada pembahasan baru. Perempuan itu cuma memandang ke luar mobil.
Aku terus saja menyetir tanpa tahu tujuan hendak berhenti.
***
Cuma beberapa souvenir kecil yang kami beli. Itu bukan untuk souvenir pernikahan, tetapi oleh-oleh yang akan dibawanya pulang ke kampung halaman. Perempuan itu besok akan kembali ke Yogyakarta.
Aku tidak lagi mengantarnya ke kantor. Tetapi ke rumah lama kami yang kini menjadi istana Azzam Sima.
Aku miris menatap rumah lama kami. Apalagi nanti, bukan aku yang menempatinya bersama anak-anakku. Tetapi perempuan lain dan anak-anak lain. Aku menelan ludah.
Wajah anak-anakku semakin jauh terasa.
Makin kabur dan tak tersentuh.
Ingin rasanya kubenamkan diriku ke dasar bumi paling dalam karena menjadi ibu yang rela mengorbankan anak-anak hanya demi kebahagiaan sendiri. Begitu egois. Begitu tak punya cinta.
Tak sengaja airmataku menetes. Untung Jelita sudah memasuki rumahnya. Aku bergegas ke mobilku dan melaju sangat kencang.
Tidak ada lagi tawa anak-anak.
Semua hilang.
Senyap. Hening. Dan sepi. Mengetuk-ngetuk pintu hatiku yang terkunci. Menimbulkan gema yang menggaung.
Gaung yang seolah tak punya tepi untuk berhenti bersahut.
Begitu adil hukuman Tuhan!
Terlalu adil. Sehingga membuatku tak mampu menyalahkan siapa-siapa kecuali kebodohanku sendiri.

(Bersambung)

Thursday, January 24, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (24)



Menjelang jam pulang. Suasana kantor tiba-tiba berubah jadi ramai. Keriuhan berasal dari ruang front office. Mbak Nelly saling jambak rambut dengan Karina. Aku tidak paham siapa yang memulai. Suara sorak-sorai yang mengundangku untuk keluar dari ruang HRD. Dua kasir dalam ruang front office tampak bingung hendak melerai siapa. Pergulatan itu begitu seru dan tampak seimbang. Mbak Nelly mendorong Karina hingga membentur mesin hitung. Gantian Karina merampas tumpukan kwitansi lalu menimpuk Mbak Nelly.
Para lelaki yang menonton di luar ruang front office malah seperti menonton adegan tinju atau smack down. Mereka menyemangati jagoan masing-masing. Suara siulan melengking susul-menyusul disambung sorak-sorai.
Aku bergegas masuk ke arena pergulatan. Berusaha melerai mereka. Mukaku sempat jadi salah sasaran dicakar salah satu petarung yang beringas.
“Mbak Nelly! Karina!”
Teriakanku tidak digubris.
Para lelaki makin seru tertawa dan berteriak. Aku panggil satpam untuk mengatasi amukan para banteng betina tersebut. Akhirnya, situasi bisa dikendalikan.
Segera kuperintah satpam mengiring keduanya ke ruanganku.
Di dalam ruangan tak kubiarkan cengkraman satpam dilepas dari tangan mereka. Aku tidak mau mereka bergumul lagi seperti tadi.
“Memalukan sekali kejadian barusan! Untung tidak ada konsumen lagi! Bagaimana tanggapan mereka melihat dua gadis cantik bertarung seperti ayam?”
Keduanya masih saling tatap dengan sinis.
“Kalian bertingkah seperti orang yang ndak punya pendidikan. Apa tidak bisa masalah kalian diselesaikan dengan cara yang sedikit elegan, tidak murahan seperti tadi?”
Tidak ada yang menjawab.
“Kalian menjatuhkan citra perusahaan.”
“Aku ndak tahan dengan omongan Mbak Nelly yang kelewatan. Bukan urusan dia, tapi mulutnya sampai kemana-mana!” Karina  yang menyeletuk duluan.
“Kamu hamil di luar nikah. Itu kan aib! Kamu tidak pantas lagi bekerja di kantor ini. Nanti orang pikir kita menyediakan perempuan yang tidak-tidak!”
“Mau hamil di luar nikah atau ndak. Tetap itu bukan urusan kau! Kenapa mulutmu seenaknya saja berbunyi dan menghakimi orang? Toh, kau juga bukan orang suci. Jauh malah!”
“Sembarangan!” tangan Mbak Nelly berusaha menggapai kepala Karina. Mungkin berniat menjambak lagi. Untung Mas Edy sigap. Satpam itu langsung menahan gerak Mbak Nelly.
“Aku tidak pernah mengganggu dia, Mbak Aya. Walaupun aku tak suka dengannya. Aku tetap menghargai dia sebagai atasan. Tapi lihat, apa pantas atasan berlaku macam dia!” telunjuk Karina langsung menuding hidung Mbak Nelly.
Mbak Nelly makin beringas hendak membalas.
“Sudah! Cukup!” aku menengahi.
“Saya setuju dengan Karina, Mbak Nelly. Tidak pantas rasanya kita menghakimi seseorang atas perbuatan pribadi yang dilakukannya. Itu masalah dia. Tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Lebih baik diam kalau tidak bisa membantu.”
Karina tampak senang dibela.
“Tapi Karina, saya juga tidak setuju dengan sikapmu barusan. Menyerang orang secara brutal begitu. Sama sekali tidak punya etika!”
Mbak Nelly yang kini merasa menang.
“Saya akan membicarakan hal ini dengan Kacab. Biar beliau yang memberi kalian sanksi.”
Mbak Nelly dan Karina memilih diam.
“Saya minta kalian berjabat tangan. Cukup sampai di sini masalah tadi. Tidak perlu diperpanjang lagi.”
Mereka masih di posisinya masing-masing.
“Ayo Karina! Mbak Nelly!”
Mereka saling mendekat sambil membuang muka. Tangan mereka ulurkan dengan tidak rela. Hanya ujung jari yang saling menyentuh sebentar.
“Bilang, minta maaf.”
“Maaf!” Karina yang berujar pertama.
“Maaf juga.” Mbak Nelly membalas.
“Saya tidak mau dengar lagi ada pertikaian macam tadi. Kalau sampai ada lagi, saya tidak ragu untuk memberikan kalian SP!”
Keduanya kuminta keluar ruangan. Untung saja Kacab sedang tidak ada. Bisa-bisa dia akan marah besar melihat kejadian tadi. Aku juga tidak mendapati Yulianto sejak pagi tadi. Sosok lelaki itu hilang begitu saja. Handphonenya sempat kuhubungi, tetapi sedang tidak aktif. Aku masih belum tahu bagaimana kelanjutan masalahnya dengan Karina? Masalah ini tampaknya harus cepat dibereskan. Kalau tidak, akan merembet ke mana-mana. Ditambah dengan banyak mulut yang suka membuat kabar burung tidak sedap. Tentu hal ini akan mengganggu suasana kerja.
***

Yulianto bertandang ke rumah malam harinya. Yuk Way yang membuka pintu. Melihat sosok lelaki yang bertandang, perempuan melayu itu langsung tersipu-sipu malu. Tentu maksudnya menggoda.
“Guanteng!”
Jempolnya langsung diangkat ketika memanggilku di dalam.
Aku mencibir, “Setiap lelaki yang Ayuk lihat pasti dibilang ganteng. Dasar genit!”
Dia terkikik.
“Cocok buat Kak Aya.”
“Iya, cocok.”
“Pacar Kak Aya, bukan?”
“Bukan.”
“Calon pacar?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Ih, banyak tanya!”
Dia mencibir. Mulutnya komat-kamit. Menggerutu.
“Jangan lupa buat minuman.”
“Yang manis apa yang asin?”
Aku mengerutkan kening.
“Makanya saya tadi nanya. Kalau buat pacar tentu airnya manis. Kalau buat tukang tagih bisa pakai yang asin.”
Aku terkekeh.
“Kalau ndak bisa jawab, berarti yang manis, ya Kak?”
Aku menggeleng, “Terserah, Ayuk saja lah.”
Dia gantian yang terkekeh.
Kutemui Yulianto di ruang tamu.
“Kok lama? Kirain tadi dandan habis-habisan. Pas juga kalau makan malam di luar. Eh, ternyata nongol pake daster. Kayak emak-emak tahu!”
Aku mendudukkan tubuh di sofa.
“Biar. Eh, kenapa ndak masuk kantor tadi?”
“Ada urusan keluarga.”
“Basi.”
“Serius. Ibuku masuk rumah sakit.”
“Oh. Gimana kabarnya?”
“Masih dirawat. Tapi kondisinya sudah membaik.”
“Syukurlah.”
Yuk Way datang dengan nampan berisi air minum. Diletakkannya di atas meja sambil tanpa henti menebar senyum.
Aku berusaha tak menghiraukan. Merasa tak digubris, dia masuk lagi ke dalam.
“Masalahku dengan Karina selesai.”
“Oh ya?”
“Aku ajak dia tes DNA. Ternyata langsung ditolaknya. Dia mengaku sendiri. Memang bukan aku bapak dari janin dalam perutnya. Itu benih mantan pacarnya sendiri. Dia mungkin mengira aku bisa dijebak. Dia buat alasan berbohong karena mencintai aku. Dan sungguh ingin menikah denganku. Aku jadi pengen muntah mendengar gombalan murahan itu. Kalau dia cinta denganku masa dia masih mau berhubungan dengan mantan pacarnya?”
“Lah kalau dia tahu itu ulah mantannya. Kenapa dia ndak minta tanggung jawab ke si pelaku?”
“Aku sempat tanyakan. Jawabannya lebih ndak masuk akal. Mantan pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Jadi, dia pikir aku lelaki yang baik pasti mau bertanggung jawab. Sarap tuh anak! Bagaimana dia bisa kepikiran orang lain yang tidak melakukan mau menyelesaikan masalah kalau yang berbuat saja tidak kepikiran untuk menuntaskan masalahnya?”
“Tetapi kata anak-ank di kantor. Kamu dan dia pacaran?”
“Ah, siapa bilang?”
“Jujur aja!”
“Sumpah, Aya! Kami cuma teman. Sama statusnya aku dengan Dilly.”
“Ah, masa teman mesra begitu.”
“Kejadian di lobby waktu itu?”
“Itu yang keliatan mata aja. Ndak tahu kalau yang ndak keliatan.”
“Sumpah! Aku ndak pernah melakukan hal lebih dengan gadis itu. Kami murni berteman.”
“Tapi colak-colek biasa kan?”
Yulianto sedikit tersenyum, “Ya, naluri laki-laki.”
Aku tertawa.
“Tapi, sumpah. Aku cuma berlaku sebatas itu walau aku tahu dia perempuan yang bisa dipakai.”
“Jangan kebanyakan sumpah. Nanti kemakan sumpah.”
Dia menghela nafas.
“Tapi, aku sungguh serius Aya. Aku tidak sedang mencari pacar. Aku mencari seorang isteri. Perempuan yang menyejukkan suasana rumah. Memberi rasa nyaman ketika aku pulang kerja.” Raut wajahnya berubah serius.
“Harapanmu terlalu besar kalau ditujukan untukku.”
“Ndak, Aya. Aku percaya kamu bisa membuat aku dan anak-anakku nyaman. Kamu pasti jadi ibu yang baik.”
Aku langsung teringat anak-anakku. Perkataan Yulianto barusan seperti tamparan keras di pipiku. Membuat wajahku terasa perih. Tanpa sadar aku meraba pipi.
“Menikah lah denganku, Aya.”
“Aku belum siap.”
“Aku tunggu kapan pun kau siap.”
Aku tidak punya lagi jawaban. Mulutku terkunci.
“Dulu memang aku telah menyakitimu, Aya. Tetapi aku bersumpah, akan memperbaiki kesalahan itu.”
Aku menghela nafas sambil memejamkan mata sejenak.
“Menikah, butuh perhitungan yang matang. Bisa jadi saat ini, kau sangat mengharapkan aku. Tetapi, mungkin kah kau akan terus mengharapkan aku setelah kita menikah?”
“Tentu.”
“Mudah memang untuk memulai sebuah pernikahan. Tetapi sulit untuk mempertahankannya. Aku tidak ingin kau menyesal menikahi aku.”
“Aku tidak menyesal, Aya.”
“Kita belum pernah menikah. Jadi, jangan begitu yakin menjawab.”
“Ayo lah, Aya.” Yulianto beringsut dari duduknya di sofa. Bertekuk lutut kini lelaki itu di mukaku. “Aku berjuang untuk hidup dengan menyebrangi ruang waktu. Dengan harapan di sebuah ruang yang pernah kutinggalkan, aku bisa bertemu kembali jalan hidupku yang sebenarnya. Aku terus bermimpi wajah perempuan yang sama. Senyum yang sama. Dan ketulusan yang sama. Wajah itu yang terus menguatkan aku ketika sakit. Memompa harapan ketika tidak punya lagi asa untuk hidup. Wajah itu bernama, Mazaya.”
Aku terpaku tanpa mampu berucap.
“Jangan bunuh harapanku, Aya. Karena itu berarti membunuh diriku. Masuklah dalam baitullah yang kubangun. Karena kau yang menghidupkan cahaya di dalamnya. Mungkin aku tak mampu menciptakn surga untuk hidupmu. Tapi aku berjanji akan menjagamu hingga tarikan nafas terakhirku.”
Aku jadi blingsatan diguyur kata-kata gombal. Tapi, kurasakan itu tidak sepenuhnya gombal. Tatapan mata Yulianto sungguh membuat hatiku bergetar!
“Jadilah isteri dan ibu dari keturunanku. Sentuhlah hamparan permadani yang telah lama kugelar untuk menyambut kedatanganmu.”
Aku bingung hendak berkata.
“Terima lah lamaran ini, Aya. Jadikan lah kebahagiaan lelaki ini buah ibadah untukmu.”
Aku tidak mampu membaca pikiran. Tetapi hatiku menyentuh ketulusan yang disuguhkannya. Dia bukan lagi Yulianto yang sama. Dia sungguh menjadi lelaki yang jauh lebih baik dari yang dia harapkan.
“Mazaya, ...”
Tampak berkaca-kaca mata lelaki di hadapanku.
Aku mengangguk.
“Aku terima lamaranmu.”
Lelaki itu tersenyum sangat lebar. Di sudut matanya, mengalir airmata haru.

(Bersambung)

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger