Thursday, January 10, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (11)



Baterai hapeku drop. Makanya telepon Anjang maupun kakak tidak kuketahui. Sesampainya di rumah, Yuk Way langsung menyuruhku menyusul ke rumah sakit. Bapak jatuh pingsan lagi.

Tak kuketahui berapa kecepatanku melaju di atas jalan raya. Cuma lima menit aku sudah tiba di pekarangan rumah sakit di mana Bunda menghembuskan nafas terakhir. Kudapati kakak di ruangan VIP. Anjang bersama beberapa pekerja juga masih menunggu.

“Bagaimana Bapak?”
“Sudah sadar tadi. Sekarang sedang tidur. Mungkin badannya masih lemas.”
“Gula darahnya naik lagi?”
Kakak mengangguk.
Aku memejamkan mata.
Di atas mobil pikiran buruk sudah menerpaku.
Aku sudah sempat menangis.
Sepanjang koridor rumah sakit aku sibuk menyeka air mata yang tak mau berhenti turun.

Malam ini aku tidur di rumah sakit menemani Bapak. Semua sudah pada pulang. Kakak tidak bisa ikut menemani. Ada dinas luar yang harus dijalaninya. Dia ambil pesawat yang berangkat pagi sekali.

Bagiku tak masalah. Toh, biasa memang aku yang menemani Bapak. Paling nanti begitu sadar Bapak yang suka protes. Beliau mungkin rindu kembali dekat dengan kak Asni seperti kakak kecil dulu. Tentu biasa anak sulung dekat dengan Bapak. Tetapi semenjak menikah, di antara mereka seolah tercipta jarak.

Betul saja. Selesai aku shalat Isya. Bapak terbangun langsung menanyakan kakak.
“Tadi kakak kan yang mengantarkan Bapak kemari?”
“Iya. Tetapi sekarang mana dia?”
“Pulang sebelum magrib. Besok ada dinas luar kota katanya.”
“Ah, mentingin dinas dibandingkan Bapak.” Merengut wajah tua itu.
“Kan ada Aya...”
Bapak diam saja.
“Pak, jangan kesal terus dengan Kak Asni. Kasian kakak.”
Bapak menoleh padaku, “Ndak kasian sama Bapak?”
“Bukan begitu. Maksud Aya jangan suka berpikiran buruk sama kakak atau sama anak-anak Bapak yang lain. Kami semua sungguh sayang sama Bapak.”
Bapak tidak menjawab.
“Bagaimana kabar kenaikan pangkatmu?” Bapak berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aku tersenyum, “Coba Bapak tebak?”
Bapak memandangku sejenak, “Kalau lihat tampang jelekmu sekarang, pasti kabar bagus!”
Aku tertawa.
“Aku naik jadi HRD, Pak. Ngantornya di Jambe!”
“Sungguh?” wajah Bapak langsung berbinar. Beliau jadi lupa dengan rasa kesal pada Kak Asni tadi.
“Iya. Aya bisa pulang jam istirahat buat makan siang di rumah.”
Wajah Bapak makin sumbringah.
“Tapi apa itu HRD?”
“Semacam bagian personalia. Mengurusi kepegawaian.”
“Oo,.. Hebat kamu, Nak.” Binar bangga terpancar dari mata Bapak.
Aku suka sekali dengan binar itu.
“Mulai kapan?”
“Mungkin bulan depan. Bulan ini aku harus men-training penggantiku di pos.”
“O, lama juga.”
“Ah, tiga minggu lagi kok, Pak.”
Bapak tidak menjawab.
Kembali mata tuanya menerawang lagi.
Aku paling tidak suka kondisi matanya seperti itu.
“Pak?”
“Iya?”
“Kenapa jadi melamun?”
“Ndak. Ingat Bunda saja.”
Aku jadi diam. Kupijit-pijit kaki Bapak untuk mengalihkan perhatiannya.

“Besok kamu cari suami yang baik ya, Aya. Lelaki yang sungguh sayang sama kamu.”
Aku mengangguk. Walau sebenarnya bosan dengan topik pembicaraan yang terlalu sering dibahas. Tetapi demi Bapak, tak apa lah!
“Jangan suka bertengkar dengan suami. Jadi perempuan itu harus sabar. Lelaki itu memang takdirnya jadi pemimpin. Makanya egois.”
Aku mengangguk lagi.
“Umurmu sudah 25 bukan?”
“Iya, Pak.”
“Belum ada pacarmu?”
Aku menggeleng.
“Mau Bapak carikan?”
Aku tersenyum saja.
“Kemarin ada kawan Bapak mau memperkenalkan anaknya. Pegawai Negeri katanya. Bapak sudah ketemu juga. Anaknya lumayan gagah. Tampaknya pintar juga. Sopan. Pandai berlaku di depan orang tua.”
Aku pikir 25 bukan usia yang terlalu matang. Tapi tampaknya Bapak mulai cemas dengan kesendirianku.
“Kakak iparmu juga bilang dia punya teman. Dosen di sebuah perguruan tinggi negeri. Anggota KPU pula.”
Waw, bukan cuma Bapak yang kelihatan panik karenaku, sampai kakak iparku pun  ikut berpikir.
“Atau kau punya pilihan sendiri?”
“Belum ada, Pak.”
“Di tempat kerjamu tidak ada?”
“Tidak bagus menjalin hubungan dengan teman kerja. Nanti mengganggu pekerjaan.”
“Tidak begitu. Tergantung kita.”
“Aya tidak mau.”
“Teman sekolah dulu bagaimana?”
“Ndak ada, Pak.”
“Benar-benar tidak ada?”
“Iya, Pak.”
“Kok bisa?”
“Kok pertanyaan Bapak begitu?”
“Kamu kan tidak jelek-jelek amat, Aya.”
“Dapat jodoh bukan masalah jelek atau tidak, Pak. Tetapi soal sudah sampai waktunya atau belum menurut takdir Tuhan.”
“Oke lah. Tetapi jodoh juga bentuknya usaha, Aya. Perlu diperjuangkan.”
“Aya sudah berjuang.”
“Buktinya?”
“Aya tidak menutup diri. Aya bergaul baik dengan siapapun.”
“Itu tidak cukup.”
“Jadi maksud Bapak gimana? Aya harus menawar-nawarkan diri, begitu?”
“Ya, bukan...”
“Terus gimana? Lagian Aya baru 25 tahun. Kawan-kawan masih banyak yang kondisinya sama dengan Aya soal jodoh.”
“Kok berpatokan sama orang lain?”
“Lalu berpatokan sama siapa? Sama Bapak dan Bunda? Kalau begitu jelas Aya terlalu tua untuk belum menikah. Bapak menikah usia 20 dan Bunda usia 17. Tetapi roda zaman itu berputar dan berkembang, Pak. Ukurannya tidak akan sama.”
“Kamu itu, dikasih tahu orang tua kok malah menggurui.”
Aku jadi menghela nafas.
“Bukan begitu, Pak.”
“Lalu bagaimana?”
“Aya sungguh-sungguh berjuang untuk masa depan Aya, Pak. Aya tidak ingin gagal hanya karena demi menyenangkan orang lain. Bapak percaya saja sama Aya.”
“Tapi mungkin Bapak tidak bisa menunggu.”
Kalimat Bapak menghentikan perdebatan kami.
Aku disadarkan dengan kenyataan. Memang Bapak bertahan lebih dari setahun dari kejadian sebelumnya. Tetapi bukan berarti Tuhan membiarkannya tetap hidup lebih lama.

(Bersambung)

                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (2)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (3)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (4)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (5)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (6)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (7)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (8)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (9)
                               Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (10)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger