Wednesday, January 2, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)

Lantunan Yasin menyambut kedatanganku dari berlian. Seno dan Rahmat yang mengantarkan dengan Pick-Up kantor. Kudapati tubuh Bunda telah terbujur kaku di tengah ruang tamu kami. Bapak khusyuk membaca Yasin, hanya kakak yang menyadari kedatanganku. Alif tampaknya sudah datang dari Jakarta. Mungkin Anisa masih dalam perjalanan dari Yogya, sebab belum kudapati sosok adik bungsuku itu.

"Aya!" kakak langsung menubrukku dengan pelukan. Tangisnya pecah membasahi blazer kerjaku. Kuelus-elus punggung kakak yang terguguh.
Kakak iparku juga belum datang dari dinas luar di Bogor. Penjelasan kakak, suaminya akan tiba kurang lebih satu jam lagi.

Kejadian malam itu begitu slow motion dan terasa tak banyak suara. Cerita Bapak, Bunda menghembuskan nafas terakhir setelah Bapak habis sholat magrib. Tidak banyak keriuhan. Bunda meninggal begitu tenang dan syahdu. Bapak sudah mengikhlaskan kepergian Bunda. Walaupun aku tahu Bapak pasti merasa sangat kehilangan. Bunda adalah perempuan yang judes, mengatur segala hal dengan mulut, tetapi hatinya sangat baik, beliau lah yang memperjuangkan Bapak di mata keluarga besar Bunda yang meremehkan Bapak di awal pernikahan hingga akhirnya Bapak mampu membangun usaha perkebunannya hingga menjadi sebesar sekarang. Bapak besar di keluarga petani, bermodalkan ilmu sampai kelas 3 SR, Bapak merintis perkebunan sawitnya sedikit demi sedikit. 

Bapak bermaksud mewariskan bisnis perkebunannya tersebut kepada Alif. Anak lelaki satu-satunya yang dimiliki Bapak. Tetapi Alif menolak untuk menjadi penerus Bapak. Pertengahan tahun depan, dia akan lulus dan menyandar gelar S.Pd, Jurusan Pendidikan Sendratasik Konsentrasi Pendidikan Seni Musik. Sudah menjadi asisten dosen dan diiming-imingi beasiswa ke luar negeri. Alif tidak punya keinginan sedikit pun untuk menetap di Jambe. 

Aku merasa sikap Bapak yang membicarakan soal warisan dan penerus usaha setelah meninggalnya Bunda merupakan suatu pertanda bahwa bisa jadi Bapak pun akan menyusul Bunda. Tetapi dugaan itu masih kutepis. Bisa jadi Tuhan berkehendak lain, karena toh kini beberapa kejadian menjadi berbeda.

Sepeninggalnya Bunda. Suasana rumah jelas jadi tidak sama. Cuma Bapak dan aku. 
 Untuk membunuh sepi. Bapak memanggil nenek dari kampung untuk tinggal bersama kami. Toh, kakek juga sudah setahun meninggal. Semakin tua, nenek tentu tidak bisa mengurus diri sendiri. Ditambah kehadiran nenek, Bapak tampak sangat berharap rumah kembali hangat seperti ketika Bunda masih ada. Tetapi, nenek juga sama pendiamnya denganku. Tidak terlalu banyak bicara. Lebih suka beribadah di kamar seharian. 

Kuambil alih semua pekerjaan Bunda. Mengatur keuangan hingga mengurusi pekerjaan rumah tangga.
"Cari saja pembantu." Saran Bapak memahami kewalahanku. 
Memang sulit menyamai ketangguhan Bunda. Sebagai ibu rumah tangga. Beliau sendiri yang membesarkan keempat anaknya sekaligus mengurusi pekerjaan mencuci, memasak, bersih-bersih, serta manajemen keuangan keluarga.
"Kamu kan bekerja, tidak sama dengan Bunda yang cuma di rumah." Bapak berusaha membela.
"Tapi susah percaya sama pembantu, Pak."
"Dicari dan dicoba saja dulu. Urusan curiga belakangan."

Mengikuti saran Bapak ternyata tidak ada salahnya. Tiga minggu mencari pembantu akhirnya aku diperkenalkan dengan Yuk Way. Nama lengkapnya Waynarsih. Perempuan melayu yang ringan tangan dan murah senyum. Orangnya begitu ramah. Ceritanya selalu berlanjut panjang dengan siapapun. Selain itu dia cerdas. Tidak perlu banyak penjelasan soal pekerjaan rumah tangga. Semua diatasinya dengan cepat dan tuntas.Sementara aku tetap sibuk bekerja di Berlian. Yuk Way membereskan pekerjaan di rumah Jambe.

Tidak seperti waktu sebelumnya. Aku tidak menetap di Berlian. Tetapi berulang hari dari Jambe ke Berlian. Memang terasa lelah. Tetapi tidak jadi masalah. Bapak menyarankan aku untuk belajar menyetir mobil. Sehingga tidak perlu cemas menunggu angkutan umum lagi. Waktu itu kutolak saran Bapak.
"Kenapa tidak? Tidak ada salahnya perempuan pintar bawa kendaraan sendiri!" berang Bapak mendengar penolakanku.

Selidik punya selidik. Ternyata Bapak telah membelikan sebuah Honda Jazz untukku.
Akhirnya, mau tidak mau aku harus belajar menyetir mobil. Tidak sampai satu bulan aku sudah bisa membawa kendaraan roda empat sendiri dari Jambe ke Berlian.

Suatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Dulu aku cuma bisa bawa roda dua. Setiap ditawari Bang Azzam belajar menyetir mobil aku selalu menolak.
"Cukup roda dua saja!"
Selalu itu alasanku untuk menampik tawarannya. Bapak tidak pernah menyuruhku belajar menyetir mobil. Setelah Bunda tiada. Bapak kurasakan lebih dekat dan banyak bercerita. Cerita yang banyak kudengar dari mulut beliau adalah tentang betapa hebatnya Bunda.
"Besok pilihlah lelaki yang tekun dan bertanggung jawab, Ya. Tidak harus dia dari keluarga kaya dan berpenghasilan besar, tetapi selama dia punya kemauan untuk berusaha, maka dia adalah lelaki yang patut diajak berumah tangga."
"Ah, masa nikah sama cowok miskin sih, Pak!"
"Bunda mau menikahi Bapak bukan karena alasan materi. Bunda menikahi Bapak karena ibadah."
Aku tertawa, "Memang nikah untuk melengkapi ibadah kata Rasul. Kalau itu Aya tau, Pak. Dan tidak ada larangan untuk menikahi lelaki kaya serta keharusan untuk menerima lamaran lelaki miskin..."

"Bunda meyakini Bapak adalah jodohnya setelah melakukan sholat istiqarah. Bunda cerita begitu pada Bapak. Karena waktu itu tidak cuma Bapak yang melamar Bunda. Ada PNS golongan III c sama anak pengusaha karet. Tetapi Bunda memilih Bapak yang cuma pekerja kontrak di sebuah perusahaan kecil. Bagi Bunda mendapatkan Bapak merupakan kesempatannya yang besar untuk beribadah."

Mata Bapak berkaca-kaca, "Bagi Bapak sikap Bunda itu bukan meremehkan Bapak. Tanpa bantuan dan dukungan Bunda tentu Bapak tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Bagi Bunda, cinta adalah keikhlasan. Jika ikhlas memberi maka menerima sesuatu akan selalu terasa istimewa," suara Bapak terdengar tersekat di tenggorokan. Mata beliau jelas memerah.
"Bunda telah mengikat Bapak dengan keikhlasannya mencintai. Bunda tidak pernah tahu begitu besar cinta Bapak yang tertanam untuknya. Sehingga tidak bisa lagi sosok lain mengisi hati Bapak karena sudah penuh dengan sosoknya. Benar Aya. Bagi seorang lelaki, mendapatkan perempuan yang baik itu tidak mudah. Tetapi menjadi perempuan yang baik itu pasti tidak sulit."
Aku menghela nafas. Sekelebatan bayangan Azzam Sima melintas di kepala.
"Pepatah menyatakan surga berada di telapak kaki ibu itu tidak dusta. Perempuan lah makhluk yang paling mudah meraih surga. Cukup menjadi ibu yang baik bagi anak-anak dan istri yang berbakti bagi suami. Tidak akan ditolak oleh surga kehadiranmu, nak."
Aku menunduk.
"Kamu tahu, Aya. Setiap malam Bapak berdoa, kalau Bapak mati dan pantas masuk surga, Bapak sangat berharap bidadari yang disuguhkan Tuhan untuk menemani Bapak adalah Bunda."
Aku tersenyum, "Aya percaya Bapak sangat sayang sama Bunda."

Mata tua di sampingku menerawang jauh ke depan. Mungkin rindunya tak terbendung lagi pada sang isteri. Namun, menjemput kerinduan itu yang akan membuat kami anak-anaknya menjadi sakit. Tidak bisa kah Bapak menahan sedikit lagi rasa rindu itu demi anak-anaknya? Benarkah tahun depan Bapak akan menyusul Bunda? Apakah Bapak tidak berpikir bahwa kami belum cukup siap untuk menjadi yatim piatu?

Kuhitung hari-hari dengan sangat teliti. Aku takut kalau waktuku tidak cukup dihabiskan bersama Bapak. Setahun itu tidak lama. Terutama sekali untuk mempersiapkan diri menjadi sendiri. Tanpa Bunda. Maupun Bapak.

Bersambung

Cerita Selanjutnya: Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)
Cerita Sebelumnya: Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger