Monday, January 14, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (13)

Kuinjakkan kaki di kantor pusat dengan sepatu high heels yang baru kubeli kemarin.
Ini hari pertamaku kerja menjadi seorang Kepala HRD.
Tugasku di Pos Berlian sudah kelar. Penggantiku tidak kesulitan melanjutkan pekerjaanku sebelumnya.

"Aku sudah belikan blazer baru. Ke mana harus kukirim?" telepon Yulianto malam itu.
Aku jadi kikuk harus menjawab apa.
"Kenapa harus repot-repot?"
"Harus dong! Besok kan hari pertamamu menjabat Kepala HRD. Pakaianmu harus lebih modis."
Aku jadi kesal, "Jadi kamu pikir selama ini aku kurang modis?"
Yulianto terkekeh, "Sedikit kurang modis. Agak ndeso!"
"Sialan!"
"Eits, harus terima. Di kantor pusat, pergunjingan antar karyawan akan lebih menyakitkan. Makanya, agar kamu ndak jadi bahan pergunjingan baru di sana, aku belikan kamu baju yang pantas."
"Aku punya kok!"
"Coba ndak usah keras kepala."
"Kok jadi ngatur?"
"Aku hanya ingin membuat kamu tampil jadi lebih baik. Aku kan sudah janji mau membantumu. Kamu ndak maukan jadi bahan gosip murahan di hari pertama kerja cuma gara-gara penampilan? Ayo, sudah lah, Aya! Di mana aku bisa kirim pakaian ini agar bisa sampai ke kamu?"
"Ya, sudah. Kita ketemuan di Mang Fried Chicken."
"Ok. Aku berangkat sekarang. Jangan terlalu lama menyusul."
"Iya."

Maka, pagi ini dengan blazer pembelian Yulianto aku tampil lebih elegan. High heels yang kubeli pun hasil rembuk saran dengan Yulianto. Katanya lagi, aku harus mulai menyesuaikan diri. Penampilan karyawan perempuan di kantor pusat sangat fashionable dan elegan. Apalagi sebagai HRD berjenis kelamin perempuan. Pakaianku pasti jadi patokan. Soalnya tentu dari aku aturan kedisiplinan berpakaian seluruh karyawan berawal. Kalau aku saja dinilai gagal berpenampilan, maka aku akan dicap gagal menjadi seorang HRD!

Menurutku, ucapan Yulianto itu pasti hanya mengada-ngada. Blazer merah marun yang kukenakan ini memang sangat nyaman dan pas di badan. Tetapi kupikir, ini cuma caranya saja untuk menarik perhatianku.

Hari pertama kerja. Tentunya aku harus melapor. Aku memasuki ruangan Kepala HRD setelah menegur sekretarisnya. Pak Herman masih belum off. Rencananya aku akan dilatih selama sebulan, baru beliau akan mengundurkan diri.

"Cantik sekali hari ini, Aya!" pujian Pak Herman menyambut uluran tanganku.
Aku tersenyum, "Terima kasih, Pak."
"Sepertinya tidak salah menempatkan kamu menjadi seorang HRD." Pak Herman menggoda.
Yang benar saja? Masa cuma karena sepotong pakaian, keberhasilan seseorang di sebuah posisi dapat diukur?

Tetapi ya, mungkin ada benarnya juga kata Yulianto. Di Perusahaan Swasta, kesan pertama adalah apa yang dilihat oleh mata. Oleh karena itu, jangan buat orang menolak kita hanya karena kesan pertama yang gagal di mata mereka.

Selanjutnya Pak Herman mulai mengkronologiskan pekerjaan rutinnya sebagai HRD, dari yang sederhana hingga yang rumit. Kami tidak lupa juga bertandang ke ruang Kacab untuk memperoleh arahan.

Pekerjaan HRD ternyata juga tidak kalah mengasyikkan. Untuk ukuran kesibukan, kurang lebih sama dengan pekerjaanku yang lama di pos. Tetapi kali ini yang kuhadapi bukan konsumen perusahaan, tetapi karyawan perusahaan.

Benar saja kata Yulianto. Bisik-bisik karyawan kantor pusat mulai kurasakan gaungnya di hari pertama kerja. Lirikan-lirikan sinis berdatangan dari beberapa mata. Aku jadi merasa tidak nyaman. Aku tidak berani menghampiri ruangan Yulianto. Pertanyaan akan semakin bermunculan di kepala-kepala penggosip itu tentunya.

Dilly yang mendatangiku di kantin kantor ketika jam istirahat makan siang.
"Sendirian?" tegur perempuan itu selalu ramah.
"Hai!" sambutku tidak menyangka dihampiri.
Dia duduk di sampingku. Semangkuk bakso penuh saos tersaji di depannya.
"Ndak makan siang?" tanyaku.
"Ini!" tunjuknya dengan mulut penuh mie.
"Bakso saja?"
"Kenapa?"
"Diet ya?"
"Ih, dasar orang Indonesia. Makan siang kok harus nasi? Ndeso, ah!"
Aduh! Sudah dua orang yang menganggapku ketinggalan zaman. Aku jadi diam.
"Gimana rasanya jadi HRD?" Dilly bertanya lagi.
"Begitu lah."
"Kok begitu?"
"Kurang lebih lah dengan pekerjaan yang lain."
"Tapi aku salut juga sama kamu, Ya. Soalnya kamu kan terhitung karyawan baru. Padahal ada dua karyawan senior loh yang digadang-gadang bakal gantiin Pak Herman kalau off. Kita pikir salah satu dari mereka. Ternyata eh, malah kamu."
"Oh ya?"
"Kamu ndak tahu siapa mereka?"
Aku menggeleng.
"Karyawan kantor pusat juga. Mbak Ella di bagian BPKB. Mbak Nelly Kepala Finance."
Aku mengenal baik mereka. Dua-duanya sosok yang punya wibawa. Kualitas kerjanya sangat diakui.
Aku jadi minder setelah mengetahui bersaing dengan mereka.
"Waktu tes ndak ketemu?"
Aku ingat memang melihat mereka. Tetapi tidak menduga. Apalagi Mbak Nelly yang sudah Kepala Finance. Kupikir mereka tes untuk pangkat yang lebih tinggi lagi.
"Mungkin kacab kita yang sekarang sukanya dengan orang-orang muda. Biar kantor terasa lebih fresh dan dinamis. Makanya banyak orang-orang muda yang diangkat."
"Bisa jadi."

"Hai, cewek-cewek!"
Sebuah teguran dengan suara khas yang kukenal.
Yulianto.
Dia membawa tentengan Mang Fried Chicken.
"Buat kalian!" sodornya langsung duduk di sampingku.
"Bagaimana HRD baru?"
"Bagaimana apanya?"
"Nyaman tidak dengan pekerjaan barunya?"
"Ya, harus dibuat nyamanlah. Kan sudah pilihan sendiri."
"Bagus kalau begitu!"
"Abis makan di luar, Yul?" tanya Dilly.
"Habis nemuin klien."
"Klien apa klien?"
Aku melirik Dilly.
"Beneran klien kok! Memang ada 'klien apa klien' gitu?"
Dilly terkikik.
Aku balik melirik Yulianto.
"Kenapa melotot begitu? Cemburu?"
"Ih, amit-amit!" aku langsung kembali memperhatikan piringku.
"Memang cewek yang kemarin ketemu di show room itu ndak dapat ya?" Dilly kembali mencecar.
"Cewek yang mana? Show room mana?"
"Yang di mall. Pameran minggu kemarin?"
Yulianto tertawa, "Yang mana sih, Dil?"
"Alah, mentang-mentang ada Aya jadi sok alim. Hati-hati, Ya. Playboy cap kacang goreng nih!"
Aku jadi tersenyum. Sudah tahu lama!
"Alah, Dilly. Mentang-mentang ada Aya jadi cemburu. Kamu ndak akan aku cuekin kok!"
"Ih, ge-ernya!"
Aku berdiri. Makanku sudah selesai. Lagi pula Pak Herman tadi mengajakku keluar setelah makan siang.
"Eh, kok pergi sih, Ya?" Yulianto tidak terima aku beranjak.
"Udah selesai."
"Yeee, kan ngobrolnya belum."
"Tadi ada janji dengan Pak Herman."
"Wah, ndak nyangka ada maen dengan Pak Herman ya?" Dilly menggoda.
"Hus! Jangan asal ngomong Dil. Nanti ada yang salah dengar!"
Yulianto membuat Dilly mengatupkan mulutnya dengan rapat.

"Ya udah. Aku duluan ya."
"Aya, nanti pulang kerja ada waktu? Aku ma Dilly mau jalan-jalan ke mall." Yulianto menawarkan.
Aku menggeleng, "Ndak bisa. Di rumah masih masa berkabung. Tidak ada yang mengurusi tetangga yang datang."
Senyum Yulianto jadi pupus. Dia mengangguk pelan.
Dilly juga tidak berkomentar.

Aku meninggalkan mereka menemui Pak Herman. Hari ini kami akan menemani Pak Kacab meninjau ke Pos Mara. Ada beberapa kasus menyangkut kedisiplinan karyawan. Kami akan berkonsultasi dengan Kepala Pos sekaligus melihat langsung kondisi di lapangan.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (14)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (5)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (6)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (7)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (8)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (9)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (10)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (11)
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (12)












2 comments:

WAWASANews.com said...

Cerbung WAWASANews Part 4

Setelahnya, aku segera menuju ke tempat di mana Sopir kusuruh tunggu. Usai kuberikan ia imbalan sebanyak yang telah kami sepakati, maka ia kusuruh pergi.
“Beneran ini, Non?”
“Iya, Pak. Nggak papa.”
“Makasih, ya.”

http://www.wawasanews.com/2013/01/mencari-aman-tanpa-arya.html

Mardiana Kappara said...

terima kasih udah mampir. ^_^

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger