Tuesday, January 1, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)

Rencana untuk masuk kantor di hari kedua dibatalkan. Mendadak Bunda jatuh sakit. Beliau tidak sadarkan diri di kamar mandi. Bapak yang menemukan ketika bangun hendak sholat subuh. Tubuh Bunda tergeletak begitu saja di lantai. Entah berapa lama, Bapak juga tidak paham betul. Segera Bunda kami larikan ke rumah sakit. Tidak ada orang di rumah. Cuma aku dan Bapak. Adik semua sedang sekolah di luar kota. Sementara kakak tertua sudah menikah dan punya rumah sendiri.

Aku menelpon Seno untuk mengabarkan minta izin tidak masuk. Sebenarnya aku tidak enak karena baru dua hari kerja sudah bolos masuk kerja. Tetapi mau diapakan. Bapak tidak bisa sendirian mengurusi Bunda. Bapak tidak tamat SR. Makanya dia sangat takut berurusan dengan segala macam administrasi.

Aku termenung menyusuri koridor rumah sakit setelah menyelesaikan segala macam tetek bengek administrasi. Seingatku, sebelum menjelajah mesin waktu. Bunda sangat sehat. Tidak ada kejadian Bunda pingsan dan masuk rumah sakit.

Bunda dirawat di ruang ICU. Beliau koma. Kena serangan jantung kata dokter.

Tiba-tiba sekujur tubuhku langsung menggigil. Ada rasa takut dan cemas yang menyeruak tiba-tiba di dada. Bunda belum pernah koma selama ini. Tidak ada penyakit jantung yang diderita Bunda setahuku.

Dua hari aku bolos kerja.
Hari ketiga kuminta kakak untuk merawat Bunda karena aku tidak mungkin bolos lagi. Kembali kutelusuri perjalanan 45 menit menuju Berlian. Di dalam kendaraan L300 tersebut kurasakan setiap liku-liku jalan raya terasa berbeda dan baru. Aku merasa takut untuk meramalkan masa depan.

Setibanya di dealer. Aku langsung memasuki ruangan Pak Taufik. Seno mengatakan bahwa aku sudah lama ditunggu. Aku memejamkan mata cemas. Berapa lama kah? Dua hari?

Pak Taufik yang sebenarnya sudah menungguku di ruangannya.
"Dua hari tidak masuk tanpa kabar? Bukannya Anda karyawan baru?"
Aku menunduk.
"Saya menelpon Seno, Pak."
"Sudah cukup dengan hanya menelpon? Anda kan tahu, Anda ini masih dalam masa percobaan. Masa percobaan Anda itu 6 bulan. Sekarang baru hitungan 1 hari, Anda sudah berani tidak masuk kantor?"
"Maaf, Pak. Orang tua saya sakit."
"Saya tahu. Tetapi ada baiknya Anda berlaku sedikit bijak. Semisalnya, tidak mengambil izin 2 hari. Tetapi cukup 1 hari karena status Anda yang baru. Kalau seperti ini kesannya Anda jadi tidak profesional."
Aku makin menunduk. Kupikir sesuatu akan menjadi lebih baik dengan menghindari insiden 'air kopi'. Ternyata ada insiden lain di luar dugaanku. Padahal aku hanya ingin menunjukkan kesan pertama yang baik pada Pak Taufik.

Dua puluh menit juga kuhabiskan waktu di ruangan Pak Taufik. Kesanku tetap sama buruknya seperti dulu. Aku menghela nafas panjang. Seharusnya aku menelpon Pak Taufik bukan cuma Seno.

Di ruang front office, Seno menyambutku dengan tatapan memelas.
"Ada apa?" tanyaku.
"Maaf,"
"Untuk?"
"Mengerjaimu kemaren."
"Ndak apa-apa."
"Bagiamana ibumu?"
"Masih di ICU."
"Maaf kalau tidak bisa menutupi ketidakhadiranmu dua hari lewat. Kacab sempat mampir sebelum ke Bango."
"Bukan salahmu, No."
"Makanya Pak Taufik mungkin marah, soalnya dia yang kena marah Kacab di kantor pusat. Katanya beliau dianggap tidak mampu mengkoordinir karyawan."
Aku diam. Mungkin aku terlalu sombong setelah menggunakan mesin waktu. Kupikir, aku akan mampu mencetak skor tertinggi seperti di games setelah mengulang beberapa kali permainan yang sama. Tetapi siapa yang bisa menebak permainan Tuhan?
"Aya?"
Aku menoleh ke arah Seno.
"Pak Taufik tidak sekejam yang kauduga. Dia hanya menjalankan tugas. Biasanya beliau baik dan care dengan bawahan. Tetapi ini karena orang pusat sudah ikut campur, jadi beliau ndak bisa apa-apa. Beliau itu suka melindungi bawahan selama kita juga bertanggung jawab dengan pekerjaan yang diberikan."
Aku tersenyum, "Saya tahu Pak Taufik orang baik. Kalau tidak, tidak mungkin beliau berikan satu lagi kesempatan buat saya." 
Seno membalas tersenyum.

Hari ini kuselesaikan pekerjaanku hingga pukul 7 malam. Aku benar-benar ingin menunjukkan kepada atasan baruku soal makna profesional dan komitmen. Kukesampingkan dulu masalah Bunda. Tidak terpikirkan hingga kemudian kakak menelpon dan memberikan kabar yang sama sekali tidak pernah kuduga.
"Kapan pulang, Ya?" terbata-bata kakak menelponku. Tangisnya tak terbendung.
"Ada apa, Kak?' rasa cemas kembali menyerubungku seperti kemaren.
"Bisa pulang sekarang, dek?"
"Ada apa, Kak?"
"Bunda, dek... Sudah ndak bersama kita lagi."
Rasanya hatiku langsung dikerubung semut. Gigitannya mengernyitkan rasa sakit yang sulit kukatakan. Akibat gigitan itu seketika tercipta ruang kosong dalam hatiku. Ruang hampa yang harus kutambal dengan apa? Karena terlalu tiba-tiba dan tak pernah kuduga.
"Dek?"
"Iya, kak?"
"Kapan pulang?"
"Secepatnya."
Jawabanku terasa begitu tenang. Padahal kejadian ini tidak terjadi di kehidupan sebelumnya. Bukan Bunda yang tiada tetapi Bapak. Dan kejadian itu baru terjadi setahun kemudian.
Aku menitikkan airmata. Rasa kehilangan yang sangat mengurungku dengan hebat. Curigaku muncul pada Tuhan. Aku merasa takut akan kehilangan keduanya. Dua manusia yang telah membesarkanku dengan cinta. Apabila Tuhan memang berlaku demikian, apakah hal ini cukup adil untukku?

Tiba-tiba semua terasa begitu putih dan menyilaukan. Aku kehilangan alam sadar. Tubuhku terasa ambruk dari kursi. Sekilas hanya kudengar seruan Seno dan kedua tangannya yang sigap menangkap tubuhku.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)


0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger