Sunday, January 6, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (7)

Bapak sakit lagi. Kata anak buahnya sempat jatuh pingsan di kebun. Untung ada yang menemukan. Mang Rahim yang sedang kerja hari itu.
"Kenapa Bapak dibiarkan keliling kebun sendirian? Memang tidak ada yang bisa menemani apa?" aku memarahi Anjang, anak buah Bapak yang memberitahu sekaligus mengantar Bapak ke rumah. Dia juga adalah tangan kanan Bapak untuk mengurusi kebun.
Dia menunduk. Takut barangkali. Tidak ada usahanya untuk menjawab.
"Lain kali, kalau Bapak mau keliling kebun ditemani. Kalau perlu jangan biarkan jalan kaki. Kalau bisa pakai kendaraan. Pakai motor. Paham!"
Dia mengangguk.
"Kalau ada kejadian seperti ini jangan lupa menelpon saya atau kakak saya. Jangan ditunggu seperti begini. Kalau Bapak ada apa-apa bagaimana?"
Anjang meremas tangannya yang sedari tadi saling mengepal.

Kebun Bapak lumayan jauh jaraknya. Satu jam dari tempat tinggal kami. Di luar kota. Bapak terpaksa diantar pakai pick-up waktu pingsan. Tidak ada yang berinisiatif untuk membawa Bapak ke rumah sakit. Bapak dibawa saja ke rumah. Anjang malah berinisiatif menungguku hingga pulang dari kerja.

Otomatis aku langsung menyuruh Bapak diboyong ke mobil untuk dilarikan ke rumah sakit. Bapak memang sudah sadar. Tetapi badannya lemas setengah mati. Tidak ada suaranya. Komentarnya pun kosong semasa aku mengocehi Anjang.

Kami tiba di Unit Gawat Darurat. Bapak langsung diambil alih perawat dan dokter. Setelah diperiksa beberapa kali. Dokter langsung menyarankan agar Bapak dirawat.
Sudah kuduga.
Kejadian ini memang sudah terjadi sebelumnya.
Aku sudah memperkirakan dengan akurat. Tetapi ternyata maju 3 hari dari perkiraan. Tuhan semakin mempermainkanku!

Gula Darah Bapak naik sampai 400 mg/dL. Sementara menurut keterangan dokter, gula darah kurang dari 100 mg/dL saat berpuasa dan kurang dari 140 mg/dL  dua jam setelah makan sebagai standar batas normal.
Aku menelan ludah.
Bayang-bayang ketakutan mulai berbentuk nyata.
Benarkah saat-saat itu akan datang padaku?
Aku bersandar lemas pada dinding rumah sakit sepeninggalan dokter. Aku tahu betul bahwa inilah masa terakhir aku bisa mengurus Bapak. Setelah ini Bapak akan pulang setelah seminggu dirawat. Seminggu kemudian kabar buruk itu melayang lewat telepon. Bapak jatuh pingsan lagi di kebun. Tetapi kali ini tidak dengan nyawa lagi beliau diantar dengan pick-up oleh Anjang. Saat itu wajah Anjang pias. Bibirnya keluh membawa berita berat. Dia mungkin saja memelukku kalau aku laki-laki. Dia menangis. Lelaki bertangan kasar dan berotot itu meraung di hadapanku. Lebih dari dua puluh tahun dia ikut Bapak. Dari bujang hingga beranak tiga. Bapak yang membiayai segala keperluannya melamar pujaan hati. Betapa Bapak telah dianggapnya sebagai Bapak sendiri.
Aku menitikkan air mata.
Harus kah kejadian itu aku alami lagi?
Saat ini sudah sebelah ruangan hatiku yang kosong. Apakah yang tertinggal sebelah lagi akan mengalami hal yang sama?

Kutelpon kakak untuk datang ke rumah sakit.
Tanpa banyak komentar, kakak semata wayangku itu langsung meluncur bersama keluarganya. Sementara menunggu kedatangan kakak, aku mengurusi segala macam kepentingan administrasi rumah sakit. Tidak kupilih rumah sakit yang sama dengan almarhumah Bunda. Aku tidak ingin memupuk kerinduan Bapak menjadi lebih subur. Walaupun kutahu rumah sakit Bunda cuma 10 menit dari rumah. Kuambil resiko mengejar rumah sakit swasta berjarak tempuh 20 menit dari rumah. Kuambilkan kamar VIP untuk Bapak. Kuharap perawatan medis swasta lebih optimal dibandingkan pemerintah. Walau aku tahu bisa jadi seminggu atau kurang kehendak Tuhan terjadi tanpa ada yang mampu menghalangi. Tetapi aku ingin memperbaiki kesalahan. Mana tahu dengan usaha yang lebih baik akan menghasilkan buah yang lebih manis. Aku sangat berharap Tuhan akan berbaik hati.

"Aya,..."
Aku tertidur di sofa ruangan Bapak. Kutak menyadari kedatangan kakak. Keponakanku tampak bercengkrama di luar ruangan. Mungkin kakak yang melarang masuk. Kulihat cuma kakak yang masuk ke ruangan.
"Bagaimana Bapak?"
"Gula darahnya naik, kak. Bapak jatuh pingsan di kebun. Tadi Anjang yang mengantarkan ke rumah."
Kakak duduk di sampingku. Matanya tertumbuk pada tubuh Bapak yang terbaring dipasangi infus. Matanya tertutup rapat. Nyenyak Bapak tertidur.
"Bapak mungkin ingat Bunda terus," kakak memberikan analisa.
Aku mengangguk, "Mungkin, kak."
"Semakin ke sini penyakit bapak semakin parah. Apalagi sepeninggalan Bunda. Selama ini kan Bapak ndak pernah sampai jatuh pingsan."
"Mungkin Aya yang salah, kak. Kurang mengontrol pola makan Bapak."
"Kalau makan diatur dengan baik tapi pikiran ndak ditenangkan ya sama saja. Tentu bisa pengaruh sama gula darah Bapak. Penyakit badan itu selalu datang dari pikiran. Kalau pikiran baik pasti badan jadi lebih kuat. Penyakit jadi ndak gampang bertamu kan?"
Aku mengangguk lagi. Analisa kakak ada benarnya. Bapak bisa jadi terlalu memikirkan Bunda. Tetapi apakah rasa rindu seseorang bisa dibendung?
"Kita suruh Bapak menikah lagi. Gimana menurutmu, Ya?" pertanyaan yang meluncur dari mulut kakak cukup menyentakku.
"Kakak punya calon."
Aku diam. Tak terpikirkan ide yang dilontarkan kakak. Menghadirkan ibu tiri di rumah?
"Sebaiknya kita tanyakan kepada Bapak. Kalau Aya sih terserah Bapak."
Kakak mengangguk, "Kakak ndak mau Bapak terus sakit-sakitan gara-gara memikirkan pasangan hidup."
"Ya, kalau jalan itu memang jalan terbaik. Aya setuju."
Tetapi entah mengapa. Sisi hati paling tersembunyi milikku berontak.
Kupandangi Bapak yang tertidur semakin pulas. Wajah tua yang setahuku dulu tak banyak cerita. Sudah 10 bulan 3 minggu 5 hari belakangan ini terus berkelakar dan mencurahkan hatinya denganku. Sosok yang membagikan seluruh ilmunya tentang hidup. Beliau memaknai, hidup memegang berbagai macam cermin di tangannya. Sehingga hidup tidak bisa diterjemahkan hanya dengan mata telanjang dan hati pada lapisan terdangkal. Memaknai hidup berarti kita memaknai manusia. Karena manusia lah yang menyebabkan hidup menggunakan banyak cermin pada tangan-tangannya.

Aku masih terus merenungi ujaran Bapak malam itu tentang hidup. Bergantian dengan ide kakak tentang calon ibu tiri. Dan jawaban yang akan dipilih Bapak setelah kakak melontarkan idenya tersebut.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (8)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)
 

2 comments:

Eka Mega Cynthia said...

kak, karya ini penulisnya kak Mardiana ya? bagus banget, saya tunggu kelanjutannya ya :)

penasaran banget :D

Mardiana Kappara said...

Ma kasih sanjungannya. Jadi ge-er ni hehehe... Baru belajar buat novel kok, Ka. Doakan ya ceritanya bisa diselesaikan dengan baik.
Kakak doakan juga agar Eka betah terus untuk menunggu kelanjutannya. :D

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger