Thursday, January 17, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (14)



Darahku langsung berdesir memasuki lobi kantor. Di meja Customer Service, Sambil berdiri, Yulianto setengah merangkul gadis berseragam kasir. Rok merahnya ketat dan mini. Seragam standar dari kantor itu tentu sudah dipotongnya. Entah apa yang sedang mereka perebutkan dengan canda. Tawa mereka memerahkan wajah masing-masing.

“Aya!” Yulianto menyadari kedatanganku. Rangkulan tadi dilepas.
Aku tersenyum tipis. Kulirik gadis di sebelahnya.
“Kamu Karina kan?”
Gadis itu mengangguk.
“Kamu pikir kamu kerja di mana? Diskotik?”
“Aya?” Yulianto tampak tidak terima dengan sikapku.
“Ukuran rok seragam kasir di bawah lutut. Bukan di atas lutut. Apalagi sampai menjual paha seperti itu. Saya minta besok dan seterusnya kamu pakai seragam ukuran standar.”
Gadis itu mengangguk ragu-ragu.
“Satu lagi. Ini sudah jam delapan lewat. Bukannya kamu kasir di Dealer SYS. Mengapa belum berangkat juga? Saya sering mendapat komplain dari dealer soal keterlambatan kamu.”
Selanjutnya aku meninggalkan mereka dengan kepala sedikit mendongak. Aku sudah HRD sepenuhnya. Pak Herman sudah resmi off kemaren. Entah kenapa, mengalir hawa kesejukan yang begitu menyegarkan dari ujung kepala hingga kakiku setelah kejadian tadi. Aku tersenyum puas. Menyenangkan betul rasanya. Nadia bahkan terheran-heran melihatku tersenyum lebar memasuki ruangan.

Aku duduk di kursiku yang terasa benar-benar empuk dan nyaman sambil merentangkan kedua tangan.
Tak kuduga Yulianto menyelonong masuk. Wajahnya tampak berang.
“Ada apa?”
“Aku tidak suka sikapmu barusan?”
Aku mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Aku yang harusnya tanya kenapa?”
“Wajar aku menegur gadis itu. Tidak kau perhatikan pakaian yang melekat di tubuhnya? Dia lebih mirip lonte dibandingkan kasir!”
“Aya, jaga mulutmu!”
“Pakaian karyawan menunjukkan citra perusahaan.”
“Tapi bukan begitu caranya menegur karyawan. Tidak di depan umum.”
“Maaf, sebenarnya aku seringkali memanggil gadis itu menghadap. Tetapi hebatnya, gadis itu seolah punya lencana immunity. Dia sama sekali tidak menggubris panggilanku. Selain soal pakaian, Dealer SYS juga sering melapor tentang keterlambatannya datang. Konsumen sering dibuatnya menumpuk menunggu.”
“Kamu cemburu, Aya?”
Tawaku langsung meledak.
“Kaupikir semua perempuan di kantor ini jatuh hati padamu? Jangan terlalu tinggi menilai diri, Anto!”
Yulianto geram menatapku, “Aku tidak menyangka kamu sesombong ini, Aya. Aku pikir kamu perempuan yang berbeda dari perempuan kebanyakan. Tetapi ternyata, aku salah membuat penilaian.”
Dia langsung membalik badan keluar ruanganku.
Aku jadi diam.
Sesuatu kurasakan jadi salah.
Tapi kuabaikan.
Aku tenggelamkan diri saja dengan kerja rutin.

***

Tiba di rumah, sampai dengan jam duabelas malam, aku memutar CD film yang kusewa sepulang kantor. Handphone sengaja kubaringkan dekat di sisiku. Setiap kali deringnya berbunyi, kuharap betul dari Yulianto. Seharian ini tak satu lembar sms puisi pun dikirimnya. Apalagi telepon berisi rayuan gombal.

Mungkin kah aku masih mengharapkan lelaki itu?

Aku menggeleng sendiri.

Lelaki itu sudah pernah menyakitiku dengan telak. Bukan rasa cinta yang mengakibatkanku jadi memikirkan lelaki itu malam ini. Kurasa, perkataannya tadi pagi yang membuat hatiku jadi tak enak. Sudah dua lelaki yang menyebutku ‘perempuan sombong’. Perkataan itu benar-benar menamparku.
Rasa bersalah juga timbul. Aku bisa duduk sekarang di kursi HRD karena rekomendasi Yulianto. Kesannya aku jadi tidak tahu cara berterima kasih.

Kuraih handphoneku. Kupilih nama Yulianto di daftar kontak.
Jempolku ragu menekan tombol menghubungi.
Barangkali dia sudah sedari tadi terlelap.

Kuletakkan lagi handphoneku di sisi. Tapi terus saja kupandangi.
Kenapa aku takut menghubunginya kalau tidak lagi punya perasaan seperti dulu?
Segera kuraup kembali handphoneku. Tanpa ragu kuhubungi nomor Yulianto. Tapi sayangnya sedang tidak aktif.

Aku menghembuskan nafas kesal sambil melempar kembali handphoneku ke posisi semula.
Mata kupaksa mengatup. Kupikir besok pagi saja kutemui lagi lelaki itu.

***

Pagi itu masih kudapati Karina dengan seragam mininya di kantor. Dia berusaha tidak melihatku. Geramku makin menjadi-jadi pada perempuan itu. Mungkin geram ini bukan sekedar karena sikapnya yang kurang disiplin. Tetapi terkait pula dengan kekesalan masa lalu.
Tak kuhampiri perempuan itu. Kubiarkan saja. Aku melenggang santai menuju ruanganku.

Masa bodoh, aku tidak ingin mengurusinya lagi!


Baru kunyalakan komputerku ketika Mbak Nelly Kepala Finance mengetuk pintu ruangan.
“Aya,” panggilnya setengah berbisik.
Kuangkat pandangan dari layar komputer yang sedang menyala.
“Sudah dengar kabar?”
Aku mengerutkan kening. Memperhatikan gerak gemulainya duduk di kursi di depan mejaku.
“Kabar apa?”
“Belum ada pemberitahuan dari Kantor Wilayah?”
“Soal?”
“Oh, pantas. Aku juga cuma dapat kabar lisan dari teman kantor wilayah.”
Aku mengangguk mengatupkan gigi. Perempuan ini hanya bermaksud pamer kalau dia punya pengaruh lebih dariku. Jaringannya tidak cuma terbatas kantor cabang Jambe tapi sudah merambah sampai ke kantor wilayah Sumbagsel di Palembang.
“Berita apa ya, Mbak Nel, kalau boleh Aya tahu?”
“Pak Welly bakal diganti dengan Kacab baru.”
“Oh ya?”
“Tapi mungkin baru enam bulan lagi.”
“Kok Mbak Nelly bisa tahu segitu cepat?”
“Kebetulan teman akrab di kantor wilayah itu menjabat kepala HRD.”
“Ooh,” mulutku makin dibuat membulat. Aku tidak mengerti arah pembicaraan ini sebenarnya. Memberitahukan informasi atau hanya ingin menunjukkan eksistensi diri yang lebih dariku. Sebagai HRD cabang seharusnya aku menjadi orang pertama yang mengetahui informasi terbaru dari HRD wilayah. Bukan kepala finance cabang.
 “Mbak Susi HRD wilayah ndak kasih tahu apa-apa waktu menelpon kemaren.”
“Belum resmi. Ini juga baru cerita ngarol-ngidul begitu saja.”
“Lah, Mbak Nelly kok sudah berani ngomong? Kalau gosip ini tersebar di kantor kan ndak enak. Apalagi kalau Pak Kacab belum tahu.”
Mbak Nelly senyum saja.
“Saya juga heran ya, mbak, di kantor ini segala berita mudah sekali tercuat. Terkadang berita itu kurang penting untuk dibahas dan rasanya tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.”
“Ah, biasalah, namanya juga kerja di antara banyak orang. Kita tidak bisa membatasi ujaran orang yang keluar dari mulut.”
“Tetapi minimal kan kita tidak ikut menambah-nambahi.”
“Maksudnya seperti kasus segitiga antara kamu, Yulianto, dan Karina?”
Aku terkejut.
Mbak Nelly spontan menutup mulutnya dengan jari-jemari tangannya yang lentik.
“Ada gosip apa tentang kami bertiga?” aku jadi penasaran.
“Ah, cuma dengar-dengar saja.”
“Dengar-dengar bagaimana, mbak?”
“Maaf ya, Aya. Ini juga aku dapat di antara temen-temen kantor.”
Aku menunggu.
“Menurut cerita mereka, kamu berusaha merebut Yulianto dari tangan Karina. Kamu mengejar-ngejar Yulianto. Bahkan sampai memburuk-burukkan Karina karena rasa cemburu dan kesal tidak digubris Yulianto.”
“Apa?”
“Bukan aku yang mengarang-ngarang, Ya. Aku dengar cerita itu awalnya dari Dilly.”
“Dilly?”          
Aku makin tidak percaya.
Mbak Nelly mengangguk.
Aku kehabisan kata untuk melanjutkan pembicaraan.
“Maaf sekali, Aya. Tadi aku kemari bukan bermaksud untuk menyampaikan kabar tentang kamu.”
“Tidak apa-apa, Mbak. Aya malah mengucapkan terima kasih.”
“Kalau boleh tahu, apa memang benar berita itu?”
Mbak Nelly seperti wartawan infotaiment memburu  berita.
Aku tersenyum, “Kalau menurut mbak sendiri bagaimana? Benar tidak?”
Dia tertawa, “Ya, ndak tahu. Kan bukan saya yang mengalami.”
“Menurut mbak saja lah.”
“Tidak tahu.”
Aku tersenyum, “Berarti mbak mempercayai gosip itu.”
Dia tidak lagi berkomentar.
“Maaf, mbak. Saya mau ke ruangan kacab.”
Aku berdiri. Tidak ada rencana ke ruangan Pak Welly. Cuma aku ingin menghindari pembicaraan yang terasa semakin tidak penting ini.
Aku keluar ruangan. Tidak ke ruangan Kacab. Tetapi mencari Yulianto. Ketika mampir ke ruangannya aku tidak menemui. Aku mencoba ke kantin. Dia sering di sana bercengkrama dengan Dilly.
Benar saja. Ketika sampai di ruang makan tersebut, kudapati dua sosok tersebut sedang sarapan.
“Bisa bicara, Nto?” aku langsung duduk di salah satu bangku kosong depan mereka.
Yulianto tak menggubris.
Dilly menatapku penasaran.
“Maaf kalau pembicaraan waktu itu sangat menyinggung. Aku tidak bermaksud begitu sama sekali.” Tidak kupedulikan Dilly.
Yulianto masih tidak menjawab.
“Aku bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Karena itu aku minta maaf.”
Yulianto terus menikmati sarapannya. Seolah tak ada aku di depannya sedang bicara.
Aku bingung tak dipedulikan. Jadinya aku beranjak dari duduk.
“Duluan, Dil.”
“Ya,”
Yulianto masih diam.
Sudahlah! Pikirku aku sudah berusaha memperbaiki keadaan.  Selanjutnya terserah Yulianto.

Aku kembali ke ruangan.
Kupejamkan mata bersandar ke kursi.
Satu bulan di kantor pusat terasa begitu penuh beban. Aku jadi kangen dengan Pos Berlian. Orang-orang yang hangat dan penuh canda.
Apa kabar Seno, Rozi, dan Titis?
Kuraih handphone menghubungi Titis. Pengantin muda itu langsung teriak. Mulutnya berkicau tanpa henti bercerita. Aku jadi tertawa. Dia juga mengabarkan tentang kehamilan anak pertamanya. Dan pertanyaan biasa untukku tentang kapan menikah? Herannya aku bisa menjawab dengan enteng. Tidak ada rasa ketersinggungan. Sebab aku paham, pertanyaan Titis adalah bentuk tulus kepedulian, bukan maksud untuk sekedar mencemooh.

Begitulah! Hidup adalah pilihan. Memang tidak semuanya irama terlantun dengan baik dan merdu. Ada saja cacatnya. Ada saja penyesalannya. Seperti apa yang kupilih sekarang. Kalau ternyata aku merasa semakin kesepian. Ya, itulah pilihan. Aku tidak nyaman. Ya, itulah pilihan. Mungkin saja rencana yang kita buat sangatlah sempurna. Tetapi ketika Tuhan sudah turun tangan, kita tidak bisa lagi berpijak pada rencana kita.

(Bersambung)

                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2) 
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (7)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (8)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (9)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (10)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (11)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (12)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (13)
              

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger