Tuesday, December 25, 2012

Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (2)

Begitu nyenyak barangkali aku telah tertidur. Sebuah tepukan lembut di pipiku memberikan kesadaran yang entah seberapa lama mengambang di udara.
"Anda sudah tiba, bu," sebuah teguran ramah perempuan berseragam putih seterbukanya mataku.
"2005?"
Dia mengangguk dengan tetap tersenyum.
Aku menoleh ke dipan di sebelahku. Tadinya di situ ada suamiku. Sekarang tidak lagi. Dipan itu telah dikemasi oleh petugas berseragam putih lainnya. Kuraih lagi perempuan yang tadi membangunkanku dengan mata yang terasa masih mengantuk. Suaraku terasa berat. Begitu lama kah aku tertidur?
"Mau dibantu bangkit, bu?" dia menawarkan bantuan.
Kupandangi pinggang dan kaki. Tidak ada lagi safety belt yang melilit. Begitu pun dua kabel kecil yang ditempelkan di pelipis.
"Berapa lama saya tertidur? Kenapa terasa lemas sekali?"
"Memang begitu, bu. Perjalanan yang Ibu lakukan kan memang cukup jauh dan lama. Pastinya Ibu merasa lelah dan lemas. Tidak apa-apa. Itu cuma sebentar. Tidak akan lama."
Aku berdiri pelan dari dipan dituntun perempuan ramah tersebut.

Kembali terbersit keinginan bertanya mengenai suamiku yang tadinya bersamaku di sebelah dipan. Tetapi, apakah pantas atau perlu kutanyakan? Padahal aku memang menginginkan sebuah kehidupan baru tanpa kehadiran sosoknya yang selama ini terasa menyesakkan.

20 September 2005.
Seingatku hari itu aku baru diterima kerja di sebuah perusahaan finance terkemuka di kotaku. Kulirik jam tangan. Pukul 05.00 WIB. Syukurlah! Masih cukup subuh untuk bersiap-siap. Setelah menandatangani segala macam bentuk administrasi. Aku melangkah keluar Gedung Pelayanan Mesin Waktu itu.  Kurasa ini memang sebuah penemuan hebat! Aku sangat berterima kasih pada penemunya. Paling tidak aku bisa memperbaiki kehidupanku tanpa harus membiarkannya rusak. Hm,... inilah kehidupan baru yang sudah lama aku impikan. Dan aku tidak akan merusaknya lagi!

Pukul 07.30 WIB.
Aku tiba di sebuah perusahaan finance. Adara Grup. Waktu HRD menelponku, katanya aku mendapat posisi kasir di kabupaten. Tapi, untuk awal kerja aku disuruh datang ke kantor pusat untuk melakukan pelatihan 1 minggu.

Masih terasa deg-degan. Padahal aku tahu betul setiap babak yang akan kutemui hari ini. Seperti melihat paparan film yang sudah pernah ditonton sebelumnya.

"Awas, mbak! Lihat-lihat dong kalau jalan!"
Sebuah suara kesal terlontar di depanku.
Aduh! Padahal aku ingat betul kejadian ini. Kenapa aku bisa lupa? Seharusnya kuperhatikan betul langkahku. Tidak meleng ke sembarang arah sambil melamun. Patutnya pandanganku lurus ke depan saja.
"Aduh, mas! Seharusnya saya yang marah, kok malah sebaliknya! Lihat, baju saya basah semua!"
Seluruh pakaianku basah dengan air kopi. Tapi kali ini, sedikit kutahan emosi agar tidak menjadi masalah besar. Ini hari pertamaku kerja. Dan lelaki di depanku itu ternyata adalah kepala pos dimana besok aku ditempatkan.

Dia masih menghela nafas. "Saya buru-buru. Saya minta maaf kalau malah marah."
"Oh, ndak apa-apa, mas. Saya memang ceroboh. Saya permisi dulu."
"Ya, silahkan." Jawabnya setengah tersenyum.

Duh, leganya bisa berlaku sopan di hari pertama. Aku tidak ingin hal ini jadi malah petaka di kemudian hari. Dulu, kuingat betul aku marah habis-habisan pada lelaki itu. Pak Taufik Qurahman. Lelaki cuek dan dingin. Nada bicaranya selalu ketus. Tetapi orangnya baik hati dan peduli dengan bawahan. Setelah insiden air kopi itu, aku nyaris tidak punya muka ketika menemui Pak Taufik di pos kabupaten untuk melapor sebagai karyawan baru. Dia waktu itu tak kalah beringas menerimaku.

"Wah, gimana sih perusahaan sebesar ini tidak bisa menyeleksi karyawan baru! Seharusnya yang dilihat terlebih dahulu bukan skill, tetapi mengenai etika dan tata krama. Tanpa etika dan tata krama, apakah perusahaan kita yang bergerak di bidang jasa akan mampu memberikan pelayanan yang memuaskan? Jangan-jangan malah menjatuhkan status perusahaan yang selama ini dinilai konsumen sangat profesional."
Aku diam saja mendengar ocehannya waktu itu. Pantas saja dia marah, aku mencaci makinya di depan umum dengan kata-kata kotor dan tidak sewajarnya. Sementara aku hanya seorang karyawan baru dan dia adalah salah satu pentolan di perusahaan tersebut. Kuingat betul, banyak orang yang menonton insiden kami. Bahkan beberapa karyawan berusaha melerai. Kejadian memalukan itu langsung melejitkan namaku di perusahaan.

"Permisi, mbak. Bisa ketemu Pak Herman. HRD." Aku menemui sekretaris di depan ruangan Kepala HRD.
"Oh, Mbak Mazaya, ya?"
"Iya, Mbak."
"Sebentar, ya. Silahkan duduk dulu."
Gadis cantik tersebut berdiri dari duduknya memasuki ruang HRD. Sementara aku duduk di sofa yang tergeletak di ruang tunggu tersebut. Tepat di depan meja sekretaris.
Tak berapa lama gadis tersebut keluar dari ruangan.
"Mbak Mazaya, silahkan ikut saya." Dia mengajakku ke ruangan meeting. Gadis itu bernama Nadia. Dia sangat baik dan lembut. Dulu kasir di kabupaten Mara. Cuma  6 bulan jadi kasir, langsung naik jabatan jadi sekretaris HRD. Gosipnya, Kepala HRD menjadikannya gundik. Benar tidaknya, aku tidak pernah memperoleh konfirmasi.

Gosip memang mudah berkembang di kantor pusat. Terlalu banyak karyawan dan terlalu banyak perempuan. Tidak cuma kasus hubungan yang dianggap tidak wajar, perilaku wajar pun terkadang dianggap tidak wajar. Sebut saja soal merk tas atau sepatu yang dikenakan si anu atau si anu. Bahkan masalah dia beli secara cash atau kredit bisa jadi pembahasan panjang. Untungnya aku ditempatkan di pos kabupaten. Walaupun dulu betapa aku ingin ditempatkan di kota, agar tidak jauh dari Bapak dan Bunda. Di pos kabupaten, jumlah karyawan sedikit dan pekerjaan relatif menumpuk. Jadi tidak punya kesempatan untuk memburukkan seseorang. Ditambah aku satu tempat kerja dengan seorang perempuan yang sangat baik dan sama sekali bukan penggosip. Titis Haryati.

"Silahkan di tunggu di ruangan ini, mbak. Selama 1 minggu mbak akan mendapat pelatihan dari kepala di ruangan ini. Jadi, besok kalau datang langsung saja masuk ke ruangan ini."
Aku mengangguk. Kulihat 3 orang lelaki telah menempati ruangan. Tampaknya mereka sama sepertiku. Karyawan baru. Salah satu diantaranya berpapasan denganku kemarin di rumah sakit untuk tes kesehatan.
Nadia meninggalkanku kembali ke mejanya.

Aku memilih kursi yang masih kosong. AC yang distel terlalu dingin. Membuatku cukup menggigil.
"Dingin, mbak?" lelaki yang kemarin berpapasan di rumah sakit menegurku.
Tentu aku tidak pernah lupa namanya. Yulianto. Pacar pertama.
"Sedikit." Jawabku sekenanya. Jantungku langsung berdetak tak beraturan. Ternyata rasa itu masih sedikit menggigit. Mungkin benar kata orang-orang. Pacar pertama meninggalkan kesan lebih dalam dibanding pacar-pacar setelahnya.
"Rama, stelan AC-nya terlalu dingin. Kasihan mbak ini. Ndak tahan dingin."
Lelaki yang disebut Rama celingukan.
"Ndak ketemu remote-nya."
Yulianto berdiri. Dia sibuk mencari sendiri. Setelah beberapa kali membuka laci dan mondar mandir menyisir ruangan. Akhirnya ia menemukan di salah satu kursi. Dia mematikan AC.
"Kenapa dimatikan, jok?" tanya lelaki satu lagi. Kutahu namanya Nugroho. Dia juga ditempatkan di kabupaten denganku.
"Nanti bisa dihidupkan lagi." Jawab Yulianto sekenanya. Lalu dia kembali duduk di kursi sebelahku. Percakapan yang sama kemudian terulang kembali. Keakraban kembali terjalin. Tetapi di sisi hatiku yang lain aku menolak keakraban itu. Keakraban yang membuatku menjadi sakit sebagai perempuan yang mencintai seseorang. Alasan klise tentunya. Perselingkuhan lah yang telah membuatku menjadi sakit kala itu. Walaupun bagiku Yulianto masih tetap mempesona seperti dulu. Tetapi aku tidak ingin menjadi bodoh untuk jatuh kembali pada kubangan yang sama.
 
Pelatihan itu berlangsung hingga jam 4 sore. Bermodalkan motor pinjaman adik, aku kembali ke rumah.  Waktu di parkiran setelah bertukaran nomor handphone. Yulianto menawarkan untuk mengantar pulang. Aku tolak dengan halus. Kuputuskan untuk lebih berhati-hati. Aku memang berumur 24 tahun. Kalau dulu aku cemas dengan umur sematang itu dan belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis manapun. Tetapi kali ini aku berumur 24 tahun dan aku tidak ingin mengorbankan masa depan hanya demi omongan orang yang cuma bisa mencemooh. Tidak akan ada yang menolong kita ketika kita salah memilih lelaki atau salah memilih jalan hidup. Mereka hanya bisa bergunjing tentang perempuan-perempuan matang yang rela dipanggil "perawan tua" dan sibuk menyalahkan dengan berbagai alasan. Padahal sebagai perempuan yang menyandang status tersebut, tidak ada keinginan untuk menjadi berbeda dan menentang aturan sosial.

Kesempatan kedua ini terlalu mahal untuk kusia-siakan. Aku tidak peduli kalau sudah terlalu matang sangat utnuk mendapat jodoh di kemudian hari. Sabar itu memang kunci yang paling ampuh untuk menghadapi berbagai jenis ujian apapun. Tetapi, apakah aku bisa cukup sabar nantinya? Dengan Bang Azzam saja aku telah menyerah lebih dulu.

Tetapi sekali lagi, ini adalah kesempatan dan waktu yang istimewa. Aku bertekad untuk menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Aku harus bisa meraih kesuksesan yang kuimpikan selama ini. Kalau sekali lagi aku mengacau. Berarti aku memang terlalu bodoh untuk menjalani hidup.

(Bersambung)

Cerita Selanjutnya : Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (3)
Cerita Sebelumnya : Novel: Perempuan Dalam Kurungan Waktu (1)




0 comments:

Post a Comment

 

(c)2009 Mardiana Kappara . Based in Wordpress by wpthemesfree Created by Templates for Blogger