Monday, January 7, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (8)

Pas seminggu Bapak di rumah sakit. Menurut dokter Bapak sudah bisa pulang ke rumah. Gula darahnya sudah cukup stabil. Bapak terlihat segar dan sungguh sehat. Kali ini aku kembali minta izin kepada Pak Taufik untuk tidak masuk demi menemani Bapak keluar dari rumah sakit. Kakak juga demikian. Izin tidak masuk kantor hari itu. Kedua adikku bergantian menelpon minta bicara sama Bapak. Bapak menyambut dengan suka cita celoteh adik-adikku.

Bapak sungguh sehat.
Kuyakinkan pada diri bahwa Bapak terlihat berbeda dibandingkan dulu sebelum menjelajah mesin waktu. Bapak kali ini sangat cerah. Tidak tampak gurat-gurat kekuyuan tubuh lelaki tua yang sedang sakit.

Bapak akan benar-benar sehat.
Itu keyakinanku.

Setibanya di rumah. Kakak telah menyuruh pembantunya untuk menyiapkan masakan yang "pantas" untuk Bapak. Bapak awalnya menolak. Tetapi kakak memaksa. Kakak meminta Bapak untuk lebih ketat melakukan diet. Tanpa diet yang baik, umur Bapak tidak akan panjang.

"Biar saja. Biar Bapak cepat ketemu Bunda!"
seruan Bapak terdengar kekanak-kanakan dan manja.
Kakak malah jadi marah, "Ah, Bapak kok ngomong begitu! Memang Bapak ndak sayang sama kami, anak-anak Bapak?"
"Kan sudah pada besar. Bisa mengurusi diri sendiri. Kalau Bapak sudah makin tua. Tidak bisa mengurusi diri. Terus siapa yang mau ngurusi?"
"Kami pasti ngurusi Bapak."
"Ndak mungkin. Lihat saja sendiri diri kamu, Asni. Tidak pernah muncul di rumah Bapak kalau tidak ada hal yang penting betul. Kalau Bapak tidak sakit, apa kamu mau muncul kemari?"
Kakak terdiam.
"Jangan menyalahkan Kak Asni, Pak. Kakak kan kerja."
"Ah, kamu, Ya. Karena belum menikah saja kamu masih di rumah ini. Coba kalau sudah nikah. Sama saja kamu dengan Asni. Lebih parah lagi si Alif. Belum apa-apa sudah niatan ndak mau pulang ke kampung sendiri. Itu namanya kacang lupa kulitnya. Apa dia tidak ingat kalau kota ini yang membesarkan dia, yang mendidik dia hingga jadi seperti sekarang. Mentang-mentang sudah merasa di atas angin. Jadi tidak pernah menoleh ke belakang."
"Kok jadi merembet sih, Pak."
"Jangan-jangan Anisa juga begitu. Jadi dokter trus ndak mau lagi pulang ke Jambe. Padahal kalau bukan hasil kebun di Jambe. Dia ndak bakal masuk sekolah kedokteran."
"Sekarang semua jadi salah. Sebenarnya Bapak ingin ngomongin apa?"
Bapak malah diam.
"Bapak rindu Bunda?" pertanyaan kakak langsung membuat mata tuanya langsung berkaca-kaca.
"Bapak ini sudah tua, Asni. Rumah sebesar ini terasa kosong betul. Apalagi satu persatu dari kalian mulai membangun rumah tangga."
"Maksud Bapak, Bapak ingin menikah lagi?" kakak berusaha menangkap maksud Bapak.
Tetapi tatapan Bapak yang langsung berubah beringas memupuskan bibir kakak untuk bergerak lagi.
"Untuk apa menikah lagi? Kamu pikir menikah akan menyelesaikan masalah? Kamu pikir mudah untuk menempatkan pasangan hidup baru dalam kehidupan kamu yang sudah terlalu panjang kamu jalani bersama pasangan lama?"
"Bapak jangan terlalu melodrama lah. Realistis sedikit!"
"Asni!"
Bentakan Bapak tidak diduga Kakak. Tubuhnya sempat tersentak sedikit.
"Ini pilihan Bapak. Kalau bagi kamu tidak realistis. Bagi Bapak ini sungguh realistis. Menikah bagi orang tua ini cuma satu kali seumur hidup. Dan hal itu sungguh akan aku pertahankan! Aku tidak ingin berbagi semua yang kumiliki saat ini dengan orang lain. Ini kerja keras kami berdua. Aku bersama Bunda kalian. Kalau aku menikah berarti aku telah mengkhianatinya!"

Aku tak menyangka Bapak akan seberang itu.
Kuperhatikan nafasnya nampak terengah-engah. Kudekati beliau dan meraih tangannya dengan lembut.
"Maafkan kami yang salah memaknai Bapak,..." kucium tangan keriputnya untuk menenangkan. Aku sungguh takut penyakit yang lain bakal kambuh karena emosinya itu.
Bapak tidak lagi melanjutkan bicara.
Beliau diam tanpa ekspresi. Sementara kakak malah beranjak ke arah pintu.
"Aku pulang, Pak. Nanti malam kami kemari lagi bersama anak-anak."
Bapak tidak menjawab. Melihat langkah kakak keluar pintu pun tidak.
Aku menghela nafas.

"Bapak mendengar ucapan kakakmu di rumah sakit," mengalir kembali ujaran dari mulut Bapak sepeninggalan kakak.
Aku menatap lekat wajah tuanya.
"Bapak tahu siapa perempuan yang akan dia calonkan sebagai penganti Bunda. Dan yang buat Bapak ndak habis pikir, kenapa kakakmu berniat menikahkan Bapak dengan perempuan itu?"
"Memang kakak sudah pernah bercerita sebelumnya tentang hal ini dengan Bapak?"
"Sudah. Empat puluh hari setelah Bunda meninggal."
"Kakak?"
"Itulah yang Bapak tak habis pikir dengan kakakmu. Semenjak menikah tampaknya sifatnya sedikit berubah. Waktu itu Bapak tidak menjawab. Bapak hanya berharap dia paham dengan jawaban Bapak yang diam tersebut. Tapi tampaknya tidak. Karena itulah Bapak jadi penuh tanya dengan kegigihan kakakmu yang mendesak Bapak untuk menikahi calonnya."
"Kira-kira Aya tahu dengan perempuan yang dicalonkan Kak Asni itu, Pak?"
"Tante Mia."

Tante Mia?
Perempuan super judes dan ringan tangan itu. Dia sepupu dua kali Bunda. Di keluarga besar kami tidak ada yang tidak mengenal Tante Mia. Dan sebagian besar dari kami memang kurang suka dengannya. Tetapi kakak sedari gadis sudah dekat dengannya. Tante Mia memang sudah lama menjanda. Janda kaya raya dari lelaki pengusaha batubara. Sekarang Tante Mia sendiri yang menjalankan usaha tersebut dan tampaknya semakin sukses saja. Jadi tidak benar rasanya penolakan yang dilontarkan Bapak tadi. Tante Mia tidak butuh harta Bapak. Perempuan itu sudah cukup kaya. Kurasa Bapak cuma tidak rela menggantikan posisi Bunda dengan seorang perempuan ambisius seperti Tante Mia.

Sikap kakak yang begitu ngotot menjodohkan Bapak dengan Tante Mia yang membuatku lebih penasaran. Hanya rasa suka kah yang membuat kakak menjatuhkan pilihan pada Tante Mia atau karena faktor lain yang tampaknya lebih realistis di mata kakak?

Entah kenapa pikiranku jadi mengait-ngaitkannya dengan materi. Mengenai ukuran cukup tidaknya materi bagi seseorang, untukku kehidupan bersama Bapak merupakan makna kecukupan untuk materi. Rasanya tidak perlu ditambahkan karena kesannya jadi terasa berlebihan. Tetapi aku tidak tahu ukuran materi dari kacamata kakak. Apalagi dirinya telah berumah tangga. Apakah alasan materi pula yang menjadi penyebab kakak tampak begitu gigih menjodohkan Bapak dengan Tante Mia?

Aku menggeleng sendiri. Kutepis pikiran yang mengembang liar dan terasa terlalu mengada-ada.

"Mungkin memang pikiran yang membuat Bapak memperparah sakit sendiri. Tetapi, Bapak tidak egois Aya. Bapak tentu juga memikirkan kalian. Betapa Bapak merindukan Bunda. Tetapi Bapak harus lebih mengutamakan kalian saat ini. Minimal sampai kalian satu per satu menikah. Bapak hanya rindu sangat pada kekasih lama. Tetapi Bapak yakin bisa mengatasinya. Hanya butuh waktu."
Aku termenung memaknai kata-kata Bapak.
Adakah sebuah arti baru untuk masa depan?
Mungkin kah Bapak bertahan?

Aku memejamkan mata merapalkan doa.

"Bapak sungguh ingin melihat kau menikah, Aya."
Ujaran Bapak membuatku terharu. Karena pernikahanku dahulu tanpa kehadiran Bapak.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya: Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (9)
Cerita Sebelumnya: Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (7)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger