Monday, February 4, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (27)

Aku sudah meniatkan untuk belajar menjadi ikhlas. Apabila rasanya tidak ada yang akhirnya dapat kuraih seperti rencanaku dahulu. Biarlah. Kurasakan diriku menjadi lebih baik setelah perjalanan waktu ini. Aku bukan lagi Mazaya yang dipenuhi keinginan. Aku bisa menjadi lega dengan keadaan berselimut masalah yang menghantamku bertubi-tubi. Kehilangan Bunda, Bapak, Nenek, dan materi dunia. Kalau pun kini ditambah kehilangan suami dan anak-anak, aku rasa aku bisa cukup tersenyum dan menyadari bahwa semua itu juga adalah berkah dari Tuhan.

Lamaran Yulianto memang lebih terasa indah kalau kujadikan saja sebagai buah ibadah seperti keinginannya. Aku akan belajar untuk sungguh mencintai dia dan memaafkan kesalahan di rentang waktu yang berbeda yang pernah dilakukannya. Toh, memberi kesempatan orang lain sama saja dengan memberi kesempatan pada diri sendiri.

Aku kini merasa lebih enteng mengurusi persiapan pernikahan Pak Sima. Ditemani Yulianto kami berusaha membuat Pak Sima terkesan. Sekaligus kuikuti saja keinginan Yulianto untuk membeli cincin pernikahan kami.

Semua sudah nyaris final. Tinggal menunggu hari H. Aku memang merasa ikhlas. Tetapi kurasa aku tidak akan cukup siap untuk melihat hasil kerja kerasku tersebut. Aku ingin pergi sejauh mungkin dari acara istimewa itu nantinya.

***

Antara Azzam Sima dan Jelita

Tidak ada maaf terlontar. Cuma ada airmata Jelita di antara suasana yang hening. Azzam Sima terpaku di posisinya, menunggu sang juwita meredakan tangis.
"Karena beda agama?"
Kembali pertanyaan itu dilontarkan si perempuan.
Si lelaki mengangguk.
"Aku akan ikut keyakinan mas."
"Tetapi Ibu dan Bapak tidak mau. Sulit kata mereka."
"Aku akan berusaha sangat keras biar mereka yakin." Mata bening itu tidak lagi jernih. Kelopaknya membengkak. Memerah di setiap sudut.
"Tidak segampang itu, Sayang. Kamu tidak akan mengerti."
Dia kembali menangis.

Kunjungan ke Berlian tidak membuahkan restu. Orang tua Azzam Sima menginginkan perempuan yang mendampingi puteranya seagama dengan mereka. Tidak ada arti perjalanan cinta yang 5 tahun di mata mereka. Fisik yang elok dan pembawaan yang anggun. Mereka menilai cinta tanpa landasan agama yang sama seperti berdiri di dua perahu.

"Bagi Ibu mau kau bawa keturunan jawa, bugis atau melayu, asal dia seagama dengan kita, pasti aku beri restu." Itu ujar Ibu ketika dikenalkan puteranya. Bapak tak banyak bicara. Dia hanya mengikuti Ibu.
"Tidak kau pikir nasib anakmu yang lahir dari rahimnya? Bingunglah mereka harus berpijak agama yang mana. Jangankan ada dua agama dalam satu rumah, satu agama saja masih bingung orang tua cara mendidik agama pada anak mereka."

Jelita hanya tersenyum saat itu. Tetapi setelah mereka berdua, tidak ada lagi yang harus disembunyikan. Perempuan cantik itu tidak menutupi kekecewaannya. Dia marah. Menangis. Dan sangat protes.
"Mengapa soal agama harus jadi permasalahan yang begitu penting? Lebih banyak pasangan suami isteri yang seagama yang mengajukan cerai dibandingkan mereka yang tidak seagama. Pernikahan itu yang penting adalah cinta dan kesetiaan."
"Juga restu orang tua,..."
Jelita tambah menangis.
"Aku pulang! Aku tidak ingin lebih lama di sini. Aku biarkan mas berpikir. Kalau mas berubah pikiran. Jemput aku di Yogya."
Tetapi Azzam Sima hanya menggeleng.
"Aku takut membuat Ibuku kecewa. Kalau beliau sudah mengatakan jangan. Aku pantang melangkahinya."
Jelita memandang Sima nanar, "Jadi maksudmu kita akhiri sampai di sini saja?"
Azzam Sima mengangguk pelan.
Jelita tambah keras menangis.
Azzam Sima menunduk. Jelas tersimpan rasa bersalah. Tetapi lebih dari restu ibu yang ingin dipertahankan.
Oleh karena itu dibiarkannya saja kekasihnya menangis dan dikurung gelegak amarah. Biarlah waktu yang menguras rasa sakit itu dan menyembuhkan luka yang terpaksa harus ditoreh karena kehendak takdir.

Itulah sebabnya kemudian Jelita memilih pulang ke Yogyakarta. Tanpa mengetahui persiapan pernikahan yang dikerjakan Mazaya atas perintah Azzam Sima. Sebuah resepsi pernikahan yang sangat megah dan agung. Azzam Sima membiarkan Mazaya mengurusinya. Tidak dibatalkan walaupun restu orang tua jelas-jelas nihil diperoleh. Azzam Sima menyusun sendiri rangkaian-rangkain rencana di dalam kepalanya.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (28)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger