Thursday, January 10, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (12)

Nyenyak betul aku tertidur. Bahkan aku nyaris ketinggalan waktu subuh. Bergegas aku ke kamar mandi untuk berwudhu lalu mendirikan shalat wajib. Aku sama sekali tidak memperhatikan Bapak. Hingga panjatan doa terakhir aku tutup dan mukenah kubereskan.

Kulirik wajah Bapak.
Tenang sekali beliau tertidur.
Padahal langit sudah mulai berwarna biru tua.

Tumben Bapak belum terbangun. Pikirku.
Kudekati sambil memegang lembut tangan keriputnya.
Dingin sekali.
Darahku langsung berdesir tak nyaman.
Kupegang ujung kaki Bapak.
Sama dinginnya.
Sekujur badan Bapak terasa dingin.
Kuraba denyut nadi di pergelangan tangan.
Perasaanku masih terasa ada detak.
Tetapi kuraba hidungnya. Tidak ada sirkulasi udara berputar.
Kuraba lagi denyut nadi di leher. Tidak terasa detak berirama. Hanya hening.
Balik kuraba pergelangan tangan Bapak yang tadi terasa berdenyut.
Ternyata tidak ada.
Aku kebingungan sendiri.
Dalam panik aku berlari ke ruangan perawat jaga.
Kuminta mereka segera memeriksa Bapak.
Bergegas perawat menuju ruangan Bapak. Sementara perawat satu lagi menghubungi dokter jaga.
Beberapa menit kemudian dokter menyusul ke ruangan Bapak.
Dokter memeriksa mata Bapak.
Denyut nadi dan jantung.
Kata dokter. Nihil.
Begitu saja?

Bapak positif sudah menyusul Bunda.
Aku terpaku di tempatku berdiri.
Padahal tadi malam kami masih berdebat soal jodohku.
Tidak ada sedikit pun firasat.

Kuambil handphone di dalam tas. Kukabarkan berita duka ini pada kakak. Kakak bilang dia sedang di airport, sebentar lagi berangkat. Untung kabar tersebut segera kusampaikan. Kakak langsung membatalkan keberangkatan. Selanjutnya kuhubungi adik-adik. Anisa langsung meraung. Alif hanya diam.

Kakak masih dalam perjalanan. Aku sendirian membereskan semua administrasi dan membawa Bapak pulang. Sempat kuberitahu Anjang. Lelaki kepercayaan Bapak itu seolah tak percaya.

Sesampainya di rumah. Yuk Way sudah menyiapkan segala keperluan. Bahkan satu persatu tetangga sudah mulai berdatangan. Aku tidak masuk ke kantor. Aku hanya mengirim sms ke Seno mengabarkan berita duka itu. Balasan Seno bahkan tidak sempat aku balas balik.

Beberapa saat kemudian kakak bersama kakak ipar datang. Anak-anak mereka berseragam sekolah tapi batal masuk sekolah pagi itu. Sementara Anisa dan Alif berusaha mencari pesawat siang. Mereka berharap Bapak bisa dikubur sebelum shalat Zhuhur.

Kakak tampak lebih terpukul dengan kepergian Bapak. Dia terus menangis memeluk tubuh tua yang telah kaku itu. Atau barangkali kakak merasa bersalah. Beberapa hari belakangan ini, mereka tampak selalu bersitegang.

Aku diam.
Tak ada airmata.
Mungkin karena lama sudah kupersiapkan diri untuk keadaan ini.
Tetapi walaupun tak ada airmata. Hatiku terasa diremas-remas. Ditonjok. Dibolak-balik. Dihempas berkali-kali. Sakit sekali.

Aku kuatkan diri dengan membaca Yasin.
Lantunan ayat itu sedikit membawa ketenangan dan menggemakan ruang-ruang kosong di hatiku.
Begini rasanya jadi yatim piatu.


Sesuai perkiraan, Anisa dan Alif datang sebelum Zhuhur. Beberapa famili juga bermunculan. Rumah semakin sesak dengan tamu.

Bergegas Alif dan kakak ipar bergabung untuk memandikan Bapak lalu kemudian menyalatkan. Seperti direncana dengan baik, Ambulance pun datang tepat waktu. Semua ritual berjalan dengan khusyuk dan teratur. Sampai ke liang lahat. Tamu-tamu masih terus berdatangan sebelum jasad Bapak di kuburkan. Kawan-kawan sekantor. Rekan kerja kakak. Rekan kerja kakak ipar. Teman-teman Bapak. Teman sekolah. Seolah semua tidak ingin ketinggalan kesempatan untuk mengantarkan Bapak ke peristirahatan terakhirnya.

Pulang ke rumah.
Kondisi langsung berubah drastis. Hening. Tamu-tamu sudah permisi sedari tadi. Tinggal kami berempat kakak beradik, satu kakak ipar, dan dua keponakan.
"Akhirnya tinggal kita," kakak membuka pembicaraan.
"Kakak tidak bermaksud terlalu terburu-buru. Tetapi usaha Bapak harus ada yang menjalankan. Beberapa waktu lalu Alif yang Bapak tunjuk. Tetapi Alif tidak bersedia."
"Aku sudah punya pekerjaan bagus di Jakarta, kak. Lagian, mengolah kebun tidak harus lelaki. Perempuan juga punya kemampuan. Kak Asni atau Kak Aya saja."
"Baiklah kalau begitu. Karena Bapak tidak meninggalkan surat wasiat. Sebagai kakak tertua, kakak akan bertanggung jawab untuk meneruskan usaha perkebunan Bapak."
Aku dan Anisa mengangguk saja sebagai pernyataan menyetujui.

Rapat kecil itu pun bubar.
Aku, Kak Asni, Alif, maupun Anisa kembali ke rutinitas masing-masing. Akhir tahun kemaren Alif memang telah lulus kuliah. Dia langsung bekerja menjadi asisten dosen. Aku dengar beberapa proyek musik sedang digarapnya bersama teman-teman. Alif sedari kecil memang begitu mencintai musik. Dia tidak pernah lepas dari musik. Karena itu wajar kalau dia memilih keadaannya yang sekarang. Alif tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin cuma sekali datang padanya.

Sementara Anisa sekarang duduk di semester 4. Masih lama barangkali dia akan menyandang prediket Dokter.  Tetapi Anisa selalu rajin belajar. Sama seperti Alif, Anisa juga tidak main-main dengan cita-citanya menjadi dokter.

Aku masih berulang dari Jambe ke Berlian. Penggantiku cepat belajar. Hanya Seno dan Titis yang tampaknya kecewa dengan kepindahanku.
"Mbak kok ndak pernah cerita?" Titis yang biasa kerja di lantai dua rela turun untuk menginterogasiku.
"Lah, cerita apa?"
"Ih, belum apa-apa sudah sombong!"
Aku jadi tertawa.
"Gimana mau tukar cerita. Lantai kerja kita aja beda. Makan siang Titis sama suami. Aku sama Seno. Terus kapan ngobrolnya?"
 "Sms aja kenapa?"
Aku tambah tertawa.
"Megang duit terus. jadi ndak sempat megang yang lain."
"Halah!"
"Jadi tinggal aku dong perempuannya di pos ini."
"Ya, berarti kamu ndak ada saingannya. Paling cantik sendiri!"
Titis malah cemberut.
"Jangan sombong kalau sudah jadi orang kota."
"Bagaimana mau sombong. Besok-besok pasti aku sering nelpon kamu nanyain absen. Masih Titis kan yang ngurusi absen-absen kita."
"Ho-oh. Tapi jangan cuma nanyain absen, nanya yang lain juga."
"Iya,"
"Kalau nikah jangan lupa kirim undangan ke sini."
"Iya,"
"Kalau lahiran juga."
"Iya,"
"Sunatan."
"Iya, Titis. Lebaran aku mampir ke rumahmu."
"Tiap lebaran!"
"Insyaallah."
Titis memelukku. Matanya berkaca-kaca.
"Besok aku masih di pos kok."
"Iya, aku tahu."
"Ya, perpisahannya jangan sekarang dong. Entar jadi basi."
"Ndak. Nanti biar aku panasin lagi."
Aku terkekeh.
Aku pasti rindu pos ini. Kantor yang isinya orang-orang yang sungguh ceria. Seolah tidak punya beban. Hidup mengalir bak air bagi mereka.

Entahlah, apakah di kantor pusat aku akan menemukan orang-orang seperti mereka atau malah bertolak belakang dari mereka?
Aku masih menerka-nerka saja. Tetapi sejauh ini, aku menjadi semakin dekat dengan Yulianto. Telepon dan smsnya tidak pernah absen mengisi hari-hariku. Hanya kedatangannya ke rumah saja yang terus aku hindari dengan memberikan berbagai alasan.

Tentunya dengan satu kantor kedekatan kami akan makin tak terbendung. Telepon atau sms bisa saja dielakkan beberapa kali. Tetapi tatap muka tidak mungkin bisa di-cancel.  Aku hanya tidak ingin kembali membuka lembaran lama. Perkenalan dan kedekatan kami mungkin cuma 6 bulan dahulu. Tetapi aku butuh waktu lebih lama dari itu untuk membenahi hati yang porak-poranda.

(Bersambung)




                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)

                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (3)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (4)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (5)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (6)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (7)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (8)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (9)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (10)

                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (11)


0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger