Saturday, February 23, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (33)

Aku mengantar Mbak Nelly sampai ke rumahnya. Kupeluk dia untuk menguatkan sebelum izin pulang. Perempuan itu kembali menangis. Kuelus punggungnya agar dia sedikit tenang. Beberapa kata hiburan yang terlalu biasa kulontarkan di bibir. Aku yakin kata-kata itu tak mampu mengobati sakitnya saat ini. Tetapi kupikir, aku tak punya kata-kata lain. Aku cuma bisa menyuruh Mbak Nelly bersabar. Entah apa yang terjadi kalau kejadian ini berlaku padaku. Mbak Nelly cukup kuat sebagai perempuan dalam menghadapi kenyataan tentang suaminya yang terselubung selama ini. Jelas ini jenis pengkhianatan paling menyakitkan yang pernah dilakukan seorang laki-laki.

Setelah Mbak Nelly merasa cukup tenang, baru aku mengajukan izin untuk pulang. Kulirik jam tanganku, jam setengah dua belas malam. Aku bergegas melajukan mobil untuk kembali ke kontrakan. Yuk Way pasti sudah tertidur pulas. Kadang sulit untuk membangunkannya kalau dia sudah berkelana di alam mimpi.

Sesampainya di rumah, aku cukup kaget melihat pintu ruang tamu masih terkuak. Tumben jam selarut ini Yuk Way masih terjaga? Pikirku. Biasanya perempuan itu baru mau begadang kalau sudah kudesak.

"Assalamualaikum. Yuk Way, kok,..." sahutanku terpotong sendiri ketika sampai di muka pintu ruang tamu dan mendapati sosok lain selain Yuk Way duduk di sofa ruang tamu kami.
"Ke mana saja? Jam segini baru pulang?" Yulianto dengan wajah garang masih dengan kemeja yang dikenakannya tadi pagi di kantor menyambutku. Sementara Yuk Way segera menyingkir dari kami.
"Tadi menemani Mbak Nelly." Aku menjawab sekenanya.
"Jam segini?" dia menunjuk jam tangannya.
"Urusan penting."
"Sampai tidak absen ke kantor? Kau itu HRD, Aya!"
Aku menghempaskan tubuh di sofa ruang tamu.
"Aku capek, Anto."
Dia mendengus nafas kesal.
"Kenapa Hape juga di-non aktif-kan?"
Aku diam.
"Jangan bertingkah seperti anak-anak, Aya!"
Kondisiku terlalu capek, jadinya gampang sekali memicu emosiku. Aku langsung berdiri dari posisi rebahan di sofa.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak baik membuat masalah lalu kabur begitu saja tanpa penjelasan sama sekali."
Aku mengerutkan kening.
"Membuat masalah? Siapa yang buat masalah? Kau salah melontarkan tuduhan, Nto. Itu ditujukan untukmu sendiri!"
"Mazaya, sudah kubilangkan kepadamu sebelumnya bahwa masalahku dengan Karina sudah selesai. Jadi, untuk apa dipermasalahkan lagi?"
Aku tertawa keras.
"Mudah sekali kau berujar, Nto! Aku ini juga perempuan. Tentu aku tahu rasanya di posisi Karina. Bisa jadi suatu saat nanti kalau kita memang ditakdirkan terikat rumah tangga kejadian yang menimpa Karina bakal pula menimpaku. Dan kau, dengan mudahnya menepisku."
"Aya, buruk sekali pikiranmu padaku!"
"Aku perempuan, Nto. Tentu aku takut dicampakkan!"
"Aku tidak akan melakukannya."
Aku menggeleng.
"Aya,..."
"Aku membatalkan rencana pernikahan kita."
"Kenapa?" wajah Yulianto jelas kecewa.
"Masih juga kau tanya?"
"Kau sepihak saja melakukannya."
"Kau memang tak punya hati, Nto."
"Kau yang tak punya hati, Aya!"
"Pulang lah,..."
"Aku tidak mau pulang!"
"Untuk apa kau di sini?"
"Membuatmu tenang dan kembali ke rencana awal kita."
Aku menghela nafas dan diam sejenak.
"Aku juga ingin mengemukakan sebuah rahasia, Nto."
Yulianto menatapku serius.
"Kau ingat pertengkaranmu dengan Pak Sima tempo hari?"
Dia mengangguk.
"Kata-katanya tidaklah bohong."
Yulianto membentuk kerut di keningnya.
"Kata-kata apa?"
"Bahwa aku memang isterinya."
Yulianto hendak tertawa, tetapi diurungkannya setelah memperhatikan ekspresiku.
"Kau serius, Aya?"
Aku mengangguk.
"Kau hanya ingin mengerjaiku!"
"Tidak. Aku serius. Kami memang sudah menikah sebelum kembali ke masa lalu."
"Jadi, kalian memakai Jasa Pelayanan Mesin Waktu juga?"
Aku mengangguk.
"Belum ada kata cerai di antara kami."
Kini wajah Yulianto yang berubah.
"Kenapa kau tidak bicara dari awal, Aya? Kenapa kau terima lamaranku kemarin?"
Aku menunduk, "Aku minta maaf."
"Semudah itu!"
"Kumaklumi kalau kau marah, Nto."
"Aku tidak marah, Aya. Aku kecewa!"
Aku diam.
"Kau permainkan aku, Aya. Atau ini bentuk balas dendammu atas perlakuanku di waktu yang lain?"
Aku menggeleng kuat.
"Pintar sekali kau menimbulkan rasa sakit."
"Aku tidak sejahat itu, Nto!"
"Ya, aku memang harus paham. Walaupun saat ini belum ada ikatan pernikahan resmi. Tetapi simbol itu telah tersemat di hati kalian masing-masing."
Aku tidak menjawab.
"Aku mengerti posisiku."
"Maaf, Nto."
"Tidak perlu."
Dia lalu berdiri dari duduknya.
"Aku pulang, Aya. Walaupun aku tidak mendapatkanmu. Aku cukup bersyukur kehidupanku telah berubah cukup banyak. Aku tidak lagi cemas menghadapi masa depan."
Aku jadi merasa tidak enak.
"Aku akan cari isteri yang jauh lebih baik darimu, Aya!"
Aku mengangguk.
"Kau memang jahat sekali, Aya!"
"Maaf."
"Tidak usah terus kau ulang. Maafmu membuatku menjadi semakin sakit."
Aku terdiam.
Yulianto melangkahkan kaki ke pintu ruang tamuku.
Dia menoleh ke arahku yang duduk di sofa. Sepertinya ada kata yang ingin dilontarkannya lagi. Tetapi diurungkan. Dia hanya menatapku. Lalu pergi menjejakkan kakinya keluar pintu. Aku berdiri setelah mendengarnya menghidupkan mesin mobil. Lelaki itu memutar ligat mobilnya lalu memacu kencang meninggalkan pekarangan rumah kontrakanku. Sesaat rumah kembali terasa sepi dan lengang.

Yuk Way memunculkan dirinya dari dalam. Dia memandangku lama. Tetapi tak ada kata yang meluncur dari mulutnya yang biasa cerewet dan sok tahu. Aku hanya melempar senyum. Memunguti tas dan sepatuku yang berserakan di ruang tamu. Melenggangkan kaki yang terasa penat ke kamar tidur.

Aku benar-benar lelah hari ini.

(Bersambung)


   



2 comments:

catatanmamanisa said...

kangen pak azzam sima,, udh beberapa epidose ga muncul... hehe

Mardiana Kappara said...

Hehehe,... kemana ya Pak Sima?

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger