Friday, February 22, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (32)

Sudah hari ke-5 semenjak Azzam Sima mengundurkan diri. Telepon dari kantor Wilayah dan Pusat masih terus berdering menanyakan perihal yang kurang lebih sama. Bergantian dengan telepon Yulianto yang mendesakku untuk memberikan alasan tepat mengenai kemarahanku dua hari lalu. Tidak cukup lewat telepon, Yulianto datang ke ruanganku.

Aku tidak tahan didesak. Karena itu aku kemudian melarikan diri. Handphone kemudian ku-non aktif-kan. Kutitipkan pesan pada Nadia kalau aku ke luar kantor sedang meninjau ke beberapa pos kabupaten. Padahal sebenarnya aku malah pergi dengan Mbak Nelly untuk menyelesaikan masalahnya. Setelah mendapatkan alamat tepat perempuan yang dicurigai sebagai idaman lain suaminya, kami tidak lagi mengulur-ngulur waktu. Kami segera meluncur ke TKP. Mbak Nelly memasang wajah kaku selama perjalanan. Dia tidak banyak bicara.

Setelah menghabiskan 30 menit meluncur di jalanan. Akhirnya kami menemukan lokasi yang ditunjukkan. Sebuah rumah indekos yang asri dan mewah. Aku turun terlebih dahulu dari mobil. Sementara Mbak Nelly tampak tak berniat beranjak sedikitpun.
"Mbak, kita sudah sampai." aku mengingatkan.
Mbak Nelly hanya mengangguk pelan tanpa sedikit pun berniat akan turun dari mobil.
"Mbak?"
"Diurungkan saja, Aya."
"Kok?"
"Aku ndak siap."
"Mbak, ini memang kondisi yang berat. Tetapi kalau mbak tidak berani menghadapi, kapan masalah ini akan selesai?"
Mbak Nelly menghela nafas.
"Seperti apa perempuan itu?"
"Sebaiknya mbak turun untuk mengetahuinya."
Mbak Nelly diam sebentar lalu menurunkan dirinya dengan pelan dari mobil. Dia berdiri terpaku di muka halaman indekost tersebut.
"Ayo, mbak."
"Kalau kau menghadapi kondisi ini, apa yang bisa dilakukan, Aya?"
Aku menarik tangan Mbak Nelly sedikit menyeretnya memasuki indekost tersebut. Sesampainya di depan kamar yang diperkirakan. Aku hendak mengetuk pintu. Tetapi tanganku langsung ditarik lagi dengan mbak Nelly.
"Sepertinya tidak usah saja lah."
Aku jadi menatap perempuan di sampingku itu. Perempuan yang selalu bicara berani soal kejelekan orang lain tetapi tidak mampu menghadapi kejelekan yang menimpa dirinya.
"Yakin mbak?"
Dia tampak ragu.
Aku kembali mengetuk pintu.
Beberapa kali pintu diketuk, akhirnya dibuka oleh seorang lelaki muda tampan berkulit putih bersih.
"Benar ini rumah Eka?" aku berinisiatif bertanya.
"Ya, saya sendiri." lelaki itu menjawab.
Aku langsung memandang mbak Nelly. Mbak Nelly sama terkejutnya denganku.
"Kami ingin bertanya sesuatu, boleh?"
Lelaki itu memandang kami bergantian.
"Soal?"
"Kenal dengan Rahmat Setyadi?" kali ini Mbak Nelly yang mengajukan pertanyaan.
"Iya. Ada apa?"
Mbak Nelly langsung mencengkram tanganku kuat.
"Eh, silahkan masuk saja. Kita ngobrol di dalam." lelaki itu segera menguak lebih lebar pintu kamar kostnya. Sebuah kamar kost yang luas, bersih, dan sangat rapi terpampang di depan kami. Mungkin  tidak ada yang menyangka kalau kamar itu adalah milik seorang laki-laki. Nuansa hijau muda mendominasi.
"Kita tinggal di sini?" aku masih berusaha memastikan setelah kami masuk dan duduk di karpet lembutnya yang terasa sangat nyaman.
"Iya. Ini kamar kost saya. Kenapa?"
"Rapi sekali untuk ukuran cowok."
Dia jadi tertawa malu-malu.
"Sebentar." dia lalu berdiri mengambil dua botol minuman soda dari kulkas mininya.
"Kerja di mana?" tanyaku.
"Saya model."
"Oh,"
"Tapi masih merintis. Baru beberapa kali muncul di majalah coverboy nasional dan videoklip lagu daerah."
"Wah, hebat."
Dia tersenyum.
Lelaki ini bagiku terasa sangat lembut.
"Oh, iya. Tadi mau bicara masalah Om Rahmat?" dia tampaknya sama penasarannya dengan kami.
"Iya. Kalau boleh tahu kenal Om Rahmat dimana ya?" aku yang terus bertanya. Mbak Nelly terus menyimak dengan teliti.
"Oh, waktu syuting video klip lagu daerah di Kabupaten Mara. Om Rahmat teman sutradara."
"Sudah lama kejadian itu?"
"Sudah dua tahun lalu."
Aku kembali memandang Mbak Nelly. Mbak Nelly menatapku balik. Terlalu banyak makna yang mampu kuterjemahkan dari tatapannya.
"Eh, kalau boleh tahu, mbak-mbak ini siapa ya?'
"Saya isteri om Rahmat." Mbak Nelly yang menjawab.
Ada perubahan ekspresi dari wajah Eka mendengar jawaban itu.
"Boleh tahu ada hubungan apa antara Eka dengan Om Rahmat?" aku berusaha bertanya dengan hati-hati.
Lelaki yang bernama Eka itu tidak langsung menjawab.
"Kami hanya teman." Jawabnya sungguh mengagetkanku. Sebab setahuku tidak ada lelaki yang menjawab demikian mengenai hubungannya dengan sesama teman laki-laki.
"Kami tidak akan menuntut atau mempermasalahkan apapun menyangkut karier Eka di dunia Modelling kalau mau jujur menyangkut hubungan Eka dengan Om Rahmat. Mbak Nelly ini isterinya yang sah. Mereka punya seorang anak perempuan yang cantik." aku berusaha mengintimidasi secara halus.
Dia tampak cemas.
"Tolong jangan sampaikan apapun ke wartawan."
'Tidak akan. Asal Eka jujur."
Lelaki berparas halus itu menghela nafas.
"Saya memang ada hubungan serius dengan Om Rahmat. Tetapi sungguh! Saya tidak paham kalau Om sudah beristeri. Dia bilang dia duda tanpa anak yang ditinggal mati isteri."
Mbak Nelly menundukkan kepalanya.
"Eka punya foto Om Rahmat?' aku cuma ingin benar-benar memastikan. Agar kami tidak salah alamat dan orang yang kami curigai memang benar adanya.
Eka beranjak dari duduknya. Sebuah album kemudian diraihnya dari rak buku. Kuperkirakan lelaki muda ini masih duduk di bangku kuliah semester awal.
Album tersebut disodorkan di hadapanku.
Segera kubuka lembar demi lembar.
Sungguh sebuah bukti yang tidak bisa ditampik lagi. Beberapa pose akrab dan mesra yang direkam petikan kamera. Cuma mungkin sedikit janggal karena dilakukan dua sosok laki-laki. Beberapa kali Eka berpose dengan dibalut make-up  dan pakaian perempuan. Terlalu cantik.

Tak kuduga, Mbak Nelly langsung berdiri dari duduknya.
"Mbak?"
"Aku tunggu di mobil saja, Aya." tanpa menoleh lagi perempuan itu langsung keluar dari kamar kost Eka.
"Maafkan saya," lelaki muda itu berujar pelan menatapku.
Aku mengangguk sama pelannya.
"Om Rahmat masih sering kontak dengan Eka?"
"Iya. rutin. Baru saja kami mengobrol lewat telepon tadi. Rencananya minggu ini kami akan ke Bali. Soalnya ada dinas luar di kantornya di sana. Saya diajak."
Aku mendengarkan.
"Saya sungguh menyesal. Tolong sampaikan pada isteri Om Rahmat."
"Tolong pikirkan lagi hubungan kalian. Karena ada pihak-pihak yang pasti tersakiti karena hubungan ini."
Lelaki muda itu mengangguk.
Selanjutnya aku permisi. Segera kutemui Mbak Nelly di mobil. Saat duduk di belakang setir. Kulirik sekilas Mbak Nelly. Mata Perempuan itu terlihat sembab.
"Aku kecewa sekali, Aya." Perempuan itu mulai bicara.
"Aku merasa dibohongi selama ini. Sungguh kukira sosok idaman lain itu adalah perempuan seutuhnya. Ini betul-betul menyakitkan."
Aku tidak berkomentar.
"Selamanya rumah tangga kami akan berlangsung seperti ini, Tidak akan pernah utuh. Karena itu percuma saja terus kupertahankan. Aku tidak punya pilihan lain, Aya."

Berapa kalipun kuniatkan mencari kata-kata yang paling tepat untuk diutarakan. Tetap tak kutemukan satu katapun yang pantas.  Akhirnya, aku terkurung kembali dalam diam.
Perempuan di sampingku tak lagi bicara. Sepertinya dia telah merasa cukup untuk berkata-kata atau hatinya terlalu perih untuk dimaknai dengan kata-kata. Kulajukan saja mobilku menelusuri jalan. Tidak kuniatkan kembali ke kantor atau ke manapun. Kubiarkan ban mobilku terus menggilas jalan. Mengikuti sejauh mana pikiran kami mampu merangkak.

Sekelebat bayangan Azzam Sima kembali melintas. Tatapan mata dan sikapnya yang terkesan dingin selama ini tiba-tiba menerbitkan rasa kangen di dada. Semakin ingin kuabaikan semakin kuat hinggap dan berputar-putar di kepala.

(Bersambung)


2 comments:

yuniar said...

lama gak berkunjung kesini sudah nyampe #32 ^_^
ayo mbak lanjutkan, tapi jangan dipanjang-panjangin juga ya, penasaran ^_*

Mardiana Kappara said...

Oke siap. Tunggu aja endingnya. Ga lama lagi kok ^_*

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger