Thursday, January 10, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (10)



Seperti perkiraan Yulianto. Tiga hari setelah kunjungan, Pak Taufik memanggilku untuk memberitahukan tentang tes kenaikan pangkat. Beliau tak banyak berkomentar. Beliau tahu persis prestasi kerjaku selama ini sebagai kasir di front office. Apalagi aku memang sudah satu tahun mengabdi di perusahaan swasta tersebut. Tetapi mungkin Pak Taufik tidak tahu soal posisi yang mungkin ditawarkan untukku. Sebenarnya aku pun belum tahu persis. Semua masih seputar perkataan Yulianto.

Bapak heran melihatku keluar kamar lebih dari jam 7 pagi. Tidak seperti biasanya.
“Kesiangan?”
Bapak baru mau duduk di meja makan menikmati sarapan yang dibuat Yuk Way.
“Ndak.” Aku ikut duduk di samping Bapak.
“Kok siang sekali berangkatnya. Biasa jam setengah enam?”
“Aya ndak ke Berlian pagi ini. Aya ke kantor pusat buat tes kenaikan pangkat.”
“Alhamdulillah... ”
Aku tersenyum, “Doakan saja, Pak.”
“Kalau Bapak, yakin sekali kamu bakal lulus.”
“Ah, ndak boleh gitu, Pak. Itu namanya mendahului Tuhan.”
“Bukan. Ini keyakinan seorang Bapak terhadap anaknya. Kenapa Bapak memberimu nama Mazaya? Kamu paham tidak?”
Aku menggeleng.
“Mazaya itu artinya unggul. Lebih dari yang lain. Dan perlu kamu ingat, Aya, nama itu juga panjatan doa yang disematkan orang tua pada anak-anaknya. Terbukti toh kalau doa itu mustajab! Kamu jarang tidak berprestasi di sekolah dahulu.”

Kebanggaan Bapak yang begitu besar padaku membuat kepercayaan diriku semakin terpelanting. Aku malah jadi semakin takut tidak mampu menjadi sebesar yang Bapak harapkan. Maupun yang Yulianto yakini.

Aku bergegas permisi demi menghindari pujian Bapak yang lain. Aku tahu maksud Bapak membesarkan diriku. Tetapi kurasa hal itu malah sebaliknya. Padahal tadi malam aku sudah yakin sekali dengan shalat malam yang kupanjatkan. Aku berharap yang terbaik. Tuhan akan pasti menunjukkan jalan yang memang sepantasnya aku lalui.

Sesampainya di ruang ujian. Aku jalani semua rangkaian tes dengan tenang dan tanpa beban. Aku lakukan yang terbaik saja. Soal pantas tidaknya aku lulus tentu Tuhan yang bakal lebih tahu ke depannya.

Sebulan kemudian hasil tes dinyatakan keluar oleh penguji. Namaku lagi-lagi dipanggil ke pusat. Dadaku langsung berdetak. Pak Taufik hanya mengatakan bahwa kemungkinan aku naik pangkat menjadi kepala finance pos atau HRD kantor pusat. Kepastian akan ditetapkan oleh Kacab maupun Kepala HRD setelah aku menghadap.

Besoknya aku ke kantor pusat.
Sebelum itu, Yulianto telah mengirimkan sms,

“Terima saja tawaran jadi HRD kantor pusat. Itu bagus untuk karier ke depan.  Beban, gaji, dan tunjangannya sama saja dengan menjadi kepala finance pos. Tetapi posisi HRD jauh lebih bergengsi.”

Sms itu terasa menempel di kepala dan terus mengiang-ngiang bahkan sampai aku masuk ruangan Kacab. Di sana juga ada Pak Herman.

“Apa kabar, Aya?” sapa Pak Herman ramah.
“Baik.” jawabku segera mengulurkan tangan menjabat erat keduanya.
“Silahkan duduk.” Tawar Pak Kacab.
Segera aku menyesuaikan diri dengan kursi.
“Tentunya sudah tahu hasil tes kemarin dari Pak Taufik?”
“Sudah, Pak.”
“Kalau menurut kamu sendiri, kamu lebih cocok di posisi apa? Sebagai HRD atau kepala finance?”
Sms Yulianto kembali tayang di benak.

“saya memang belum mempunyai pengalaman di bidang tersebut. Tetapi saya suka tantangan. Saya suka belajar hal baru. Lagi pula alasan yang lebih realis, saya bakal berada lebih dekat dengan keluarga. Jadi, saya pikir posisi HRD bakal lebih cocok untuk saya.”

Pak Kacab tersenyum.
“Kami memang merencanakan menempatkan Anda di posisi tersebut.”
Aku balas tersenyum, “Terima kasih atas kepercayaannya, Pak.”
“Sama-sama, Aya.”

Terasa lega setelah langkahku berada di luar ruangan Kacab. Aku benar-benar tidak menyangka akan masuk begitu dekat dengan lingkaran atasan. HRD sama saja dengan tangan kanan Kacab. Ke depannya kami akan seringkali bersinggungan.

Tidak sabar rasanya pulang ke rumah untuk mengabarkan berita baik ini kepada Bapak. Bapak pasti senang sekali. Aku tidak perlu lagi pergi terlalu pagi dan pulang sangat malam. Aku akan berkutat di Jambe. Bisa makan siang dengan Bapak kalau beliau tidak sedang di kebun. Bapak pasti tidak kesepian.
Terbayang wajah riang Bapak. Kerut-kerut di sekitar matanya akan terlihat semakin jelas ketika beliau tersenyum lebar apalagi tertawa.

(Bersambung)

                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)

                              Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
                              Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (4)

                              Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (5)
                              Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (6)
                              Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (7)
                              Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (8)
                              Novel : PerempuanDalam Kurungan Waktu (9)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger