Tuesday, January 22, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (21)


Malam harinya aku tidak bisa tidur. Yuk Way kuminta menemaniku menonton belasan CD horror yang kusewa sepulang kantor. Perempuan berperawakan gemuk itu berkali-kali berteriak. Membuatku beberapa kali pula dibuat terkejut.
“Hus! Jangan kencang-kencang teriaknya, Yuk. Nenek sudah tidur.”
Yuk Way menutup mulutnya rapat-rapat.
“Tapi, Kak, nenek kan juga sudah tuli. Ndak akan dengar teriakan saya.”
“Kalau teriaknya kayak tadi. Jangan kan nenek yang tuli. Sekian kilometer dari kontrakan kita, orang tidur bisa mati kaget.”
“Ah, Kakak bisa saja.” Yuk Way jadi kemaluan.
Aku tersenyum.
Yuk Way lalu menonton lagi. Sebuah adegan kuperkirakan akan membuatnya terkejut lagi.
“Awas kalau teriak!”
Dia tidak jadi membuka mulut. Segera dikatupkannya rapat-rapat. Dia cuma meringis sambil beberapa kali memejamkan mata. Akhirnya, mungkin karena terlalu serius menonton adegan. Teriakan kerasnya terlepas juga dari tenggorokan. Aku langsung terlompat dari duduk sangking kagetnya.
“Ampun, Yuk Way!”
“Maaf, Kak,”
“Tukar saja filmnya kalau takut.”
“Tapi bagus, Kak.”
“Kalau gitu rem sedikit teriakannya.”
“Iya, kak.”
Aku mengeleng-gelengkan kepala. 
Dia tampak jadi tak konsen menonton.
“Eh, iya, baru ingat, Kak... Tadi sore, sebelum Kakak pulang kerja. Kak Asni kemari.” Wajah Yuk Way tidak lagi terpusat ke televisi tetapi ke arahku.
“Terus?”
“Nanyain Kakak.”
“Kenapa nanya-nanya!”
Yuk Way menatapku heran, “Kok galak sih, Kak?”
“Iya, kenapa Kak Asni nanyain ke Yuk Way. Kenapa ndak langsung telepon aku?’
“Yee, mana ane tahu, Kak. Tapi bawa cowok loh, Kak.”
“Bang Yanto?”
“Kalau Pak Yanto saya kenal lah, Kak. Ini cowok muda. Guanteng!”
Aku melirik Yuk Way. Dia mengangkat dua jempolnya.
“Apa kata Kak Asni?”
“Ndak ada.”
“Jadi cuma nanya aku aja terus pergi lagi?”
“Iya. Pas tahu Kak Aya ndak ada, Kak Asni langsung ajak cowok itu balik. Ndak tahu balik ke mana?”
Aku jadi berpikir. Cemas juga kalau ada masalah baru lagi. Segera kupungut handphone yang tergeletak di bufet. Kuhubungi nomor Kak Asni.
“Kakak ke rumah tadi?” langsung kutanya tanpa pembukaan ketika sambungan teleponku diangkat.
“Iya.” Kakak menjawab singkat.
“Ada apa?”
“Ndak ada apa-apa.”
“Kok ndak nelepon?’
“Cuma mau main.”
“Main? Tapi kata Yuk Way ndak dengan Bang Yanto.”
“Memang, ndak. Tapi sama teman di kantor. Rencananya mau Kakak kenalin sama kamu.”
Aku mencibir. “Kenapa?”
“Ya, ndak pa-pa. Mau kenalin saja, boleh kan?”
“Kenapa sih kak, pada repot ngurusin jodoh Aya. Kapan waktunya sampai, nanti Aya akan nikah juga. Memang Kakak pikir Aya tidak mau menikah? Memang cuma kakak yang malu sampai umur segini Aya belum dapat jodoh? Tentu Aya lebih malu karena Aya yang punya badan! Kakak pikir ndak ada usaha Aya untuk cari jodoh? Kakak pikir Aya masa bodo saja dengan keadaan Aya sekarang? Tidak, Kak! Aya sangat mencemaskan diri Aya. Lebih dari kecemasan Kakak! Jadi, ndak perlu Kakak sibuk turun tangan. Atau siapapun turun tangan. Aya bisa cari sendiri!’ handphone lalu kumatikan begitu saja.
Yuk Way melirik takut-takut. Berlahan-lahan dia beringsut dari duduk.
“Mau kemana?” tanyaku mengagetkannya.
“Eh, mau kemana! Mau kemana! Eh, mau ke dalam, Kak.” sambutnya latah.
“Buatkan susu.”
“Iya, Kak.” Gerakannya bergegas menuju ke dapur.
Hatiku sedang sangat tercabik. Awalnya sudah dilukai dengan kabar pernikahan Azzam Sima. Kini ditambah dengan alarm “kapan nikah” yang terus dibunyikan di telingaku. Wajar kan kalau aku jadi naik pitam!
Film yang diputar di layar televisi terus bermain sendiri. Sama sekali aku tidak menontonnya. Pikiranku melayang entah ke dunia mana. Sesekali aku teringat anakku. Sesekali teringat Bunda dan Bapak. Sesekali terbersit wajah milik Azzam Sima suamiku dan wajah Azzam Sima atasanku.
Aku menghela nafas.
Aku merasa seperti terjebak dalam sebuah permainan waktu yang telah kuciptakan sendiri. Tidak mampu mencari jalan keluar. Kelelahan dalam pikiran sendiri.
***

Aku tertidur.
Alarm di handphone nyaring berbunyi membangunkan.
Ternyata, sudah jam lima pagi!
Segelas susu masih penuh di atas meja. Buatan Yuk Way tadi malam. Televisi masih menyala. Beberapa bungkus snack berserakan di meja dan karpet. Yuk Way pasti belum bangun untuk membereskan.
Aku berdiri. Meregangkan sendi-sendi yang terasa pegal. Mungkin posisi tidurku di sofa tidak benar tadi malam.
Tiba-tiba, aku mendengar suara keras berdentum dari dapur disambut bunyi pecahan kaca yang terburai.
“Yuk Way?”
Kukira Yuk Way sudah terjaga dari tidur.
“Yuk Way!”
Tidak juga ada sahutan. Jangan-jangan Yuk Way terpeleset di dapur. Lalu pingsan.
Bergegas aku menuju ke ruangan masak itu. Di persimpangan aku hampir menabrak Yuk Way yang muncul mendadak dari ruang kamar tidur.
“Iya, Kak Aya?”
“Lah, bukan Yuk Way! Lalu siapa di dapur?”
Aku makin bergegas ke dapur diikuti Yuk Way. Di ruangan itu, berserakan pecahan piring dan gelas. Nasi yang bertaburan beserta lauk. Kemudian sosok yang terkulai di lantai.
“Nenek!” teriakku panik.
Langsung kuperiksa nafasnya. Tidak ada sirkulasi udara. Begitu pula dengan denyut nadi. Tidak ada detak.
Segera kugendong tubuh nenek.
“Cepat buka garasi!” perintahku pada Yuk Way.
Perempuan gemuk itu ikut bergegas melaksanakan tugas.
Tidak lupa dibawakannya handphone dan dompetku.
Kularikan cepat nenek ke rumah sakit. Di tengah perjalanan kuhubungi Kak Asni untuk mengabarkan kembali berita buruk. Kali ini berita dari nenek.
Setelah diperiksa dokter. Nenek sudah positif dinyatakan tak lagi bernyawa. Tubuh nenek langsung ditutup kain putih. Aku duduk di ruang UGD itu dengan lemas. Jarang sekali rasanya aku mengobrol dengan nenek. Hingga meninggalnya pun tidak sedikitpun beliau memberi kabar berupa tanda. Subuh sekali dia mempersiapkan diri, bahkan sempat mengambil sepiring nasi dan segelas air putih. Kenapa tidak dibangunkannya saja aku? Padahal tentu dilewatinya ruang televisi sebelum menuju ke dapur. Kenapa nenek memilih untuk pergi dalam kondisi yang sendiri juga? Padahal nenek selama ini selalu sendiri. Tidak banyak bicara atau meminta. Bahkan kalau Yuk Way lupa menyiapkan makan. Nenek pasti melangkah ke dapur sendiri. Padahal tinggal teriak saja seperti kebiasaanku pada Yuk Way. Tetapi nenek, selama hidup memang tidak pernah suka membebani orang lain. Aku peluk tubuh tua itu untuk terakhir kali. Setitik air menetes dari sela-sela kelopak mataku. Akhirnya, aku bisa menangis.
Terima kasih, nek!
Betapa mulia hati perempuan tua ini. Setelah tubuhnya kaku pun beliau tetap mampu menolong orang lain.
Tidak lama Kak Asni datang bersama suami. Kembali kami bersama mengurusi kepergian orang yang kami sayangi. Kali ini kami lebih banyak diam. Mungkin pula karena insiden tadi malam. Kak Asni lebih memilih mengurusi administrasi dibandingkan bersamaku menunggui jasad nenek. Bang Yanto yang malah berdiri di sisiku.
Kemudian kami membawa jasad nenek pulang ke rumah. Anisa dan Alif tidak dapat pulang cepat. Karenanya jasad nenek dikuburkan secepatnya saja. Tidak ada anak nenek yang masih hidup. Anak nenek cuma dua. Almarhum Bapak dan almarhum suami Tante Mia. Tante Mia datang bersama anak-anaknya. Beberapa famili lain seperti adik nenek juga datang. Begitu pula keponakan-keponakan beliau. Teman-teman kantor juga datang. Akhirnya Yulianto kuizinkan menginjakkan kaki ke rumah. Ada pula Dilly, Mbak Nelly, Serna, maupun beberapa anak surveyor maupun kolektor. Tapi tidak ada Pak Sima.
Rumah kami kembali beraroma bunga melati. Aroma yang tidak kusukai semenjak kepergian Bunda. Tetapi herannya, kenapa rangkaian bunga itu selalu dipakai untuk memakamkan jasad seseorang. Kadang sampai lebih tiga hari, aroma itu masih melekat. Belum lagi ditambah wangi-wangian yang aku tak paham betul terbuat dari apa. Begitu menyegat dan menimbulkan memori yang buruk di kepala. Aku mencium aroma melati seperti mencium aroma kematian. Sungguh membuatku jadi Phobia!

(Bersambung)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger