Thursday, January 31, 2013

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (26)

Jelita. Perempuan itu akhirnya terbang kembali ke Yogyakarta. Ke tempat asalnya. Aku yang disuruh mengantar. Memberikan peluk cium. Pak Sima tidak bisa mengantar karena ada meeting yang harus dihadiri. Perempuan itu sempat menangis. Entah apa yang membuatnya menangis. Hidungnya jadi memerah. Tetapi dia tetap terlihat cantik. Sangat cantik, dengan balutan kain berbahan Chiffon warna pink.
"Titip Mas Sima." Bisiknya ketika merangkulku.
Aku mengangguk saja.
Dia melepas pelukannya lalu menatapku dengan tersenyum.
"Kusarankan, carilah suami yang seperti Mas Sima. Bukan saya membanggakan dia. Tetapi, kamu tidak akan menyesal."
Pesan itu terngiang-ngiang di kepala.
Betapa besar cinta perempuan ini. Mungkin saja aku pun tak akan mampu menandingi. Aku tidak pernah sekalipun memuji suamiku di depan orang lain. Bahkan, lebih banyak mengeluh dan mencemooh tentangnya. Perempuan itu sungguh memandang lelaki yang dicintainya dengan sempurna. Tidak punya cela. Menimbulkan rasa iri dan kagum.
Aku jadi merasa tertonjok. Langkahku mundur satu-satu dengan teratur. Aku memang tidak pantas untuk seorang Azzam Sima. Tentu saja memang dari dulu suamiku itu bukan orang sembarangan. Dia petarung tangguh. Pejuang sejati. Dia tidak mudah menyerah pada nasib. Walaupun masalah bertubi-tubi menghantam kami. Hanya aku yang selalu menilainya tidak punya kemampuan. Aku yang memberi cap gagal pada suamiku sendiri.
Sebuah alasan yang kuyakini masuk akal. Karena Jelita, aku memutuskan untuk merelakan suamiku pada perempuan itu. Sebuah prediksi yang kupikir akan membesarkan hati. Jelita tentu sangat mampu menjadi isteri yang lebih baik dari aku dan tentu dia pula mampu memberikan keturunan yang jauh lebih berkualitas. Ini mungkin sebuah pengorbanan atau usaha untuk menghapuskan rasa bersalah.

Aku menatap langkah perempuan itu yang semakin menjauh dengan lenggak-lenggoknya yang aduhai. Perempuan itu tercipta dari bahan dasar yang lembut oleh Sang Khaliq, tentunya dia tidak akan membuat Azzam Sima hancur berkeping-keping. Aku sama batu dengan suamiku, karenanya benturan kami selalu terasa begitu keras. Tidak ada hari yang kami lalui tanpa ketegangan. Walau sejujurnya aku ingin seperti pasangan kebanyakan. Aku ingin betul menjadi perempuan yang lembut. Penyabar. Punya begitu banyak cinta yang ikhlas kubagi. Tetapi harus bagaimana kalau ternyata Tuhan menjadikan aku perempuan yang keras dan kaku menghadapi pasangan.

Sungguh aku ingin seperti Jelita. Tetapi Tuhan tidak menjadikan aku seperti perempuan itu. Aku cuma perempuan yang terlahir sebagai aku. Sungguh penuh rasa ingin untuk menjadi lebih baik dari aku. Tetapi, sekali lagi, dalam ragaku adalah jiwaku. Aku hanya berusaha menjalankan yang terbaik. Terlalu keras kah aku pada diri sendiri sehingga kupaksa diri menghapus bayangan di muka cermin dan memaksa diriku untuk merebut bayang-bayang orang lain?

Aku menghela nafas panjang.
Kembali pertanyaan itu mencuat di kepala.
Apa sebenarnya yang ingin kugapai di dunia?
 
Jelita Sudah terbang bersama burung besi di angkasa. Perempuan yang mungkin telah disiapkan waktu untuk menggantikan posisiku yang cacat sebagai isteri. Rasanya aku tak rela. Tetapi nasib sudah menamparku bertubi-tubi. Menyadarkan aku pada kesombongan sebagai perempuan. Memaki air mataku sebagai kebodohan.

Selamat Menempuh Hidup Baru!
ujarku dalam hati. Aku titipkan suamiku di rentang waktu berbeda kepadamu. Tolong rawat dan jaga dia dengan baik.

Aku tidak berusaha menangis. Karena aku merasa aku tidak pantas menangis.
***

Sebuah rumor baru berkembang di kantor. Kali ini kabar burung itu berhembus tentang Pak Sima, Kacab kami. Diberitakan beliau menjabat pekerjaan rangkap. Tentunya ini menyangkut profesionalitas dan loyalitas terhadap perusahaan. Selain di Perusahaan kami diduga Pak Sima menjabat pekerjaan penting di perusahaan lain. Padahal, Pak Sima digadang-gadang akan diangkat menjadi Kawil, Kepala Wilayah Sumatera Bagian Selatan.
Tentunya dengan rumor itu akan menimbulkan efek yang buruk bagi Pak Sima. Bahkan bisa mempengaruhi pengangkatannya di perusahaan. Segera kutemui beliau di ruangannya.
Saat kubuka pintu. Pak Sima sedang sibuk mengerjakan sesuatu di depan layar komputer.
"Permisi, Pak."
Dia tak menjawab seperti biasa.
Aku sudah paham. kututup kembali pintu setelah berada di dalam ruangan.
Aku duduk di kursi yang berada di hadapannya.
Dia mengalihkan kesibukannya dari depan komputer.
"Ada apa?"
"Maaf, Pak. Mungkin kedengarannya terlalu mencampuri. Tetapi saya agak cemas dengan rumor yang sedang beredar di kantor."
"Ya?"
"Katanya Bapak menjabat di dua perusahaan berbeda."
Dia diam sebentar. Lalu menatapku dengan tatapan bingung.
"Jadi?"
"Tentu menurut peraturan perusahaan tidak bisa demikian, Pak. Bapak pasti akan disuruh memilih salah satu diantara keduanya. Apalagi kan Bapak diwacanakan bakal diangkat menjadi Kawil."
Dia tertawa.
"Aya, Aya. Gosip kok kamu urusi. Tapi, saya suka dengan perhatian kamu itu. Terima kasih." Beliau mengedipkan mata. Kebiasaan yang sering dilakukan saat kami masih menjadi suami isteri. Biasanya untuk menggodaku. Membuat jantungku jadi berdebar kencang. Aku merasa malu untuk beberapa detik. Kurasa mukaku pun dibuat memerah untuk sesaat.
"Oh, maaf Pak. Saya cuma menyayangkan saja kalau karier Bapak akan terganggu karena gosip kawan-kawan. Tapi sudahlah, bukan hal penting. Saya permisi saja, Pak."
Aku bergegas berdiri dari duduk.
"Aya,"
Panggilan Pak Sima mengurungkan niatku keluar dari ruangannya. Aku diam menatap lelaki berwibawa itu. Lelaki itu pun tak lepas menatapku. beberapa detik kami terkurung dalam diam.
"Saya, terlahir dari keluarga yang sederhana, Aya."
Suaranya pelan dan dalam.
"Keluarga sederhana dari Bapak PNS yang jujur. Sebagai mantan ajudan Bupati, beliau tidak lebih dari pesuruh. Bapak tidak pernah bisa memanfaatkan keadaan dan jabatan yang disandangnya. Sampai pensiun kami tidak punya apa-apa. Hidup bagi saya semasa kecil semacam melihat dari luar rumah kaca. Begitu banyak mainan di dalam rumah kaca yang ingin saya miliki tetapi saya cuma punya kemampuan untuk melihat. Tidak boleh lebih."
Matanya lalu menerawang.
"Saya iri dengan teman-teman yang Bapaknya menjabat dan bisa punya kekayaan lebih. Saya selalu menyesalkan mengapa Bapak tidak mampu seperti Bapak-Bapak kawan saya. Kenapa Bapak terlahir sebagai orang jujur? Orang biasa yang mau saja ditindas oleh keadaan dan kecurangan."
"Karenanya kemudian saya tumbuh menjadi seseorang yang penuh dengan rasa dendam. Saya sangat pendendam, Aya. Saya menyesali nasib saya yang miskin dan tak punya kemampuan. Saya memaksa orang tua untuk membiayai kuliah saya di jawa. Saya belajar mati-matian untuk menjadi sosok impian saya. Tidak cukup S1 yang saya tamatkan. Saya paksa lagi orang tua saya untuk membiarkan saya meraih S2."

Aku tidak menyangka. Azzam Sima yang kukenal bahkan tidak menamatkan S1-nya. Alasannya beraneka ragam. Terutama sekali karena baginya pendidikan tidak penting. Waktu itu, menurut suamiku, pendidikan tidak lebih dari topeng, karena sejujurnya tidak menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Apa yang tertulis di atas kertas bukan fakta yang menunjukkan kemampuan. Tapi kini, bahasa yang dilontarkannya begitu berbeda. Dia bahkan sudah meraih Magister.

"Saya sekarang juga bekerja sebagai dosen di sebuah instansi pemerintah. Sudah berstatus tetap."

Aku makin tidak menyangka. Dulu, dia pantang sekali dengan status PNS. Dia tidak ingin menjadi seperti orang tuanya yang terbungkus seragam PNS dan dipecundangi kemiskinan karena bertahan pada kejujuran.

"Saya ingin membuktikan pada diri, orang tua, dan orang-orang yang saya kenal. Bahwa saya mampu menjadi sesuatu yang berharga. Awalnya saya memang ingin menjadi dosen. Tawaran teman tentang jurusan yang saya ambil di jawa semakin menguatkan niat saya. Magister ilmu pemerintahan masih sangat dibutuhkan karena jarang sekali putera daerah yang menyandangnya. Saya berencana pulang untuk menjadi dosen. Mengabdikan diri sekaligus menjalankan hobi terjun di dunia politik daerah. Saya pikir menjadi aktivis bukan berarti kita tidak bisa punya uang."

Aku kembali serasa ditampar. Aku ingat sekali sindiranku yang terlalu sering kulontarkan padanya. Tentang kebencianku pada hobinya yang berkecimpung di ormas, politik, atau sejenisnya, yang membuatnya lupa soal tanggung jawab mencari nafkah untuk makan anak isteri.

"Saya ingin merangkul semuanya, Aya. Impian saya, impian orang tua saya, maupun impian orang-orang terdekat. Mungkin terdengar ambisius sekali. Tetapi idealisme itu cuma sebatas tenggorokan. Ketika terbentur dengan kepentingan, maka idealisme itu akan buyar dengan sendirinya. Karena itu, saya pikir mungkin hal yang paling aman adalah berdiri di tengah-tengah. Saya tidak melupakan mimpi saya tetapi saya tidak mengabaikan orang-orang yang saya cintai."
Pak Sima lalu berdiri. Tubuhnya yang tegap menutupi cahaya yang membias dari jendela.
"Saya akui. Saya mungkin berlaku curang saat ini. Menjabat sebagai kacab di perusahaan ini sekaligus berstatus dosen PNS. Tetapi bagi saya, tidak akan jadi soal selama saya berlaku adil. Saya tidak pernah mengecewakan perusahaan ini. Walaupun saya tahu betul ada peraturan yang tidak mengizinkan karyawannya menjabat pekerjaan lain. Tetapi usaha saya jauh lebih keras dibandingkan karyawan lain yang mungkin tidak merangkap jabatan seperti saya."

Aku tidak menjawab.

"Saya sudah bekerja demikian keras dalam hidup saya, Aya. Bagi saya, keadaan sekarang adalah yang memang sepantasnya saya dapatkan. Saya sudah bertarung dengan nasib, keadaan, waktu, penyesalan, dan rasa dendam. Mungkin ada saatnya saya merasa lelah dan cukup puas dengan apa yang telah saya raih.  Kalau tiba saat itu, saya akan memilih salah satu. Tidak selamanya saya mengambil semua dalam hidup. Suatu saat saya akan mengambil pilihan yang terbaik bagi saya. Dan merasa pantas dengan pilihan tersebut."

Aku mengangguk. 

"Jadi, biarlah gosip itu. Tidak akan mempengaruhi apapun."
"Baiklah."
"Terima kasih."
Ucapan itu terdengar sangat tulus dan bersahabat. Sesaat kurasakan sosok di depanku sangat dekat. Tetapi aku cukup tahu diri.

Sesuatu yang lebih baik akan mendapatkan yang jauh lebih baik.


(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (27)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger