Tuesday, February 12, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (28)



Antara Azzam Sima dan Yulianto

Siang itu, Yulianto memasuki ruangan Azzam Sima. Diketuknya pintu sambil melongokkan kepala.
Sima baru mendongakkan kepala ke arah pintu setelah mendengar ketukan. Beberapa berkas di atas meja sepertinya terlalu menyibukkan untuk menyadari seseorang berdiri di muka pintu yang terbuka untuk beberapa saat.
“Kelihatannya sibuk sekali, bro?” tanya Yulianto melangkah masuk dan langsung membantingkan tubuh di atas sofa tamu.
“Sedikit.”
“Apa itu?” tanya Yulianto.
“Biasa lah. Grafik penjualan dan grafik pembayaran kredit konsumen.”
“Bagaimana?”
“Angkanya bagus. Terus naik setiap bulan. Penjualan naik, kelancaran pembayaran kredit konsumen juga naik.”
“Kau memang brilliant, Zam!”
Sima tersenyum.
“Ini juga berkat ide-ide kau lah. Kau memang ndak terkalahkan. Aku jamin, kalau ada kontes marketing di perusahaan kita. Aku rasa kau bakal masuk tiga teratas, marketing paling jago!”
Giliran Yulianto yang tertawa.
“Yakin dengan pujian itu, kawan?”
Sima tertawa. “Macam perempuan saja kau, Nto. Dipuji malah jadi bersemu begitu wajahmu!”
Basing saja lah kau, bro!”
Sima tambah tertawa.
“Hei, ngomong-ngomong bagaimana rencana pernikahanmu?” Yulianto mengalihkan pembicaraan.
Sima tidak langsung menjawab. Sesaat lelaki itu berpikir. Lalu angkat bahu.
“Apa pula maksudnya itu?” Yulianto mengerutkan kening.
“Kemungkinan besar, tidak jadi.”
“Benar saja ndak jadi. Serius, kawan?” Yulianto terkejut. Karena sebenarnya dia datang ke ruang sahabatnya itu ingin berbagi kabar tentang rencana pernikahannya dengan Mazaya. Sungguh tidak diharapkannya ada kabar buruk di luar perkiraan.
“Iya.”
Yulianto lalu tertawa. “Jangan-jangan kau punya simpanan lain.”
“Hei, aku ndak macam kau, suka maen perempuan!”
“Asam lah kau! Aku pria baik-baik.”
“Siapa yang percaya kalau kau baik-baik?”
“Serius kau ndak jadi menikah?”
“Iya!”
Pikiran Yulianto berputar-putar sendiri di kepala. Kemudian sebuah tanya besar mengandung kecurigaan lalu mencuat begitu saja.
“Terus, kenapa kau biarkan saja Aya masih mengurusi pernikahanmu?”
“Biarlah.”
“Biarlah?”
“Iya. Biarlah.”
“Kawan, kau ingin mengerjai Aya?”
“Tidak.”
“Aku tidak suka kalau kau main-main dengan Aya!”
Sima berubah muka mendengar ucapan Yulianto yang tiba-tiba bernada tinggi.
“Apa maksudmu?’
Yulianto berdiri menghampiri Sima.
“Kami sudah resmi menjadi pasangan. Kami berencana menikah dalam waktu dekat ini. Dia calon isteriku, Zam.”
Sima menatap Yulianto lama. Tatapannya berubah jadi tajam.
“Kami sudah membeli cincin. Aku sungguh berniat serius dengan perempuan ini. Tidak sedikitpun dalam hatiku terbersit niat untuk bermain-main.” Tambah Yulianto.
“Dalam perusahaan kita ada peraturan tidak bisa menikah sesama karyawan yang bekerja di satu kantor.” Potong Sima.
“Aku akan berhenti.”
Sima tidak segera menjawab. Dicarinya jawaban di wajah Yulianto atas tanya di dalam kepalanya. Lalu beberapa saat kemudian dia tertawa. Seolah menemukan jawaban tersebut. Tetapi tawa itu terdengar agak sumbang.
“Sungguh kebetulan yang sangat lucu. Aku juga punya niat untuk menikahi Aya.”
Wajah Yulianto yang kini berubah.
“Ini bukan permainan, kawan. Bukan pula sebuah persaingan. Jadi, kalau kau pikir mampu memacu adrenalin dengan mengajakku bertarung, ini bukan saat yang tepat. Aku sungguh tidak menyukainya. Walaupun kau teman baikku. Aku tidak ingin menjadikan Mazaya bagian dari permainan kita. Mazaya milikku. Dan aku tidak akan membaginya dengan siapapun. Apalagi merelakannya.”
“Dia isteriku.” Ucapan Sima meluncur begitu saja.
Yulianto spontan tertawa mendengar jawaban Sima. Suara tawanya membahana lebih sumbang dari si lawan bicara.
“Jangan mengada-ngada. Kapan kalian menikah?”
“Sudah lama. Kami akan meresmikan ulang!”
Tanpa diduga, Yulianto langsung melayangkan bogem ke muka Sima. Segaris darah mengalir dari ujung hidung kepala cabang tersebut.
Sima terkejut dengan sikap kasar barusan. Emosinya ikut naik.
“Hei!”
“Tidak terima?”
“Tentu lah. Apa maksud pukulan tadi?”
“Karena sudah kurang ajar dengan calon isteriku!”
Sima tertawa keras.
“Perempuan itu sudah kutiduri. Kau mau apa?”
“Kurang ajar!” kembali Yulianto melayangkan serangan. Kali ini Sima langsung mengelak.
“Jangan kan cuma cincin. Persiapan kami sudah 90 %. Kau pikir dia sibuk mengurusi pernikahan siapa? Ya tentu pernikahan ulang kami lah!”
“Kurang ajar! Mimpi kau!” Yulianto tak puas dengan serangan sebelumnya. Bertubi-tubi dia berusaha melancarkan bogem yang lebih keras. Tapi cuma angin yang mampu diserangnya. Emosinya jadi makin naik. Nafasnya memburu kencang. Ditambah lagi malah bogem balasan yang diterimanya. Tiga kali berturut-turut. Hidungnya juga mengucurkan darah.
“Bagaimana? Masih ingin diteruskan?”
“Aku belum puas!”
“Lihat dulu dirimu. Bertarung saja kau tak becus. Apalagi untuk melindungi perempuan.”
“Mazaya sudah memilih aku. Keluarlah dari kehidupan kami!”
Sima tertawa menghina, “Tentu lah dia lebih memilih kacab dibandingkan cuma ketua marketing!” 
“Jangan terlalu bangga dengan jabatanmu! Kau pikir semua perempuan akan takluk di hadapanmu?”
“Terima lah kenyataan, kawan!”
Yulianto makin beringas.
“Aku akan membuatmu melepaskan jabatan! Kalau perlu dibuang dari perusahaan ini!”
“Oh, sebuah ancaman?”
“Aku tahu betapa kau mencintai posisimu sekarang.”
Sima terbahak, “Tidak. Aku tidak terlalu menginginkan jabatan ini. Kacab hanya batu loncatan buatku.”
“Sombong betul bahasamu!”
Tiba-tiba Mazaya datang dengan wajah panik. Langsung menemui keduanya.
“Ada apa ini? Kenapa bertengkar di kantor?”
“Katakan, Mazaya. Dia tidak percaya kita akan menikah.” Yulianto mencari pembelaan.
Ditodong demikian Mazaya langsung mengangguk saja.
Sima jadi berubah air muka.
Yulianto merasa menang.
Tanpa bicara lagi. Sima menerobos Yulianto dan Mazaya yang berdiri bersisian di mukanya. Di depan pintu ruangan kacab, menumpuk karyawan yang menonton. Sima tidak peduli. Tubuhnya dibawanya saja mengikuti langkah. Memasuki mobil. Menyetir ke jalanan sesuka hatinya akan pergi. Dia merasa kecewa.
Suara mobilnya mendecit keras membela jalan yang dilalui.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (29)

3 comments:

catatanmamanisa said...

mbaaa... segera cepat selesaikan cerita iniiii.... aku mau tau endingnyaaa.... hihihi.... keren mb ^^

ayu said...

teruskan mbaaaaaa
udah baca dari awal saya
baguuus

Mardiana Kappara said...

ma kasih mba nisa dan mba ayu yang sudah bersedia mampir dan menikmati cerita fiksi di sini. Mudah-mudahan tetap semangat menunggu kelanjutannya... hehhehe :)

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger