Sunday, January 20, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (17)



Anisa tidak terima dengan kesepakatan yang kubuat bersama Kak Asni. Dirinya berang. Karena menurutnya sikap Kak Asni sungguh tidak adil.

“Itu artinya seluruh harta warisan jatuh kepada dia!” terdengar jelas suara kesal Anisa di handphone.
“Kak Asni sedang dirundung masalah berat. Tidak ada salahnya kita sedikit ringan tangan membantu.”
“Tetapi tidak dengan menghabiskan seluruh harta warisan Bapak.”
“Nisa,...”
“Kak Aya dan Bang Alif kok bisa pasrah-pasrah saja. Kak Asni sudah cukup berada. Untuk apa pula kita harus menolong dia?”
“Bagaimana kalau keadaan Kak Asni menimpa diri Nisa?”
Anisa diam.
“Kami pun pasti akan bersikap sama, dek.”
Anisa mendengarkan.
“Tidak baik cuma karena masalah harta waris kita kakak beradik jadi bertengkar.  Kasihan Bapak dan Bunda di alam kubur. Lagi pula Kak Asni tidak menggunakan semua. Masih disisakan buat biaya kuliah Nisa dan rumah baru kita.”
“Kak Aya, paling yang kita peroleh itu seperempat dari seluruh harta waris yang terjual. Kak Asni memakai tiga perempatnya!”
“Itu cukup untuk kita!”
“Tidak adil, Kak! Dalam hukum bagi waris Islam saja perempuan tidak mendapat jatah sebanyak itu.”
“Nisa! Di sini kita bukan bicara masalah angka!”
Anisa terdiam setengah kubentak.
“Yang penting kakak usahakan sekolah Nisa tidak terbengkalai. Nisa harus jadi dokter.”
“Tapi, demi Kak Asni semua kenangan masa kecil kita bakal hilang?” Anisa bicara setengah bergumam.
Aku jadi diam.
“Kakak rela?”
“Dek, materi bukanlah ukuran untuk segalanya.”
“Nisa bukan menekankan pada materinya.”
“Lalu apa?”
Anisa membuat jeda sejenak.
“Entahlah, Kak. Tapi, sungguh. Dari hati kecil Nisa yang paling dalam, Nisa tetap ndak bisa terima.”
“Anisa?”
“Nisa tidak menyangka Kak Asni akan setega itu sama kita.”
Aku menghela nafas.

“Tapi, sudahlah. Anisa ikut Kak Aya dan Bang Alif saja. Benar kata Kak Aya. Tidak  baik menyusahkan Bapak dan Bunda. Lagian materi bisa dicari. Memori bisa disimpan.”
Aku tersenyum.

Selanjutnya kami tidak lagi membahasnya di telepon seluler. Kami bercerita lain, mengikuti hembusan angin. Dari masalah kuliah Anisa. Cowok-cowok yang sedang dekat dengannya. Hingga akhirnya dia sibuk menawarkan aku seorang dokter. Aku dibuatnya terbahak.

Kami nyaris menghabiskan waktu empat jam berkelakar dan curhat. Anisa kurasakan makin dewasa dan tidak lagi manja. Keluhannya tidak sebanyak dulu ketika pertama kali kuliah. Aku ingat sekali dia sering menangis menelpon Bunda. Jam duduk Bunda di ruang televisi berdentang tiga kali. Berarti tepat jam tiga dini hari. Aku setengah menguap mendengarkan ocehan Anisa yang tampaknya belum akan kelar.

“Kak Aya?”
Aku benar-benar tertidur. Suara panggilan Anisa di handphone membangunkanku.
“Sudah ngantuk ya?”
“Sudah tidur malah.”
Anisa terkekeh.
“Ya sudah. Nisa tutup ya.”
“Iya.”
Akhirnya percakapan kami berakhir. Kupingku terasa panas. Mataku setengah terpejam menuju ke kamar tidur.

***

Aku kesiangan.
Sesampainya di kantor, Kacab baru sudah menunggu di ruanganku dengan berkacak pinggang.
“Bagaimana ini? HRD kok datangnya terlambat! Seharusnya Anda yang jadi contoh tauladan karyawan lain soal kedisiplinan bukan sebaliknya!”
Aku menunduk. Rasa kantuk masih membelenggu. Aku memang tidak biasa begadang. Paling kuat juga jam 12 malam. Itu pun jarang sekali.
“Saya minta data karyawan cabang dan kepala pos di kabupaten. Nanti bawa ke ruangan saya.” Lalu beliau keluar. Kupikir ceramahnya akan panjang.
Aku menguap. Kupanggil Nadia untuk mencarikan berkas yang diminta kacab. Sementara aku rebahkan kepala di meja kerja.
Sempat aku tertidur dan bermimpi bermain pancit dengan anak-anakku. Tawa mereka bukan main riangnya menemukan aku yang sedang bersembunyi.
“Mbak,...” teguran Nadia menyadarkanku dari tidur.
“Oh, ya. Ma kasih, Nad.” Aku menerima berkas yang disodorkan.
“Kurang tidur, Mbak?”
Aku mengangguk sambil tersenyum, “Ngobrol di hape sama adek sampai jam tiga subuh.”
Nadia ikut tersenyum, “pantes.”
Aku berdiri menenteng berkas. Harus segera ke ruangan kacab. Bos baru pasti sedang menunggu.

“Berkasnya, pak.”
Memasuki ruang kacab kali ini terasa lebih kaku. Menegangkan. Walaupun wajah yang di depanku itu adalah wajah dari masa lalu. Tetapi sungguh auranya terasa berbeda. Asing.
“Duduk.” 
Sama sekali tanpa memandangku.
Aku mengikuti perintahnya.
“Saya ingin tahu rekomendasi Anda.”
“Rekomendasi?”
“Iya. Orang-orang yang selama ini bekerja bersama Anda.”
Aku jadi bingung.
“Maksudnya bagian-bagian di cabang ini?”
“Tentu.”
“Bukannya sebaiknya ditanyakan pada bagian masing-masing, Pak?”
Pak Kacab baru menatapku tajam. Mungkin tidak terima dengan jawabanku.
“Kamu HRD kan? Paham prestasi mereka?”
“Saya baru menjabat 7 bulanan.”
“Lalu?”
Aku jadi makin tak mampu menjawab.
“Siapa marketing paling handal?”
Aku mereka-reka, “Yulianto. Ketua tim marketing.”
Beliau mengangguk-angguk.
“Bagus ya?”
“Ya, Pak.”
“Okelah kalau begitu. Kamu boleh keluar.”
Aku mengangguk.
“Permisi, Pak.”
Tidak dijawab.
Aku mencibir kesal. Bagaimana mau dijawab. Melihatku saja ogah. Dasar sombong!

Benar kah dia lelaki yang sama dari masa lalu?
Tampaknya dia tidak mengenalku lagi. Bisa jadi mesin waktunya mengalami gangguan saat itu sehingga kami tidak sampai pada jadwal pemberhentian waktu yang sama? Atau mungkin kepalanya terbentur saat perjalanan mesin waktu berlangsung lalu jadi amnesia?

Aku menggeleng-geleng sendiri.
Untuk apa aku peduli?
Kalau pun benar itu dia, kami sekarang sudah jadi pribadi yang berbeda satu sama lain. Tidak lagi bersentuhan. Apalagi bersinggungan.

(Bersambung)

                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (7)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (8)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (9)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (10)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (11)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (12)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (13)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (14)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (15)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (16)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger