Thursday, March 7, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (34)

"Tapi 'mudah' tidak ada dalam hidup orang dewasa."

Ujar Robert Spritzel (Michael Caine) pada putranya David Spritz (Nicolas Cage) pada film The Weather Man.

Aku termangu.
Seberapa dewasa aku untuk menerima segala hal yang tidak 'mudah' dalam perjalanan hidupku?
Selama ini aku hanya berusaha lari dan terlepas dari beban. Selalu mencari jalan termudah. Tidak pernah mencari solusi untuk memecahkan masalah.

David Spritz, sebagai Peramal Cuaca sukses yang mencapai karier terbaik dengan penghasilan yang fantastis. Tidak berarti mampu menyelamatkan rumah tangganya. Materi bukan segalanya. Kebahagiaan bukan milik satu orang, tetapi juga bukan beban dua orang. Keikhlasan yang terpenting. Benar kata almarhum Bapak, ketika segalanya diberi dengan rasa tulus maka kebahagiaan itu akan hadir dengan sendirinya. Masalah mungkin menyerang kita bertubi-tubi. Tetapi penyelesaian terletak di tangan yang bijak memberi pandangan.

Akhirnya kuputuskan untuk mengunjungi Azzam Sima. Kemarin sudah kudatangi rumahnya yang di Jambe, tetapi kata tukang kebunnya, sudah seminggu Beliau di Berlian. Karena itu, hari ini aku meluncur dengan mobilku ke Berlian. Menjambangi rumah mertua di rentang waktu berbeda.

Seperti biasanya, 45 menit aku telah memasuki kota Berlian yang terik. Kuarahkan terus mobilku menuju lingkungan tempat tinggal Azzam Sima. Suasana terasa hening ketika kuparkir mobil di teras rumah sederhana itu. Tidak tampak siapa-siapa. Baru setelah pintu kuketuk wajah lembut mertua perempuanku muncul dengan segar di ambang pintu. Tampak sehat sekali Beliau. Padahal di rentang waktu yang lain, beliau hanya selisih tiga bulan menyusul Bapak. Sama-sama menderita diabetes. Karena itu kami menjadi satu yatim dan satu piatu ketika hendak melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan.

"Siapa, bu?"
Suara mertua lelakiku muncul dari dalam. Lelaki gaek itu juga tampak sama sehatnya.
Aku memamerkan senyum pada keduanya.
"Cari siapa?" tanya mertua perempuan.
"Pak Azzam Sima." Jawabku.
"Mahasiswanya?" tanya mertua lelaki.
"Bukan. Bawahannya di Adara Finance."
"O, masuk saja dulu." Tawar perempuan itu ramah.
Aku mengikuti langkahnya ke ruang tamu. Mertua lelaki duduk bersamaku di sofa. Sementara isterinya kembali ke dalam rumah. Seperti biasanya adat timur, tidak lupa membuatkan suguhan untuk tamu.

"Kebetulan Azzam sedang ke Yogya. Ada apa ya, nak?" Si Bapak lalu bertanya.
Aku terkejut. Darahku langsung berdesir dengan iramanya yang tak nyaman.
"Ke Yogya?"
"Iya. Sudah tiga hari."
"Kenapa?"
"Menemui kekasihnya. Siapa itu namanya, bu?" setengah berteriak Si Bapak bertanya.
Tubuhku semakin terasa lemas.
Tidak ada sahutan dari dalam. Mungkin Si Ibu tidak mendengar.
"Maaf ya, nak. Kira-kira ada kabar yang perlu disampaikan ke Azzam?"
"Oh iya, Pak."
Aku lalu mengeluarkan sebuah surat dan menyodorkan pada Si Bapak.
"Ini surat panggilan dari Kantor Wilayah. Pak Sima dipanggil ke kantor untuk menjelaskan alasan Beliau mengundurkan diri secara tiba-tiba."
"Oh begitu."
Aku mengangguk.
Si Ibu muncul dari dalam rumah membawa nampan berisi tiga gelas teh dan sepiring goreng pisang. Perempuan itu meletakkan di hadapanku.
"Diminum, nak."
"Terima kasih, bu."
"Ada apa Azzam dipanggil lagi ke kantor? Apa Azzam membuat masalah di sana?" Si Bapak bertanya.
"Oh, tidak, Pak. Malah Beliau dianggap anak emas yang sangat diperhatikan perusahaan."
Si Bapak hanya mengangguk-angguk.
"Maaf, Pak. Soal keberangkatan Pak Sima ke Yogya dalam rangka apa ya?"
"Menemui pacarnya. Padahal jelas sekali Ibu tidak suka. Masih saja dia berkeras untuk berangkat ke jawa. Ibu sampai mengancam kalau dia pulang membawa perempuan itu, maka Ibu lebih rela dia tidak usah menginjak kaki lagi ke sumatera." Si Ibu yang kali ini bersuara.
"Jadi mereka benar akan menikah, bu?"
"Saya idak mau! Saya ndak akan kasih restu! Perempuan itu beda agama. Lalu apa jadinya keluarga mereka kelak."
"Bagaimana kalau itu memang jodoh Azzam, bu?" Si Bapak bicara lagi.
"Tetap aku idak mau."
"Bukannya calonnya itu akan ikut apapun agama Azzam?"
"Padahal banyak perempuan muslim yang juga cantik dan menarik, tetapi kenapa pula dia pilih perempuan itu."
"Kita tidak bisa menentang takdir Tuhan, bu."
"Awak idak rela!"
Aku diam di tengah perdebatan mereka.

"Tidak usahlah kita bicarakan soal jodoh Azzam di depan anak ini. Tidak baik. Urusan lain yang dibawahnya dari kantor. Bukan masalah jodoh Azzam." Si Bapak berujar.
Si Ibu merengut di sisi duduknya.
"Maaf, nak. Jadi sampai di mana tadi pembicaraannya?"
"Oh, saya yang minta maaf, Pak, Bu. Sepertinya saya terlalu mencampuri dengan bertanya soal Pak Sima berangkat ke Yogya. Sebenarnya saya kemari diutus kantor untuk meminta Pak Sima datang ke kantor. Hanya itu. Tapi berhubung Pak Sima tidak di tempat, jadi saya titipkan saja surat panggilan dari perusahaan. Sekarang saya izin untuk pulang saja."
"Kenapa terburu-buru?"
"Tugas saya sudah saya kerjakan."
"Siapa nama anak? Nanti saya sampaikan pada Azzam."
"Mazaya, Pak."
"Cantik sekali namanya, seperti orang yang menyandangnya." Puji perempuan lewat tengah baya itu.
Aku jadi tersipu.
"Sudah menikah, nak?"
"Belum, Bu."
"Hendak menikah dalam waktu dekat?"
"Belum, Bu."
"Sudah punya calon?"
"Belum juga."
"Wah, bagus itu!"
Si Bapak langsung menyikut isterinya.
"Apalah Bapak nih!"
"Apa maksud Ibu tuh?"
"Aku mau calon menantu seperti ini."
Si Bapak mencubit isterinya.
Si perempuan balas mencubit.
"Maafkan, Nak. Dulu Ibu ndak bertingkah begini."
"Maksud Bapak?"
"Mungkin pengaruh menopause."
"Basingnya kalau bicara."
"Kembali kayak anak-anak tingkahnya,"
Si Bapak tertawa.
Aku jadi ikut tersenyum.
"Dipikir mengambil menantu seperti membeli gula-gula di toko."
Si Ibu cemberut mendengar suaminya yang makin besar tertawa.

Aku selalu kagum dengan kemesraan yang dibangun mertuaku. Tidak ada kelebihan materi di tengah mereka. Tetapi cinta mereka semakin lama terjalin malah semakin erat. Waktu itu, ketika Azzam Sima dan kakaknya sudah tidak balita lagi, telah mengecap bangku menengah pertama dan atas, keduanya lebih sering melancong berdua. Terkadang menonton film di bioskop Murni di Kota Jambe. Menikmati film-film nasional yang dilakonkan artis idola mereka. Sampai gaek pun mereka tidak bosan menghabiskan hari dengan bercengkrama berdua saja.

Aku menikmati waktu berjalan bersama keduanya. Tidak terasa lebih satu jam kami bercerita. Bolak-balik tentang Azzam, pekerjaan di kantor, dan juga tentangku. Sampai aku tak sadar, sosok Azzam Sima telah berdiri di muka pintu rumah.

"Untuk apa pula kau datang ke mari!"

(Bersambung)

Cerita selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (35)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)


 






0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger