Wednesday, January 23, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (22)



Rumah semakin sepi. Hanya aku dan Yuk Way. Perempuan itu memang bukan gadis lagi. Dia janda beranak tiga. Dua anaknya baru saja menikah. Tinggal satu lagi yang sedang meneruskan sekolah di bangku SMP. Tetapi bukan tidak mungkin suatu saat nanti dia menikah lagi dan mohon izin untuk berhenti bekerja. Aku sekarang cuma bisa berharap agar perkiraanku itu tidak akan terwujud. Tentu tidak nyaman sekali jadi sendirian. Aku menggunakan mesin waktu untuk pulang kembali ke masa lalu bukan untuk menjadi sendiri dan kesepian. Aku mencari kebahagiaan. Dan bukan kondisi seperti ini yang dulu sangat aku harapkan.
Kembali ke kantor. Ada rasa jenuh menggayut. Apalagi saat ini beberapa masalah seolah beruntun membrondongku. Sesampai di ruangan. Aku dapati Nadia bersama Karina. Gadis berpenampilan terbuka itu sedang menangis. Nadia tampaknya sedang membujuk.
“Mbak Aya?” Nadia menyadari kedatanganku.
“Ada apa?”
“Ini, Karina. Tadi ingin menemui Mbak. Tapi saya bilang belum datang. Dia bilang bisa tunggu di ruangan Mbak saja. Lalu pas kami masuk dia langsung menangis.”
Aku duduk di kursi. Kutatap perempuan yang selama ini sering membuatku kesal. Tapi terbit juga rasa iba melihatnya menangis tersedu.
“Kenapa, Karina?”
Gadis itu masih menangis.
“Bisa bicara berdua saja?” tanyanya di sela isak.
Aku memberi kode pada Nadia. Gadis itu langsung paham. Dia melangkah keluar ruangan lalu menutup pintu dengan pelan.
“Sekarang kita sudah berdua. Ada apa?”
“Yulianto.”
Aku mengerutkan kening.
“Iya?”
“Yulianto menghamiliku.”
Aku cukup suprise mendengar berita itu. Tetapi tidak terlalu. Karena aku paham betul tabiat playboy milik Yulianto dahulu.
“Tapi dia tidak mau bertanggung jawab. Dia terus menghindar setelah kukabari masalah ini. Nomor handphonenya sudah diganti. Tidak pernah lagi mampir ke rumah menjemput. Di kantor saja, kami tidak pernah lagi berpapasan. Aku juga heran, bagaimana caranya bersembunyi. Padahal kita masih kerja dalam satu perusahaan. Satu kantor pula.”
Aku ingat sekali sering bertemu Yulianto di lobby kantor. Rasanya lelaki itu tidak tampak sedang bersembunyi dari sesuatu.
“Pernah satu kali tidak sengaja kami bertemu di kantor. Aku langsung bertanya soal masalah kami. Dia malah berang. Dan menganggapku pendusta besar. Yulianto ndak percaya. Padahal ini memang hasil hubungan kami! Tolonglah, Mbak Aya. Tolong nasehati dia. Cuma dengan Mbak Aya dia mau mendengarkan.”
Aku tambah mengerutkan kening.
Ya, salah siapa? Lah kamunya yang kasih!
Tapi, tentu aku tidak pantas berujar demikian. Biar dia dulu rivalku, aku tetap seharusnya ikut berbelasungkawa atas derita yang menimpanya saat ini.
“Sabar ya, Karina. Nanti saya coba untuk berbicara dengan Yulianto.”
“Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku?”
“Kenapa memangnya?”
“Tidak masalah kalau aku hamil tanpa suami? Aku  masih bisa terus bekerja?”
Aku jadi bingung.
“Oh, saya juga tidak paham masalah begini. Nanti coba saya tanya sama HRD Wilayah.”
“Bagaimana kalau tidak ditanya saja, Mbak? Saya takut tidak boleh melanjutkan kerja.”
Aku menghela nafas.
“Ya, sudah. Saya tidak akan tanya.”
Dengan mata sembab sedikit senyum terukir di bibirnya.
“Ma kasih, mbak.”
“Iya. Sama-sama.”
“Soal dengan Yulianto itu tolong sekali untuk disampaikan, Mbak.”
“Iya. Nanti saya sampaikan.”
Dia mengambil lagi tisu dari dalam tas. Disekanya sisa-sisa air mata di wajah.
“Saya permisi, mbak. Terima kasih sebelumnya.”
“Iya.”
Lalu dia berdiri. Meninggalkan ruanganku bersama aroma dan penampilannya yang khas.
Aku termenung. Sebuah masalah baru di kantor. Mudah-mudahan saja berita ini tidak tercium kelompok penggosip. Kasihan juga Karina.
Aku segera menghubungi Yulianto di nomor barunya.
Dia tidak langsung mengangkat. Tiga kali tidak diangkat aku taruh kembali handphoneku di tas. Aku melanjutkan pekerjaan seperti biasa. Hampir satu jam lebih kemudian. Handphoneku berdering. Nama Yulianto muncul di layar.
“Ya, Aya?’
“Di mana?”
“Di hatimu, sayang.”
Aku tersenyum, “Di hati sebelah mana, Nto?”
Dia tertawa.
“Serius. Lagi di mana?”
“Kenapa? Kayaknya kangen berat nih?”
Aku yang tertawa.
“Iya, kangen berat. Makanya pengen ketemuan. Ada yang mau diomongin.”
Pintu ruanganku terbuka. Yulianto menongolkan kepala.
“Benarkan di hatimu.”
Aku mematikan handphone.
“Aku mau bicara.”
“Aku dengarkan.”
Dia langsung duduk di mejaku.
“Masalah apa, say?” tanyanya.
“Karina.”
Dia mengerutkan kening.
“Kenapa dia?’
“Hamil katanya.”
Yulianto tak berekspresi. Dia lalu berdiri. Memandang keluar dari jendela ruanganku. Pasti tidak ada pemandangan yang menyenangkan. Karena jendelaku langsung tembus ke parkiran. Cuma ada motor dan mobil yang terdiam. Dia pasti sedang berpikir. Bukan sedang sungguh memandang keluar.
“Begitu katanya?”
“Iya. Dia datang sendiri ke ruanganku barusan. Menangis tersedu-sedu.”
Yulianto balik menatapku, “Kamu percaya, ndak?”
Aku mengangkat bahu, “Mana kutahu. Aku ndak di tempat pas kejadian.”
“Tapi kalau menurutmu, bagaimana?”
“Aku tidak tahu, Nto. Aku bukan peramal atau penyidik. Jadi, aku tidak paham untuk mereka-reka.”
“Bagaimana mungkin dia hamil, kami tidak pernah berhubungan badan?”
Aku diam mendengarkan.
“Aku dulu mengira Karina adalah gadis yang baik. Ternyata licik seperti ular. Mana aku tahu siapa lelaki yang sudah menghamilinya. Cuma gara-gara aku sering begitu baik padanya, makanya kemudian dia memanfaatkan aku? Perbuatan jahat kan kalau begitu?”
“Taruhlah kamu tidak menghamili dia. Tetapi kenapa harus takut menemuinya kalau tidak merasa punya salah?”
“Ya, aku bingung didesak terus.”
“Lah, kalau tidak merasa pernah melakukan. Hadapi saja. Semakin menghindar ya, semakin akan kena desak terus.”
Yulianto diam sejenak.
“Sebenarnya aku ragu juga,”
“Nah loh!”
“Waktu itu, ada acara ulang tahun di rumahnya. Aku diundang. Dilly juga. Beberapa temannya juga. Laki-laki. Perempuan. Pesta ala anak muda di Barat. Pakai minum-minum. Ada pula ganja. Jadi, kami asli mengadakan pesta teler. Makanya, aku tidak ingat benar apa aku sungguh melakukannya. Ketika sadar, aku sudah berada di kamar tidurnya. Tidak ada lagi pesta. Kawan-kawan sudah pulang. Tinggal kami berdua. Tentu panik. Sebelum dia terbangun aku memutuskan untuk melarikan diri. Cabut dari rumahnya.”
Aku memandang lelaki di depanku itu, “Sungguh begitu?”
“Iya, Aya. Aku ndak bohong. Aku bukan lelaki buruk seperti yang kau kira. Aku sungguh tidak suka mempermainkan perempuan. Apalagi sampai melakukan hal yang setega itu pada seorang gadis. Aku punya ibu dan saudara perempuan.”
“Tetapi, sekarang fakta menolak keyakinanmu. Kamu dianggap menghamili seorang gadis, Nto.”
Yulianto duduk di salah satu kursi. Hanya diam.
“Kenapa kamu tidak ajak saja dia tes DNA?”
“Terpikir sebelumnya. Tetapi kalau ternyata hasil tes itu positif menyatakan bahwa aku penyumbang benih di rahimnya. Lalu aku mau gimana?”
“Ya, kawini gadis itu.”
“Ndak. Aku ndak mau.” Dia menggeleng kuat-kuat.
“Hei, aku tidak sedang bicara dengan anak balita umur tiga tahun kan?”
“Aya, perlu kau tahu. Aku sekarang ini bukan aku yang sebenarnya?”
Aku mengerutkan kening.
“Aku sudah menyebrang waktu.”
“Maksudnya?”
“Kamu pernah mendengar tentang Pelayanan Mesin Waktu? Aku sudah menggunakan jasa itu, Aya. Karena banyak kesalahan masa lalu yang ingin aku benahi. Aku di masa depan positif terjangkit virus HIV, Aya. Umurku tinggal dihitung jari.”
Aku termenung. Ternyata bukan cuma aku!
“Aku nakal. Aku playboy. Aku mudah jatuh cinta. Perempuan bagiku cuma sekedar baju. Sangat mudah kuganti dan pasang. Tidak cuma perempuan semacammu Aya, yang tergolong baik-baik. PSK juga aku hajar. Wajar kemudian aku dihinggapi virus setan itu. Sampai-sampai bukan cuma teman, tapi keluarga juga mengucilkan aku. Setelah terjangkit virus itu, aku jadi frustasi dan jatuh dalam jeratan sabu-sabu, ekstesi, banyak lagi. Semua aku coba, cuma untuk mencari ketenangan dan semangat untuk hidup. Tetapi apa, aku malah jadi semakin hancur dan bangkrut. Untunglah, ada ibu. Hanya ibu yang peduli padaku. Dia yang mengantarku ke Gedung Pelayanan Mesin Waktu. Dia yang membiayai semuanya. Pesannya cuma satu, aku harus memperbaiki diriku. Dan benar, Aya, aku tepati itu pada Ibu. Aku sampai ke waktu yang kuperkirakan aku sehat. Aku cek kembali ke dokter. HIV dan kandungan obata-obat terlarang di darahku negatif. Aku kembali bersih. Aku benahi diriku. Bekerja dengan baik. bergaul dengan perempuan-perempuan baik. Sampai sekarang aku tidak berani untuk memacari gadis manapun. Aku cuma berniat akan menikah. Menikah dengan gadis yang baik. Agar bisa mengantarku pada jalan yang baik. Aku ingin punya keluarga. Anak-anak. Karena dulu aku tidak punya keluarga. Hanya terjebak dalam dunia sendiri. Menakutkan, Aya!”
Aku serius mendengar ceritanya. Kurasa dia tidak bohong.
“Jadi, kalau kasus Karina ini sungguh menjebakku, aku tidak bisa memenuhi janjiku pada diri sendiri. Aku ingin menikah dengan gadis yang sungguh baik, Aya.”
“Karina gadis yang baik.”
“Tapi aku ingin menikah denganmu, Aya. Apa kau tak paham juga?”
Aku jadi terdiam.
“Menikah lah denganku. Kumohon. Karena hanya kamu perempuan yang begitu terhormat di mataku dari dulu hingga kini.”
“Anto,” aku bingung untuk melontarkan kata.
“Kenapa harus ada kasus Karina?” dia geram pada diri sendiri.
“Anto, begini saja. Selesaikan dulu urusan Karina, nanti kita bahas urusan kita. Karena jelas tidak mungkin kan kita membahas urusan kita sementara ada urusan lain yang tidak mungkin dibiarkan?”
“Tapi, Aya. Kalau memang aku pelakunya, bagaimana?”
“Ya, berarti jodohmu, Karina.”
“Aya!”
Aku tersenyum menggoda.
“Anto?”
Dia menggaruk kepalanya yang tampak tak gatal.
“Ok. Ok. Aku hadapi masalah Karina. Aku yakin sekali aku bukan pelakunya. Tapi janji, kalau aku selesaikan masalah ini, kamu mau membicarakan serius masalah kita?”
Aku mengangguk setengah ragu.
Yulianto mengenggam erat kedua tanganya,
“Ma kasih ya, Sayang.”
Aku tersenyum saja.
“Kita menikah!”
Dia melompat ke udara. Sementara aku cuma terpaku di posisiku. Tidak menjawab ya atau tidak. Hanya kugantung.
Dia keluar ruanganku. Terlihat bahagia sekali.

(Bersambung)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger