Thursday, March 7, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (35)

Aku berdiri dari duduk karena tersentak kaget.
Lelaki itu berdiri dengan muka yang masih beringas memandangku.
Dia masih marah. Terlihat sangat marah.

"Kenapa diizinkan perempuan ini menginjakkan kaki di rumah kita?"
Si Ibu berdiri dengan tampang bingung
"Ada apa? Baru sampai dari perjalanan jauh tidak baik langsung mengumbar marah. Duduklah dahulu."
"Aku ndak suka perempuan ini di sini, Bu!"
"Kenapa?"
"Suruh dia pergi. Atau aku akan kasar padanya!"
Si Ibu memandangku bingung begitupun Bapak.
Aku menggeser langkah ke pintu.
"Terima kasih waktunya, Bu, Pak. Saya pulang."
"Tidak. Jangan pulang. Duduklah di sini!" Si Ibu menahanku.
Azzam Sima mengatup rapat gerahamnya.
"Ibu mau tahu alasan kenapa anak ini harus diusir?"
"Dia bukan perempuan baik-baik!"
Ibunya memandangku lagi.
"Pakaiannya sopan dan tertutup. Kerudungnya benar dan sedap dipandang mata."
"Apa yang terlihat di luar tidaklah mencerminkan di dalam."
"Dia pacarmu yang lain?" tanya Si Ibu lagi.
"Bukan! Dia bukan siapa-siapa sekarang!"
"Berarti dulu dia adalah?"
"Sudahlah Ibu. Jangan campuri segala urusan pribadiku! Aku sudah dewasa dan cukup tahu dengan pilihan hidupku!"
"Kau anak yang kulahirkan dari rahimku. Segala urusanmu jadi tanggung jawabku. Apalagi kalau kau pilih jodoh di luar agamamu!"
"Lebih baik kupilih perempuan yang benar-benar mencintaiku, yang tulus mengorbankan apapun demi aku. Bersedia hidup denganku dalam susah maupun senang. Tidak memandangku sebelah mata. Menganggapku laki-laki. Menganggapku pasangan hidup. Meletakkan aku sebagai suami dan pelindungnya. Menghargai aku lebih tinggi dari materi!"
"Hanya karena itu alasan kau memilih perempuan?"
Azzam Sima tidak lagi menjawab kata-kata Ibunya.
"Kudidik kau sedari kecil dengan agama agar kau pilih perempuan sebagai pendampingmu dengan landasan agama yang kaupelajari."
"Apakah perempuan muslimah pasti baik dan sempurna akhlaknya, Bu?"
Aku menunduk.
"Tidak semua yang disebut muslimah sebagus pakaian yang dikenakannya." Ujar Azzam Sima melirikku.
Aku menelan ludah.
"Semua memang tidak mudah, nak. Segala sesuatu yang kita cari memang membutuhkan kesabaran untuk hasil yang baik."
"Aku sudah bersabar, Bu. Tapi cuma rasa sakit yang didapat karena kesabaran itu."

"Boleh saya bicara?" aku beranikan diri untuk menyampaikan suara.
Azzam Sima ingin membentakku lagi.
"Apa salahnya dia bicara?" ibunya menyela.
Azzam Sima hanya bisa mengatup rapat bibirnya dengan kesal.

"Selain saya datang kemari untuk mengantar surat dari kantor, ada maksud lain yang hendak diutarakan, yakni mohon maaf saya. Mungkin rasanya tidak pantas lagi untuk disampaikan. Tapi akan menjadi ganjalan di hati kalau tidak saya utarakan. Sungguh, saya tidak pernah berniat untuk menyakiti seseorang. Apalagi itu orang yang saya sayangi. Tidak ada niatan untuk berselingkuh. Mungkin memang saya pernah salah mengambil keputusan. Terlalu egois dan emosional saat itu. Saya akui saat ini, itu bukan langkah yang benar. Sangat salah. Sebuah sikap kepengecutan. Hanya ingin cuci tangan."

Dia tidak berusaha membantah bicaraku.

"Kalau saya dihujat dan dihukum adalah sebuah kewajaran. Karena itu, ketika Bapak datang ke perusahaan dengan sikap acuh tak acuh, tidak saya salahkan. Begitupun ketika Bapak meminta saya mengurusi resepsi pernikahan Bapak, saya ikuti dengan ikhlas. Karena saya pikir kalau ini bisa menebus kesalahan, saya rela dan maklum. Apalagi calon yang Bapak kenalkan sungguh perempuan yang sempurna dan tanpa cela. Jadi, genaplah kerelaan saya. Hubungan saya dengan Yulianto bukanlah sesuatu yang sengaja dikejar. Itu cuma bentuk pelampiasan semata. Saya pikir, orang yang selama ini saya inginkan tidak menginginkan saya, mungkin tidak ada salahnya kemudian beralih pada orang yang sungguh menginginkan saya."

Terasa ada yang tersangkut di tenggorokan. Tetapi rasanya masih banyak yang ingin diutarakan.

"Saya jadian dengan Yulianto setelah mengetahui Bapak akan menikah. Tetapi, sekarang saya pikir, biar pun Bapak akan menikah dengan Jelita, saya tidak lagi ingin menikah dengan Yulianto hanya karena saya merasa saya telah dicampakkan orang yang saya inginkan. Saya tidak ingin terus dicap perempuan yang buruk. Apalagi setelah saya tahu Yulianto punya masalah dengan perempuan lain. Kali ini kedatangan saya kemari juga bukan untuk membalas atau apapun yang buruk di mata Bapak. Saya datang tulus ingin meminta maaf. Saya memang bukan perempuan yang baik. Saya sudah dihukum Tuhan dengan telak. Kedua orang yang telah membesarkan saya dengan cinta sedari kecil tidak lagi bersama saya lebih dua tahun ini. Kakak dan adik saya sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Materi orang tua yang dulu saya bangga-banggakan juga tidak lagi saya miliki."

Azzam Sima masih kulihat berdiri tegak. Matanya tidak memandangku.

"Tidak ada yang sia-sia bagi saya setelah menyebrangi waktu. Ada yang berubah dalam diri saya. Walaupun banyak yang hilang dari kehidupan saya. Tidak berarti kehidupan yang saya pilih saat ini menjadi lebih buruk dari waktu yang lain. Saya mensyukuri segala sesuatu yang telah Tuhan kasih pada saya. Begitupun hujatan yang telah Bapak hantar ke rumah saya waktu itu. Saya terima sebagai sebuah pelajaran berharga. Mungkin ego masih kuat membungkus saya. Tetapi Tuhan selalu mengingatkan saya untuk memperbaiki diri."

Azzam Sima lalu memandangku lekat dan lama.
"Penyesalan memang selalu datang terlambat, Aya. Sungguh aku masih berharap hubungan kita akan kembali seperti waktu itu. Tetapi aku mohon maaf pula, terutama untuk Ibu. Aku telah melamar Jelita dengan akad nikah Islam. Dia pun telah menjadi muallaf sekarang."

Air mataku langsung jatuh.
Aku pasang senyum yang terasa pahit.
"Selamat, dia memang perempuan yang pantas untukmu."
"Maafkan aku, Aya."
"Jangan minta maaf."
 Aku menggeleng. Sesuatu menggembok pita suaraku. Tidak ada satu katapun bisa kunadakan. Sementara air mataku deras mengalir tanpa mampu kubendung.
Aku berlari meninggalkan rumah yang seharusnya jadi mertuaku.
Dadaku terhimpit berton-ton beban yang tak mampu kuangkat. Sesak sekali. Duniaku terasa berubah terbalik dan terpontang-panting. Kumasuki mobil dan kulaju dengan kecepatan yang tak terukur sama sekali. Aku menggila. Kuterobos dengan sengit kekecewaan yang ditawarkan Tuhan ke piring takdirku.

Sungguh! Tidak ada yang mudah dalam hidup orang dewasa.

(Tamat)

9 comments:

Lisa Tjut Ali said...

akhirnya selesai juga novelnya mbak, keren mbak novelnya, ajarin cara buat novel dong mbak, saya hoby nulis tp blum pernah nulis novel

Mardiana Kappara said...

ma kasih. sama2 belajar aja kita mba lisa, soalnya saya juga masih pemula :)

Syirah Marwa said...

Saya sedih ni Mbak. Aya gak jadi nikah (lagi) sama Azzam.
Padahal berharap mereka bisa bersatu lagi :'(

Anita Lusiya Dewi, S.Gz said...

kerennnn banget....
selesai dalam 2 hari ini mbak...
sampe ga mau berenti bacanya...
walaupun sedih endingnya....
Aya ga dapat siapa2...
Huhuhuhu.......

catatanmamanisa said...

huaaaa.... ga relaaaaa!! mbak, tanggung jawab, saya juga menggilaaaa iniiiii.......... ;(

ditunggu novel selanjutnya, happy ending yah! hehe.

Eka Mega Cynthia said...

asyiiiik...udah selesai :D

tapi sedih juga...buat lagi dong kak :))

Mardiana Kappara said...

mba Syira Marwa, mba Anita Lusiya, mba Anisa dan Eka : maaf ya kalo endingnya mengecewakan. Padahal rencananya mau happy ending juga awalnya. Tetapi pas nulis kok nih tangan ma otak kayak punya jalan cerita sendiri. Dengan entengnya memberikan sad ending. :)

Mba nisa ma Eka: Doain aja bisa buat novel lain lagi secepatnya. Hehehe... Sedang mencari ide nih ^_^

Keluarga Maulizal said...

iyaa euuy endingnya bikin berlinang air mata hahahahaha.....sukses terus yah mbak

Mardiana Kappara said...

terima kasih mba Maulizal, :)

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger