Wednesday, January 9, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (9)

Pak Herman, Kepala HRD, hendak mengundurkan diri.
Berita itu cepat tersebar. Bahkan sampai ke kabupaten.
Sambil mengabsen pagi, teman-teman banyak bergunjing mengenai daftar calon yang pantas menggantikan Pak Herman. Aku diam saja. Ikut mendengarkan.

Teman banyak berharap HRD baru adalah sosok yang lebih luwes dan dekat dengan karyawan. Tidak berlaku sepihak untuk memenangkan satu golongan sementara menginjak golongan lain. Intinya, seorang yang berwibawa namun punya sikap adil. Memang selama ini kasus-kasus ajaib sering terjadi di kantor kami, beberapa karyawan yang sudah lama mengabdi dan berprestasi bagus belum tentu cepat naik pangkat, sementara satu dua orang yang mampu mendekati jajaran petinggi dengan mudahnya menanjaki jenjang jabatan bahkan tidak perlu menghitung masa kerja. Sebut saja golongan itu termasuk Yulianto di dalamnya. Tetapi kupikir, mampu mendekati dan membuat atasan menyukai kita dengan serius itu merupakan suatu prestasi pula. Tidak mudah membuat orang menyukai kita, apalagi itu orang yang posisinya berada jauh di atas kita. Kalau ada orang-orang yang protes dengan keberadaan orang-orang seperti tersebut. Bisa jadi mereka iri hati saja karena tidak memiliki kemampuan tampil "charming" seperti golongan tersebut. Sekali lagi bukan karena di dalam golongan itu ada Yulianto makanya aku membela. Tetapi memang orang-orang seperti itu perlu diperhitungkan dalam dunia kerja.

Biip... Biip... Biip
Handphoneku berbunyi setelah aku memasuki ruangan front office.
Kulongo nama yang tertera di layar.
Yulianto!

Dadaku langsung sepersekian detik berhenti berdetak.
Diangkat?
Tidak?

Masih saja berbunyi. Seolah beronta untuk segera disambut.
Kutarik nafas untuk menenangkan detak jantung.

"Ya, halo,..."
Entah kenapa suaraku jadi terasa berubah merdu.
"Aya?" suara di seberang sungguh membuatku menelan ludah.
"Iya?"
'Akhirnya,..."
"Akhirnya?"
"Iya, akhirnya diangkat juga. Sebenarnya aku takut dicuekin."
"Kenapa? Memangnya saya siapa?"
"Mazaya, perempuan yang sungguh menarik. Penuh perjuangan hanya untuk mendengar suaranya yang merdu lewat telepon."
Mukaku terasa panas.
"Ah, gombal,..."
"Memang tujuannya untuk menggombal, tetapi sungguh berasal dari sebuah kejujuran."
Aku semakin dibuatnya melayang.
"Oh iya, ada apa ya, Pak Yulianto?"
"Lah, kenapa harus Pak? Panggil saja seperti biasa, Yulianto. Kita kan satu angkatan."
"Kalau maunya begitu."
"Iya lah. Saya ini masih muda sekali untuk dipanggil Bapak, Aya. Jangankan menikah. Punya pacar saja belum."
Penjelasan itu entah kenapa tiba-tiba terasa menyejukkan. Tetapi segera kugelengkan kepala.
Sadar Aya!
"Ada apa ya, Anto?"
Dia malah terkekeh.
"Kenapa tertawa?"
"Susah sekali menyentuh hatimu, Aya."
"Maksudnya?"
"Ah, sudahlah. Aku hanya ingin mengabarkan suatu hal yang baik untukmu."
"Apa itu?"
"Kau calon kuat jadi kepala HRD."
Aku tersedak. Padahal aku tidak sedang minum atau makan apapun.
"Kok bisa?"
Kembali dia tertawa.
"Tentu bisa. Apalagi kalau Yulianto sudah bicara."
"Maksudnya"
"Pokoknya kalau namamu dipanggil dari pusat untuk tes kenaikan pangkat. Ikut saja. Tidak usah ragu-ragu. Yakinlah. Kamu bakal lolos."
"Tapi  Aku,..."
"Jangan pakai tapi, Aya. Dalam dunia kerja. Pertarungan itu sengit. Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang datang padamu. Aku tahu kau pasti takut dengan tanggung jawab yang bakal kau emban di masa datang setelah lulus kan?'
Aku mengangguk pelan, "Iya,..."
"Learning by doing, Non! Itu cara pikir orang cerdas yang berani."
"Tapi sungguh aku tidak punya keberanian. Apalagi untuk menjadi seorang calon kepala,..." ujarku berbisik sangat pelan. Aku takut betul ada kuping yang menangkap pembicaraan kami.
"Ayo lah Aya. Jangan buat aku malu. Aku yang merekomendasikan kamu pada Kacab dan Pak Herman HRD. Lagian ini jabatan bergengsi. Banyak orang yang ingin mendudukinya."
"Aku masih baru, Anto."
"Apalagi aku, 6 bulan kerja sebelum diangkat jadi Marketing. Bulan depan kita sudah satu tahun kan kerja di perusahaan ini?"
Aku diam.
"Ada aku, Aya. Aku akan membantumu."
Aku masih diam.
"Tunggu saja panggilan dari Pak Taufik. Paling dua tiga hari lagi. Masih ada waktu buatmu untuk berpikir. Tapi aku sangat berharap kamu tidak akan menolaknya."
"Baiklah."
"Ok, Aya. Itu saja dulu. Aku mau keluar dulu. Assalamualaikum,.."
"Waalaikumsalam."

Pembicaraan itu terasa cepat berlangsung. Pikiranku kembali menimbang-nimbang.
Ah, bisa saja Yulianto merekomendasikan, tetapi kalau aku tak lulus tes atau Kacab dan Pak Herman tidak menyukai penampilanku sama saja aku tetap bisa gagal.

Pikiran itu tak lama menyerubung.
Satu per satu konsumen mulai berdatangan untuk membayar angsuran bulanan mereka. Kesibukan rutinitas kembali mengurungku.

Aku tak tahu berapa jam kuhabiskan untuk melayani. Ketika kulirik jam dinding. Jarum pendek dan panjang kompak berdiri di angka 12.
Sementara uang belum tersusun rapi untuk disetorkan ke bank.
Dengan gerakan kilat lembaran-lembaran uang kurapikan hingga menjadi kepokan uang.
150 juta!
Begitu mudahnya mengumpulkan uang sebanyak itu.
Kuhayalkan bila uang itu milikku. Apa yang akan kubeli?

Pintu kantor kembali terkuak.
Kupikir konsumen lagi yang akan membayar.
Ternyata Yulianto, Kacab, dan Pak Herman HRD.
Tidak seperti biasa. Jantungku jadi lebih kencang berpacu.
Tanganku jadi dingin menyambut jabatan mereka.
"Dingin sekali?" goda Pak Herman membuatku tersenyum.
"Belum makan siang kali?" Yulianto ikut-ikutan menggoda.
"Sebentar lagi." jawabku makin dibuat malu.
"Kok sepi? Ada Pak Taufik?" Kacab ikutan bicara.
"Ini akhir bulan, Pak. Kepala Kolektor juga turun ke lapangan. Cuma saya, Pak Taufik, sama satpam di kantor. Kalau Pak Taufik sedang di ruangannya sekarang."
Kacab mengangguk-angguk.
"Sholat Jumat sebentar lagi, Pak. Kita ajak Pak Taufik buat barengan?" Yulianto bicara.
"Ok." jawab Kacab lalu duduk di kursi yang biasa disediakan untuk konsumen. Pak Herman mengikuti.
Sementara Yulianto menuju ruangan Pak Taufik.

Aku makin deg-degan ditinggalkan bersama dua orang besar di hadapanku.
"Aya sudah berapa lama di Adara Finance?" Pak Herman bertanya.
Aku menelan ludah menetralisir kegugupan.
"Satu tahun, Pak."
"Betah kerja di sini?"
"Alhamdulillah betah."
"Tidak berusaha cari pekerjaan yang lebih baik?"
"Kalau ditanya mencari suatu yang lebih baik. Sepertinya setiap orang akan melakukan hal itu. Tetapi seorang teman saya menyarankan, apabila belum tiga tahun bekerja di sebuah perusahaan, jangan berani menyatakan Anda tidak cocok dan berhenti."
"Jadi?"
"Saya menikmati bekerja di sini. Dan mungkin saya akan mengikuti saran teman saya untuk mengetahui apakah saya benar-benar cocok di sini."
"Bukannya Anda sudah satu tahun? Waktu itu cukup kok untuk menilai Anda cocok atau tidak di perusahaan ini."
Aku terskak. Tapi tidak menyerah.
"Saya bisa menilai bahwa saya cocok di sini setelah bekerja selama satu tahun. Tetapi butuh tiga tahun untuk mengetahui apakah perusahaan merasa cocok dengan saya?"
Pak Kacab tersenyum.
"Kira-kira tiga tahun ke depan kamu bakal jadi apa di perusahaan ini?" tanya Kacab.
Aku berpikir, "Kepala Finance atau HRD?"
Kacab kembali tersenyum, beliau kemudian berdiri mengeluarkan dompetnya. Selembar seratus ribu dikeluarkannya. "Saya suka sekali makan mangga. Bisa tolong belikan untuk kami. Sehabis Sholat Jumaat setelah makan siang kayaknya nikmat sekali bisa cuci mulut dengan sesuatu yang segar."
Aku meraih uang tersebut.
"Bisa bawa kendaraan kan?" tanya Kacab lagi.
"Bisa."
"Bawa apa?"
"Motor dan mobil."
"Mobil bisa ya?"
Aku mengangguk lagi.
"Bagus kalau begitu."

Pak Taufik beserta Yulianto menghampiri Kacab dan Pak Herman. Keempatnya segera keluar lagi dari kantor tanpa lupa mengajak satpam.
Aku sendirian. Walau rolling door sudah ditutup rapat satpam. Badanku masih terasa lemas seperti habis menemui hantu.

Apakah tadi aku baru saja diwawancarai?

Uang lembaran seratus ribu itu kupandangi.
Segera kuraih tas. Mengunci rolling door. Masuk ke mobil. Melaju segera ke pasar baru.

Tiga perempat jam.
Aku tiba kembali ke kantor.
Rolling door masih terkunci.
Kubuka.
Tiga kilo mangga Arum Manis. Menurut Mang Toyib, penjual buah langgananku pasti manis. Mudah-mudahan dia tidak bohong.

Menuju ke dapur. Kuraih pisau dan dua buah piring.
Kukupas sebaik mungkin. Lalu kutata rapi di atas piring.
Masih tersisa satu kilo lebih. Mana tahu Pak Kacab mau membawanya pulang.

Tidak beberapa lama kemudian, mereka telah kembali.
Rolling door segera dikuak lebar.
Beberapa konsumen kembali berdatangan.

"Mangganya sudah di atas meja di ruangan Pak Taufik, Pak."
Aku mempersilahkan rombongan petinggi itu menuju ruangan Kepala Pos.
"Terima kasih sekali, Aya." ujar Kacab menuju ruangan Pak Taufik diikuti yang lain.
Sementara aku melayani konsumen yang datang. Tampaknya mereka asyik ngobrol di ruangan Pak Taufik. Beberapa saat kemudian satpam yang baru disuruh keluar telah kembali membawa tentengan kantor plastik hitam besar.
"Makan siang gratis, mbak." Tersenyum ia menghampiri mejaku dan meletakkan sebungkus nasi. Lalu ia bergegas ke ruangan Kepala Pos.

Tumben juga tidak makan di luar. Gumamku sendiri sambil terus mengurusi pekerjaan.
Seno kemudian datang dengan muka semberawut.
Dia meletakkan helmnya di mejaku setengah membanting.
"Eits! Bukan meja panitia ini!"
"Oh, meja Ibu Kepala Kapos ya? Maaf!" serunya kemudian berusaha melap dengan sarung tangannya yang malah membuat mejaku jadi blentang-blentong hitam.
"Waduh! Apa ini?"
"Sedikit kenang-kenangan dari perjalanan." Jawabnya seenaknya.
Meraih helm dan melenggang keluar.
Aku cemberut. Kali ini sungguh-sungguh kesal. Kuambil tisu dan melapnya berkali-kali. Tetapi noda itu sungguh tidak mau sirna.

"Mazaya!" Tiba-tiba suara Yulianto muncul mengagetkanku.
Segera kuambil bundelan kwitansi dan menumpukinya di atas bagian meja yang dikotori Seno.
Yulianto sudah berdiri di sampingku.
Tak lama Kacab diiringi Pak HRD dan Kapos.
"Kami pulang dulu. Yang betah ya kerjanya." Yulianto mengerlingkan mata padaku.
Aku mengangguk seperti perkutut.
"Oh iya, Mazaya. Mangganya manis sekali. Bisa belikan saya 5 kilo lagi buat di rumah?" Kacab datang menghampiriku.
Aku bingung. "Sekarang, Pak?"
"Iya, sama saya saja sekalian. Nanti kami mampirkan lagi ke kantor."
"Oh,..."
"Nanti saya gantikan dulu jadi kasirnya, Ya." Seno ikut menimbrung menyelamatkan.
"Baiklah kalau begitu, Pak."
Aku mengikuti rombongan.
Rasa kikuk membuatku jadi kaku.
"Kamu asli orang sini, Aya?" tanya Pak Kacab setelah kami masuk ke mobil.
Yulianto yang menyetir. Dia melirik dari kaca spion.
"Saya dan orang tua tinggal di Jambe, Pak. Saya berulang setiap hari."
"Lalu kalau pulang malam naik apa?"
"Kebetulan saya bawa mobil sendiri."
"Kamu bawa mobil sendiri dari Jambe ke Berlian bolak-balik?" Pak Kacab tampak tak percaya.
Aku mengangguk.
"Kenapa tidak kost saja?"
"Orang tua saya sendirian."
"Ibunya tahun lalu baru saja meninggal, Pak." Sambung Yulianto tanpa kuduga.

Pembicaraan terus berlangsung. Yulianto mencairkan suasana.
Beberapa lelucon dilontarkannya.
Tampak sekali dia mampu mengambil hati siapapun yang dekat dengannya.
Tak terasa perjalanan membeli mangga kelar sudah.
Kupikir sebelumnya akan terasa lama. Tetapi kenyataannya malah kuharap lebih lama lagi.
Untung ada Yulianto.
Dia sungguh-sungguh tidak bohong untuk membantuku!

(Bersambung)  

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (10)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (7)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (8)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger