Monday, January 21, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (19)



Wajah anak-anakku sembab menangis. Air matanya tak juga berhenti mengalir walau aku seka berkali-kali. Kunyanyikan segala macam lagu. Kugendong. Kutepuk-tepuk. Bahkan kuajak bermain. Mereka tetap menangis.

“Berhentilah menangis, nak.”
Aku iba dengan mata mereka yang sudah meradang. Sembab memerah seluruh bagian wajah.

“Alif, Arul, sayang ummi, kan?”
Tangis mereka makin pecah.
Aku jadi cemas.

“Kenapa menangis, nak?”
Mereka tidak menjawab.
Mereka terus menangis. Duduk bersisian satu sama lain. Kaki tak berkasut. Penuh lumpur.

“Dari mana Abang dengan Adek? Kenapa kakinya kotor begitu?”
Mereka tidak menjawab.
Kulihat lama kelamaan lumpur itu berubah jadi merah seperti darah. Lalu kaki mereka makin membengkak seperti gajah. Tangis mereka semakin keras dan menyayat.
“Ada apa? Kenapa, Nak?”
Ada yang melompat dari kaki mereka mengenai wajahku. Ketika kuraih, ternyata seekor belatung. Lalu melompat lagi yang lain. Kini kaki-kaki mereka dipenuhi begitu banyak belatung. Berlompatan seperti pop corn dalam mesin pemanggang. Belatung itu menyerang wajah dan tubuhku berkali-kali.
Aku jadi panik.

Kutepis berkal-kali. Tapi lompatan belatung-belatung itu seperti tak berkesudahan. Mengenai mata. Menghantam pipi. Menimpa kepala. Menyerang dada. Menohok perut. Belatung-belatung itu seperti peluru kini bertubi-tubi menembakiku.

“Sudah! Cukup! Cukup! Cukup!”
Aku tersadar. Terduduk lemas di atas kasur.
Bersimbah peluh tubuhku.
Aku termenung di alam sadar mengingat mimpiku.
Rasanya begitu ngilu. Ada pula seonggok pilu.
Aku meraba dadaku.
Ingin sekali rasanya menangis. Seolah ada air bah di balik kelopak mataku yang sekuat tenaga kupertahankan. Tapi aku merasa tak mampu menangis. Aku hanya bisa merasa sedih. Sedih sekali.

Suasana terasa muram pagi ini. Kantor pun kurasakan begitu lengang. Muka-muka tampak suram berseliweran di depanku saat aku akan menuju ke ruangan. Bahkan satu dua wajah seolah berubah jadi muka anak-anakku yang menangis.

“Alif!”
Seseorang memanggil nama anakku.
Terkejut kutoleh.
“Iya?” seorang lelaki tinggi besar berkulit hitam legam menyahut. Rambutnya keriting. Wajahnya sangat lebar. Pikiranku menafsirkan wajahnya jadi terlihat sangat seram.
Bukan Alif anakku. Tetapi karyawan di kantor cabang. Dahiku jadi berkeringat. 
Aku memejamkan mata ketakutan.

Duk!
Tanpa terduga, kepalaku dipentung gumpalan kertas oleh seseorang.
Kubuka mata sambil meraba kepala.
“Kenapa kamu?’
Wajah ceria Yulianto menatapku bingung.
Aku menggeleng. Rasanya ingin mendekam saja cepat di ruanganku. Kukunci rapat-rapat. Sembunyi. Menghilang sejauh-jauhnya dari keramaian. Aku setengah berlari menghindar.
“Hei, ditanya kok malah pergi!”
Yulianto menarik tanganku.
 “Kenapa?”
Aku menggeleng.
“Aya?”
Aku menggeleng lagi.
Tak sengaja Pak Sima melewati kami menuju ruangannya. Tiba-tiba aku jadi merasa sangat ingin memeluk tubuh itu dan menangis sekuat-kuatnya. Dan bertanya padanya tentang nasib anak-anak kami. Betapa aku merasa sangat bersalah karena keputusan yang telah aku buat sebelumnya. Aku ingin meminta lagi sebuah kesempatan untuk memperbaiki. Aku ingin kami bisa menikah lagi! Demi anak-anak!

Aku sungguh ingin menangis. Tapi seperti tadi pagi. Seperti ada air bah di kelopak mata yang sangat kuat tertahan. Aku cuma bisa berhasrat untuk menangis. Betapa leganya kalau aku bisa menangis. Tapi mata ini tak bisa mengucurkan airmata. Sekalipun kupaksa.
Aku menarik nafas. Terasa tersangkut di dadaku. Mungkin klep jantungku jadi mendadak rusak. Satu per satu oksigen tampaknya enggan bertamu.

Pak Sima sudah memasuki ruangannya. Tanpa tahu apa yang kupikirkan. Aku menghela nafas. Menyadari keadaan. Bahwa lelaki di kantor itu, bukan Azzam Sima suamiku dahulu. Dia atasanku. Lelaki yang terlalu jauh untuk kujangkau.

Tak kuhiraukan Yulianto. Dia terus memanggilku. Tapi kakiku cuma mau berhenti di dalam ruanganku. Kuputar kunci. Tanpa peduli gedoran Yulianto dari luar.

Aku ingin sendiri. Aku ingin sekali bisa menangis. Sangat ingin. Tapi aku tidak bisa menangis!

(Bersambung)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger