Monday, February 18, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (30)



Sudah tiga hari Azzam Sima tidak lagi hadir di kantor cabang. Surat pengunduran diri pun telah dilayangkan sehari setelah pertengkaran hebatnya dengan Yulianto ke meja kerjaku. Surat pengunduran diri itu langsung aku fax ke kantor wilayah. Dan kantor wilayah tidak memerlukan jeda terlalu lama untuk memberikan respon. Kepala HRD kantor wilayah atas perintah Kepala Wilayah langsung menelponku untuk menanyakan pokok permasalahan yang menyebabkan Kacab kami mengundurkan diri dengan begitu tiba-tiba.

Dari pernyataan mereka aku pahami bahwa Azzam Sima bukanlah Kacab biasa di mata para jajaran pimpinan. Bahkan tadi pagi aku pun mendapat telepon dari kantor pusat langsung untuk mengkonfirmasi kebenaran kabar pengunduran diri Azzam Sima. Nyaris seluruh isi perusahaan dibuat sibuk oleh berita yang ditebarkan Azzam Sima. Bahkan aku didelegasikan segera untuk menghubungi kembali mantan atasanku itu. Beliau diminta untuk menghadap kantor wilayah.

Kupikir, biarlah kesibukan itu berkutat di sekitarku. Aku tidak ingin ambil peduli. Aku terlanjur sakit hati dengan manusia yang bernama Azzam Sima tersebut. Kalau soal menemukan beliau, itu perkara gampang buatku. Aku paham rumahnya di kota Jambe maupun rumah orang tuanya di Berlian. Di kotaku cuma terdapat dua perguruan tinggi negeri, tidak sulit untuk melacak keberadaannya. Tetapi seperti yang kuutarakan sebelumnya, aku merasa cukup sakit hati.  Azzam Sima memuntahkan begitu banyak caci maki tanpa sedikitpun memberikan kesempatan bagiku untuk mengemukakan pembelaan.

Kalau bicara soal sakit hati dan pengkhianatan, jelas aku yang lebih merasai. Lelaki itu berniat menikah dan memintaku mengurusi seluruh keperluan resepsi pernikahannya. Secara logika saja, kalau seorang suami paham yang ditugaskannya adalah isterinya sendiri, apakah lelaki itu patut disebut sebagai suami yang baik dan punya tenggang rasa?
Kini dengan cara yang kasar bertandang ke rumahku melimpahkan seluruh keluh kesahnya tanpa jeda. Menuding dan memberiku cap sebagai perempuan yang tidak pantas untuk dicintai. Perempuan paling kejam yang mampu membunuh tanpa senjata di tangan. Luar biasa sekali!

Wajar bukan kalau aku merasa marah. Kurasa siapapun perempuan di posisiku saat ini akan bersikap sama. Memang ketika dia datang bertandang saat itu aku sempat terbawa suasana. Kalau dia mau memberikan aku ruang waktu untuk bicara. Mungkin aku akan minta maaf dan membenarkan kata-katanya. Tetapi berjalannya waktu. Kupikirkan baik-baik apa yang telah dikemukakannya. Kurasai secara benar dan teliti tindak-tandukku selama ini. Kesimpulanku kemudian berujung pada tidak satu pun hipotesanya benar. Aku jelas jadi merasa berang. Egoku kembali muncul. Terutama sekali karena aku merasa bahwa suamiku itu cuma melontarkan fitnah. Coba saja dipikir, kalau ada betul niatnya untuk rujuk kembali tentunya akan bertandang baik-baik kepadaku. Tidak akan dikenalkannya aku dengan calon isterinya, padahal aku adalah isterinya berdasarkan sepengetahuannya sendiri. Apalagi disuruh pula aku mengurusi resepsi pernikahannya secara detail.

Kalau aku memang sejahat yang dituduhkan, tidak akan kulakukan semua permintaannya secara ikhlas. Tidak akan kubaik-baiki perempuan bernama Jelita itu. Banyak saja alasan bisa kubuat untuk menghindari semua permintaannya yang jelas-jelas di luar tugas pokokku sebagai seorang HRD di perusahaan.   

Aku belum bisa meredam kecewaku atas sikapnya. Jadi, untuk kesekian kali kuiyakan saja telepon dari para petinggi wilayah dan pusat untuk segera menuntaskan masalah menyangkut Azzam Sima ini. Padahal tidak sedikitpun aku bergerak untuk menemukan lelaki itu. Aku merasa merendahkan egoku bila menemuinya saat ini. Biarlah, tunggu beberapa hari lagi. Saat emosiku sudah cukup stabil dan aku mampu menghadapinya tanpa merasa dikurung amarah. Ketika berhadapan dengannya lagi, aku bisa bicara selaku HRD, bukan selaku Mazaya yang menjadi isterinya. Toh, selama ini, beliau bersikap hanya sebagai atasan padaku, tak lebih.

Kulirik jam tangan. Sudah tepat jam 12 siang. Hari ini tepat ulang tahunku. 28 tahun sudah. Cukup dewasa dan sudah sangat pantas membina rumah tangga. Kukira ketika awal kembali ke masa ini, mungkin aku akan menikah di usia kepala tiga. Tetapi tampaknya, takdir Tuhan tidak mampu dirubah. Di rentang waktu yang lain, di usia 28 tahun pula aku melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan bersama Azzam Sima. Sementara sekarang, di usia yang sama, Yulianto yang akan memboyongku ke pelaminan. Tidak lama lagi kami akan menikah. Rencananya setelah resepsi pernikahan Azzam Sima digelar. Tiga bulan kemudian.

Hari ini, kami tidak akan ke mana-mana untuk merayakan ulang tahunku. Kami hanya akan bertemu di kantin. Traktiran sudah digelar tadi pagi. Nadia yang bertugas membagi-bagikan paket Mang Fried Chicken untuk kawan-kawan di kantor cabang. Ucapan mengalir beserta peluk cium. Beberapa yang ingat tidak lupa membawakan kado.

Aku dan Yulianto hanya akan merayakan spesial berdua di ruangan kantin. Tidak ada keinginan untuk merayakan di luar kantor. Katanya dia yang akan membelikan kue ulang tahun dan beberapa makanan pesananku. Aku cukup duduk manis di meja kantin. Menunggu kedatangannya.
“Hai, Sayang.” Teguran yang kukenal akhirnya muncul setelah 15 menit terkurung dalam lamunan sendiri di ruangan kantin.
“Sudah lama?”
“Ndak. Baru kok.”
“Agak macet tadi. Ternyata sudah mulai padat kota Jambe.”
Yulianto meletakkan sebuah kotak besar dan satu kantong plastik besar lain berisi segala macam makanan yang kuinginkan.
“Dibeli semua?” tanyaku agak takjub.

“Sesuai pesanan.”
“Maksudku tadi pakai atau bukan dan.”
Dia tertawa, “Sekali-kali tidak akan buat bangkrut.”
“Tapi aku ndak akan sanggup melahap semuanya.”
“Ndak jadi soal. Yang penting nikmati dulu.”
Black Forest ukuran besar yang dipilih Yulianto untuk santapan pertama. Tanpa lilin sesuai permintaanku.
“Langsung mau dipotong?” tanyanya.
“Sayang, terlalu cantik untuk dirusak.”
“Tetapi terlalu mubazir kalau tidak disantap.”
Aku tersenyum, “Ya sudah, dipotong saja.”
Yulianto langsung memotongkan khusus untukku. Disajikannya dengan rapi di piring kertas lalu disuapkannya dengan lembut padaku. Lelaki itu menatapku tanpa kedip. Memperhatikan setiap detail gerak-gerikku.
Aku tersenyum menghindari rasa kikuk.
Dia masih terus menatapku seperti seorang pengagum menikmati lukisan.
“Ada apa?” tak tahan juga untuk bertanya.
Dia menggeleng.
“Kenapa menatap begitu?”
“Tidak apa-apa. Hanya tidak percaya saja bahwa kita sebentar lagi menikah.”
Aku kembali tersenyum, “Insyaallah,”
“Aya, sungguh kan mau menikahiku?”
Aku mengerutkan kening, “Kenapa bertanya begitu?”
“Tidak. Hanya bertanya saja.”
“Tidak ada pertanyaan yang hanya bermaksud bertanya. Pasti setiap pertanyaan menginginkan jawaban.”
Dia diam.
“Ada sesuatu yang mengganggu pikiran?”
“Karina sudah melahirkan,”
Aku menanti kelanjutan.   
“Waktu memang cepat berjalan. Karina kembali menghubungiku. Dia memintaku untuk menjenguk. Aku lalu datang. Kupikir sebagai kawan tidak baik pula kita tidak penuhi undangan kawan.”
Yulianto berhenti sejenak.
“Anaknya perempuan. Cantik sekali. Dia beri nama Yulia.”
Aku mendengarkan.
“Karina bahagia betul dengan kelahiran puterinya walaupun tidak ada lelaki yang mendampinginya saat itu. Dia bangga telah menjadi seorang ibu. Dia akan merawat puterinya sendirian.”
“Pacarnya kemana?”
Yulianto menggeleng.
“Pacarnya tidak pernah mengunjunginya. Karena mereka memang sudah lama putus. Karina juga sudah melakukan tes DNA puterinya. Dan katanya anak yang dia lahirkan memang terbukti anakku.”
Aku terkejut.
“Tetapi Karina bilang, dia tahu kabar tentang kita. Dia hanya ingin menyampaikan sebuah kebenaran. Dia tidak meminta pengakuan. Karina menyadari apa yang telah terjadi di antara kami adalah sebuah kecelakaan semata.”
Aku mengerutkan kening, “Tetapi katamu dulu,...”
“Karina memutuskan berhenti merongrongku karena perubahan sikapku. Makanya dia buat pengakuan palsu bahwa pacarnya lah yang melakukan.”
“Maksudnya?”
“Karina tidak menginginkan ada yang berubah di antara kami.”
Aku menatap Yulianto tajam, “Kau tidak sadar atau pura-pura bodoh tentang Karina?”
Yulianto menatapku bingung.
“Perempuan itu sungguh mencintaimu, bung!”
“Tapi, aku tidak punya perasaan itu. Aku bercerita ini, hanya ingin bersikap jujur pada calon isteriku. Aku ingin tidak ada yang tertutup-tutupi dan baru di belakang hari ketahuan.”
Aku berdiri dari dudukku dengan kesal.
“Mau kemana?”
“Pergi!”
“Kenapa?”
Aku mendelik kesal.
“Kau memang tidak punya perasaan sebagai laki-laki! Masih bisa kau berkeinginan menikahi perempuan lain sementara ada perempuan yang sudah jelas-jelas melahirkan keturunanmu dalam keadaan sendirian?”
“Aya?”
“Aku terlalu dangkal memahamimu, Anto!”
Yulianto menarik keras lenganku.
“Aya, aku tidak butuh nasehat. Aku ingin kita menikah!”
“Aku tidak sedang menasehati. Aku hanya ingin kau pakai hati nuranimu.”
“Karina tidak menuntut apapun.”
“Lalu jadi bagimu itu sudah menyelesaikan masalah?”
“Tidak mungkin aku menikahinya. Kami melakukan hal itu tanpa kami sadari. Bukan landasan cinta yang mengakibatkannya.”
“Lalu?’
“Kami dalam kondisi sama-sama teler. Di luar kesadaran.”
Aku menggeleng kuat-kuat.
“Aya?”
“Tolong lepaskan cengkraman tanganmu!”
Yulianto melepasku.
Aku lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan kantin.
 “Aya!”
Aku tak menoleh. Terus kulangkahkan kaki.
“Mazaya!”
Aku menghela nafas. Rasanya semakin tak kupahami apa itu makhluk yang bernama laki-laki.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (31)

Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

6 comments:

Gen - Q said...

Ini novelnya buat sendiri mba? Wahhh, harus dibaca dari pertama agar urut ceritanya (^,^)/

Mardiana Kappara said...

iya. lagi belajar buat novel. semoga pantas dinikmati. ma kasih sudah mau mampir ^_^

catatanmamanisa said...

wow! makin seru... makin seru... tapi, horee ga jadi nikah sama yulianto... hehehehe.... :p
mana lanjutannya mbaaaa? *pembaca ga sabaran* :p

Mardiana Kappara said...

Ok, segera dikebut. :-)

Santi said...

Keren lho... saya juga pengen bisa bikin seperti itu :)

Mardiana Kappara said...

Ma kasih sekali sudah dipuji. Baru belajar, mbak Santi. :-)

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger