Thursday, January 17, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (16)



Anisa jarang menelpon.
Aku baru saja sampai di rumah. Terasa lelah setelah kelar acara penyambutan dan perpisahan kacab di kantor.
“Assalamualaikum, kak.”
Suara Anisa segera menyambut ketika telepon kuangkat.
“Waalaikumsalam, dek. Bagaimana kuliah?”
“Alhamdulillah lancar. Sebentar lagi semester baru, kak.”
“Oh, bagus kalau begitu. Bagaimana nilai kemaren?”
Yuk Way membukakan aku pintu. Segera kubuka sepatu dan meletakkan tas di sembarang tempat. Kurebahkan badan penat di sofa depan televisi.
“Nilainya standarlah.”
“Nyampe tiga kan?”
“Pas banget, kak. Nyaris mepet kalau ndak protes ma dosen karena salah koreksi.”
Aku tertawa, adikku memang pemberani dan vokal. Dia selalu bicara kalau ada yang tidak sesuai di hatinya.
“Kak,”
“Iya?”
“Bisa bantu aku buat uang semesteran?”
Aku mengerutkan kening.
“Kok minta sama kakak. Minta sama Kak Asni.”
“Kak Asni bilang, ndak ada uang.”
Aku mengerutkan kening.
“Kok bisa?”
“Anjang pernah menelpon kakak?”
“Tidak. Kenapa?”
“Anjang pernah menelponku. Dia tanya apa benar kebun Bapak mau dijual?”
Aku langsung duduk. Hilang rasa penat yang tadi mengurung.
“Dijual? Ndak mungkin, dek. Kak Asni ndak pernah ngomong apa-apa.”
“Makanya Nisa bilang juga begitu sama Anjang. Tidak mungkin dijual begitu saja. Harus ada persetujuan ahli waris. Itu artinya sepengetahuan kita berempat.”
“Terus?”
“Anjang bilang, kebun Bapak sertifikatnya sudah lama digadaikan. Jadi kalau tidak dibayar hutang Bapak, kebun mau disita. Makanya Kakak berniat mau jual.”
“Masa masalah segenting itu Kak Asni ndak cerita?”
“Nisa masih juga ngotot bilang ndak mungkin sama Anjang. Anjang akhirnya lega. Tapi, beberapa hari kemudian Nisa nelpon Kak Asni minta uang semesteran. Kak Asni langsung jawab gitu, ndak ada uang.”
“Iya?”
“Kak Asni bilang, Bapak ninggalin banyak hutang. Harus dilunasi, karena sudah ditagih sama yang ngutangin.”
“Memang Bapak pinjam sama siapa? Bank? Rentenir? Atau siapa?”
“Kak Asni ndak ngomong, kak. Enaknya Kak Aya aja yang tanya.”
“Iya lah. Nanti coba Kakak tanya.”
“Terus uang semesteran Nisa gimana? Uang bulanan Nisa kata Kak Asni mungkin bulan depan ndak bisa dikirimi lagi.”
“Loh, kok gitu.”
“Kak Asni bilang, lagi repot banget di rumah. Banyak pengeluaran. Ditambah lagi ngurusin masalah utang Bapak.”
“Masa Kak Asni ngomong gitu.”
“Nisa ndak bohong, kak. Coba Kakak tanya sendiri kalau ndak percaya.”
“Iya.”
“Uang semesteran Nisa ya, Kak. Paling lambat disetor tiga hari lagi.”
‘Waduh, kok mepet banget sih!”
“Ya, gimana? Nisa harus minta sama siapa lagi?”
“Ya, udah. Kakak minta nomor rekening Nisa aja. Kakak masih punya simpanan. Besok Kakak kirim.”
“Bener, Kak?”
“Iya. Nanti kalau sudah dikirim, kakak telpon Nisa.”
“Ma kasih ya, Kak.”
“Sama-sama.”
“Udah dulu ya, Kak.”
“Lah, cuma mau minta duit aja ya?”
“Iya,” Anisa terkekeh.
“Dasar! Ya, udah. Belajar yang rajin. Biar cepat kelar.”
“Siap. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam.”
Telepon berakhir.

Aku rebahkan lagi badan di sofa.
Ingatanku kembali berputar ke masa silam, sebelum menggunakan mesin waktu. Seingatku kondisi rumah aman, tentram, dan adem ayem saja. Bunda mengurusi semua. Kebun Bapak dikelola Bunda tanpa beban. Anisa kelar kuliah. Bahkan Bunda sempat membelikan aku dan Bang Azzam rumah karena prihatin melihat kondisi kami yang terus-menerus pindah kontrakan. Tetapi, rumah itu tidak bertahan lama. Hutang Bang Azzam membuatnya lego di tangan penagih hutang.

Seingatku, Bunda tidak pernah mengeluh soal hutang yang ditinggalkan Bapak. Malah Bunda sempat membantu sedikit modal buat Bang Azzam. Tetapi, begitulah, modal itu hanya habis untuk membayar hutang. Bang Azzam memang tampak benar tak punya bakat di bidang swasta. Dia bukan tipe orang yang sabar dan tekun. Egonya selalu ingin cepat berhasil dan tampak sukses. Dia malu dibanding-bandingkan terus dengan suami Kak Asni yang pegawai negeri. Sementara dia hanya kontraktor yang menggarap proyek-proyek kecil.

Mengingat kondisi itu, pertanyaan jadi berputar begitu ramai di kepala. Kenapa sekarang Bapak jadi banyak meninggalkan hutang? Selama ini pun tak kulihat keresahan Bapak soal mengurus kebun. Bapak juga tidak pernah cerita masalah hutang piutang seputar usahanya.

Terdesak rasa penasaran, tanpa mandi sore aku bergegas menuju rumah Kakak. Tidak kutelepon. Aku tahu ini masalah sensitif. Lebih baik dibahas face to face.

Rumah kakak tampak kedatangan tamu ketika aku tiba. Dengan santai aku melenggang masuk. Ternyata tamu itu Tante Mia. Penampilannya semakin tampak mentereng saja.
“Eh, Aya. Tambah cantik sekarang!” basa-basi ala Tante Mia.
“Ma kasih, Tante. Lama ndak liat.”
“Iya, Aya itu yang ndak pernah mau main ke rumah Tante.”
Aku tersenyum tak menjawab.
“Kapan nih nikahnya?” pertanyaan yang terlalu sering ditujukan padaku. Seringkali membuat kupingku jadi panas atau hatiku mendongkol berat.
“Mau ndak dikenali sama calon Tante?”
Aku makin melebarkan senyum.
“Orangnya ganteng. Anak pengusaha batubara.”
“Ndak usah repot-repot, Nte.”
“Ih, kok begitu sih, Ya. Coba kenalan aja dulu napa?” Kakak mulai ikut campur.
Aku mendelik.
“Sudah ada calon kali, As.”
“Aku tahu betul masih belum, Nte.” Jawab Kak Asni membuatku makin mati kutu.
“Ih, mau aja. Pasti cocok lah buat Aya.”
“Ndak, Nte.”
“Umur kamu berapa sekarang, Ya?”
“Sudah 27, Nte.” Jawab Kakak.
“Baru 26 kok.”
“Nanti bulan Juli sudah 27. Dua bulan lagi.” Sewot Kakak menimpali.
“Ya, baru juga 27.”
“Kakak nikah umur 26. Kakak sudah pacaran sama Bang Yanto umur 22. Kamu umur 27 punya pacar yang jelas aja belum, kapan lagi mau nikah?”
“Kalau udah sampai, nikah juga.”
“Sampai apanya?”
“Ya, jodohnya lah.”
“Keburu Tante yang nikah duluan.” Celetukan Tante Mia disambut tawa Kakak.
Menyebalkan!

Aku menyesal datang di waktu yang salah.
“Kak, aku belum mandi. Numpang mandi ya?”
“Gadis kok sembrawut gitu!” Kak Asni makin cerewet setelah jadi ibu-ibu.
Aku hanya memonyongkan bibir sebelum kabur ke bagian belakang rumah Kakak yang mewah.
Setelah mandi. Aku menemui para keponakan yang sedang asyik main PS. Aku menunggu Tante Mia segera minggat. Tapi tampaknya pembicaraan makin asyik dan serius. Tante Mia tak beranjak dari duduknya begitu pula Kakak.

Aku sempat tertidur.
Kakak yang membangunkan.
“Bangun, sudah magrib. Ndak bagus tidur di antara dua waktu!”
Tubuhku menggeliat.
“Tante Mia sudah pulang?”
“Sudah.” Kakak menjawab sambil membawa nampan berisi gelas dari ruang tamu.
Kuperhatikan Kakak. Tampaknya dia hendak mengerjakan sholat. Keran air terdengar bergemericik diambil wudhu.
Kuikuti kakak. Berjamaah kami menyelesaikan magrib. Kakak ipar masih di luar. Ada pertemuan di sebuah hotel.
Selesai sholat, kubuka pembicaran yang sedari tadi sore kutahan.

“Tadi Nisa menelpon, Kak.”
Kakak melepas mukenah dan melipatnya dengan rapi.
“Dia minta uang semesteran.”
“Iya. Beberapa hari lewat, Nisa juga menelpon Kakak. Tetapi Kakak bilang sedang ndak ada uang.”
“Kenapa dengan usaha perkebunan Bapak, Kak?”
Kakak diam. Tampak dia menghela nafas pelan.
“Kakak minta maaf sebelumnya. Kakak punya rencana hendak menjual kebun kita.”
“Kenapa, kak?”
“Kakak butuh uang untuk melunasi hutang.”
“Kenapa kakak cerita sama Nisa dan Anjang, kalau Bapak yang punya hutang?”
“Ndak mungkin lah Kakak jujur, Aya. Sebenarnya Kakak lama ingin membahas hal ini sama kamu. Tetapi bingung harus memulainya.”
“Harus dengan menjual kebun?”
“Kakak berutang sama Tante Mia. Terus berbunga. Sekarang nampaknya tak sanggup lagi kami atasi. Kalau tidak kami lunasi mungkin semua yang kami miliki akan disita. Tapi, itupun tidak cukup kata Tante Mia.”
“Besar sekali?”
Kakak mengangguk.
“Menjual kebun Bapak pun ndak menyelesaikan. Rencananya Kakak minta izin juga menjual rumah Bapak.”
“Kak!”
“Tolong lah Kakak. Kamu tidak mau kan Bang Yanto masuk penjara?”
Aku kecewa. Dulu, ketika aku dan Bang Azzam susah, sedikir pun Kakak tidak berusaha meringankan beban kami. Padahal dari dulu Kakak hidup sangat mewah. Sekarang, ketika terlilit masalah. Gampang betul kakak membebankannya pada harta warisan Bapak. Tidak dia pikirkan bagaimana nasib Anisa.
“Kak, kalau kebun dan rumah Bapak dijual bagaimana kami, terutama Anisa? Kuliahnya belum kelar. Nanti masih ada choas menunggu. Semua itu butuh biaya. Gajiku tidak mampu menopangnya.”
“Sudah kakak perkirakan. Dengan menjual kebun dan rumah. Masih ada sisa yang bisa Aya tabung untuk biaya kuliah Nisa. Ada lebih sedikit bisa dibelikan rumah. Mungkin rumah biasa. Tidak semewah rumah Bapak yang sekarang.”
Aku menghela nafas.
Perjuangan Bapak dan Bunda yang bertahun-tahun harus raib dalam hitungan bulan. Aku mengeleng-geleng merasa tidak terima.
“Alif dan Anisa bagaimana, Kak?”
“Alif sudah Kakak tanya. Kata dia terserah Aya.”
Aku makin menghela nafas.
“Tinggal Anisa. Kakak ndak bisa ngomong dengan dia. Kakak tahu dia anak Bapak yang paling keras. Pasti dia tidak setuju. Kamu saja Ya yang ngomong dengan Nisa. Bujuk dia. Demi keponakan kalian. Mereka masih kecil-kecil.”
Aku mengingat anak-anakku dahulu.
Mereka juga masih kecil-kecil. Terpaksa dewasa karena masalah yang kami belitkan di leher mereka.
Aku mengangguk pelan.
Kupikir, harta cuma sebatas dunia. Tapi, tanggung jawab orang tua sampai ke liang lahat.
Aku menelan ludah.
Kakak memelukku. Kurasakan airmatanya meleleh.
Tak apalah. Alif sudah bisa mencari uang sendiri. Aku yakin Anisa pun tak akan kesulitan mengandalkan diri setelah dia tamat kuliah. Aku sendiri juga sudah merasa cukup dengan gajiku.

Kakak mengantarku ke luar rumah. Tak banyak bicara. Hanya keponakan-keponakanku yang sibuk berteriak melambaikan tangan dengan riang. Mereka masih terlalu kecil untuk dibebani masalah. 

Aku jadi rindu anak-anaku!
Air mataku menetes di atas mobil yang kusetir.
Seandainya aku dan Bang Azzam bisa bijak menata rumah tangga kami. Tidak hanya mengukur keharmonisan dengan materi. Tidak mengurung diri dengan rasa iri. Mungkin perjalanan rumah tangga kami akan menjadi berbeda dan baik-baik saja. Aku dikaruniai anak-anak yang tampan dan cerdas. Mereka mengisi kebahagiaan kami di tengah keruwetan masalah. Mereka menciptakan tawa dan canda. Tidak ada keluh dari bibir-bibir mungil mereka. Seolah maklum dengan kesusahan yang orang tuanya ciptakan. Mereka tidak banyak menuntut. Bahkan merasa nyaman di tengah keterbatasan.

Alif dan Arul,
Buah hatiku yang hilang bersama putaran mesin waktu..
Maaf kan Ummi, Nak!

(Bersambung)

                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5) 
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (7) 
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (8)
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (9) 
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (10) 
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (11) 
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (12) 
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (13) 
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (14) 
                                Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (15)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger