Thursday, January 3, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)

Tanpa terasa aku telah genap melalui enam bulan masa percobaan kerja di kantor. Tiga bulan lalu kami pun telah menempati kantor baru yang terpisah dari dealer. Dan hari ini ada kunjungan dari kantor pusat. Kepala Cabang (Kacab) didampingi Marketing Officer baru. Yulianto.

Hebat!
Itu seruan pertamaku untuk lelaki yang dulu pernah mengisi hati ini sebentar. Kuingat betul hubungan kami yang cuma genap 6 bulan. Tapi luar biasanya mampu menghipnotisku cukup lama. Bisa jadi karena itu lah percintaan pertama yang pernah aku jalin. Dia menjabat sebagai marketing hanya dalam waktu 6 bulan kerja. Prestasinya yang luar biasa sebagai surveyor telah menggenjot nilai penjualan. Selain itu gaya yang supel membuatnya mudah dekat dengan jajaran atasan. Kacab meliriknya sebagai bibit karyawan yang bermutu. Dia langsung ditawari tes kenaikan pangkat. Dan lulus.

"Mazaya, masih ingat denganku?" tanyanya tetap ramah sambil menjabat tanganku setibanya di ruanganku.
"Ah, masa lupa."
"Ah, tapi telpon dan sms-ku ndak pernah diladeni."
Aku tertawa kecil, "Maaf, nomor yang saya berikan dulu itu hilang beserta hapenya. Dicuri orang." alasanku sungguh bohong. Hapeku tidak hilang. Tapi kujual baru sebulan lalu setelah melihat iklan hape diskon di koran, yang kebetulan tipenya sudah lama kuincar. Sementara soal nomor hape, setelah dikirim ke pos Berlian ini, langsung kuganti dengan nomor baru. Aku benar-benar telah memasang proteksi terhadap lelaki satu ini. Karena aku sangat menyukai setiap kata dan syair yang dikirimnya lewat sms dahulu. Hatiku selalu dibuatnya berbunga-bunga dan melambung. Aku terlalu melankolis. Suka segala macam jenis sastra. Wajar aku jadi blingsatan dikirimi berbagai macam bunga puisi. Mungkin dia tidak tahu kelemahanku tetapi dia telak membuatku jatuh hati hanya dengan gombalan murahan.

"Berapa nomor baru yang sekarang?"

Pertanyaan itu bodohnya tidak terpikirkan sebelumnya. Tetapi kuberikan saja. Karena seingatku saat ini sebelum kumenjelajah mesin waktu, dia sudah dekat dengan seorang karyawan lain di kantor pusat. Padahal kami baru putus beberapa hari. Kuingat namanya Karina. Menurutku tidak cukup cantik. Cuma perempuan itu punya lekuk tubuh yang terlalu bagus untuk disia-siakan laki-laki. Aku tahu betul Yulianto tipe lelaki pemuja perempuan. Tidak ada perempuan yang tidak punya sisi menarik menurutnya.

"Jangan dicuekin lagi ya." kerlingnya menggodaku.
Aku menunduk. Mukaku terasa bersemu saga. Lemah betul aku, sebuah kerlingan mampu membuat dadaku bergetar hebat.

"Apa kabar Karina?" aku langsung saja melempar api.
"Karina?' dia mengerutkan kening.
Seingatku dia kasir yang diletakkan perusahaan di dealer SYS di kota.
"Karina kasir SYS,"
"Oo, temannya Dilly?"
Aku mengangguk. Aku akrab dengan Dilly waktu pelatihan di kantor pusat. Dia kasir di dealer SYS waktu itu. Tetapi kemaren dia naik pangkat masuk tim marketing. Tentunya satu tim dengan Yulianto.
"Kamu kenal Dilly?"
"Cukup kenal. Kami sering bertukar cerita di telpon kantor."
"Oo." Dia hanya mengangguk kecil.
Dulu kabar yang kudengar, selain Karina dan diriku, dia juga mencoba mendekati Dilly. Dilly perempuan yang ramah dan baik. Dia mudah akrab dengan siapapun. Lama tak punya pacar. Dan menurut gosip dia juga sempat punya hati dengan Yulianto. Kata temanku, kalau waktu itu tidak jadian denganku. Bisa jadi Dilly yang jadi pacar Yulianto. Hanya berselang satu minggu setelah menyatakan cinta padaku. Dia mengumbar cinta lain pada Dilly. Tapi entah mendapat kabar dari mana. Dilly mengetahui bahwa Yulianto sudah berpacaran denganku. Dia pun menolak cinta Yulianto dengan halus. Entahlah dengan kondisi sekarang. Apakah mungkin dia sudah menjalin hubungan serius dengan Dilly tetapi juga berusaha mendekati Karina?

"Dekat dengan Dilly?" tanyaku balik.
"Tidak terlalu." jawabnya menurutku bohong.
"Tapi bukannya satu tim marketing?"
"Oh iya, kalau satu tim memang iya. Tapi kan kami berenam. Tentunya kami cukup akrab di kantor karena pekerjaan yang seabreg. Kalau tidak saling bahu-membahu siapa lagi yang kami bisa mintai tolong?"
Aku tersenyum.
"Sering main dengan Dilly?"
Aku menggeleng, "Tidak pernah. Kami hanya akrab di telpon."
Dia mengangguk lagi.

Tidak lama Kacab memanggilnya untuk makan siang bersama Kepala Pos (Kapos) kami, Pak Taufik.
"Ikut ndak, Ya?" tawar Yulianto membuat Pak Taufik tersenyum.
"Ayo ikut saja, Ya." tambah Pak Taufik.
"Maaf, bukannya ndak mau. Saya sedang puasa." kujawab sekenanya. Kebetulan hari Senin. Alasan berpuasa merupakan penolakan yang lebih halus.
"Oo, gitu." Yulianto tampak kecewa dengan penolakanku.
"Tapi lain kali pasti mau kan?" Pak Kacab ikut menggoda.
Aku tersenyum mengangguk.

Para petinggi itu melenggang santai keluar kantor. Aura menegangkan yang mereka hadirkan otomatis sirna bersamaan lenyapnya sosok mereka di ruangan kami. Seno menyembulkan kepala di pintu ruanganku.
"Seeeh, ditraktir atasan kok nolak. Sok sombong! Memang puasa? Puasa apa?"
Aku memonyongkan bibir.
"Yulianto ngesir ma kamu, Ya."
"Ah, tahu dari mana?"
"Aku kan lelaki."
"Kalau kamu lelaki memangnya kenapa?"
"Ya aku tahu matanya."
"Memang kenapa matanya?"
"Sprangkling gitu!"
"Sparkling kali!"
"Ya. Gitu."
"Sok Inggris!"
"Tapi keren loh punya pacar Marketing Officer. Pasti gede gajinya."
"Gajiku sudah gede."
"Sombong. Cuma kasir kok belagu."
Aku mendelik.
"Kalau aku cewek, aku pasti mau jadi pacar Yulianto."
"Ya, pacaran aja sana!"
Dia cemberut, "Salahnya aku cowok! Kamu tuh aneh, Aya! Cantik begini kok ndak punya pacar. Kamu normal atau abnormal sih?"
"Hus! Fitnah itu!"
"Lah kayaknya ndak doyan laki!"
"Kok repot sih!"
"Waduh, jangan suka dengan cewek juga deh, Ya. Saingan dengan cowok aja sudah bikin mumet apalagi ditambah saingan macam kamu."
Aku menghentikan menyusun lembaran uang yang tadi kukerjakan. Kupandangi dia.
Seno malah jadi bingung, "Kenapa, Ya?"
"Kalau susah cari pacar jangan salahin aku dong. Usaha tuh kurang!"
Seno genit melirikku, "Tapi mau ndak nolongin aku?"
"Apa?"
"Jadi pacarku?"
"Celaka Duabelas!"
"Aya?"
Aku menggeleng.
"Mau ya?"
"Amit-amit!"
"Ya? Please..."
"Ndak!"
"Cius nih!"
"Apalagi serius!"
"Berarti main-main boleh?"
"Seno! Keluarrrr.."
Dia ngacir sambil ngakak.
Seno memang suka menggoda. Dia teman yang baik. Selalu bercanda. Tampaknya hidup bagi Seno tak pernah serius. Dia menjalani hidup seperti air. Padahal kudengar cerita dari teman lain sekantor, papanya seorang pemabuk dan penjudi yang suka menyiksa isteri. Dua adik perempuannya sekolah. Tidak sedikitpun Papanya mencarikan nafkah untuk mereka. Sepenuhnya Seno yang menanggung. Mamanya berusaha membantu dengan menjual gado-gado di pasar. Walau laris hasilnya tidak bisa dinikmati. Papanya selalu datang menagih. Cuma dengan Seno Papanya tak berani macam-macam. Seno keras pada Papanya. Dia pernah membuat Papanya babak belur karena berani memukul mamanya. Papanya kabur dari rumah. Pikir Seno baguslah kalau lelaki tua itu tidak lagi pulang ke rumah. Tetapi anehnya sang mama malah menangis menyuruh Seno mencari si suami. Terkadang, cinta memang tidak bisa dipahami. Seperti rasa cinta yang terus dipupuk mama Seno terhadap suaminya.

Aku jadi berpikir. Seperti apa sosok lelaki yang benar-benar kuinginkan mendampingiku?
Bukankah suami adalah cermin isteri begitu pula sebaliknya.
Kalau kuharap seorang yang sempurna berarti aku sudah menilai diriku telah cukup sempurna. Tidak kah jadi tidak adil kepada pasanganku yang sempurna kalau harus menerimaku yang tidak sungguh-sungguh sempurna?

Aku menghela nafas.
Entah apa yang sebenarnya kucari di dunia?
Gerutuku pada diri.


Keterangan:
Ngesir : Naksir

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya: Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (7)
Cerita Sebelumnya: Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)  
 

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger