Thursday, January 31, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (25)



Semua baju kerja hari ini terasa tidak satu pun yang pantas kupakai. Tidak ada yang membuatku terasa tampak lebih wah atau menarik. Semua biasa-biasa saja. Padahal sesuai perintah atasan. Hari ini aku akan menemani calon isterinya untuk berbelanja keperluan pernikahan mereka. Kalau aku tidak berdandan yang istimewa, tentu keberadaanku akan tampak sangat tidak mampu mengimbangi. Dia rivalku. Walaupun cuma dalam angan-angan yang kuciptakan sendiri. Aku tahu diriku sudah kalah sebelum bertarung. Tetapi, sungguh! Aku tidak ingin terlihat kalah telak. Aku ingin tampak mampu memberikan balasan yang sepantasnya.
Akhirnya kupilih blazer merah marun, pemberian Yulianto ketika aku pertama kali menjabat sebagai HRD. Warna itu membuat kulitku menjadi terlihat lebih cerah. Kupakai parfum terbaik. Aku tidak ingin kalah wangi dengan perempuan itu.
Aku mengendarai mobilku dengan santai ke kantor.  Tidak perlu terburu-buru rasanya. Sehingga aku bisa menikmati lamunanku yang berserakan di sepanjang jalan.
Setibanya di kantor, Pak Sima dan calon isteirnya sudah menunggu di ruangan. Pagi sekali, kupikir. Tapi ya, biarlah, toh aku juga sudah siap untuk melakukan tugasku.
Menemui perempuan di ruangan Pak Sima kembali membuat jantungku berdesir. Penampilannya sungguh tak mampu kuimbangi. Dia sesuai namanya. Sungguh jelita. Padahal tubuhnya cuma dibalut baju batik dan celana kulot. Rambut kemilau itu dikibas dengan ringan menyambut kemunculanku di pintu. Dia tidak lupa memamerkan senyum manisnya.
“Akhirnya,...”
Aku melirik jam tangan mendengar ujaran yang keluar dari mulut Pak Sima.
“Masih jam 8 pagi, Pak?”
“Saya sudah di sini sejak jam 7 pagi. Jelita mendesak saya untuk cepat-cepat ke kantor.”
Aku tersenyum miring.
“Memang mau berangkat ke mana pagi-pagi sekali?”
“Mau jalan-jalan, katanya.” Jelas Pak Sima lagi.
“Di kota ini ndak punya sesuatu yang istimewa. Tidak seperti di Yogya. Di sini cuma banyak deretan ruko dan rumah burung walet.” Aku jelaskan sekenanya.
“Tetapi ini kunjungan pertama saya ke sumatera. Tentu saya tetap ingin melihat-lihat. Rugi rasanya, kalau pernah berkunjung tetapi ndak punya memori.” Dia kembali tersenyum. Selalu tampak manis.
Aku menelan ludah.
“Ya, sudah. Enak juga kalau mau jalan pagi-pagi.”
“Iya, tentu!” Semangat sekali dia berdiri dari duduknya.
“Pak Sima ikut?” aku bertanya.
Untungnya lelaki itu menggeleng. “Kalian saja. Saya tidak paham bahasa perempuan.”
Aku tersenyum. Bersama Jelita, kutinggalkan kantor. Di dalam Honda Jazz pemberian almarhum Bapak, kududukkan perempuan yang akan merebut suamiku.
Senyum palsuku tak pernah lepas setiap mata kami bertemu. Padahal sungguh aku ingin menimpuk perempuan itu dan memakinya habis-habisan.
“Mazaya orang Jambe asli?” dia memamerkan lagi suara merdunya.
Aku mengangguk.
“Mas Sima banyak cerita soal Aya.”
Aku menoleh pada perempuan itu.
“Katanya kamu perempuan yang hebat dan mandiri. Cerdas. Bisa diandalkan.”
Hatiku tentu dibuat berbunga-bunga.
“Kenapa belum menikah?”
Pertanyaan yang menurutku sungguh tidak berhubungan dengan kata-kata pujian sebelumnya.
“Mungkin, belum ketemu saja jodohnya.”
“Sudah punya pacar?”
Aku teringat Yulianto. Tetapi kugelengkan saja kepala.
“Oh,’ cuma itu yang keluar dari mulut Jelita.
“Sudah lama kenal Pak Sima?” kini aku yang melontarkan pertanyaan.
“Sejak kuliah.”
“Lama juga.”
“Lumayan. Sudah lima tahun.”
“Jadi kalau nanti sudah menikah bakal ikut Pak Sima?”
Dia diam sesaat, “Belum tahu.”
Aku kehabisan lagi bahan bicara.
“Saya sangat mencintai Mas Sima. Saya ingin menikah dengannya dan menghabiskan seluruh hidup saya untuk melayaninya. Bagi saya, Mas Sima adalah lelaki yang sangat baik. Saya takut nggak akan mampu menemukan lelaki sebaik dia kalau hubungan kami ini tidak berhasil.”
Aku kembali menatap perempuan itu. Mata beningnya jelas berkaca-kaca.
Mungkin kah cintanya lebih besar dari cintaku pada Bang Azzam?
“Ada masalah di dalam hubungan kalian?”
Dia menatapku, lalu menggeleng.
“Tidak. Sama sekali tidak.”
Aku jadi bingung.
“Mungkin banyak orang yang mengharapkan hubungan kami berakhir. Tetapi yang perlu kamu tahu, Aya, seperti apapun usaha orang itu menggagalkan hubungan ini, cinta kami pasti tidak akan terpisahkan. Jadi, percuma saja kalau ada perempuan yang merasa mampu merebut Mas Sima dariku, karena dia tidak akan mendapatkan apa-apa.”
Aku menjadi semakin bingung dengan arah bicara perempuan cantik di sampingku.
“Memang sekarang ada yang berusaha merebut Pak Sima dari Mbak?”
Perempuan itu cuma diam.
Aku jadi ikut diam.
Kali ini, detik diam itu berputar lebih panjang dan lama. Tidak ada pembahasan baru. Perempuan itu cuma memandang ke luar mobil.
Aku terus saja menyetir tanpa tahu tujuan hendak berhenti.
***
Cuma beberapa souvenir kecil yang kami beli. Itu bukan untuk souvenir pernikahan, tetapi oleh-oleh yang akan dibawanya pulang ke kampung halaman. Perempuan itu besok akan kembali ke Yogyakarta.
Aku tidak lagi mengantarnya ke kantor. Tetapi ke rumah lama kami yang kini menjadi istana Azzam Sima.
Aku miris menatap rumah lama kami. Apalagi nanti, bukan aku yang menempatinya bersama anak-anakku. Tetapi perempuan lain dan anak-anak lain. Aku menelan ludah.
Wajah anak-anakku semakin jauh terasa.
Makin kabur dan tak tersentuh.
Ingin rasanya kubenamkan diriku ke dasar bumi paling dalam karena menjadi ibu yang rela mengorbankan anak-anak hanya demi kebahagiaan sendiri. Begitu egois. Begitu tak punya cinta.
Tak sengaja airmataku menetes. Untung Jelita sudah memasuki rumahnya. Aku bergegas ke mobilku dan melaju sangat kencang.
Tidak ada lagi tawa anak-anak.
Semua hilang.
Senyap. Hening. Dan sepi. Mengetuk-ngetuk pintu hatiku yang terkunci. Menimbulkan gema yang menggaung.
Gaung yang seolah tak punya tepi untuk berhenti bersahut.
Begitu adil hukuman Tuhan!
Terlalu adil. Sehingga membuatku tak mampu menyalahkan siapa-siapa kecuali kebodohanku sendiri.

(Bersambung)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger