Wednesday, December 26, 2012

Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)

Kabupaten Berlian merupakan daerah lintas. Tidak terlalu banyak perkembangan berarti semenjak sepuluh tahun terakhir. Pembangunan kolam renang saja dilarang keras pemerintah karena suatu alasan tertentu. Berlian menurutku salah satu kota yang terhitung panas di Provinsi Jambe. Aku resmi ditempatkan perusahaan di salah satu pos di kabupaten tersebut.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari kota. Aku persis tiba pukul 07.45 WIB di kantor tempat kerja pertama. Kantor finance masih bergabung dengan dealer. Rencananya di awal tahun depan akan punya kantor sendiri. Aku melangkah memasuki ruko tiga pintu itu dengan tenang.

"Permisi, mas."
Seorang lelaki duduk menghadap komputer. Sebuah plang besar tergantung di belakangnya. Adara Finance.
"Ya?" Dia hanya melirikku sekilas.
"Saya karyawan baru yang ditempatkan di sini untuk kasir." Ujarku lagi menjelaskan.
Dia mengangkat kepala memandangku lekat.
Sebagai orang baru cepat kuulurkan tangan, "Mazaya."
Dia menyambut tanganku. "Seno."
"Bisa bertemu dengan Pak Taufik?"
"Pak Taufik belum datang. Silahkan duduk saja dulu di sini."
Dia langsung mempersilahkanku duduk di kursi yang tadi di dudukinya sementara dia pindah duduk di kursi satunya lagi.

Tiga motor kemudian di parkir di muka ruko. Tiga lelaki berjaket hitam turun dari motornya masing-masing setelah melepas helm. Mereka langsung menuju ke arah kami. Lelaki bernama Seno langsung menyambut salah satu dari mereka yang bertubuh besar.

"Pak Taufik, ini karyawan baru pengganti Mbak Vivi," jelas Seno disambut tatapan serius dari lelaki yang dipanggil Taufik. Kacamata yang dipakainya diturunkan sedikit. Tidak ada senyum terukir di bibir.
"Siapa nama?" tanyanya datar.
Kujawab dengan senyum, "Mazaya."
"Kelahiran tahun berapa?"
"Delapan satu."
"Sudah punya pacar atau suami?"
Aku tak menjawab.
"Kenapa tidak dijawab?"
"Itu kan urusan pribadi, pak."
"Berarti belum punya pacar..."

Aku diam. Kutahu dia bukan Pak Taufik. Dia Rozi. Lelaki tambun yang sebenarnya ramah dan kurang suka berlaku jahil. Ini lantaran Seno, yang tabiatnya memang suka iseng dan menggoda. Dulu, aku benar-benar menyangka Rozi itu adalah Pak Taufik. Penampilan Rozi yang demikian ditambah perawakannya yang cukup punya wibawa meyakinkanku. Tiga hari Pak Taufik tidak berada di pos tetapi di kantor pusat. Sebuah pelatihan menyangkut kepemimpinan harus dilakoninya. Selama tiga hari itu pula aku dikerjai habis-habisan oleh Pak Taufik gadungan beserta kawan-kawannya.

"Sebagai karyawan baru. Tiga hari kamu harus menjalani masa penyesuaian," jelas Rozi serius.
Aku mendengarkan.
"Kamu orang asli sini atau orang kota?"
"Saya dari kota."
"Kalau begitu kamu harus cari kost untuk tinggal di sini."
"Maksud saya, saya mau berulang saja, Pak. Toh, Jambe cuma 45 menit dari sini."
"Itu ketentuan dari perusahaan. Apa kamu tidak tahu?"
Aku diam saja. Aku tahu itu cuma mengada-ada. Perusahaan ini cuma butuh karyawannya masuk sebelum pukul 8 pagi. Mau dia tinggal di mana, itu bukan urusan kantor. Tapi dulu, aku percaya saja.
"Di sini sudah ada tempat kost yang telah ditentukan perusahaan. Tapi biaya bulanan kita tanggung sendiri. Kami juga tinggal di kost tersebut. Tetapi dipisah antara kost cewek dan cowok. Dua rumah yang posisinya bertetangga. Karena baru kamu karyawan cewek kita. Makanya baru kamu yang bakal kost di tempat itu."
Kulirik Seno. Dia tampak tersenyum sambil menggosok-gosok hidungnya. Terakhir aku tahu itu kebiasaannya kalau sedang menjahili seseorang.
"Tapi mungkin belum bisa sekarang, Pak. Kalau bulan depan bagaimana?"
"Tidak bisa. Besok paling lambat kamu harus sudah ngekost di tempat itu. Seno bisa mengantar kamu pulang dan pergi kalau kamu tidak punya kendaraan."
Waktu dulu aku sama sekali tidak menaruh curiga. Besoknya aku segera meminta izin dengan Bapak dan Bunda untuk bisa tinggal di kost-kostan dan seminggu sekali baru pulang ke kota.
"Baik, Pak. Besok saya akan membawa barang-barang." Aku jawab saja sekenanya. Belum tentu aku akan ngekost di tempat itu. Rasanya tidak nyaman tinggal bersebelahan dengan mereka. Saban hari mereka main ke kostan sepulang dari kantor. Padahal kami sudah di kantor bersama seharian hingga pukul 7 malam. Aku berharap dapat istirahat setibanya di kost. Tapi ada saja alasan mereka untuk mengganggu.

Hari ini, kubiarkan saja mereka mengerjaiku. Dari membelikan mereka makan siang hingga merapikan berkas-berkas kerjaan mereka. Dahulu aku tidak tahu, kukerjakan saja pekerjaan yang disodorkan padaku, karena kukira itulah pekerjaanku. Sementara mereka kuperhatikan cuma duduk manis sambil main lacak  hingga waktu pulang kerja tiba. Tapi lihat saja besok. Aku akan mengerjai kalian balik. Aku tidak sebodoh kemarin kawan!


Keterangan:
Lacak : Permainan batu domino. 

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (4)
Cerita Sebelumnya : Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1) 
                               Novel : Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)




2 comments:

Anita Lusiya Dewi, S.Gz said...

rencananya mau berapa panjang mbak?
penasaran deh sama ceritanya...
mengalir, enak dibaca, dan tentunya, bikin nagih :D
agak kecewa kok ternyata masih harus menunggu. hehehe
semangat mbak, ditunggu segera kelanjutannya :)

Mardiana Kappara said...

Terima kasih Anita sudah mau mampir dan membaca. Salam kenal ya :-).
Ma kasih lagi suportnya. Lagi belajar buat novel. Soalnya ga pernah bisa. Jadi, mungkin melalui blog dengan menulis cerbung di sela2 kesibukan kerja bisa merampungkan sebuah novel. Amin....
Bisa jadi ceritanya akan panjang nih, semoga tidak bosan untuk mengikutinya ya. :D

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger