Monday, January 21, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (20)



Aku memutuskan ke Rumah Sakit Jiwa. Menemui Psikiater, untuk berkonsultasi. Lalu aku didiagnosa mengalami depresi ringan. Aku kemudian disarankan minum obat antidepressant. Demi menetralisir kondisi jiwaku yang sedang labil.

Aku tidak bercerita pada siapa pun. Aku minta cuti untuk total istirahat. Handphone kumatikan. Mimpi itu sungguh membuatku ingin pulang ke masa sebelum mesin waktu mengirimku kembali ke masa sekarang. Aku mencemaskan Alif dan Arul.

Merasa cukup istirahat di rumah. Sisa cuti kumanfaatkan untuk mengunjungi kembali Gedung Pelayanan Mesin Waktu. Gedung yang kutinggalkan dengan sorak penuh kebebasan kurang lebih tiga tahun lalu. Ketika memasuki kembali gedung berarsitektur unik itu, aku merasa semakin banyak orang berdatangan dan pergi dari pintu depan. Berbagai ekspresi tercetak di wajah mereka. Tampaknya makin banyak orang kecewa dan menyesal dalam perjalanan hidupnya. Mereka berusaha untuk memperbaiki sebelum kondisi menjadi semakin parah dan runyam. Seperti aku dahulu.

“Permisi, mbak.” Aku menemui perempuan yang duduk di belakang meja bertulis Customer Service. Kulihat dua bangku di hadapannya kosong.
“Ya, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?”
Aku duduk.
“Saya mau berkonsultasi.”
“Iya?”
“Sebenarnya saya sudah pernah menggunakan jasa pelayanan ini sebelumnya. Saya sangat berterima kasih. Karena Mesin waktu telah mengubah banyak hal dalam hidup saya.”
Perempuan itu serius mendengarkan. Tak lepas senyum di bibirnya yang tipis.
“Tetapi, setelah tiga tahun berjalan. Saya merasa, saya telah melakukan kesalahan lain dalam hidup saya ini. Saya bermaksud untuk kembali ke masa sebelum saya dikirimkan oleh mesin waktu.”
“Oh, begitu. Maaf Ibu, perlu kami tahu alasan kenapa Ibu ingin kembali lagi?”
“Saya ingin menjemput anak-anak.”
“Apakah sekarang ibu sudah menikah?”
“Belum.”
“Berarti mereka belum terlahir ke dunia saat ini?”
“Iya. Kenapa?”
“Ibu tidak bisa membawa anak-anak ibu yang berasal dari masa depan untuk datang ke masa sekarang. Tubuh mereka akan sirna begitu saja. Hilang. Tanpa bekas. Karena di masa ini, tubuh mereka belum ada.”
“Jadi, kalau begitu bagaimana kalau saya saja yang kembali.”
“Ibu tidak bisa datang ke masa depan.”
Aku mengerutkan kening.
“Saya kan berasal dari masa depan?”
“Memang semua pasien kita berasal dari masa depan. Tetapi tidak ada yang berasal dari masa sekarang lalu dikirim ke masa depan. Atau kembali lagi ke masa depan.”
“Kenapa? Bukannya ini mesin waktu?”
“Iya. Tetapi di pelayanan kami, kami hanya mampu mengirim pasien ke masa lalu. Karena tujuan dari Perusahaan kami adalah Membantu Memperbaiki Masa Datang. Kalau Ibu hendak ke masa depan, apalagi yang ingin ibu perbaiki? Saat inilah Ibu punya kesempatan untuk membangun masa depan yang diinginkan.”
Aku jadi kesal dengan penjelasannya.
“Permasalahan saya itu ada di masa depan yang saya tinggalkan. Bukan saat ini.”
“Tetapi ibu, itu prosedur perusahaan.”
“Saya sudah mengalami masa depan itu. Kenapa pula tidak bisa saya datangi lagi. Kecuali kalau memang kasusnya, masa depan itu belum saya alami. Mungkin kalian tidak bisa mengirimkan saya ke sana.”
“Maaf, Ibu. Belum pernah terjadi kasus seperti yang ibu ajukan selama perusahaan kami berjalan.”
“Ya, kalau begitu, izinkan lah saya jadi kasus pertama.”
Perempuan itu jadi tampak bingung. Dia kehabisan bahasa untuk dilontarkan.
“Sebentar, Ibu. Kami tanyakan langsung pada bagian pengoperasian mesin waktu.”
Kemudian perempuan itu bicara lewat telepon.
“Oh, begitu. Baik, Pak.”
Lalu telepon ditutup.
“Bagaimana?” aku penasaran.
“Sebentar, Ibu. Kepala bagian pengoperasian mesin waktu akan menemui ibu.”
Lalu perempuan itu berdiri membawa beberapa berkas di tangannya. Aku dibiarkan menunggu.
Hampir 15 menit aku memperhatikan ruangan sekeliling. Aku sampai hafal beberapa motto yang terpampang di dalam pigura yang terpajang di dinding.
Seorang lelaki berkepala botak menduduki kursi perempuan customer service tadi.
“Iya, Ibu. Ada yang bisa kami bantu?”
“Oh, Bapak kepala bagian pengoperasian mesin waktu?”
“Iya.”
“Tadi sudah dikatakan CS Anda bukan, soal permasalahan saya?”
“Ya, sudah, bu.”
“Bagaimana?”
“Begini, bu. Benar kalau kami belum pernah menangani kasus seperti yang diajukan ibu. Karena memang sebelum melakukan perjalanan mesin waktu, kami mengharuskan pasien untuk berada di Ruang Pertimbangan. Tujuannya agar pasien dapat mengambil keputusan yang benar-benar matang. Di ruangan itu, kami minta pasien untuk berpikir ulang. Benar-benar menimbang segala hal baik buruk untuk dirinya. Karena melakukan perjalanan kembali itu sulit dilakukan. Ini bukan pelayanan pesawat terbang, Anda bisa pesan tiket Pulang Pergi sesukanya. Kalau bosan pergi Anda bisa pulang atau sebaliknya. Ini pelayanan mesin waktu.”
Emosiku jadi tambah naik berbicara dengan lelaki berkepala botak itu.
“Bilang saja kalau mesin waktu kalian belum cukup canggih untuk mengirim orang bolak-balik dari satu waktu ke waktu lain.”
Dia jadi diam.
“Ngomong seperti itu saja kok harus berbelit-belit begitu. Benar kan omongan saya?”
“Bukan begitu, Ibu. Lagi pula, kalau bolak-balik menaiki mesin waktu bukannya Anda nanti cuma membuang-buang waktu saja. Jangan dipikir umur Ibu tidak bertambah. Tentu tetap berjalan. Hanya bentuk luarnya saja yang mengikuti masa di mana ibu datang. Tetapi umur ibu tidak mengalami perubahan. Bukti itu akan ibu rasakan pada badan yang mudah lelah dan gampang terserang penyakit. Bisa jadi kalau dipikir akan sampai umur 60 tahun lebih. Dengan mengendarai mesin waktu, hanya mampu bertahan di umur 50 tahunan.”
“Lah, itu kan terserah saya. Saya yang ingin melakukan.”
“Tidak bisa, Ibu. Kalau begitu kami tidak bisa melayani.”
Lelaki itu lalu meninggalkanku begitu saja.
“Hei! Kalian pikir aku tidak bisa bayar? Aku punya banyak uang!”
Lelaki itu tidak menggubris. Malah dua orang berseragam security menghampiriku.
“Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan. Aku ingin menemui anak-anakku! Aku meninggalkan mereka sendirian! Apa kalian tidak punya rasa kemanusiaan?”
Kedua security itu memegangi pundakku kiri kanan.
“Maaf, ibu.”
“Dasar pelayanan ndak jelas! Pelayanan waktu ndak bertanggung jawab!”
“Mari, ibu.”
Aku menepis tangan mereka di pundakku. Lalu melangkah ke luar gedung yang kuanggap sangat dahsyat tiga tahu lalu.
Kembali terbayang wajah anak-anakku.
Aku masih belum bisa menangis. Mataku jadi sembab. Seperti orang yang kurang tidur malam.

***

Kembali kumasuki kantor setelah cuti habis. Aku berusaha menceriakan suasana hati. Kubawa senampan brownies hasil kreasiku sendiri. Kukemas dalam kotak plastik kue. Khusus ingin kutujukan pada seseorang.

Ketika kakiku melewati ruang Mbak Nelly lagi-lagi kudapati kelompok gosip berkumpul. Mereka tampak sedang menceritakan seseorang. Aku hanya berlalu. Tidak lupa senyum kulemparkan.

Tetapi Mbak Nelly malah mengejarku.
“Aya!”
Aku menoleh. Mengkode dengan alis.
“Ditanyain Pak Sima terus.”
“Masa?”
“Iya.”
“Lah, kan tahu aku lagi ambil cuti.”
Mbak Nelly angkat bahu.
“Coba langsung ditemui saja. Masih nanya terus. Termasuk hari ini.”
“Oke.”

Aku memang berniat ke ruangan lelaki itu. Brownies ini memang khusus kubuatkan untuknya. Awalnya aku malu. Karena yang dulu memulai hubungan kami adalah Azzam Sima. Tetapi kali ini, kupikir tak apalah kalau aku sebagai perempuan yang mencuri start. Wajah anak-anak tak bisa membuatku berhenti menyesal. Aku ingin kembali memeluk mereka. Cuma ini jalan satu-satunya untuk bisa kembali berkumpul dengan anak-anakku. Menikahi Azzam Sima kembali!

Kuketok pintu ruangan kacab. Sebelumnya sudah kurapikan pakaian. Bahkan sempat kuciumi aroma parfum baru yang kubeli kemaren.
“Ya, masuk!”
Perintah itu membuatku segera membuka pintu.
“Aya! Akhirnya,...”
Sambutan riang itu membuatku merasa berbunga-bunga.
“Tolong saya.”
‘Baik, Pak. Tapi, ini saya bawakan brownies hasil buatan sendiri. Rencananya saya akan membuka usaha catering. Mana tahu Bapak bisa mempromosikan. Relasi Bapak kan banyak.”
Aku sedikit bersilat lidah. Masih malu rasanya untuk bersikap terang-terangan. Aku hanya berharap dia suka. Seperti dulu, dia sangat menyukai brownies buatanku.
“Oh, maaf. Saya kurang suka Brownies.”
Jawaban itu seperti segayung air yang menyiram bara api kecil di hatiku.
“Oh, Bapak kurang suka Brownies.”
“Tapi, taruh saja disitu. Sekarang kamu tolong saya.”
“Tolong apa, Pak?”
“Ke galeri undangan.”
“Galeri undangan?”
“Iya. Carikan saya undangan.”
“Bapak mau menikah?”
Dia mengangguk.
Mulutku seolah terkunci untuk menanyakan dengan makhluk perempuan yang berjenis seperti apa pilihannya itu. Siapa namanya? Lebih cantik kah dari aku?
Aku menelan ludah.
“Kapan, Pak?’
“Rencananya 3 bulan lagi. Mungkin bisa jadi diundur. Soalnya belum juga dapat gedung yang pas. Mungkin bisa jadi 6 bulan lagi.”
“Tolong saya, ya. Tidak ada yang mengurusi. Saya rasa saya cocok dengan selera kamu.”
Aku lagi-lagi menelan ludah. Rasanya ada yang tersekat.
“Kenapa tidak pasangan Bapak sendiri yang mengurus?”
“Dia di jawa. Kami akan menikah di Jambe saja. Tetapi saya tidak mau pakai Wedding Organizer. Mahal. Selain itu di Jambe masih belum begitu profesional. Saya pikir kalau kamu yang mengurusnya semua akan lebih beres. Saya suka sentuhan kamu. Ruangan meeting untuk menyambut kedatangan saya waktu itu, salah satu bukti selera kamu tidak murahan.”
“Begitu, pak?”
“Saya minta kamu yang mengurus semuanya.”
Aku terpaku. Tidak sedikitpun lelaki ini memandangku. Menganggap perasaanku saja tidak. Apakah dia tidak tahu apa yang barusan dia lakukan seperti melempar godam ke jendela hatiku yang rapuh. Sekarang jadi hancur berkeping-keping. Tidak mungkin lagi bisa dibenahi.
“Bisa kan, Aya?”
Aku mengangguk lemah.
“Saya sangat berterima kasih atas bantuannya.”
Aku lalu berbalik arah menuju pintu keluar.
“Mau kemana?”
‘Keluar.” Tunjukku pada pintu.
“Jangan lupa, ya. Kalau bisa carikan saja dulu gedung. Takutnya sudah banyak yang ngantri buat acara.”
Aku mengangguk lagi.
“Ya, sudah. Kamu bisa keluar.”
Aku melangkah lunglai keluar ruangan kacab.

(Bersambung)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger