Thursday, January 17, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (15)



Aku telah memutuskan untuk fokus bekerja. Aku tidak ingin peduli dengan sekeliling. Terserah, kalau kemudian akan jadi bahan gosip pula. Aku sudah paham betul kondisi temperatur kantor. Lebih baik tak disentuh kalau tidak ingin ikut-kutan naik suhu.

Berita yang 6 bulan lalu pernah dihembuskan Mbak Nelly padaku terbukti benarnya. Ada email pemberitahuan dari kantor wilayah tentang rolling kacab, termasuk cabang kami. Kacab segera memanggilku untuk membicarakan hal tersebut di ruangannya. Tidak banyak hal yang kami bahas. Salah satunya persiapan Pak Welly untuk pindah dan undangan seluruh jajaran kepala di cabang untuk mengadakan rapat membahas seluruh pekerjaan yang akan ditinggalkan.

Sebenarnya aku sudah merasa nyaman dengan Pak Welly. Kacab kami tersebut tergolong senior di golongannya. Orangnya bijak dan berwawasan terbuka. Sangat mudah menerima saran dan kritik. Beliau adalah pendengar yang sangat baik. Aku banyak belajar dari beliau.
Ditambah lagi, aku sudah dekat dengan keluarga kacab. Di luar kegiatan kantor, Pak Welly sering meminta pertolongannku. Aku jadi merasa punya orang tua lagi. Isterinya mengingatkanku pada Bunda.  

“Kacab baru kita katanya orangnya muda betul. Lulusan universitas di Jawa yang berprestasi langsung direkrut untuk dipersiapkan masuk dalam jajaran atasan. Semacam pemimpin karbitan!”
Sekilas kudengar ocehan Mbak Nelly ketika aku melewati ruangannya. Penasaran, kuperlambat langkah agar bisa mendengar lebih banyak.
“Masih bujangan!”
“Ganteng ndak?” beberapa bertanya sambil cekikikan.
“Ya, ndak tahu. Lah kita juga cuma dapet omongan dari temen di kantor wilayah.”
Aku mencibir.
“Orangnya sebaik Pak Welly, ndak?”
“Kabarnya, orangnya galak. Tapi Topcer!”
“Topcer apanya?” pertanyaan kembali diiringi tawa.
“Nomor Pokok Karyawannya jauh di bawah kita. Kepala sepuluhan gitu. Tapi, dia sudah di-rolling di empat pos daerah terpencil dan dua cabang di Indonesia Timur sana. Selama dia memimpin, rate penjualan langsung naik! Mungkin salah satu pencetakan pemimpin yang dinilai berhasil. Tetapi ya, namanya karbitan tetaplah karbitan. Ndak akan sama dengan yang matang beneran.”
Beberapa menggumam.
“Wah, biar ganteng tapi galak, ndak buat selera ya?” seseorang menyeletuk.
“Jadi, enaknya gimana?” celetuk yang lain
“Ganteng, seksi, dan banyak duitnya.” Tertawa membahana.                   
Kugerakkan lagi langkah menuju ruanganku. Pikiranku jadi berusaha membentuk sosok kacab baru. Aku hanya berharap bisa sesuai bekerja dengannya. Aku sudah tidak nyaman dengan karyawan lain. Aku tidak ingin ditambah tidak nyaman dengan atasan yang tidak cocok denganku.

Nadia menegurku ketika melewati mejanya.
“Mbak, dari Mbak Susi.”
Aku menerima telepon yang disodorkan padaku. Kudengar suara lembut Mbak Susi melantun di seberang. Perempuan itu memberitahukan perihal kedatangan kacab baru tiga hari lagi.

***

Hari ini, kacab yang ditunggu akan datang. Nadia sama Beni yang menjemput di Bandara. Hari ini pula akan diadakan acara perpisahan dan penyambutan, sebab Pak Welly juga harus segera terbang ke kantor barunya.

Aku dan beberapa karyawan mempersiapkan ruangan meeting sebagai tempat acara. Aku harus menyuguhkan yang sempurna untuk kesan pertama yang baik bagi kacab baru.
“Namanya siapa, mbak?” tanya Serna yang sedang membantuku menata meja prasmanan.
“Nama siapa?”
“Kacab baru kita.”
“A. Sima.”
“Wah, namanya saja terdengar garang ya.”
Aku tersenyum saja.

Mbak Nelly masuk ke ruangan meeting terburu-buru, “Sudah datang, Ya! Guanteng betul! Macam artis!”
“Yang bener, mbak!” Serna semangat.
Aku bergegas keluar ruangan meeting. Di ruang lobi suasana tampak tenang.

“Sudah ke ruangan kacab sepertinya,” ujar Mbak Nelly lagi.
Bertiga kami menuju ruangan kacab. Suasana tampak ramai. Beberapa kepala bagian memenuhi sofa. Aku masuk berbarengan dengan Mbak Nelly. Serna cuma mengintip sebentar di pintu lalu kabur.

“Oh iya, Pak Sima. Ini Aya, HRD kita dan Nelly kepala finance.”
Wajahnya bersih. Putih. Sungguh terawat. Beberapa bulu halus tumbuh di atas bibir dan sekitar rahang maupun dagu. Tetapi aku sangat kenal wajah itu. Walau tampak sangat berbeda dengan dulu.

“Azzam Sima!” dia menjabat erat tanganku.
“Terakhir di cabang mana, Pak Sima?” tanya Pak Welly melanjutkan pembicaraan.
Aku duduk bersisian dengan Mbak Nelly di sofa yang kosong.
“Cabang Papua.”
“Wah, pasti luar biasa sekali pengalamannya.”
Dia hanya tertawa, “Senang bisa jalan-jalan. Saya sebenarnya asli orang Jambe. Orang tua masih tinggal di Berlian.”
“Oh, jadi ceritanya pulang kampung nih?”
“Kayaknya sama dengan Pak Welly yang bakal ke Yogya.”
Mereka tertawa.
“Saya sudah empat tahun belum balik ke Yogya. Senang betul mendengar kabar dari Mbak Susi kalau saya dikirim balik ke kampung halaman.”

Percakapan mengalir santai. Tidak ada pembahasan soal pekerjaan. Setelah tampak puas berbincang, Pak Welly menawarkan kacab baru untuk berkenalan dengan seluruh karyawan di ruangan meeting yang sudah dipersiapkan. Aku beserta jajaran kepala mengikuti saja seperti ekor.

Pikiranku melayang ke masa lalu.
Wajah terbalut kemeja putih lengan panjang lengkap dengan dasi biru gelap yang berdiri tegap di ruangan meeting saat ini memperjelas tayangan di memori yang lama tak diputar.
Lelaki dari masa silam.

(Bersambung)

                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)

                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (7)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (8)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (9)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (10)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (11)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (12)

                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (13)

                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (14)






0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger