Thursday, January 24, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (24)



Menjelang jam pulang. Suasana kantor tiba-tiba berubah jadi ramai. Keriuhan berasal dari ruang front office. Mbak Nelly saling jambak rambut dengan Karina. Aku tidak paham siapa yang memulai. Suara sorak-sorai yang mengundangku untuk keluar dari ruang HRD. Dua kasir dalam ruang front office tampak bingung hendak melerai siapa. Pergulatan itu begitu seru dan tampak seimbang. Mbak Nelly mendorong Karina hingga membentur mesin hitung. Gantian Karina merampas tumpukan kwitansi lalu menimpuk Mbak Nelly.
Para lelaki yang menonton di luar ruang front office malah seperti menonton adegan tinju atau smack down. Mereka menyemangati jagoan masing-masing. Suara siulan melengking susul-menyusul disambung sorak-sorai.
Aku bergegas masuk ke arena pergulatan. Berusaha melerai mereka. Mukaku sempat jadi salah sasaran dicakar salah satu petarung yang beringas.
“Mbak Nelly! Karina!”
Teriakanku tidak digubris.
Para lelaki makin seru tertawa dan berteriak. Aku panggil satpam untuk mengatasi amukan para banteng betina tersebut. Akhirnya, situasi bisa dikendalikan.
Segera kuperintah satpam mengiring keduanya ke ruanganku.
Di dalam ruangan tak kubiarkan cengkraman satpam dilepas dari tangan mereka. Aku tidak mau mereka bergumul lagi seperti tadi.
“Memalukan sekali kejadian barusan! Untung tidak ada konsumen lagi! Bagaimana tanggapan mereka melihat dua gadis cantik bertarung seperti ayam?”
Keduanya masih saling tatap dengan sinis.
“Kalian bertingkah seperti orang yang ndak punya pendidikan. Apa tidak bisa masalah kalian diselesaikan dengan cara yang sedikit elegan, tidak murahan seperti tadi?”
Tidak ada yang menjawab.
“Kalian menjatuhkan citra perusahaan.”
“Aku ndak tahan dengan omongan Mbak Nelly yang kelewatan. Bukan urusan dia, tapi mulutnya sampai kemana-mana!” Karina  yang menyeletuk duluan.
“Kamu hamil di luar nikah. Itu kan aib! Kamu tidak pantas lagi bekerja di kantor ini. Nanti orang pikir kita menyediakan perempuan yang tidak-tidak!”
“Mau hamil di luar nikah atau ndak. Tetap itu bukan urusan kau! Kenapa mulutmu seenaknya saja berbunyi dan menghakimi orang? Toh, kau juga bukan orang suci. Jauh malah!”
“Sembarangan!” tangan Mbak Nelly berusaha menggapai kepala Karina. Mungkin berniat menjambak lagi. Untung Mas Edy sigap. Satpam itu langsung menahan gerak Mbak Nelly.
“Aku tidak pernah mengganggu dia, Mbak Aya. Walaupun aku tak suka dengannya. Aku tetap menghargai dia sebagai atasan. Tapi lihat, apa pantas atasan berlaku macam dia!” telunjuk Karina langsung menuding hidung Mbak Nelly.
Mbak Nelly makin beringas hendak membalas.
“Sudah! Cukup!” aku menengahi.
“Saya setuju dengan Karina, Mbak Nelly. Tidak pantas rasanya kita menghakimi seseorang atas perbuatan pribadi yang dilakukannya. Itu masalah dia. Tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Lebih baik diam kalau tidak bisa membantu.”
Karina tampak senang dibela.
“Tapi Karina, saya juga tidak setuju dengan sikapmu barusan. Menyerang orang secara brutal begitu. Sama sekali tidak punya etika!”
Mbak Nelly yang kini merasa menang.
“Saya akan membicarakan hal ini dengan Kacab. Biar beliau yang memberi kalian sanksi.”
Mbak Nelly dan Karina memilih diam.
“Saya minta kalian berjabat tangan. Cukup sampai di sini masalah tadi. Tidak perlu diperpanjang lagi.”
Mereka masih di posisinya masing-masing.
“Ayo Karina! Mbak Nelly!”
Mereka saling mendekat sambil membuang muka. Tangan mereka ulurkan dengan tidak rela. Hanya ujung jari yang saling menyentuh sebentar.
“Bilang, minta maaf.”
“Maaf!” Karina yang berujar pertama.
“Maaf juga.” Mbak Nelly membalas.
“Saya tidak mau dengar lagi ada pertikaian macam tadi. Kalau sampai ada lagi, saya tidak ragu untuk memberikan kalian SP!”
Keduanya kuminta keluar ruangan. Untung saja Kacab sedang tidak ada. Bisa-bisa dia akan marah besar melihat kejadian tadi. Aku juga tidak mendapati Yulianto sejak pagi tadi. Sosok lelaki itu hilang begitu saja. Handphonenya sempat kuhubungi, tetapi sedang tidak aktif. Aku masih belum tahu bagaimana kelanjutan masalahnya dengan Karina? Masalah ini tampaknya harus cepat dibereskan. Kalau tidak, akan merembet ke mana-mana. Ditambah dengan banyak mulut yang suka membuat kabar burung tidak sedap. Tentu hal ini akan mengganggu suasana kerja.
***

Yulianto bertandang ke rumah malam harinya. Yuk Way yang membuka pintu. Melihat sosok lelaki yang bertandang, perempuan melayu itu langsung tersipu-sipu malu. Tentu maksudnya menggoda.
“Guanteng!”
Jempolnya langsung diangkat ketika memanggilku di dalam.
Aku mencibir, “Setiap lelaki yang Ayuk lihat pasti dibilang ganteng. Dasar genit!”
Dia terkikik.
“Cocok buat Kak Aya.”
“Iya, cocok.”
“Pacar Kak Aya, bukan?”
“Bukan.”
“Calon pacar?”
“Bukan.”
“Terus?”
“Ih, banyak tanya!”
Dia mencibir. Mulutnya komat-kamit. Menggerutu.
“Jangan lupa buat minuman.”
“Yang manis apa yang asin?”
Aku mengerutkan kening.
“Makanya saya tadi nanya. Kalau buat pacar tentu airnya manis. Kalau buat tukang tagih bisa pakai yang asin.”
Aku terkekeh.
“Kalau ndak bisa jawab, berarti yang manis, ya Kak?”
Aku menggeleng, “Terserah, Ayuk saja lah.”
Dia gantian yang terkekeh.
Kutemui Yulianto di ruang tamu.
“Kok lama? Kirain tadi dandan habis-habisan. Pas juga kalau makan malam di luar. Eh, ternyata nongol pake daster. Kayak emak-emak tahu!”
Aku mendudukkan tubuh di sofa.
“Biar. Eh, kenapa ndak masuk kantor tadi?”
“Ada urusan keluarga.”
“Basi.”
“Serius. Ibuku masuk rumah sakit.”
“Oh. Gimana kabarnya?”
“Masih dirawat. Tapi kondisinya sudah membaik.”
“Syukurlah.”
Yuk Way datang dengan nampan berisi air minum. Diletakkannya di atas meja sambil tanpa henti menebar senyum.
Aku berusaha tak menghiraukan. Merasa tak digubris, dia masuk lagi ke dalam.
“Masalahku dengan Karina selesai.”
“Oh ya?”
“Aku ajak dia tes DNA. Ternyata langsung ditolaknya. Dia mengaku sendiri. Memang bukan aku bapak dari janin dalam perutnya. Itu benih mantan pacarnya sendiri. Dia mungkin mengira aku bisa dijebak. Dia buat alasan berbohong karena mencintai aku. Dan sungguh ingin menikah denganku. Aku jadi pengen muntah mendengar gombalan murahan itu. Kalau dia cinta denganku masa dia masih mau berhubungan dengan mantan pacarnya?”
“Lah kalau dia tahu itu ulah mantannya. Kenapa dia ndak minta tanggung jawab ke si pelaku?”
“Aku sempat tanyakan. Jawabannya lebih ndak masuk akal. Mantan pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Jadi, dia pikir aku lelaki yang baik pasti mau bertanggung jawab. Sarap tuh anak! Bagaimana dia bisa kepikiran orang lain yang tidak melakukan mau menyelesaikan masalah kalau yang berbuat saja tidak kepikiran untuk menuntaskan masalahnya?”
“Tetapi kata anak-ank di kantor. Kamu dan dia pacaran?”
“Ah, siapa bilang?”
“Jujur aja!”
“Sumpah, Aya! Kami cuma teman. Sama statusnya aku dengan Dilly.”
“Ah, masa teman mesra begitu.”
“Kejadian di lobby waktu itu?”
“Itu yang keliatan mata aja. Ndak tahu kalau yang ndak keliatan.”
“Sumpah! Aku ndak pernah melakukan hal lebih dengan gadis itu. Kami murni berteman.”
“Tapi colak-colek biasa kan?”
Yulianto sedikit tersenyum, “Ya, naluri laki-laki.”
Aku tertawa.
“Tapi, sumpah. Aku cuma berlaku sebatas itu walau aku tahu dia perempuan yang bisa dipakai.”
“Jangan kebanyakan sumpah. Nanti kemakan sumpah.”
Dia menghela nafas.
“Tapi, aku sungguh serius Aya. Aku tidak sedang mencari pacar. Aku mencari seorang isteri. Perempuan yang menyejukkan suasana rumah. Memberi rasa nyaman ketika aku pulang kerja.” Raut wajahnya berubah serius.
“Harapanmu terlalu besar kalau ditujukan untukku.”
“Ndak, Aya. Aku percaya kamu bisa membuat aku dan anak-anakku nyaman. Kamu pasti jadi ibu yang baik.”
Aku langsung teringat anak-anakku. Perkataan Yulianto barusan seperti tamparan keras di pipiku. Membuat wajahku terasa perih. Tanpa sadar aku meraba pipi.
“Menikah lah denganku, Aya.”
“Aku belum siap.”
“Aku tunggu kapan pun kau siap.”
Aku tidak punya lagi jawaban. Mulutku terkunci.
“Dulu memang aku telah menyakitimu, Aya. Tetapi aku bersumpah, akan memperbaiki kesalahan itu.”
Aku menghela nafas sambil memejamkan mata sejenak.
“Menikah, butuh perhitungan yang matang. Bisa jadi saat ini, kau sangat mengharapkan aku. Tetapi, mungkin kah kau akan terus mengharapkan aku setelah kita menikah?”
“Tentu.”
“Mudah memang untuk memulai sebuah pernikahan. Tetapi sulit untuk mempertahankannya. Aku tidak ingin kau menyesal menikahi aku.”
“Aku tidak menyesal, Aya.”
“Kita belum pernah menikah. Jadi, jangan begitu yakin menjawab.”
“Ayo lah, Aya.” Yulianto beringsut dari duduknya di sofa. Bertekuk lutut kini lelaki itu di mukaku. “Aku berjuang untuk hidup dengan menyebrangi ruang waktu. Dengan harapan di sebuah ruang yang pernah kutinggalkan, aku bisa bertemu kembali jalan hidupku yang sebenarnya. Aku terus bermimpi wajah perempuan yang sama. Senyum yang sama. Dan ketulusan yang sama. Wajah itu yang terus menguatkan aku ketika sakit. Memompa harapan ketika tidak punya lagi asa untuk hidup. Wajah itu bernama, Mazaya.”
Aku terpaku tanpa mampu berucap.
“Jangan bunuh harapanku, Aya. Karena itu berarti membunuh diriku. Masuklah dalam baitullah yang kubangun. Karena kau yang menghidupkan cahaya di dalamnya. Mungkin aku tak mampu menciptakn surga untuk hidupmu. Tapi aku berjanji akan menjagamu hingga tarikan nafas terakhirku.”
Aku jadi blingsatan diguyur kata-kata gombal. Tapi, kurasakan itu tidak sepenuhnya gombal. Tatapan mata Yulianto sungguh membuat hatiku bergetar!
“Jadilah isteri dan ibu dari keturunanku. Sentuhlah hamparan permadani yang telah lama kugelar untuk menyambut kedatanganmu.”
Aku bingung hendak berkata.
“Terima lah lamaran ini, Aya. Jadikan lah kebahagiaan lelaki ini buah ibadah untukmu.”
Aku tidak mampu membaca pikiran. Tetapi hatiku menyentuh ketulusan yang disuguhkannya. Dia bukan lagi Yulianto yang sama. Dia sungguh menjadi lelaki yang jauh lebih baik dari yang dia harapkan.
“Mazaya, ...”
Tampak berkaca-kaca mata lelaki di hadapanku.
Aku mengangguk.
“Aku terima lamaranmu.”
Lelaki itu tersenyum sangat lebar. Di sudut matanya, mengalir airmata haru.

(Bersambung)

2 comments:

yuniar said...

assalamu'alaikum wr wb

mbak mardiana, salam kenal.
lagi proses baca novel bersambungnya, tapi mulainya dari belakang *telat tahu blog-nya mbak^_^*

Mardiana Kappara said...

terima kasih sudah mau mampir. salam kenal juga mbak yuniar. semoga mau terus mengikuti cerita fiksi saya. :)

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger