Thursday, January 24, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (23)



Aku tidak lupa janjiku pada Pak Sima. Cuma pura-pura lupa saja. Ketika dia melayangkan tanya di telepon seluler, kujawab seolah-olah aku baru mengingat janji itu barusan.
“Waduh maaf sekali, Pak. Saya lupa.”
Hari ini, Minggu. Yuk Way minta izin pulang ke kampung 2 hari. Mau menjenguk cucunya yang baru lahir. Jadinya, aku menyiapkan makan sendiri. Sebenanrya ingin membeli. Tapi kaki malas betul dilangkahkan keluar rumah.
“Wah, jangan sampai lupa, Aya. Saya sangat minta tolong untuk diuruskan. Atau kamu keberatan untuk mengurusi pernikahan saya?”
Sebenarnya iya. Tetapi aku bukan tipe orang yang mudah menolak.
“Eh, tentu saja tidak, Pak. Kemarin, nenek saya baru saja meninggal.”
“Oh, saya tidak mendengar kabar?”
“Waktu Bapak sedang ke luar kota.”
“Saya turut berduka cita kalau begitu.”
“Terima kasih, Pak.”
“Ya, sudah. Tolong diuruskan saja kalau kamu sudah punya waktu luang.”
“Baik, Pak.”
“Hampir saya lupa, Saya bawakan kamu oleh-oleh. Nanti kamu ambil sendiri saja ke rumah.”
“Iya, Pak. Terima kasih.”
“Iya, sama-sama.”
Lalu  kontak kami diputus.
Aku tidak jadi memasak. Kehilangan mood seketika. Kumasukkan lagi potongan ayam ke kulkas. Cabe yang niat digiling dan bawang yang siap dirajang kembali ke rak.
Aku memilih berbaring di depan televisi sambil memeluk remote.
Kurasakan wajahku jadi masam.
Kalau ada Yuk Way, mungkin dia akan berubah jadi bamper. Menerima telak semua emosiku yang sedang tidak stabil.
***
Berhubung didesak rasa lapar. Aku kemudian keluar rumah. Membeli sebungkus bakso. Tidak nasi. Aku sedang tidak selera. Lalu ingat dengan omongan Pak Sima tadi di telepon soal oleh-oleh. Aku langsung meluncur ke rumahnya yang dulu adalah rumah kami.
Setibanya di rumah itu. Seorang perempuan sedang berdiri di muka pagar. Aku menghentikan mobil dan turun menghampiri perempuan itu.
“Cari seseorang ya, Mbak?’
Perempuan itu menoleh padaku. Wajahnya halus. Terkesan ayu dan lembut. Pakaiannya santai namun elegan. Wanginya pun tercium segar.
“Iya. Dari tadi ditekan belnya, tidak juga ada orang keluar.” Suaranya sangat merdu di telinga. Seperti sedang berhadapan dengan sosok bidadari saja.
“Mungkin orangnya sedang tidak di rumah.”
“Bisa jadi.”
“Sudah ditelepon?”
“Kebetulan Handphone saya baterainya drop.”
Belum sempat kuambil handphone dari tas. Kulihat sosok Azzam Sima keluar dari rumah. Menuju pagar dan membukanya.
Beliau menatap perempuan itu duluan. Mencium pipinya dua kali.
Jantungku langsung dibuatnya berhenti berdetak.
Sungguh adegan yang mengiris-iris hatiku.
“Kenapa tidak minta dijemput?”
“Pas turun dari pesawat. Hape nggak bisa dinyalakan lagi.”
Pak Sima mengambil tas bawaan perempuan itu.
“Apa kabar keluarga di Yogya?”
“Baik. Ibu titip salam.”
“Bilang, salam balik.”
Perempuan itu tersenyum. Senyumnya sungguh manis. Membuat sosokku seperti menyusut ukurannya karena minder.
Mungkin inilah perempuan calon isteri Pak Sima. Pantas saja kalau aku sedikit pun tak diliriknya. Penampilan dan pembawaan kami seperti langit dan bumi.
Pak Sima tidak sedikit pun melihatku. Aku jadi bingung harus bersikap.
“Aku bawakan pesanan, mas. Brownies kukus buatan Ibu.”
Aku jadi mendelik. Seingatku Pak Sima bilang, dia tidak suka Brownies. Ini kenapa sampai pesan segala?
“Oh, Iya. Jelita, kenalkan, ini karyawanku di kantor. Namanya Mazaya.” Pak Sima mengalihkan perhatiannya kini kepadaku.
Aku segera mengulurkan tangan. Menyambut sentuhan tangannya yang terawat.
“Jelita.”
“Mazaya.”
Kupegangi tanganku setelah jabatan kami terlepas. Kasar sekali rasanya.
Kami melangkah masuk bersamaan. Tetapi langkahku terhenti di teras. Sementara perempuan itu bergelayut di lengan Pak Sima.
“Aku capek, mas. Pengen istirahat.” Ujarnya manja.
Aku menunduk.
“Ya, sudah. Tidur saja di dalam. Kamarmu sudah disiapkan. Besok saja kita berangkat ke Berlian.”
Jelita mengangguk. Lalu masuk sendiri ke dalam.
“Mungkin saya besok tidak masuk kantor.” Ujar Pak Sima padaku.
“Iya, Pak.”
“Sebentar,...” dia lalu masuk ke dalam. Tidak lama kemudian keluar kembali. Membawa sesuatu dalam tas plastik besar.
“Ini oleh-oleh buat kamu.”
Aku sambut dengan senyum, “Terima kasih, Pak.”
“Sama-sama.”
“Kalau begitu, saya permisi, Pak.”
“Lah, kenapa terburu-buru? Saya kira kita akan mengobrol dulu?”
Aku menggerutu dalam hati. Mengobrol? Memang ada bahasa obrolan antara kita? Sulit rasanya menjalin suasana santai denganmu sekarang. Seperti ada jurang yang begitu lebar menganga di antara kita.
“Ah, kapan-kapan saja, Pak. Lagian yang ditunggu sudah datang. Nanti kehadiran saya malah mengganggu. Saya permisi, Pak.”
Dia mengangguk.
Aku melangkah berat menuju mobil.
Betapa bisa ditebak suasana hatiku saat ini. Meninggalkan suamiku dengan seorang perempuan yang terlalu menarik. Pikiran kotorku jadi berkembang ke mana-mana. Sungguh aku merasa tidak rela, walapun kau adalah suami di rentang waktu yang berbeda. Tetapi bagiku kau tetap tidak pantas dengan perempuan selain aku.
Kunaiki mobilku dengan konsentrasi yang terpecah ke segala arah. Aku masih mengintip di kaca spion. Betapa semakin dalam tertusuk hatiku. Ketika kau tutup pintu dengan begitu rapat.
Azzam Sima, sialan!
Aku cuma bisa memaki.
***

Akhirnya kuturuti keinginan Pak Sima. Aku berkeliling kota mencari gedung untuk resepsi pernikahannya. Banyak yang sudah penuh. Ada yang satu tahun ke depan tidak bisa lagi disewa karena sudah mengantri pasangan pengantin yang akan menggelar resepsi.
Lelah juga mencari tempat. Akhirnya kutemukan sebuah gedung yang enam bulan lagi bisa disewa. Tapi tarifnya lumayan mahal. Kuperhatikan suasananya. Juga tidak terlalu nyaman. Kalau tamu penuh, aku rasa akan pengap sekali. Karena tidak ada ruang terbuka. Mungkin lebih baik cari gedung yang banyak ventilasinya. Kalau mengandalkan AC, rasanya tidak sanggup juga. Kalau orang sudah berdesakan. AC tidak bisa lagi jadi andalan sirkulasi udara yang segar. Aku terus berkeliling. Mencari lagi gedung lain yang kukira cukup nyaman dengan harga yang pantas.
Sebuah aula kumasuki. Suasananya sungguh berbeda. Tidak ada pintu. Hanya tiang-tiang cantik yang menopang. Aliran air di sekeliling gedung, memberikan hawa segar. Pohon-pohon besar dibiarkan tumbuh di sekeliling aula tersebut. Burung-burung merpati sering hinggap mematuk makanan yang disebarkan penjaga di muka aula. Indah sekali!
Aku langsung jatuh cinta pada penampilannya. Kupikir ini tempat yang menarik untuk menggelar resepsi pernikahan.
“Bisa disewa gedung ini, Pak?’ langsung kutemui pengelola gedung itu. Seorang lelaki dengan paras bersahaja.
“Bisa. Untuk acara apa ya?”
“Resepsi pernikahan.”
“Oh, bisa. Banyak juga yang menyewa untuk pernikahan.”
“Kapan jadwal kosongnya?”
“Satu tahun lagi bisa.”
Aku melongo.
“Banyak juga yang memakai tempat ini, Pak?”
“Iya. Apalagi katanya cocok buat pesta kebun. Halamannya luas, Mbak.”
Aku berpikir. Dibandingkan tempat yang bisa enam bulan lagi disewa itu, lebih baik tempat ini. Toh, ketika aku bertanya harga. Harga sewa aula itu lebih miring dibandingkan gedung tadi.
Aku jadi mengetok kepala sendiri kemudian.
Kenapa aku begitu bodoh membiarkan suamiku segera menikah dengan perempuan lain? Kalau bisa kubatalkan, kubatalkan saja resepsi ini. Tapi, karena tidak bisa, dengan menunda pernikahannya kurasa itu ide yang paling benar. Biarlah dia menunggu sedikit lebih lama. Syukur-syukur, dalam waktu setahun itu kemudian calon isterinya dapat kecelakaan. Lalu mampus.   
Akhirnya kuputuskan untuk menyewa aula tersebut.
“Halo, Pak Sima. Maaf mengganggu.” Kuhubungi lelaki itu setelah memanjar sewa gedung.
“Iya, bagaimana Aya?”
“Wah, saya sudah mencari ke mana-mana, Pak. Maaf sekali, ternyata semua gedung sudah penuh. Gedung yang bisa disewa untuk waktu dekat ini jadwal kosongnya setahun lagi, Pak.”
“Setahun?”
“Iya.”
“Yang lain malah menolak menyewakan. Sampai ada gedung yang penuh jadwalnya sampai dua tahun.”
“Dua tahun?”
“Benar, Pak.”
“Mau bagaimana lagi? Ya, sudah. Saya percayakan saja sama kamu.”
“Baik, Pak.”
Telepon lalu ditutup. Aku tersenyum senang karena merasa berhasil mengerjai. Tetapi sedetik kemudian tangisku lalu meledak.
Kupukuli stir mobil berkali-kali.
Terseguk-seguk aku menangisi kebodohan.
Merana karena tidak berdaya merebut suamiku dari tangan perempuan lain. Malah dengan rela membantunya mempersiapkan pernikahan. Siapa perempuan yang bersedia dimadu? Walaupun perang kami begitu panjang selama pernikahan di masa itu. Tetap saja aku tak rela dia menikah dengan perempuan lain. Tidak ada kata cerai diantara kami.
Aku menyetir mobilku kembali ke kontrakan. Yuk Way belum juga pulang. Masih satu hari lagi. Bagiku terasa lama waktu berjalan ketika sendirian. Aku kembali rindu anak-anakku. Anak-anak yang mungkin tidak bisa kutemui lagi sampai kapan pun.
Mataku sembab karena menangis. Kuyakin penampilanku kacau sekali ketika turun dari mobil. Di pintu rumah yang terkunci kulihat Yulianto sedang berdiri.
“Aya?” dia tampak kaget melihatku.
Aku berusaha tersenyum.
“Kenapa?”
“Ndak pa-pa.”
“Aku kira sakit. Kok ndak masuk kantor. Pak sima juga ndak masuk.”
“Pak Sima ke Berlian sama calon isterinya.”
“Oh.”
“Kenapa mukamu sembab? Menangis?”
“Kepalaku sakit sekali tadi.” Jawabku berbohong. Aku tidak membuka pintu rumah. Kuajak saja dia duduk di teras. Aku sungkan mengajaknya masuk. Kami cuma berdua.
“Kamu pulang sore sekali. Dari mana?”
“Dari mengurusi resepsi pernikahan Pak Sima. Aku tadi cari gedung.”
“Kenapa ndak ajak aku?”
“Nanti takut merepotkan.”
“Kok gitu. Kalau sakit begini kan susah. Pasti kecapean.”
“Iya. Aku butuh istirahat. Kamu pulang saja dulu.”
“Aya?”
Please,...” kupajang wajah paling memelas.
“Oke lah. Yakin ndak mau ditemani?”
Aku menggeleng.
“Mau aku bawakan sesuatu? Ayam goreng? Pizza? Martabak? Bakso?”
“Terima kasih. Aku cuma mau istirahat.”
Yulianto masih berdiri di tempatnya. Sementara aku membuka pintu rumah.
“Sudah. Pulang saja. Besok kita ketemuan di kantor.”
“Oke.” Dia masih menungguku memasuki rumah.
“Besok kamu bakal lihat aku sudah sehat lagi.”
Yulianto mengangkat kedua jempolnya. Lalu menuju kendaraan yang dia bawa.
Kukunci kembali pintu. Melempar tubuh di sofa. Menyalakan televisi dan membiarkan sepatu dan tasku berserakan di lantai. Kalau ada Yuk Way, dia pasti memunguti sambil mengomel panjang.
Aku memejamkan mata.
Suara televisi mengisi kekosongan hatiku.

(Bersambung)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger