Sunday, January 20, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (18)



Tanpa terasa waktu cepat melenggang. Hari ulang tahun ke-27 pun melayang seperti hari biasa. Tidak ada perayaan. Tidak ada yang spesial. Cuma ucapan beberapa teman hadir di sms dan dering handphone.
Rumah dan kebun Bapak akhirnya terjual cepat dalam waktu tidak sampai tiga bulan. Kami tidak bisa memperoleh harga yang tinggi. Malah dibawa standar harga pasaran. Demi Kak Asni, kami biarkan saja dia memberikan langsung kata deal pada penawar pertama.
Sempat kucemaskan nasib Anjang dan rekan-rekannya. Syukurnya si pembeli mau mempekerjakan mereka melanjutkan tugas lama.
Aku memilih mengontrak rumah dibandingkan langsung mencari rumah baru. Kupikir tanpa terburu-buru, mungkin aku bisa mendapatkan tanah atau rumah di lokasi yang sesuai keinginan, dengan harga miring.
Masalah terbesar di rumah kelar. Kak Asni senang. Aku dan adik-adik tenang. Sedikit bertolak belakang dengan kondisi kantor yang berubah drastis jadi arena peperangan. Penuh kepanikan.
Semua terjadi karena kebijakan baru yang dikeluarkan Pak Sima, Kacab baru. Setiap karyawan menjabat surveyor, kolektor, maupun remedial, selama tiga bulan berturut-turut tidak mencapai target akan langsung mendapat SP3 alias dipecat. Sementara yang tidak mencapai target bulanan akan diberikan SP. Surat Peringatan tentu sifatnya bertingkat. Tetap saja akan dipecat kalau target buruk. Intinya, jangan berani-berani tidak sampai target!
Karena akhir bulan, untuk bulan depan saja aku sudah disuruh mempersiapkan 5 surat pemecatan.
“Nampaknya memecat sekaligus 5 karyawan adalah sikap yang terlalu gegabah, Pak!” Aku menjatuhkan protes ke ruangan Pak Sima.
Dia tenang menanggapi penolakanku atas kebijakannya.
“Tampaknya tidak terpikirkan lagi periuk nasi orang beristeri. Saya prihatin, terutama pada karyawan yang sudah berumur. Tentu tidak mudah bagi dia untuk mencari pekerjaan baru.”
Dia mengangguk-angguk.
“Sepertinya, Anda lebih cocok bekerja di organisasi sosial. Coba kirimkan lamaran. Pasti diterima!”
Aku jadi kesal mendengar tanggapannya yang enteng.
“Kita memang perusahaan For Profit, Pak! Tetapi kita tetap harus punya rasa kemanusiaan.”
“Kamu yang akan bayar gaji mereka?”
Aku diam.
“Jangan jadi orang yang membiarkan kebodohan dan kemalasan. Kapan kita majunya kalau selalu berpikir standar? Bahkan di bawah standar?”
“Tapi, bagaimana nasib mereka?”
“Mereka diberi pesangon, itu cukup untuk memperbaiki keadaan yang sudah mereka rusak sendiri.”
“Apa itu cukup, Pak?”
“Kamu beri uang semilyar pun pada seorang pemalas ndak akan cukup. Lagi pula, kebijakan yang saya buat ini sudah saya terapkan di tempat yang saya pimpin sebelumnya. Kantor pusat memuji dan mengadopsi kebijakan tersebut. Sudah beberapa kantor cabang mulai menerapkannya. Memang kebanyakan masih di Jawa. Saya kembali jadi yang pertama menggebrak Sumatera. Diharapkan seluruh cabang memakai ke depannya. Jadi, kamu ndak perlu kaget dan menganggap saya terlalu kelewatan.”
Aku kehabisan kosakata untuk berdebat.
 “Jadi, tolong siapkan SP3 yang saya minta. OK!” katanya mengedipkan mata sebelum menghubungi seseorang lewat telepon selulernya.
Urusan denganku dianggap selesai.
Aku keluar kantor kacab merasa tanpa muka.
Malah aku jadi heran dengan tujuan yang ingin kuperjuangkan barusan. Jangan-jangan aku cuma dianggap ingin cari perhatian dengan lelaki yang dulu pernah jadi bagian perputaran waktu.
Aku masuk ke ruanganku dengan muka malu. Tapi, sungguh awalnya aku hanya bermaksud menyampaikan keprihatinan atas nasib karyawan yang menurutku tertindas karena perlakuan yang tidak adil. Tetapi bentuk sanggahan balik yang dilancarkan kacab membuatku malah mati kutu. Sikapnya yang terakhir kurasa sangat meremehkan.
Nadia masuk ke ruanganku.
“Kenapa, Nad?”
“Pak Sima mengajak makan siang.”
Aku melirik jam tangan. Memang sudah Pukul 12 lewat 15 menit.
Bukan karena perutku yang memang belum lapar. Tetapi sebuah tawaran yang selama tiga bulan ini belum pernah dilancarkan.
“Makan siang?”
“Ditunggu katanya.”
“Ditunggu?”
“Di mobil.”
“Di mobil?”
“Iya, mbak. Pak Kacab sedang menunggu di mobil di depan kantor.”
“Oh,” aku merasa bertingkah bodoh.
Kebingungan kuraih tas handphone dan dompet. Bergegas kutemui sebuah mobil yang sedang menyala parkir di depan kantor. Tanpa sengaja pandanganku tertabrak dengan Yulianto di lobby kantor yang sedang duduk di meja Customer Service berbincang. Kulalui saja. Tanpa senyum. Karena aku juga tak menemui niat senyum dari lekuk wajahnya.
Kubuka pintu tengah mobil. Tidak ada orang. Kacab duduk di bangku setir. Jadi kututup lagi pintu tengah, lalu membuka pintu depan. Duduk dengan tangan dingin serta jantung entah kenapa penuh detak tak beratur.
“Lama sekali!” terdengar kesal nada bicara beliau.
“Maaf,” aku jadi merasa tidak enak.
Mobil kemudian meluncur ke sebuah warung makan kaki lima. Tertulis di gerobak penjual, “Sop Kaki Ayam Mas Bambang”.
“Enak di sini!”
Mobil diparkir dan Pak Sima keluar.
Aku mengikuti saja.
“Sop kaki ayam satu, mas!”
“Siap, Pak Sima!” jawab si mamang dengan senyum lebar. Sudah kenal betul kelihatannya.
Kami duduk bersisian. Karena cuma satu bangku panjang.
“Kamu tidak pesan?” tanyanya melirikku.
“Eh, iya.”
“Ada sop yang lain juga.”
“Eh, iya.”
Aku melihat ke mamang sop, “Dibuat sama saja, mas.”
“Oke, mbak.”
Saling diam beberapa saat. Tetapi tampaknya beliau tidak kikuk sama sekali. Malah aku yang serba salah.
Sop datang. Lahap beliau menyantap. Tanpa suara. Kami makan siang dalam diam. Hingga sop kandas.
“Alhamdulillah. Enak betul, kan?”
Diperhatikannya mangkuk sopku yang masih tampak penuh.
“Tidak suka sop ya?”
“Suka. Tapi saya masih kenyang.”
“Oh.” Begitu saja beliau berkomentar.
Aku masih menyeruput kuah sop beberapa kali.
“Tidak ada yang protes atas kebijakan saya sebelumnya.” Tampaknya pembicaraan inti mulai dibuka.
Aku mendengarkan.
“Tapi saya suka. Anda punya keberanian. Berani menyuarakan suatu hal yang dianggap tidak sesuai.”
Aku menghentikan suapan.
“Tetapi saya tidak suka ada kontradiksi dalam tim. Terutama di lingkar tim paling dalam. HRD adalah bagian paling dekat dengan Kacab. Kalau terjadi ketidaksesuain pandangan. Sulit untuk melangkah bersama ke depannya.”
Aku terus menyimak.
“Saya tidak ingin menciptakan hubungan kerja yang tidak nyaman di antara kita. Jadi, saya mohon dengan sangat kerjasamanya.”
“Oh, seharusnya Bapak tidak perlu memohon seperti itu.”
“Saya memang sedang membuat presure di kantor. Kalau presure itu tidak didukung oleh jajaran kepala yang lain. Maka akan gagal untuk ke bawahnya. Anda paham efek itu?”
Aku mengangguk begitu saja.
“Terima kasih.” Pak Sima tersenyum.
Aku jadi berpikir dengan apa yang kulakukan tadi. Begitu salah kah?
“Kita memang perlu meningkatkan kualitas kerja karyawan. Selama ini mereka bekerja terlalu santai dan nyaman. Kualitas kerja karyawan meningkat maka target perusahaan otomatis akan meningkat.”
Aku tak berkomentar.
“Kamu harus belajar jadi kepala. Bukan tidak mungkin perempuan jadi kacab. Melihat kualitasmu, kamu punya peluang ke sana.”
Aku tersenyum. Mengiyakan saja.

Tak lama makan siang kami selesai. Tidak banyak pembicaraan selama perjalanan menuju kantor. Aku jadi berpikir pembicaraan tadi di warung sop. Kurasakan Pak Sima pun berusaha menciptakan presure padaku. Menurutku, Lelaki satu ini adalah tipe pemimpin yang tidak menerima penolakan atau pendapat yang bersebrangan darinya.

Memahami kondisi itu. Aku tidak lagi banyak berkomentar. Apapun perintah beliau aku jalankan. Walaupun mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan pemikiranku.

Aku mendengarkan banyak selentingan tak enak dari obrolan para karyawan. Kecemasan jelas tergambar di wajah mereka. Memang efek presure itu mulai menunjukkan tajinya, karena target perusahaan naik cukup drastis sekian persen. Baru tiga bulan berjalan, Pak Sima sudah mampu mengungguli prestasi kerja Pak Welly, kacab lama.

Tim marketing dirangkul beliau tak kalah ketatnya. Berbagai program diluncurkan. Marketing diasah untuk mengeluarkan lebih banyak ide kreatif dan inovatif penjualan. Bahkan mereka disuruh melakukan polling, untuk membidik segmen pasar. Memahami keinginan konsumen adalah kunci keberhasilan produsen! Tekan Kacab baru pada tim marketing.

Kami yang biasa kerja dengan kecepatan 40 km/jam kini dipacu untuk menembus 100 km/jam! Wajar kalau banyak yang kewalahan dan angkat tangan.

Azzam Sima.
Perputaran waktu telah membuatnya jadi singa yang sedemikian ganas. Menunjukkan taring dan misainya yang beringas. Aku sampai tidak menyangka perubahan itu sungguh terjadi pada sosoknya.

Seandainya lelaki itu dulu sehebat sekarang.
Aku tersenyum sendiri dengan hayalan yang terlintas itu. Kalau lelaki itu segarang sekarang, tidak mungkin aku masuk dalam perhitungannya!

Jam kerja sabtu ini berakhir. Kubereskan seluruh berkas yang berserakan di atas meja. Komputer dipadamkan. Nadia menongolkan kepala siap dengan tas tentengnya.
“Duluan, mbak.”
Aku mengangguk.
“Saya juga mau pulang.”
Dia tersenyum. Lalu menuju ruang absen.
Kudengar lagi gosip seputar gadis mungil yang lembut itu. Hubungannya dengan Pak Herman makin meningkat jenjang. Itulah alasan paling kuat mengapa Pak Herman keluar dari perusahaan. Dan atas rekomendasi teman diterima di perusahaan finance lain. Mereka akan segera meresmikan hubungan ke jenjang pernikahan. Ada legalitas hukum. Pak Herman resmi bercerai dengan isteri pertamanya. Mungkin mereka akan menunjukkan hubungan tersembunyi itu ke permukaan. Tapi bagus lah. Cuma, penggemar gosip tetap lah penggosip. Cerita mereka tak pernah habis jadi bahan gunjingan. Untunglah Nadia gadis yang masa bodo. Kuperhatikan memang dia tidak pernah bergabung dengan karyawan lain. Cuma tekun bekerja di mejanya dari dia datang hingga waktunya pulang kerja. Beberapa teman karyawan mencemoohnya sebagai anak kuper. Tapi kalau kubilang itu pilihan paling aman dan tidak beresiko.

Melangkah di ruang lobby, masih dipenuhi karyawan. Hari ini jadwal tutup buku. Mbak Nelly kepala finance ikut lembur. Aku terkadang kalau bosan di rumah juga menemani mereka lembur. Tetapi kupikir aku terlalu lelah hari ini. Butuh istirahat. Kudapati mobilku di parkiran. Dan segera memacunya ke jalanan.

Handphoneku berdering.
Aku tidak membawa handset. Kubiarkan saja telepon seluler itu berdering. Tetapi tampaknya si penelpon tidak mau menyerah. Sampai di lampu merah kuraih juga benda itu.

Tidak ada nama yang tertera di layar.
“Halo?”
“Aya?”
Suara Yulianto.
“Anto?”
“Iya.”
“Nomor baru?”
Aku tidak menduga setelah sekian lama kami dalam perang dingin tanpa saling sapa, akhirnya dia yang kembali menyapa.
“Iya.”
“Ada apa?’
“Ndak. Cuma nanya kabar.”
“Oh, kabarku baik. Kamu?” aku merasa percakapanku penuh basa-basi.
“Aku baik.”
Lampu hijau kembali menyala. Kujalankan lagi kendaraan.
“Aya,”
“Ya?”
“Aku minta maaf soal kemaren.”
Aku tersenyum. “Kenapa minta maaf? Kamu ndak salah kok, Nto. Aku yang terlalu berlebihan dalam bersikap. Wajar kamu marah.”
“Tapi aku tidak ingin marah, Aya. Aku hanya sakit hati.”
“Sakit hati?”
“Sebab bertepuk sebelah tangan.”
Aku tertawa. Nampaknya Yulianto kembali pulih. Gombalnya datang lagi.
“Kok ketawa. Serius ini!”
“Maaf,” aku memaksa tutup mulut.
“Kita masih ce-esan kan?”
“Selamanya.”
“Baikan?”
“Baikan.”

Hubungan kami kembali pulih. Paling tidak, berbaikan dengan Yulianto akan membuatku kembali punya teman di kantor. Selama ini, cuma Yulianto yang kuanggap teman bercerita paling aman dan nyaman. Semenjak cerita Mbak Nelly, dengan Dilly pun aku jadi jaga jarak.

Aku sudah sampai di depan rumah kontrakan ketika Yulianto menutup pembicaraan kami. Handphoneku kembali berdering. Kali ini nama Kacab baru yang tertera di layar.

“Halo, Pak?”
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
“Dimana?”
“Di rumah, Pak.”
”Ada dibaca sms yang saya kirim?”
“Oh, belum. Ada apa ya, Pak?”
“Saya sedang meluncur ke Berlian. Saya lupa memesan furniture di toko. Sekarang orang toko sudah ada di depan rumah saya. Bisa kamu ke sana?”
“Oh, bisa, Pak.”
‘Tolong ya. Mereka menunggu. Sudah saya sms kan nomor mereka sekaligus alamat rumah saya.”
“Baik, pak.”
Telepon lalu dimatikan.
Aku menghela nafas. Kuputar lagi kepala mobil keluar rumah. Kubaca sms yang tertera. Aku sedikit kaget dengan alamat rumah yang tertera di layar. Karena aku hafal betul letak rumah itu.

Aku meluncur ke alamat yang dikirimkan Kacab. Sesampainya di sana, rasa rindu itu jadi hadir. Di depanku berdiri lagi rumah lama kami. Rumah Bapak. Penampilannya tampak lebih gagah. Beberapa renovasi sedang dilakukan. Sebuah pick-up berisi lemari parkir di depan rumah.
“Mbak Aya?” supirnya menghampiriku ketika aku turun dari mobil.
“Iya.”
“Tolong diterima ya, Mbak.”
Aku menandatangani.
“Rencananya mau ditaruh dimana, Mbak?”
Aku segera meraih handphone dan menelpon Pak Sima.
“Pak, lemarinya sudah datang. Pintunya terkunci.”
“Kuncinya ada di bawah pot merah sebelah kanan pintu masuk.”
Aku mendekati pot yang dimaksud dan menemukan barang yang dicari.
“Bagaimana?”
“Iya, Pak. Sudah ketemu.”
“Tolong, ya, Aya. Diatur dulu.”
“Baik, Pak.”
Telepon kembali ditutup.

Kubuka pintu yang lama tak kumasuki itu. Hawa yang mengalir dari dalam mengantarkan aroma khas masa lalu. Aku memperhatikan beberapa bagian dari ruangan masih kosong. Furniture yang dibeli kutaruh saja di sembarang tempat. Setelah yang mengantar perabot pulang. Aku masih berlama-lama sendirian di rumah itu. Menikmati suasananya sesaat.

Telepon selulerku kembali berdering.
Pak Sima.
“Iya, Pak?”
“Sudah?”
“Sudah.”
“Terima kasih, Aya. Sudah mau direpotkan.”
“Tidak apa-apa, Pak.”
“Tidak ikut lembur?”
“Tidak, Pak.”
“Oke lah. Tolong ditaruh lagi kunci ditempatnya.”
“Baik, Pak.”
Telepon dimatikan lagi begitu saja.

Lelaki ini sangat berbeda dengan Pak Welly. Kayaknya dilahirkan tanpa dilengkapi kehangatan. Wajar saja, sudah segitu berumur dan sukses belum juga punya pendamping hidup!

Aku menutup kembali rumah itu. Kupandangi sosok menterengnya dari dalam mobil. Tak kusangka, pembeli itu adalah Pak Sima. Lelaki yang dulu bahkan membeli rumah sangat sederhana pun tidak mampu.

(Bersambung) 

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger