Wednesday, December 19, 2012

Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)

"Sudah bulat betul niatmu ini?"
Laki-laki itu menatapku tajam.
Raut wajahku tak bergeming. Sedikitpun aku tidak merasa kasihan.
"Anak-anak bagaimana?'
Aku mendengus pelan.
"Tidak ada yang jadi korban. Jadi untuk apa merasa kuatir? Makanya aku pilih jalan ini, karena aku tahu perceraian akan menjadi lebih buruk, terlalu banyak yang akan jadi korban, dan tentunya karena aku sayang pada anak-anak, maka kupilih jalan ini dibandingkan jalan bercerai."
"Kamu rela menghapus semuanya, termasuk anak-anak dalam hidupmu?"
Aku mengangguk yakin.

Laki-laki di depanku itu kemudian menghela nafas.
"Aku tidak rela kehilangan anak-anak. Dan tidak pantas rasanya karena kesalahan salah satu di antara kita menyebabkan kita menjadikan anak-anak harus kehilangan kehidupannya. Mereka punya hak untuk hidup. Dengan keputusan ini berarti kamu telah tega menghapus takdir mereka untuk hidup?"
"Kalau Tuhan menghendaki mereka lahir. Mereka akan lahir ke dunia, dan itu bukan dari rahimku."
Suamiku mengepal keras tangannya. Kesal mungkin.
Tapi aku jauh merasa lebih kesal dan menyesal telah menikah dengan seorang lelaki yang hanya mampu menopang hidup kami dengan hutang.

"Mazaya, maaf kan kesalahanku. Anak-anak tidak pantas kamu libatkan dalam masalah ini."

"Jangan kambing hitamkan anak-anak! Dan aku membuat keputusan yang sangat tepat dalam hidupku. Tidak ada pertemuan, tidak ada pernikahan, dan tentu tidak ada anak-anak yang terlahir secara tersia-sia karena sebagai orang tua kita tidak mampu memberikan kehidupan yang layak untuk mereka. Coba saja kau pikir, dengan hutang-hutangmu yang menumpuk, sementara hanya aku yang bekerja pontang-panting, sepuluh tahun ataupun duapuluh tahun apakah mungkin kita sudah bisa hidup layak? Apakah hutang-hutangmu sebagai kontraktor itu bisa dilunasi. Jangan-jangan bertambahnya waktu hutang itu malah makin menebal!"


Plak!
Sebuah tamparan keras di wajahku menghentikan ocehan yang belum selesai.
"Kenapa cuma satu kali! Berkali-kali saja, karena besok atau di masa depan kau tidak akan bisa menamparku lagi!"

Suamiku mengepal tangannya. Gerahamnya mengeras kaku. Nafasnya tampak naik turun.
"Aku tidak pernah menyakitimu dengan berselingkuh, berjudi, atau mabuk-mabukan. Aku hanya belum mampu menafkahimu dengan tepat dan sesuai. Aku menyesal telah menjadi suami yang gagal. Tetapi tidak pantaskah aku diberikan lagi kesempatan?"
Aku menggeleng.

"Sudah terlalu banyak. Dan kamu terlalu gegabah memanfaatkannya. Kali ini bagiku sudah cukup. Karena kamu tidak akan berubah berapa kali pun kesempatan itu datang padamu."

"Aku benar-benar menyesal, Mazaya. Tapi semua tentu masih bisa diperbaiki!"
"Aku juga menyesal tak mampu menjadi isteri yang cukup baik untukmu, Bang Azzam. Tetapi tidak ada yang bisa diperbaiki lagi."

Kutekan lekas bel panggil petugas di ruangan itu.

Ruangan di mana kami berdua berdiskusi sebagai sepasang suami isteri adalah Ruang Pertimbangan. Sebuah ruangan putih bersih berukuran 4 x 4 meter, hanya ada sebuah meja putih dan 2 kursi putih serta sebuah cermin di dinding. Ruangan ini disediakan khusus bagi pasien -- itu sebutan mereka untuk kami yang menggunakan jasa mereka -- untuk merenung, berpikir matang-matang, berdiskusi, atau berembuk sebelum kemudian kami membulatkan tekad untuk menggunakan jasa mereka yang tarifnya tidak terbilang murah.

"Bagaimana, bapak ibu?"
Petugas berseragam putih datang.
Aku mengangguk.

Petugas tersebut tersenyum. Dia kemudian meletakkan selembar map berwarna putih di meja putih kami.

"Silahkan isi formulir pernyataan ini. Kami akan menyiapkan mesin waktunya."
Tak kupandang lagi suamiku. Putusanku sudah bulat. Kuisi formulir tersebut. Sementara lelaki petugas itu keluar ruangan.

"Tidak bisa kah kita berembuk lagi, Mazaya?"
"Tidak!" Kujawab dengan tegas sambil menatap tepat di pusat matanya.
"Jangan terus membodohi aku, Bang. Aku juga ingin punya masa depan. Punya sesuatu yang berarti dan berharga dalam hidupku."
"Tidak kah ada yang berarti sekarang ini dalam hidupmu?"
"Aku tidak minta lebih dari abang. Aku hanya ingin hidup normal dan yakin akan masa depanku."
"Bersama-sama kita pasti bisa mengatasinya."
"Aku selalu sendirian!"
Dia terdiam.
"Sebegitu tak berharganya kah aku bagimu, Aya?"

Aku kembali mengisi formulir.
Tak kuduga, dia menghantam meja begitu keras. Membuatku terkejut.
"Bodohnya aku! Seharusnya tidak perlu kutanyakan. Aku memang tidak pernah kauanggap. Bahkan sebelah mata pun! Kalau memang ini maumu. Aku ikuti. Aku turuti."
Petugas kembali datang. Formulirku pun telah selesai aku isi.
Kupandangi suamiku. Dia tidak memandangku sama sekali. Wajahnya beringas. Tatapannya sangat jauh melangkah ke depan.

***

Kami memasuki Ruang Mesin Waktu.
"Sesuai permintaan Ibu dan Bapak, waktu akan dikembalikan di tahun 2006, bukan begitu?"
Aku mengangguk. Itu adalah tahun pertemuan pertama kami.

"Baik, kita cocokkan tanggal sekarang terlebih dahulu, 20 Desember 2012. Dan tanggal berapa Bapak Ibu akan dikembalikan?"
"26 November 2006." Jawabku lagi.
"Jangan!" ujar suamiku cepat.

Aku dan petugas serentak memandangnya.
"20 September 2005 saja."
"Wah, kalau mundur setahun berarti tambah biaya lagi, Pak."
"Berapa?"
Suamiku langsung mengeluarkan uang dari saku celananya.
"15 juta." Jawab Petugas.

Aku menatap suamiku. Menyadari tatapanku dia hanya tersenyum.
"Tidak perlu kau tanya dari mana uang itu. Toh, aku pun punya impian. Bukan cuma kamu, Aya!" Jawabnya sambil mengedipkan mata.
Kesalku makin memuncak. Sepertinya dia tidak pernah punya rasa penyesalan yang sungguh-sungguh. Ke mana amarah tadi? Semua ini sekedar permainan baginya. Bahkan ancaman sebesar ini pun cuma dianggapnya main-main. Aku sungguh berjanji pada hati kecilku. Tidak akan pernah menemui lelaki bernama Azzam Sima seumur hidup. Apalagi sampai bersedia membuka hati untuknya lagi!

"Bapak Ibu, mesin waktunya sudah siap. Silahkan masuk. Silahkan berbaring di tempat yang telah disediakan. Pejamkan mata saja selama proses berlangsung. Tidak akan lama."


Petugas menuntun kami memasuki sebuah mesin waktu yang berbentuk seperti bola. Hanya ada satu pintu untuk masuk dan keluar. Pintu itu tebal. Seperti pintu ruang brangkas. Memasuki mesin. Kami mendapati dua tempat tidur berseprai putih. Dua orang  petugas ternyata telah menunggu di dalam. Aku menaiki tempat tidur yang persis dekat pintu masuk. Suamiku menempati yang lebih menjorok ke dalam. Dia tidak menatapku sama sekali. Setelah merebahkan badan, dia langsung memejamkan mata. Petugas menempelkan sesuatu di pelipis kami. Memakaikan safety belt di pinggang dan kaki. Lalu meninggalkan kami dan menutup pintu. Tinggal aku dan suami. Dia tetap memejamkan mata. Tampak wajahnya tersenyum. Dia benar-benar tidak punya penyesalan apapun dalam hidupnya. Aku benar-benar membencinya kalau begitu!
 
(Bersambung)

Cerita Berikutnya  Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)

2 comments:

Sukrisno Santoso said...

bagus nih.
hebat ya bisa bikin cerita yg panjang.
klo saya cuma bisa bikin cerpen yg pendek2.
kunjung balik ke blog-ku ya: sukrisnosantoso.blogspot.com

Mardiana Kappara said...

baru belajar juga buat novel. terpacu dengan teman2 komunitas yang sudah melahirkan novel n buku.
Terima kasih sudah mau mampir.
oke. nanti saya mampir. Lam kenal Mas Sukrisno ^_^

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger