Wednesday, February 13, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (29)

Bukannya ini sebuah fragmen yang begitu sering aku putar di kepala. Adegan yang terlau nyaris tanpa alpa kuimpikan jadi kenyataan. Kalau malam ini kudapati sosok impian itu berdiri di muka pintu rumahku. Jelas aku terbelit rasa gugup, bahagia, dan tak pernah menyangka. Walaupun terlalu sering kuangankan. Aku sudah meyakinkan diri, bahwa dia tidak akan pernah datang bertandang.

Tapi malam ini, rasa pesimis itu terkuburkan.
Wajah tampannya sedikit kusut masai terpampang ketika kubuka pintu yang dia ketuk.
Matanya merah dan garang.

"Masuklah," tawarku.
Dia menolak. "Di luar saja. Aku mau bicara banyak. Rasanya terlalu pengap bicara di dalam rumah. Biar di luar sini saja. Cukup rasanya udara yang aku hirup kalau di sini."
Aku ikuti inginnya. Aku duduk di kursi teras rumah. Tetapi dia tetap berdiri. Azzam Sima tegak dengan wajah keras yang benar-benar tak kupahami.

"Mazaya, peran apa yang sebenarnya ingin kau mainkan? Karena begitu sadis caramu mencabik-cabik hati seseorang. Kau pikir mudah mencintai seseorang tanpa harus melukai diri sendiri?"
Aku tergagap tanpa mampu menjawab. Atasanku itu bicara tanpa memulai pangkal.
"Tidak pahamnya kau sekarang dengan bahasaku?"
Aku menggeleng.
Dia malah tertawa.
"Kau memang polos atau bodoh, Mazaya! Kau pandang aku baik-baik. Tidak kah kau mengenalku? Azzam Sima!"
Pita suaraku seolah dikebat. Tidak ada satu nada pun yang mampu kulahirkan untuk menciptakan kata.

"Kau tidak ingat, Mazaya? Aku lelaki yang menjelajah masa dengan mesin waktu. Dengan sebuah harapan mampu menaklukkan hati seorang perempuan angkuh yang tidak pernah mengerti makna dicintai. Perempuan yang membungkus dirinya dengan ego setinggi langit. Perempuan dengan otak kerdil yang merasa menguasai seluruh dunia. Aku bertahan dengan alur permainan yang kau buat, Mazaya. Karena perlu kau tahu, aku mencintaimu karena telah melahirkan anak-anakku. Aku rela dijadikan objek caci makimu, Mazaya, karena aku telah menikahimu. Biarlah kurendahkan harga diriku sebab bagiku tidak akan ada kata cerai sampai maut menjemput. Sungguh, aku kecewa dengan sikapmu yang tidak pernah sabar dengan keadaan. Dan sungguh aku lebih kecewa dengan nasibku yang tidak cukup beruntung untuk lekas memperbaiki keadaan ekonomi kita."

Lelaki itu menelan ludahnya sebelum kembali bicara.

"Aku ikuti engkau dalam mesin waktu seperti maumu. Kupikir, kita akan memperbaiki keadaan ekonomi kita. Kupikir, amarahmu sekedar cambuk buatku agar berusaha lebih keras lagi. Aku buktikan, Mazaya! Aku kembali ke masa di mana kuputuskan untuk tidak menyelesaikan kuliahku. Aku rubah keputusan yang selalu kau cap bodoh itu. Aku tuntaskan S1-ku. Aku sadari memang titel akan mampu membuatku lebih laku dijual di masyarakat. Kulanjutkan lagi kuliah lebih tinggi. Agar nilai jualku lebih mahal lagi. Aku cuma ingin membuktikan pada dirimu, bahwa aku bukanlah lelaki yang tidak punya guna. Aku sadari pula, aku cuma lelaki yang terlahir dari keluarga sederhana, tidak punya banyak harta. Karena itu kucari relasi sebanyak mungkin. Kuterobos komunitas-komunitas untuk menemukan jalan. Aku tahu kau selalu memuja PNS, makanya kupaksakan menjadi sosok yang kau idamkan. Aku sudah PNS sekarang, Mazaya! Seperti maumu! Menjadi kepala cabang cuma lah bonus dalam perjalanan hidup baruku. Kebetulan ada pembukaan setelah aku lulus S1, sementara aku butuh biaya untuk membantu orangtuaku membiayai kuliah S2-ku. Tak kusangka, Tuhan memudahkan rencanaku. Aku diterima di perusahaan tempatmu bekerja sebagai kader golongan pemimpin perusahaan. Aku kuliah sambil bekerja. Tidak ada waktu main-main buatku saat itu. Dalam rencanaku cuma satu. Pulang ke Jambe untuk menemuimu kembali."

Dia berhenti. Matanya menatapku tajam.

"Aku sungguh dendam padamu, Mazaya. Makanya kuikuti beritamu setelah pulang di Jambe. Saat kutahu rumah orangtua yang selalu kau bangga-banggakan itu akan dijual. Tanpa pikir dua kali aku langsung memburunya. Kalau saja uangku lebih banyak, pasti kubeli pula tanah kebun bapakmu. Tetapi bagiku, cukuplah rumah itu. Aku ingin membuatmu takjub padaku, Mazaya. Agar tidak lagi kau pandang lelaki ini sebelah mata. Agar sedikit saja mampu kau beri harga pada dada suamimu ini. Tetapi apa yang kutemui kemudian. Malah kaubalas usaha kerasku dengan menjalin hubungan kembali dengan mantan pacar pertamamu. Bukannya katamu dia pernah menyakitimu dengan perselingkuhan? Tetapi mudah sekali kau maafkan dia dan memberi lagi kesempatan baru. Sementara aku, apa yang kau berikan? Padahal aku mencintaimu dengan tulus. Aku berusaha demikian keras untuk menjaga keutuhan rumah tangga kita. Aku sudah membalik duniaku hanya untukmu, demi masa yang sudah pernah kita lewati bersama. Tetapi tampaknya semua cuma bull shit! Semua cuma sampah! Tidak akan pernah punya arti walau seperti apapun diolah atau didaur ulang. Bagimu sampah tetaplah sampah! Bukan begitu, Mazaya? Aku ini cuma sampah di matamu. Tidak sekali pun pernah kau anggap ada di dalam hidupmu! Kau benar-benar berhasil menghancurkan aku! Kau sungguh luar biasa menjadi perempuan, Mazaya! Kau berbakat jadi pembunuh kelas I. Tanpa senjata, kau mampu meremukkan hatiku! Hebat! Hebat sekali kau, Mazaya!"

Begitu marah lelaki itu padaku. Matanya sampai memerah saga menatapku. Geraham terus mengeras. Dan tangannya tak lepas mengepal.

"Aku pikir, cuma materi yang membuatku gagal di matamu. Tetapi, setelah ini, kurasa aku memang tidak pernah punya apa-apa yang mampu membuatmu melihatku. Tuhan telah salah menitipkan rasa di dadaku. Sebab nyatanya, aku telah salah besar mencintai seorang perempuan."
Dia beranjak dari berdirinya.
"Bang Azzam!"

"Akhirnya, aku betul-betul menyerah, Mazaya. Aku menyerah mencintaimu. Kurelakan kau menempuh jalan yang kaupilih. Walau sejujurnya aku tidak pernah merasa rela. Terlalu keras niatku agar kita kembali utuh. Aku rindu Alif dan Arul. Tetapi mungkin kerinduan itu bakal cuma selamanya jadi hasrat. Tidak akan pernah ditemukan penawarnya. Biarlah. Aku tidak ingin merasa sakit lebih lama. Cukuplah rasa sakit yang terus kau bagi selama ini. Cukuplah. Tidak perlu ditambah lagi."
Dia sungguh beranjak. Melangkah menuju kendaraannya.

"Bang Azzam!"
Dia tidak menoleh sedikit pun. Dia masuk ke mobil dan melajukan kendaraan itu meninggalkan pekarangan kontrakanku. Tinggal aku. Sendiri bersama angin. Merasa seolah kembali bermimpi tentang sosoknya yang hadir di muka pintu.

"Bang Azzam,..."
Lelaki itu pergi tanpa sedikitpun berusaha aku tahan.
Pantas kalau aku disebutnya perempuan bodoh. Karena aku tidak pernah paham dengan apa yang sebenarnya kumau.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (30)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

3 comments:

Winda said...

wah udah bagian 29 aja...nanti aku baca2 dulu ya, mak...:D
salam kenal mak...sama-sama KEB...:D

Efriyanti Zahra said...

Waah, ketinggalanan banyak sesi :)
Saya juga baca dulu ke belakang ^^
Salam dari pengeja langit, mbak...

Mardiana Kappara said...

Ma kasih mba Winda dan Mba Efriyanti Zahra udah mau mampir. salam kenal. ^_^

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger