Friday, February 22, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (31)

Sejujurnya aku sedang malas mendengarkan kabar burung jenis apapun, dari yang terhangat, terakurat, atau yang tergosip sekalipun. Suasana hati dan kepalaku sedang terlalu panas untuk disesuaikan dengan suhu ruangan saat ini. Aku hanya memasang wajah datar ketika pintu ruanganku diketuk dan seorang perempuan dengan rautnya yang sangat kukenal memamerkan senyum yang selalu sama setiap membuka pintu ruang kerjaku.

"Aya lagi sibuk?" dia bertanya setelah masuk dan menutup kembali pintuku.
Aku terpaksa menggeleng. Bagaimana mau menolak kalau tamunya sendiri cukup tidak tahu diri!
"Boleh duduk?" tanyanya langsung menggapai kursi di muka mejaku dan menempatkan bokongnya senyaman mungkin.
Aku lagi-lagi terpaksa mengangguk.
"Aya,..." panggilan yang bernada panjang dan sok dekat.
"Iya, mbak?"
Dia lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna unggu.
"Selamat ulang tahun ya."
Aku tersenyum. Sedikit terbersit rasa penyesalan karena berburuk sangka.
"Ma kasih, Mbak."
"Maaf terlambat. Aku tadi izin. Anakku sakit. Makan-makannya belum sempat aku cicipi. Aku tadi izin dengan Nadia, soalnya kamu ndak ada."
"Oh, ndak pa-pa. Sama saja, mbak. Sakit apa anaknya, mbak?"
"Demam berdarah."
"Wah, hati-hati, mbak. Emang lagi musimnya."
"Untungnya cepat ketahuan."
"Jadi sekarang yang merawat siapa?"
"Neneknya jagain di rumah sakit."
"Oh."
"Sebenarnya aku ke ruanganmu ingin konsultasi sedikit, Aya."
Aku mengerutkan kening.
"Konsultasi?"
Dia mengangguk serius.
"Aku punya masalah di rumah dengan suami. Mungkin sebenarnya berlangsung sudah cukup lama. Dari pertengkaran sedikit. Kejengkelan sebentar. Lalu kemudian bertumpuk-tumpuk jadi satu kemudian jadi tebal dan menggunung."
Aku rasanya ingin menepuk jidat dan mengatai, kenapa konsultasinya harus kepadaku? Rasanya terlalu tidak tepat kalau tempat yang dipilih adalah aku!
Aku memajang senyum sebelum menjawab.
"Boleh tanya, Mbak?"
"Iya?"
"Kok mbak memilih aku sebagai tempat membicarakan urusan mbak yang paling rahasia?"
Mbak Nelly memandangku, "Tidak boleh?"
Aku jadi tertawa.
"Ya, boleh-boleh saja selama mbak menginginkan."
"Berarti ndak jadi masalah kan?"
"Tapi aku belum berumah tangga, mbak."
"Aku ndak punya tempat curhat yang benar-benar mampu jadi tempat curhat di kantor ini, Aya. Sementara di rumah aku hanya bersama suami, ibu, dan seorang anak perempuan. Aku terlahir sebagai anak tunggal. Ndak punya saudara. Bicara dengan tetangga sama saja berbicara dengan kawan-kawan di kantor ini, hanya akan jadi bumerang. Kulihat, cuma kamu dan Nadia yang tidak sama dengan kawan-kawan di kantor ini. Kalian tidak akan mudah membocorkan rahasia. Tapi aku pilih kamu, karena kupikir aku merasa lebih bisa bicara denganmu dibandingkan dengan Nadia. Jadi, kira-kira masih diizinkan aku untuk mencurahkan sesak di dada ini, Aya?"
Aku jadi terbersit iba.
"Selama mbak mengira aku bisa menjadi teman sharing yang memadai, aku oke-oke saja."
"Terima kasih, Aya."
Mbak Nelly menghela nafas.
"Aku mungkin akan mengajukan cerai pada suamiku."
"Kenapa secepat itu?
"Ini bukan keputusan yang terlalu cepat. Sudah kupikirkan matang-matang."
"Alasannya?"
"Aku ndak tahan lagi dengan suamiku."
"Kenapa?"
"Dia berselingkuh."
Aku terdiam.
"Mbak sudah yakin sekali?"
"Memang masih kata kawan-kawan."
"Belum mbak cross check?"
"Aku sering menemukan hal mencurigakan dari barang-barang dia. Isi sms yang penuh kata sayang dari seseorang dengan nomor yang tak tersimpan. Telepon di tengah malam yang membuat suamiku mengendap-endap dariku. Bau parfum perempuan di baju kerjanya. Bekas lipstik merah di kerah baju. Struk belanja keperluan perempuan yang bukan untukku. Sudah beberapa kali, Aya. Aku merasa tidak tahan lagi." Mbak Nelly langsung menyeka hidungnya. Perempuan ini menangis. Sesak sudah dadanya tertahan lama dalam diam.
"Aku sempat bertanya soal hal-hal tersebut di waktu lain dengan cara baik-baik padanya. Tetapi jawabannya malah jadi berang. Dia jadi marah besar. Menudingku sebagai perempuan yang mudah terbakar cemburu. Dia malah bilang seharusnya aku lebih perhatian sebagai isteri karena suami yang kerja selalu lembur dan pulang larut malam, bukan malah dibalas dengan kecurigaan yang tidak beralasan. Tetapi feeling-ku sebagai perempuan mengatakan bahwa memang ada yang tidak beres dengan suamiku. Seperti ada sesuatu yang sungguh-sungguh disembunyikannya."
"Secara mata telanjang pernah mbak melihat suami bersama perempuan lain?"
Dia menggeleng pelan.
"Coba mbak tidak sekedar menduga-duga. Cari dengan serius. Temukan perempuan itu."
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Aku tidak cukup kuat, Aya."
"Mbak harus kuat. Sekarang mbak tidak berjalan sendirian. Ada suami, anak, dan keluarga besar mbak. Jadi, masalah ini bukan masalah main-main. Harus mbak selesaikan. Tidak dengan jalan gegabah pula. Harus pakai kepala dingin. Memang kalau mbak merasa sakit, pasti akan sakit. Tetapi kalau cuma dipikirkan sakit sendiri bakal akan menghasilkan keputusan yang emosional. Coba pertimbangkan yang lain, terutama anak-anak. Jadi, niatkan untuk menuntaskan masalah ini demi anak."
Mbak Nelly merenung.
"Aku harus menemui perempuan itu?"
"Iya. Tanyakan padanya tentang suami mbak. Tentang hubungan mereka."
"Aku tidak punya keberanian, Aya."
"Kenapa mbak tidak punya keberanian?" aku jadi ingat kehebohan yang dibuat Mbak Nelly bersama Karina di ruang front office.
"Mungkin aku butuh teman agar bisa menjadi lebih tenang."
"Mbak ingin aku temani?"
Dia mengangguk.
"Baiklah. Kita coba selidiki bersama."
Dia tampak tenang. Senyumnya tersungging di bibir.
"Jangan terlalu cepat untuk memutuskan ingin bercerai, mbak."
"Aku akan coba untuk menyelesaikan dengan baik-baik. Kalau memang pantas untuk dipertahankan akan kupertahankan."
Aku mengangguk.
Dia ingin berdiri tetapi tampaknya diurungkan.
"Satu lagi alasanku mengapa aku memilih kamu untuk menceritakan masalahku ini. Maaf ya, Aya. Bukannya aku sok mencampuri. Aku mendengar pertengkaran hebat antara Yulianto dan Pak Sima tempo hari. Kudengar mereka memperebutkan kamu. Pak Sima adalah suamimu di rentang waktu yang lain bukan? Dia tampaknya kembali ke masa sekarang untuk memperbaiki kesalahannya padamu. Tentu masalah kalian sangat berat sampai dia memutuskan begitu. Dia sungguh lelaki yang baik, Aya. Pasti cintanya sangat besar untukmu."
Aku diam.
"Aku sudah minta maaf kan sebelumnya, Aya?"
Aku cuma berusaha tersenyum.
"Pak Sima sungguh romantis. Dia mempersiapkan resepsi ulang pernikahan kalian."
Aku mengerutkan kening.
"Rasanya aku tidak salah dengar."
Aku tetap tak menjawab.
"Berhentilah marah padanya. Apakah karena dia berselingkuh karena itu kau marah padanya, Aya?"
"Tidak."
"Lalu?"
Aku merasa Mbak Nelly hanya berusaha mencari bahan gosip.
"Kupikir, mungkin kita punya masalah yang sama. Karenanya kuputuskan untuk berbagi keluh kesah denganmu."
"Suamiku tidak berselingkuh. Mungkin aku sebagai perempuan saja yang tidak cukup puas dengan kondisi suamiku." akhirnya meluncur juga kejujuranku.
"Masalah materi?"
Aku mengangguk ragu-ragu.
"Materi bisa kita cari, Aya. Tetapi kesetiaan?" mbak Nelly menggeleng-gelengkan kepala, "Kau jauh lebih beruntung dari aku, Aya."
"Temui Pak Sima. Tanyakan soal resepsi ulang pernikahan kalian."
Mbak Nelly berdiri menuju pintu ruanganku.
"Kalau kau sudah tahu pasti tanggalnya, kasih tahu aku. Aku usahakan satu kantor menghadiri acaramu." kedip Mbak Nelly menggoda sebelum membuka pintu.
"Sebelumnya aku sangat mengucapkan terima kasih atas bantuanmu, Aya. Kau perempuan yang baik, pantas untuk mendapatkan lelaki yang baik." Mbak Nelly menatapku dengan tulus.
"Aku juga mengucapkan terima kasih, mbak."
"Pikirkanlah baik-baik."
Aku mengangguk.
Dia lalu keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Aku menghempaskan tubuh ke kursi kerjaku. Kuhela nafas dengan panjang. Mataku menatap langit-langit kantor. Baru kusadari, selain warna putih terpampang luas warna biru langit yang menyejukkan.
Percakapan dengan Mbak Nelly barusan seolah di-rewind kembali di kepalaku.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (32)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

5 comments:

ayu said...

lanjutin ya mbaaaaaaa

Mardiana Kappara said...

tentu. ma kasih udah mau nunggu :)

catatanmamanisa said...

kayaknya udh anti klimaks ya mba... horee bentar lg selesai... *pembaca sok tau* :p

Keluarga Maulizal said...

lanjut...lanjut....jangan sampai kebawa mimpi niy mbak....hahahahahaha....santimaulizal

Mardiana Kappara said...

@mba Nisa: kayaknya udah ga sabar lagi ni. hehehehe...

@Keluarga Maulizal: hehehehe, segera dilanjut....

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger